Rembulan

Rembulan
Adu Rayuan


__ADS_3

Kalaulah ada ungkapan, pada saat raga berjauhan itu hati malah terasa dekat, dan pada saat raga berdekatan malahan perasaan seperti jauh,  ternyata itu benar adanya. Selama ini saat di ruko Bulan dan Juno memang selalu bersama tapi sibuk dengan kegiatan masing-masing. Juno dengan kegiatan menggambarnya dan Bulan sibuk dengan pembuatan proposal dan laporan keuangan. Berbicara sebentar saat makan siang kemudian mereka kembali pada aktivitasnya masing-masing.


Apalagi kalau sedang membuat desain gambar maupun kegiatan lainnya Juno sangat sulit diganggu. Terkadang saat makan siang pun ia asyik berselancar di hp atau melihat laptop. Kalaupun Bulan mengajak bicara yang muncul hanya suara hmmm atau bahkan terkadang tidak menjawab sama sekali sampai harus diulangi pertanyaannya.


Itu sebabnya pada akhirnya Bulan memilih untuk menyibukkan dirinya sendiri. Ternyata konsekuensi bekerja di rumah adalah tidak memiliki teman kerja, tidak lagi ada acara ghibah dengan teman seruangan, melihat model pakaian dari karyawan lain, ataupun mencuri-curi waktu untuk memperpanjang jam makan siang. Semuanya menjadi datar dan hambar. Akhirnya Bulan sering merasakan kebosanan dan kesepian saat bekerja di rumah.


Namun sekarang, saat Ia harus kembali berpisah berbeda kota dengan suaminya, Bulan mulai merasakan ada gejolak pada perasaan yang sempat menghilang beberapa waktu kebelakang. Juno memang sering pergi keluar kota, tapi saat itu hubungan mereka dalam keadaan baik-baik saja. Setelah pertengkaran hebat kemarin ditambah kondisi kehamilannya membuat Bulan lebih sensitif dan peka terhadap semua sikap dan perilaku suaminya.


Ia menjadi lebih menuntut dan gampang tersinggung. Seperti sekarang sudah jam sebelas malam tapi ia tidak bisa memejamkan mata. Terakhirnya suaminya mengontak memberitahu kalau ia mengambil pesawat jam 8.45 ke Surabaya. Dengan lama perjalanan kurang lebih satu jam sepuluh menit maka paling cepat pesawat akan landing di jam sepuluh malam. Tapi sudah hampir satu jam semenjak pesawat landing, suaminya masih belum juga memberi kabar sudah sampai atau belum.


Dilihatnya kembali handphone ternyata masih checklist satu, artinya Juno masih belum menghidupkan kembali hp nya.


“Kenapa sih kok sudah satu jam lebih masih checklist satu”


“Mestinya kan sudah sampai dari jam sepuluh tadi”


Bulan hilir mudik di kamar, matanya sudah terasa berat tapi perasaannya masih tidak tenang sehingga membuat rasa kantuknya jadi hilang.


“Tehhh gera tidur” (Teh segera tidur). Terdengar suara Bapak dari luar kamar, rupanya melihat lampu kamar Bulan yang masih terang membuat Bapak jadi khawatir.


“Iya… ini lagi nungguin kabar A Juno sudah sampai atau belum ke Surabaya”


“Sambil rebahan kok” jawab Bulan.


“Jangan terlalu malam tidurnya, nanti kambuh lagi vertigonya” sambung Bapak.


“Iyaaaa… mau tidur ini sudah rebahan di kasur” jawabnya sambil bersandar dan memandang handphone dengan perasaan bimbang.


“Kalau gak tidur sekarang bakalan gak tidur semalaman”


“Kata dokter Amma gak boleh kurang tidur dek” ucap Bulan sambil mengusap perut.


“Tapi Appa nya belum jawab telepon aja, gimana kalau ada apa-apa” tiba-tiba Bulan membayangkan pikiran yang tidak-tidak. Bayangan kecelakaan pesawat beberapa waktu kebelakang sontak membuat pikirannya waspada dan menjadi cemas.


“Astagfirullah… jangan sampai kejadian ya Allah, hamba banyak dosa kalau sampai ditinggalkan sama suami” Bulan mengusap muka nya, perasaannya menjadi semakin bimbang dan kalut.


“Ya Allah kenapa gak ada kabar udah satu jam lebih” Bulan semakin kalut. Tapi tiba-tiba saja handphonenya berdering. Tampak di layar hp, foto profil Juno yang sedang tersenyum, foto yang diambil saat pernikahan Afi dulu . Bulan langsung memijit tombol hijau.


“Kemana ajaa sampai lama banget baru hidup hpnya”


“Aku kan khawatir sampai gak bisa tidur”


“Kalau sudah sampai tuh langsung telepon jangan sampai nunggu ke hotel baru telepon”


“Kan aku gak tenang pikiran jadi kemana-mana…iiiih”


Tanpa memberikan jeda Bulan langsung nyerocos kesal. Terdengar tarikan nafas diujung sana.


“Ini juga baru sampai sayang… tadi pesawatnya delay, pas udah masuk ke dalam pesawat malah nunggu sampai hampir satu jam” jawab Juno dengan suara lemas.


“Delay… kenapa delay? pesawatnya rusak?” Bulan terhenyak kaget, bayangan buruk tadi muncul kbali di kepalanya


“Gak tau katanya ada masalah di mesin tapi gak dijelasin”.


“Kenapa gak turun aja… gimana kalau masalahnya pas lagi di atas”


“Aku kan gak mau jadi janda… masa seumuran aku udah jadi janda… ya allah terus aku lagi hamil lagi… Aa lain kali kalau kaya gitu mendingan turun aja jangan diterusin”


“Nyari uang juga ngapain sampai segitunya… kita mah cukup yang ada aja gak usah sampai berlebihan begitu” Bulan langsung terduduk lemas di sisi tempat tidur.


“Kamu tuh mikirnya kejauhan” gerutu Juno


“Rejeki, jodoh, mati itu diatur sama yang di Atas”


“Mau turun dari pesawat kalau memang sudah waktunya mati yah tetap saja akan mati, mungkin ditabrak mobil lah… mungkin jatuh ke jurang lah.. Kita kan gak tahu” jawab Juno tenang.


“Jangan mati dulu… nanti aja kalau akunya udah tua” jawab Bulan pendek, muka ditekuk cemberut, Juno bisa membayangkan muka Bulan dari suaranya.


“Jadi gak mau ditinggalin nih ceritanya… udah cinta mati yah sama aku?” suara Juno terdengar menggoda.

__ADS_1


“Ya iyalah gak akan mau ditinggalin, udah tekdung begini, siapa yang mau juga sama perempuan yang badannya udah bengkak” jawab Bulan kesal.


“Aku mau… kamu tuh sejak hamil jadi makin keliatan cantik… tau nggak?” bisik Juno di telepon, tanpa sadar Bulan mencebik sambil tersenyum.


“Apaan sih makin kesini jadi makin rajin ngegombal” gerutunya, walaupun begitu Juno bisa mendengar nada senang pada suara istrinya.


“Tahu gak selama tadi delay di pesawat aku tuh tiba-tiba aja bisa bikin rangkaian kata kaya puisi gitu” ungkap Juno.


“Puisi gimana? Aa ini masih di Bandara?” tanya Bulan heran, karena terdengar suara pemberitahuan seperti sedang di Bandara.


“Iya lagi nunggu bagasi. Mau dengar gak puisinya?” ucap Juno dengan nada tidak sabar.


“Iyaah sok aku dengerin… mumpung gak jadi ngantuk”


“Dikasih hadiah apa nanti?” tawar Juno cepat.


“Hadiah apaan? Eww situ yang nawarin bukan aku yang minta juga, ngapain mesti ngasih hadiah” protes Bulan.


“Aku belum pernah bikin puisi jadi ini limited edition.. Kamu mesti merasa terhormat aku buatin puisi” jelas Juno cepat.


“Iya lah iyaa… sok buruan bacain puisinya… kalau bagus nanti dikasih hadiah”


“Hadiahnya dulu dipastikan” tawar Juno lagi.


“Iyalah iyaa buruan, nanti A Juno pengen apa aku kasih… buruan keburu ngantuk inih” jelas Bulan kesal. Terdengar suara Juno tertawa tertahan, merasa puas karena keinginannya terpenuhi.


“Ok dengerin yah… soalnya susah nih bikinnya”


“Hmmm..” jawab Bulan matanya sudah mulai terasa berat, rasa lega karena bisa mendengar suara suaminya membuat pikirannya kembali relaks.


“Ehmmm…” terdengar kalau Juno ragu-ragu.


“SEJENAK KUKIRA ADA YANG MEMANDANG”


“TERNYATA ITU HANYALAH BAYANGAN”


“BAYANGAN DIRIMU ”


Sempat terdiam beberapa saat… krik…krik…


“Gimana?” tanya Juno dengan suara ragu-ragu.


“Itu bukan copy paste dari internet kan?” tanya Bulan dengan polos.


“Yaaa bukan… gimana sih… kamu tuh melecehkan banget nyebut aku plagiarisme” jawab Juno dengan kesal.


“Oh hehehhehe ya lumayan lah hehehehe”


“Lumayan gimana susah lagi bikinnya” jawab Juno kesal.


“Itu iramanya ada yang kurang pas… coba lagi.. trus kependekan juga, latihan lagi biar pas gitu ujungnya” jelas Bulan, Juno menghela napas, merasa tidak dihargai maksimal.


"Kaya yang sendirinya bisa bikin puisi" gerutu Juno kesal, bayangan Bulan yang akan kagum akan rayuan puisinya langsung terhapus.


"Bisa dong..aku tuh jagonya dulu"


“Nih aku kasih contoh yah… ehmmm” Bulan mencoba mengingat-ingat lagi kemampuannya yang dulu sempat menjadi andalan saat harus melakukan acara gombal menggombal di kampus.


“Nihh dengerin… kalau bikin puisi itu harus pakai hati, bayangin dulu orangnya, trus perasaan yang kita rasakan untuknya. Baru nanti bisa dapat feel nya, ehmmm sekarang aku lagi bayangin saat dulu liat A Juno di rumah Bandung… pas lewat di ruang tengah tuh… hihihi jadi malu bayanginnya” Bulan terkikik membayangkan saat itu. Lama ia terdiam kemudian menarik napas panjang.


“Ehmmm…awas tapi jangan diketawain”


“INGINKU BERKENALAN DULU”


“MUNGKIN HATI DAPAT BERSATU”


“SEPERTI PANAH YANG MENYERBU”


“OH GLORY KAU CURI HATIKU”

__ADS_1


“Hahahahahahah… akhiiiiw… malu ya Allah” teriak Bulan sambil menutup mukanya, diseberang telepon tidak terdengar suara Juno.


“Aa ihh meni gak komentar” ucap Bulan kesal.


“Kamu… kamu beneran cewek yang berbakat jadi playgirl… kenapa dulu gak bacain puisi itu sama aku?” tanya Juno suaranya terdengar menahan senyum. Rupanya ia merasa terayu oleh puisi yang dibuatkan Bulan.


“Alaaaah boro-boro aku bacain puisi, ngeliat ke aku aja engga… gimana aku gak panik, inget gak waktu nganterin aku pulang ke rumah sama Afi dulu… waktu itu aku pamit sama A Juno… mukanya kaya yang kesel dan sebel gitu sama aku… bikin ilfill” kenang Bulan kesal.


“Kenapa kalau gitu kamu tetap suka sama aku?… gak bisa melupakan wajah ganteng aku yah?” goda Juno kembali.


“Nasib akunya aja apes… dijodohin sama orang nyebelin… mungkin di kehidupanku yang lalu… aku suka mengecewakan pasangan jadi aja dijodohin sama orang yang bikin ilfill, jadi kena karma” jawab Bulan asal.


“Heeeh sembarang, aku bukan orang yg bikin ilfill tapi memang selektif, gak semua orang bisa mendapatkan perhatian dari aku. Mestinya kamu tuh merasa terhormat, bangga dan bisa sombong sama orang lain, bisa menikah dengan seorang Bhrata Juno Aditya” ucapnya lantang.


“Weedeh keluar sombongnya… yah sok atuh… buktikan kalau Bhrata Juno Aditya bisa bikin puisi yang bagus… yang bikin aku termehek-mehek… hhihihi” Bulan tertawa puas membayangkan kalau suami akan langsung merasa down, manusia kaku mana bisa romantis.


“Kamu yah suka meremehkan kemampuanku”


“Dengerin… ehmmm” lama diam dan kemudian terdengar tarikan napas panjang.


“AWAN MASIH MEMILU”


“LANGIT MASIH MEMBIRU”


“UNTUK KAMU YANG MASIH KELABU”


“OH BABY I LOVE YOU”


Ucap Juno dengan lugas… kembali suasana menjadi terdiam… Juno menahan tawa ia tahu kalau terdiamnya Bulan itu karna speechless. Entah dari mana tiba-tiba saja muncul serangkaian kata dalam kepalanya dan langsung ia sambung dengan cepat. Ternyata benar hanya tinggal membayangkan orangnya yang kita tuju dan suasana perasaan untuknya.


“Ahahahahahahah... langsung KO... dengerin lagi nih"


“ADA YANG TERHENYAK DAN MENGIBAS”


“SERUPA HATI YANG TERLINDAS”


“ENYAH SEMUA NESTAPA”


“TERSAPU UCAPAN MANIS SANG PUJANGGA”


“KEKASIH HATI YANG TELAH MERAMPAS”


“SEMUA RASA YANG TAK TERBALAS”


“KINI MENGUMANDANG BERADU RASA”


“MENJADI CINTA YANG MENGGELORA”


“Ahahahahhahahaha”


“Aa lebay” hanya itu jawaban Bulan sambil menutup sambungan telepon dari suaminya. Juno semakin tertawa lepas, semua rasa lelah akibat in pesawat yang delay seakan menghilang saat mendengar jawaban istrinya. Ia tahu kalau Bulan merasa malu untuk bisa memberikan tanggapan. Tak lama terdengar notifikasi pesan.


“Yah… boleh nanti aku kasih hadiah” tulis Bulan pendek. Juno langsung menyeringai senang, dan menuliskan pesan sambil senyum-senyum sendiri. Ia seperti tidak memperdulikan kalau bagasi sudah mulai bisa di ambil.


“Yesss…. Siapkan baju lingerie yang seksi… begitu aku sampai ke hotel aku pengen nonton live” balasnya dalam pesan. Berjalan setengah melompat-lompat kecil, membayangkan rasa yang akan menggelora saat tiba di hotel nanti. Hatinya menjadi riang gembira. Ternyata tidak hanya Tasya yang bisa bernyanyi gembira rupanya.


“Aaarghhhhh…” malam itu di Bandung tiba-tiba terdengar teriakan. Benny yang masih duduk di ruang tengah langsung berlari ke kamar kakaknya.


“Teeeh ada apa? Gak apa-apa?” tanya Benny sambil mengetuk pintu.


“Gak apa-apa Benny… tadi teteh liat cucunguk (kecoa)” Bulan menutup matanya membayangkan harus berpakaian seksi demi hadiah bagi pujangga baru kelas teri.


Kasian sekali kau cucunguk… kamu bukan kambing tapi selalu menjadi kambing hitam.


###############################


Teruntuk Mikail Pujangga Kacangan yang rajin bikin puisi ambyar... honor menulis hari ini boleh nanti diklaim. Yang butuh bantuan dibuatkan puisi ambyar silahkan daftar di komentar. Hahahahahaha


#likemotherlikeson

__ADS_1


#maunolakjugakelakuandiamiripsamaemaknya


__ADS_2