
Sudah dua hari ini Bulan memulai status baru sebagai pegawai rumahan, itu sebutan yang ia buat pada dirinya sendiri. Tidak mau menyebut diri sebagai seorang pengangguran karena memberikan kesan tidak melakukan apapun. Ia bertekad walaupun tidak bekerja di kantor seperti dulu ia harus membuat suatu capaian tanpa tergantung pada orang lain.
Pada akhirnya Juno sibuk dengan pekerjaannya sendiri, setiap ditanya apakah ada yang bisa ia kerjakan untuk kantor baru suaminya, selalu saja jawabannya nanti saja. “Kamu kerjakan saja yang kamu bisa kerjakan di rumah… nanti kalau sudah jelas pekerjaan yang harus kamu lakukan aku kasih tahu”
Ia bukan orang yang tergantung pada orang lain, sejak kecil ia terlatih untuk bisa mengambil keputusan sendiri, sehingga saat kedua kalinya ia bertanya pada Juno dan jawaban yang diberikan sama. Bulan memutuskan untuk membuat ritme kerja sendiri di rumah.
Hari pertama ia sibuk merapikan rumah, membereskan barang-barang yang selama ini belum sempat ia tata. Tidak banyak karena Juno adalah manusia yang tidak suka menyimpan barang yang dianggap tidak fungsional. Sejak pagi Juno selalu sibuk di lantai bawah dengan komputer dan tumpukan gambar, entah mengerjakan apa karena mereka berdua tidak pernah membicarakan soal pekerjaan. Jam makan siang ia akan naik ke lantai atas, makan tanpa banyak bicara, karena matanya sibuk melihat ke handphone yang dibawanya kemana-mana.
Begitu pula dengan siang ini, Bulan sudah memposisikan ruangan kerja untuk dirinya di lantai dua. Lebih nyaman baginya untuk bekerja di lantai dua, walaupun di lantai bawah ada beberapa meja kerja yang kosong. Tapi suasananya terasa begitu asing dan formal, sedangkan di lantai dua ia bisa bekerja sambil sesekali menggoda Samson yang tiduran di sofa.
“Bulan… aku mau kopi!” terdengar teriakan Juno dari lantai 1.
“Iyaaa... “
Bulan jadi ingat kalau ia belum menggunakan coffee maker yang diberikan oleh teman sekantornya dulu. Segera membuka dus kemasan dan memasangnya di dapur, wuiiiih terlihat cantik pikirnya. Ternyata hampir sama dengan coffee maker di ruangan pantry kantor hanya saja miliknya lebih canggih karena sudah digital untuk operasional penggunaannya. Sambil membawa biskuit cokelat ia membawa kopi buatannya ke lantai bawah.
“Ini A…” menyodorkan kopi buatannya ke depan Juno yang tampak mengerutkan dahi di depan komputer dengan layar besar di depannya.
“Hmmm” hanya suara gumaman yang keluar. Bulan menarik nafas panjang.
“Terima kasih sayang sudah membuatkan Abangmu kopi, aromanya harum sekali, seharum yang membuatnya” ucap Bulan sambil menatap kopi yang dibuatnya.
“Sama-sama Abang, apa sih yang engga buat Abang… sarangheo” jawabnya sendiri. Memberikan lambang hati pada kopi yang dibuatnya dan kemudian beranjak pergi.
Juno melirik Bulan yang kembali ke lantai dua, tersenyum sambil terus menutup layar komputer di depannya, mengambil kopi yang dibuat istrinya dan menyesapnya perlahan, ia mengerutkan dahinya dan kembali menyesap kopinya kembali. Menikmati kopi buatan istrinya hingga hampir habis, ia kemudian bangkit dan naik ke lantai dua.
“Kopinya kok beda?” tanyanya tiba-tiba hingga Bulan hampir terlonjak.
“Aduuuh… kenapa sih suka datang tiba-tiba… bikin kaget!” protes Bulan.
“Pakai coffee maker buatnya… enak yah?”
“Aku di kantor selalu bikin kopi… karena kopi buatanku paling enak katanya”
“Cuma kalau di kantor mereka suka bilang makasiih Bulan”.
“Kalau di kantor ini cuma bilang hmmmmmmm… kaya kuda nil” gerutunya.
“Aku kan baru dibuatin satu kali… jadi wajar baru tahu kopi buatan kamu enak” jawab Juno malas sambil duduk di sofa.
“Aku mau makan sekarang”
“Haaah baru jam sebelas… masa udah mau makan siang lagi... Ntar ndut loh dari tadi duduk terus tapi makan ga telat" kembali Bulan protes.
“Aku kalau sudah kerja suka males makan, mumpung sekarang terasa lapar” jawabnya. Bulan mengangguk, hari Minggu kemarin pun Juno baru makan setelah lewat jam tiga karena sibuk di depan layar komputernya.
Saat menyiapkan makan siang, handphone Bulan berbunyi. Aneh pikirnya, setelah seharian kemarin tidak ada yang telepon karena sudah tidak bekerja. Juno melirik ke arah meja makan tempat Bulan menggeletakkan hp.
“Siapa ini? Kok nomor gak dikenal?!” Bulan mengerutkan dahi biasanya nomor yang tidak dikenal isinya telepon promosi produk Bank atau malah orang iseng, dimatikan dan meletakkan handphonenya kembali karena sedang menyiapkan makan siang Juno.
Tak berapa lama handphone kembali berbunyi, kali ini dengan nomor yang berbeda, ini nomor luar negeri karena angka nya yang aneh bukan nomor telepon seluler Indonesia.
“Apaan ini nomornya kok aneh +852 nomor negara apa A” tanya Bulan, Juno mendekat mengambil handphonenya dan memijit tombol hijau.
“Ehh kok malah diterima gimana kalau penipu” teriak Bulan. Juno melengos dan langsung bicara.
“Halo…”
“Halo…” ucap Juno lagi.
“Haloo…” terdengar suara laki-laki di seberang telepon. Bulan langsung mendekatkan telinganya ke hp yang menempel ke telinga Juno, karena tinggi ia harus berjinjit dan menarik bahu Juno agar sedikit menurunkan kepalanya, tapi Juno menahan kepala Bulan supaya tidak mengganggunya dengan sebelah tangannya.
“Maaf ini nomor telepon Rembulan?” kembali terdengar suara laki-laki itu.
“Iya betul, dengan siapa ini” suara Juno terdengar dingin dan datar.
“Saya teman kuliahnya dulu, Cedrik… apakah Rembulan ada?” tanya laki-laki itu lagi.
“Ada… sebentar” Juno menyodorkan telepon pada Bulan dengan muka datarnya.
“Temen kamu… speaker hidupkan” ucapnya.
“Hah temen aku… kok nomornya aneh.. Siapa?” ucap Bulan sambil memandang hp melihat nomor yang tertera.
“Tanya aja sendiri”
“Speaker…” ucap Juno lagi.
“Iya… iya… belum juga ngomong” jawab Bulan sambil memijit tombol speaker.
“Halo.. assalamualaikum…” dengan hati-hati Bulan berbicara dipandangnya layar handphone sambil terus berpikir siapa teman yang dimaksud.
“Waalaikumsalam… Bum… ini kamu kan?” tanya laki-laki diseberang telepon.
“Iya… siapa ini?” tanyanya masih dengan hati-hati, hanya satu orang yang suka memanggilnya Bum tapi Bulan masih tidak yakin
“Cedrik… kenapa tadi hp nya di reject aku sampai pakai nomor yang lain, karena takut salah”
“Arghhhhh Kak Cedrik …. Serius ini beneran Kak Cedrik? Apa kabar?… aduh I miss you!” teriak Bulan kegirangan, tapi mukanya langsung pucat saat melihat tatapan Juno yang memandangnya dengan kesal. Ia langsung tersenyum kecut.
“Eh salah gak jadi I miss you nya… diralat...hehehehe”
__ADS_1
“Hahahahahaha gak bisa lah diralat… udah keluar, aku udah tau duluan kamu kangen sama aku… I miss you too Bulan” jawab Cedrik.
“Nggak aku beneran gak kangen sama Kak Cedrik udah lupa beneran” jawab Bulan dengan serius. Muka kesal yang dihadapannya membuat ia tidak bisa kangen dengan siapapun.
“Hahahaha its ok… ada suami kamu yah disana?”
“Tadi yang terima telepon itu suami kamu?”
“Hahahah pantesan telepon aku yang tadi di reject… pasti sama dia yah”
“Nggak itu aku yang reject Ka… soalnya lagi masak terus nomornya gak dikenal”
“Ow ok.. Fine, nomor yang tadi di save yaa Bum jangan lupa nanti jangan di reject lagi” Cedrik masih mengingat nama panggilan Bulan saat mereka kuliah dulu.
“Kamu kenapa keluar kerja, aku kemarin ke kantor kamu, Jerika yang bilang kalau kamu kerja di KAP itu ternyata kamu udah berhenti”
“Makanya aku minta nomor hape kamu sama dia… bener aja hp ku di reject sama suami kamu”
“Bukan suami aku yang nge-reject Kaak.. tapi aku” Bulan berusaha membela Juno yang seperti tidak peduli masih melanjutkan makan sambil melihat hp nya. Perlahan Bulan berdiri dan mencoba menjauh, ia merasa tidak nyaman karena percakapannya jadi terdengar oleh Juno. Khawatir kalau Juno malah jadi berpikir yang tidak-tidak tentang dia dan Cedrik, tapi langkahnya terhenti saat Juno menatapnya yang mencoba beranjak menjauh.
“Mau kemana kamu” hanya dengan gerak bibir tanpa suara Juno membuat Bulan menghentikan gerakannya.
“Disana, biar gak ganggu” Bulan menjawab tanpa suara sambil menunjuk ke arah meja kerjanya.
“Duduk disini!” balas Juno masih tanpa suara sambil menunjuk meja makan, dengan malas Bulan kembali dan duduk di depan Juno sambil cemberut.
“Perusahaan suami kamu bergerak di bidang apa Bum?” tanya Cedrik lagi, setelah lama tidak ada percakapan diantara mereka.
“Desain interior Kak… main deh kesini kantornya baru buka kok” jawab Bulan cepat.
“Oya… menarik menarik… aku dulu tertarik bidang desain, cuma gak lulus ke ITB jadi masuk ekonomi deh”
“Daerah mana kantornya? Sebelum aku balik ke Hongkong aku pengen ketemu kamu dulu”
“Waktu di pub dulu cuma sekilas, kaget banget ketemu kamu disana… gak nyangka”
“Hehehehe iya aku juga kaget gak nyangka… lagi happy-happy yah Kak?” Bulan melirik Juno yang tampak tidak menyimak karena asyik makan dan bermain hp di depannya.
“Happy-happy gimana? Aku lagi nemenin client aja… dia ke Jakarta buat meeting sama perusahaan yang mau di investasi”
“Eh Kak Cedrik kerja dibidang apa?”
“Aku sekarang kerja di Konsultan Investasi dan Bisnis. Kantornya sih di Hongkong, aku kesini nemenin mereka ketemu sama perusahaan yang mau ditanam modalnya”
“Ehhh seriusan, waktu di KAP terakhir aku kerjanya di divisi konsultasi bisnis”
“Kerjaan cuma menganalisa liabilitas perusahaan, nilai investasi, bikin kesepakatan kerja gitu deh… kok bisa yah kita samaan gini bidangnya, padahal dulu gak janjian yah Kak bakalan menggeluti bidang ini”
“Atau kamu mau gabung sama perusahaanku? mereka lagi butuh liaison officer buat handle di Indonesia” tawar Cedrik.
“Ehhh beneran ada kesempatan itu?, aku pengen banget kerja di perusahaan internasional… mimpi ak…” ucapan Bulan terhenti saat matanya menatap Juno yang hanya menatapnya tajam.
“Eh… hehehe makanya aku berhenti kerja soalnya mau bantu suami… kalau dipakai tenaganya, tapi kalau gak dipakai dianggurin aja sih kayaknya aku juga mau cari pekerjaan baru” Bulan balas menatap Juno dengan tajam.
“Yaaah mengertilah aku kalau sudah menikah memang perempuan Indonesia lebih sulit yahh”
“Makanya aku masih belum menikah… terlalu banyak hal yang perlu dikompromikan… apalagi sama Katherin… huffftt”
“Cie..cie udah punya Katherin nihhh… dulu ngecengin Angel, gimana gak jadi rupanya?” Bulan langsung tertawa lebar saat mendengarnya, ia ingat kalau dulu Cedrik sering cerita soal temannya yang satu keyakinan.
“Ahhh itu masa lalu, udah nikah dia sama temenku malah” jawab Cedrik santai.
“Ahahhahaha naksir bertahun-tahun ternyata hanya jadi jodoh orang kasian banget… hihihihi” Bulan tertawa senang, sudah berhari-hari tidak bisa tertawa karena tidak ada teman yang bisa diajaknya bercanda.
“Lahhh kan lu sendiri yang bilang jodoh sudah ada yang ngatur… jadi gw sans aja deh” jawab Cedrik.
“Iya itu adalah jawaban dari para jomblo kalau udah mentok...hahahhahaha” masih tidak puas Bulan menertawakan Cedrik.
“Eitsss sorry gw sama Katherin udah tunangan jadi naik dong stepnya bukan jomblo lagi” jawab Cedrik cepat.
“Ok… deh Kakak… aku doain cepet naik ke pelaminan kaya aku”
“By the way, kenapa kamu nikah gak ngasih tau aku?, temen-temen seangkatan dan di himpunan pun pada bilang kalau kamu gak ngundang mereka?”
“Why? Is something wrong? Lu gak di bayar dimuka kan? Bukan tipe lu banget deh kayaknya kalau dikasih DP duluan” tanpa basa basi Cedrik langsung menendang bola ke gawang.
“Aissshhh… dari dulu Kak Cedrik paling lemes bibirnya kalau ngomongin yang kaya gituan”
“Apa pula DP bayar dimuka segala… rugi banget deh”
“Bapak kena serangan stroke Kak… jadi mesti dioperasi. Terus Bapak gak mau dioperasi kalau aku belum menikah”.
“Jadi aku nikahnya mendadak gitu deh” jelas Bulan sambil melirik Juno, makan siangnya sudah selesai tapi masih belum beranjak dari meja makan masih terlihat asyik dengan hp nya dan duduk di meja.
“Ohh serius Bapak kena serangan stroke? Sekarang kondisinya bagaimana?” suara Cedrik terdengar khawatir, beberapa kali ia bertemu dengan bapaknya Rembulan karena mereka sering ada kegiatan bersama.
“Sekarang sudah baik Ka… sudah bisa beraktivitas seperti semula, hanya harus menjadi pola makan saja dan olahraga”.
“Padahal Bapak aku lihat tipe yang sehat dan bahagia yah… kok bisa kena serangan stroke, aku inget kalau dulu nganterin kamu pulang suka diajak tanding catur”.
“Tapi aku ngerasa Bapak lagi introgasi aku, soalnya selama main catur banyak nanya ini itu, Bapak kamu pinter banget strateginya… mengorek keterangan lawan tanpa disadari”.
__ADS_1
“Hahahahah Bapak emang gitu… pantesan dulu anteng banget kalau udah main catur” tatapan Bulan terhenti menatap Juno yang tengah memandangnya.
“Apa?” tanyanya tanpa suara. Juno memberikan tanda telepon dan X meminta Bulan untuk berhenti berbicara. Bulan menarik nafas panjang, seakan tidak ada kebebasan baginya untuk berbicara.
“Kak jadi kapan mau kerumah? Mau aku kenalin sama suami aku yang galak dan otoriter” ucap Bulan sambil cemberut ke arah Juno yang seperti tidak peduli.
“Ok… sebelum aku balik ke Hongkong lagi aku usahakan ketemu kamu dulu. Share loc aja yah nanti posisi rumah kamu dimana, jadi kita bisa ketemuan”
“Aku pengen ngobrol juga sama suami kamu, konsultasi soal interior… Katherin mau bikin cabang Cafe di Jakarta… mungkin suami kamu bisa bantu”
“Ohhh tentu saja bisa… A Juno bagus-bagus banget rancangannya” Bulan langsung bersemangat sambil mengacung-acungkan jempolnya seakan Cedrik ada di depan mukanya, melihat kelakuan istrinya Juno hanya menggelengkan kepala.
“Ok… see you then Bumbum… jaga diri kamu baik-baik yah, jangan lupa kontak aku. Save nomor ini dan nomor tadi… you can call me anytime”
Bulan tercenung, panggilan Bumbum mengingatkannya pada masa lalu saat ia masih jadi mahasiswa magang di BEM. Sikapnya yang grusa grusu sehingga sering membuat barang-barang di sekitarnya jatuh berantakan atau ia terjatuh. Cedrik yang melatihnya untuk lebih tenang dan tidak bersikap reaktif, pembawaannya yang tenang membuat Bulan mencoba lebih adaptif dan terkendali.
“Hee Bumbum… bumbum dapur mungkin lebih cocok” ejek Juno, Bulan mendelik kesal tapi ia tidak menanggapi ejekan Juno.
“Mau apa lagi A Junonya, makan kan udah! kopi udah!”
“Berapa lama kamu pacaran sama dia?” tanya Juno tiba-tiba, Bulan melirik kesal sambil membawa piring bekas makan Juno ke bak cuci piring.
“Aku gak pernah pacaran sama dia, beda agama, kita tahu batasan kita masing-masing. Aku cuma adik kelas bimbingan dia aja”
“Gak mungkinlah… pasti ada hubungan istimewa, gak mungkin punya nama panggilan kalau gak ada apa”
“Apa nama panggilan kamu ke dia?” Juno rupanya masih penasaran mendekat ke area pantry agar bisa melihat ekspresi istrinya saat menjawab.
“Kak Cedrik... “ jawab Bulan polos.
“Pasti ada panggilan khusus, seperti tadi dia memanggil kamu” Juno bersikukuh
“Yahh… Kak Cedrik itu aja… manggil apa lagi?” Bulan seperti tidak peduli dengan rasa penasaran Juno.
“Sama seperti aku manggil Kak Juno… A Juno.. dipanggil akang gak mau karena merasa aneh, dipanggil abang terasa sama dengan tukang bubur di kost-an”
“Kamu memang gak punya daya imaginasi… mestinya kamu punya panggilan spesial buat orang yang spesial buat kamu”
“Semua orang spesial buat aku… jadi kenapa mesti bikin yang spesial lagi?”
“A Juno spesial… cuma Aa yang punya sifat nyebelin kaya gini, Kak Cedrik spesial… cuma dia punya sifat yang sabar dan ngebimbing sama aku, Pak Kevin spesial karena cuma dia atasan yang paling humanis sama bawahannya, Anjar spesial karena dia teman aku yang baik, Afi spesial karena dia tempat aku bisa berdiskusi, Mbak Icha juga spesial karena cuma dia atasan yang punya sifat nyebelin dan nyenengin bersamaan”
‘What…. Jadi buat kamu aku sama saja seperti yang lain? Malah aku spesial karena menyebalkan kamu bilang!” Juno terlihat kesal dan memegang pundak Bulan dengan keras.
“Aduuuuh… tuh kan spesial nyebelinnya kelihatan… gampang ngambek… dikit-dikit marah, tersinggung… dasar sumbu pendek… untung aku orangnya sabar” Bulan melengos kesal, tapi Juno tidak mau tinggal diam.
“Kamu gak tau spesialnya aku dibanding sama yang lain?” tanya Juno keukeuh, ditariknya kembali Bulan hingga bisa berhadapan dengannya.
“Iyaa...iya spesial banget pake telor… suami aku… paduka yang mulia… yang titahnya selalu benar dan harus diikuti…” jawab Bulan dengan menarik nafas panjang, kalau sudah meradang begini harus diangkat ke atas kalau bisa sampai langit-langit atap rumah.
“Selain itu apalagi?” Tanya Juno.
“Yang memberikan nafkah setiap bulan sama aku sehingga aku bisa belanja tanpa harus bekerja… cuma seorang Bhranta Juno Aditya” jawab Bulan dengan sabar.
“Apalagi?” tanya Juno dengan tidak sabar.
“Apalagi atuh… meni pengen dipuji-puji wae… udah ah… aku mau sholat dzuhur , ngomong sama Aa mah ngabisin waktu… debat kusir gak ada akhir” Bulan melengos meninggalkan Juno, tapi
“Heee bentar… kamu main kabur aja, tadi aja sama si Keprik kamu ngobrol betah banget diajak ngobrol sama aku kaya males-malesan gini”
“Keprik… keprik… Cedrik… ihhh suka nyebelin emang” Bulan mencubit perut Juno dengan kesal.
“Udah ah mau solat dulu” tapi kembali Juno menahan tangan Bulan.
“Sebentar… kamu jadi gak merasakan perbedaan aku dengan yang lain?” tanya Juno dengan muka kesal.
“Yah bedalah mukanya aja udah beda masa sama sih” Bulan mengerutkan dahi. Juno mendengus kesal, kesabarannya mulai habis.
“Aku tuh orang spesial buat kamu… soalnya yang lain tidak bisa melakukan ini sama kamu” dengan satu kali tarikan, menyatukan diri hingga Bulan tidak bisa berbicara.
“Hmmmppp….”
“Huaaaahhh…” Bulan menggap-menggap menarik nafas panjang. Serangan disiang hari yang sama sekali tidak ia duga.
“Hadeuuuh… iya..iyaa aku lupa… maaf aku lupa” Bulan menahan dada Juno supaya ia bisa menarik nafas panjang.
“Kamu memang mudah melupakan hal yang penting, murid yang suka pelupa itu harus di remedial” dengan sekali tarikan menggendong Bulan yang hanya bisa tersentak kaget.
“Iiiih… mau apa lagi ini, aku udah inget… gak usah di remedial… ampun pak.. Ampun” teriak Bulan
“Semakin sering latihan… akan semakin ingat… itu prinsip penting dalam mengingat materi pelajaran”
“Aa… ih ini siang-siang aku mau sholat dzuhur ” teriak Bulan saat masuk ke kamar.
“Waktu dzuhur masih panjang….”
“Braaak” suara pintu ditutup mengakhiri percakapan.
Sttttt jangan ribut… ada yang lagi belajar.
__ADS_1