
Anjar dibaringkan di bangku belakang, sesekali terdengar ia menggumam…
“Bbbuuulaaaan…”
“Hmmmm… nikahnya sama aku ajaaaa”
“Bulaaan... “
Beberapa kali hanya ucapan itu yang terus menerus diucapkan Anjar, perasaan Bulan terasa campur aduk antara sedih dan kasihan pada Anjar tapi juga ia merasa bersalah dan tidak enak pada Juno suaminya.
“Uhuuuk...uhuuuuk” sesekali terdengar Anjar terbatuk di belakang, Bulan melihat berulang kali tidak tahu harus berbuat apa. Sesekali menengok ke belakang dan kemudian melirik Juno. Muka Juno seperti tidak ada ekspresi, hanya sesekali mengeluarkan tarikan nafas panjang setiap kali mendengar gumaman Anjar.
“Hoeeeeek…. Owwwwkhhh….” terdengar suara Anjar yang seperti akan muntah tapi tertahan kepalanya terkulai ke bawah kursi. Bulan menjerit melihatnya, sepanjang perjalanan pulang ia sibuk googling efek bahaya alkohol bagi peminumnya dan yang paling ia khawatirkan adalah Anjar mengalami keracunan alkohol.
Setahunya, Anjar tidak pernah minum alkohol, ia sendiri sampai heran bagaimana ceritanya, Anjar sampai terdampar di pub.
“Owhhhkkkh… uhuuuuk” kembali Anjar terbatuk, sebagian badan dan kepalanya sudah akan tersungkur ke lantai mobil.
“Anjar…” Bulan menjerit, segera membuka seatbelt dan melompat ke belakang.
“Kamuuuu…” Juno hanya bisa berteriak melihat kelakuan istrinya.
“A ini kenapa, kaya yang susah bernafas Anjarnya… mesti dibawa ke rumah sakit gitu”
“Dia mesti muntah supaya keluar residu alkoholnya”
“Biasanya kalau yang tidak terbiasa minum alkohol akan muntah-muntah karena melewati ambang maksimal dia”
“Hoeeeeek...owwhkkkh…” suara Anjar yang akan muntah, membuat Juno kaget.
“Bang sat… jangan muntah di mobil gw!” Juno langsung menghentikan kendaraan. Bulan berusaha memegang kepala Anjar agar tidak terjatuh ke lantai.
“Anjar ya Allah … Anjar sadar Njar …” Bulan menangis sedih melihat muka Anjar yang bengkak karena dipukuli.
Juno turun dan membuka pintu belakang, ditariknya badan Anjar keluar.
“Hoeeeek… hoeeeekk” bertepatan Juno menarik kepala Anjar keluar, ia memuntahkan semua yang ada dalam isi perutnya.
“Bang saaat sepatu gw…” teriak Juno, sambil berjinjit menjauhi Anjar. Bulan terpaksa menahan kepala Anjar yang dilepaskan Juno untuk menghindari muntahan.
__ADS_1
“Hoeeeek…. Hoeeek…” serta merta bau asam muntahan memenuhi mobil, Bulan mengernyit, menahan rasa mual karena mencium bau itu.
“Oooooo.. ” Bulan menutup mulut dan hidungnya.
“Hoeeeek….” masih belum habis rupanya muntahan itu, sampai akhirnya Anjar terkulai lemas.
“A… ada air gak.. Aku minta air” teriak Bulan pada Juno yang berada jauh pada mobil.
“Tuhhh di belakang kursi penumpang ada air mineral kamu ambil aja” teriak Juno, Bulan melengos kesal, sambil menahan Anjar dengan menarik kaos belakangnya tangannya meraih air di belakang bangku penumpang.
“A tolongin atuh ihhh… ini aku susah meganginnya!” teriak Bulan bingung, akhirnya Juno mendekat.
“Heh.. Heh.. itu kamu main duduk disitu, jangan duduk diatas badan dia!” teriak Juno melihat Bulan yang naik ke atas kursi.
“Ini aku susah nahan kepalanya, Aa main tarik aja terus ditinggalin”.
“Ini kita kaya lagi melakukan pembunuhan berencana di mobil” Bulan jadi ingat film action horor dimana pasangan suami istri melakukan perampokan dan mencoba membunuh penumpang.
Juno tertawa, dia menggelengkan kepala, “Kamu tuh bisa-bisanya mikir kaya gitu, bentar aku pindahin dulu mobilnya, banyak muntahan dibawah” Juno masuk ke dalam mobil dan memindahkan mobil.
“Turun kamu” ucap Juno kesal, Bulan segera turun dari bangku belakang tapi masih belum bisa melepaskan kepala Anjar, karena kalau tidak Anjar akan jatuh keluar dari mobil.
“Pegangin atuh kepalanya!” ucap Bulan kesal, dengan setengah hati Juno memegang ujung belakang baju Anjar. Bulan segera turun dari mobil dan membasuh muka Anjar yang penuh dengan muntahan.
“Iyaaa Njar… ini minum dulu biar kamunya enakan” setelah membasuh mukanya hati-hati karena penuh dengan bekas pukulan dan lelehan muntahan.
“Jangan diusap-usap gitu… biasa aja!” teriak Juno kesal.
“Ehhh atuh… ini muka dia penuh dengan bekas pukulan kalau aku kasar-kasar nanti sakit!” protes Bulan, tapi mau bagaimana lagi memang terlihat mengkhawatirkan akhirnya Juno diam dengan kesal.
“Udah belum… ngerjain banget ini sonto loyo… kalau udah sadar gw masukin sumur juga dia!” gerutu Juno.
“Aa… ihh suka jahat!” bentak Bulan. Walaupun memang merepotkan tapi mau bagaimana lagi.
“Ini gak akan apa-apa beneran A… gak usah dibawa ke rumah sakit?” tanya Bulan saat menarik kembali Anjar masuk ke dalam mobil
“Gak akan apa-apa palingan mati… balik ke depan kamu, jangan duduk disitu!” ucap Juno kesal.
“Iya-iya, aku juga mau pindah kedepan lagi, ini betulin dulu kepalanya biar gak goyang-goyang” Bulan membuka jaket dan membungkus kepala Anjar agar hangat.
__ADS_1
“Jangan sampai mati A… kasian dia tuh punya ibu dan adik perempuan yang harus dibiayai” jelas Bulan sambil menarik nafas panjang. Ia hanya mendengar sekilas cerita tentang keluarga Anjar, karena laki-laki itu jarang mau bercerita tentang keluarganya.
“Dimana rumahnya? Kita anterin kesana sekarang!” ucap Juno kesal.
“Aku gak tau rumahnya dimana, dia gak pernah cerita apapun tentang keluarganya, cuma ayahnya sudah meninggal, ibunya suka bikin kue, adiknya satu masih sekolah”.
“Dia yang membiayai hidup keluarganya sekarang”.
"Kalau kita bawa ke rumahnya sekarang kasihan ibunya lihat Anjar seperti ini" Bulan menatap Anjar prihatin.
Juno terdiam mendengar penuturan Bulan, ternyata anak yang suka cengengesan dan menyebalkan itu memikul tanggung jawab yang besar.
“Terus mau dibawa kemana ini? Simpan di hotel?” tanya Juno kesal.
“Astagfirullah A Juno gimana sih… tidak berperikemanusian… kasian dong, udah kondisinya mentalnya down, ini fisiknya juga rusak, nanti siapa yang ngobatin kalau di hotel”
“Kita bawa ke Ruko aja, kan ada kamar kosong”.
“Seenaknya aja… gak bisa…!” jawab Juno tegas.
“A… atulah please… aku mohon… please aku mohon” ucap Bulan, tapi Juno tetap menggelengkan kepala.
“Aku janji nanti kalau Aa mau vitamin K, aku gak akan banyak protes” ucap Bulan pelan sambil menunduk.
“Apaan vitamin K dari kemarin vitamin K melulu sambil gak ada realisasinya” dengus Juno.
“Yah kan kemarin aku belum siap-siap… sekarang aku menyiapkan diri deh… udah ada bayangan tadi malam” ucap Bulan pelan sambil melirik ke belakang, khawatir Anjar mendengar.
“Memangnya apaan vitamin K?” akhirnya Juno penasaran.
“Hmmm….” Bulan melirik kebelakang khawatir Anjar bangun.
“Vitamin Kawin” bisiknya sambil menautkan dua telunjuknya bersama. Juno langsung tertawa tertahan.
“Aku kirain vitamin apaan…” ucap Juno tersenyum.
Bulan menunduk sambil masih menautkan kedua jarinya, yang langsung ditepis oleh tangan Juno.
“Udah jangan dibayang-bayangin nanti pengen lagi!” godanya sambil menggenggam sebelah tangan Bulan.
__ADS_1
“Ya sudah kita bawa saja ke Ruko, nanti besok kalau sudah sadar baru suruh pulang… jangan gangguin acara kita!” dikecupnya tangan Bulan perlahan.
Bulan menarik nafas lega, satu masalah terselesaikan. Soal pemenuhan kebutuhan vitamin bisa diatur belakangan, yang penting manusia yang sedang terluka bisa diselamatkan