
Bhanu terbaring lemah di UGD, tidak banyak yang dijelaskan oleh Juno saat tenaga medis menanyakan penyebab luka-luka di muka Papanya. Hanya menyebut perkelahian karena urusan keluarga. Jangan tanyakan tatapan penuh tanya dari perawat yang melihat Juno yang tampak segar bugar tanpa luka sedikitpun sedangkan Bhanu tampak menderita dengan lebam dan luka di mulut serta pipi.
“Ini Fist Fight dok… jadi orang lain tidak boleh terlibat” akhirnya Juno terpaksa memberikan jawaban karena dokter terus bertanya kenapa laki-laki yang sudah tua terlibat perkelahian.
Papa Bhanu akhirnya diputuskan untuk dirawat untuk diobservasi khawatir ada luka di dalam yang belum terdeteksi. Dokter menjelaskan biasanya pasca kejadian pasien akan merasakan kondisi fisik yang lebih buruk karena luka di dalam tubuh.
Seperti yang sudah diperkirakan Mama Nisa dan Afi datang siang itu, sepanjang perjalanan Mama Nisa tidak berhenti telepon menanyakan perkembangan kondisi Papa Bhanu. Walaupun pada awalnya marah karena Bhanu datang ke Bandung tanpa berdiskusi dahulu dengannya, tapi ternyata perhatian dan kekhawatiran dari mama Nisa menunjukkan bahwa perempuan itu tidak pernah melupakan laki-laki itu.
“Nis” Bhanu langsung memanggil Mama Nisa saat ia dan Afi datang ke kamar perawatan. Mama Nisa tidak menjawab, matanya tampak sedih melihat muka Bhanu yang sebagian membengkak karena tendangan dari kakaknya.
“Apa kata dokter?” tanya Mama Nisa pada Juno yang sedang duduk di sofa.
“Gak ada pendarahan di dalam, cuma perlu di observasi khawatir ada luka dalam dan belum terdeteksi”
“Kalau luka luar hanya baretan, gak ada yang dijahit kok Ma cuma berdarah terluka biasa saja” jelas Juno. Untung saja tadi ia membawa laptop sehingga bisa tetap bekerja walaupun menemani Bhanu di rumah sakit.
“Gimana ceritanya? Kenapa lu gak videokan pas Papa lagi digebukin Om Rahmat” bisik Afi pada Bulan, antara kasihan dan penasaran melihat kondisi Papanya.
“Serem Fi… aduh aku mana kepikiran buat ngerekam”
“Kaya prosesnya tuh cepat banget, tiba-tiba langsung bak buk aja… Papa gak ngelawan diem aja pas dipukul sama ditendang”
“A Juno mau melerai juga gak bisa, dilarang sama Om Rahmat”
“Duh aseli Fi gak nyangka, badannya Om Rahmat itu tinggi atletis, ganteng banget yah ternyata” ucap Bulan sambil tersenyum kecut.
“Cakep gundulmu… galak tau” ucap Afi sambil menoyor kepala Bulan.
“Kita dulu gak pernah ditanya, apalagi aku yang disebut mirip Papa… kaya yang benci banget sama kita tuh, makanya kita malas ke rumah Oma dulu, nungguin Om Rahmat gak ada di rumah”
“Apesnya dia selalu ada di rumah… gak betah deh”
“Oya… pantesan yah belum nikah padahal ganteng gitu”
“Idiih mata kamu tuh sukanya selera tua banget dari tadi bilang Om gw ganteng terus, dibilangin sama si Kakak loh” Afi memandang Bulan dengan pandangan kesal.
“Hahahaha bilangin aja da emang bener ganteng, lagian mirip banget sama A Juno… alhamdulillah dapat keturunan keluarga cakep-cakep… semoga bayinya ikutan keren” ucap Bulan sambil mengusap-usap perutnya.
“Eiiishhh Baby Girl tentu sama bakalan mirip Auntie Fi… pintar, cantik dan banyak ide… jangan kaya Mama kamu yah suka melow, sok rajin dan sosialita” ucap Afi sambil mengusap perut Bulan yang hanya bisa pasrah dengan kelakuan sahabatnya itu. Mereka berdua tidak lagi memperdulikan interaksi Papa Bhanu dan Mama Nisa yang lebih banyak berdiam diri berdua.
“Nis. Aku tidak main-main untuk meminta kamu menikah lagi”
“Aku tahu kalau aku seperti orang yang tidak tahu diri, tidak tahu malu setelah apa yang aku perbuat dulu”
“Tapi aku ingin memperbaiki kesalahan yang pernah aku buat”
“Kemarin Afi cerita kalau kamu memikirkan untuk setuju kalau kita menikah lagi”
“Aku sangat berterima kasih kamu memberikan aku kesempatan lagi”
“Aku berjanji akan menjadi suami yang lebih baik buat kamu”
“Bantu aku yah Nisa… aku tahu kamu akan bisa membuat aku menjadi lebih baik lagi kedepan”
Mama Nisa tampak gelisah tangannya *******-***** tissue yang dipegangnya. Melihat interaksi yang intens diantara keduanya, Juno langsung sadar diri dan berdiri.
“Maa… aku sama Afi dan Bulan mau cari makan siang dulu, nanti Mama aku bawakan take away saja yah” ucapnya sambil menarik tangan Afi berdiri, karena adiknya malah asyik selonjoran di pangkuan Bulan.
“Ayo makan dulu, nanti jabang bayinya keburu ngamuk kurang makan. Kita makan batagor mumpung di Bandung” mendengar kata Batagor Afi langsung bangun dan beranjak pergi tanpa banyak protes, diikuti Bulan yang sudah semenjak tadi memang ingin pergi keluar untuk memberikan kesempatan pada Papa dan Mamanya.
“Jangan suka berjanji kalau tidak bisa yakin untuk menepatinya” ucap Mama Nisa dingin.
“Dulu juga Abang bilang seperti itu, janji akan menyayangi aku, berjanji akan menjadi suami yang baik, menjadi Papa yang baik untuk anak-anak tapi ternyata itu tidak ditepati”
“Umur kita sudah semakin berkurang di dunia ini” ucap Mama Nisa sambil menghela nafas.
“Aku senang kalau Abang sudah mau berubah”
“Walaupun bagaimana Abang adalah Papa dari anak-anak aku, baik dan buruknya harus saya terima”
“Kalau memang kedepan kita masih diberikan kesempatan berjodoh lagi, aku ingin kita berdua melihat satu sama lain sebagai pasangan yang dipersatukan oleh yang Maha Kuasa, saling mencintai karena Allah akan berbeda dengan mencintai karena nafsu manusia belaka”
"Karena ternyata walau kita berdua sudah pernah berpisah, pada akhirnya kita dipersatukan lagi"
“Saya ingin punya suami yang bisa membimbing saya dunia dan akhirat”
“Menjadi imam yang sesungguhnya pada semua ibadah yang kita lakukan ” Mama Nisa berhenti bicara dan tampak berpikir panjang.
“Saya tahu butuh waktu dan pembiasaan untuk itu, tapi paling tidak kita niatkan dan usahakan”
“Itu permintaan saya yang utama kalau Abang mau menikah lagi dengan saya”
“Memimpin saya dalam shalat berjamaah, mengingatkan untuk shalat sunah. Kita saling mengingatkan”
“Sanggupkah Abang melakukan itu?”
__ADS_1
“Kalau merasa berat, masih lebih memikirkan masalah dunia, saya kira lebih baik kita seperti sekarang saja”
“Toh saya tidak akan melarang kalau Abang mau bertemu dengan anak atau cucu kalau kelak mereka lahir”
“Insya Allah sanggup Nis” tanpa ragu Bhanu menjawab.
“Sanggup apa?” tanya Mama Nisa mendelik, karena Bhanu seperti menjawab tanpa dipikir terlebih dahulu.
“Iya sanggup menjadi suami kamu dunia dan akhirat”
“Kita berjuang lagi… bantu aku berjuang lagi sekarang, berjuang untuk bisa mendapatkan akhirat, perasaan saya pada kamu tidak pernah berubah Nisa... walaupun dulu kita berpisah tapi selama waktu itu pikiran dan perasaan saya selalu bersama kamu... mungkin terdengar seperti klise dan gombalan bohong belaka tapi itu benar adanya” jawabnya dengan senyuman atau lebih tepatnya meringis.
“Jangan ketawa… muka Abang jelek banget sekarang”
“Oya… aku gak akan manggil Abang lagi sekarang… Mas Bhanu aja” ucapnya ketus
“Yahh… walaupun aku lebih suka dipanggil abang sama kamu tapi gak apa-apa, aku ikut semua keinginan kamu” Bhanu mengangguk-angguk menyetujui.
“Niss.. ini kepala aku sakit banget, kayaknya mesti dipijat” keluh Bhanu, Mama Nisa diam dan menatap Bhanu lekat, merasa tidak ada respon Bhanu membuka matanya yang tadi menutup karena mengernyit. Mama Nisa tersenyum sinis.
“Kalau sakit yah minum obat, jangan harap aku mau dipegang-pegang Mas Bhanu kaya dulu” ucapnya ketus, Bhanu langsung tersenyum kecut, upayanya mencari simpati sia-sia belaka.
“Kamu kok makin galak sih sekarang?”
“Terus kenapa nyesel? kalau gak suka yah sudah gak usah nikah sama aku. Gampang!”
“Nggak-nggak… nggak apa-apa… bagus malahan jadi lebih galak lebih keliatan cantiknya” kilah Bhanu, ternyata buaya walaupun kekurangan air tetap tidak kehilangan kekuatan kibasan ekornya.
Malam itu kembali Juno yang menemani Papa Bhanu di rumah sakit, sementara Bulan pulang ke rumah. Mama Nisa ditemani Afi menginap di rumah Oma, biasanya Mama Nisa yang pulang menengok orang tuanya tanpa ditemani oleh anak-anaknya. Kunjungan kali ini berbeda karena misi untuk meminta restu dari Oma agar memberikan ijin menikah lagi.
Grup Chat Keluarga.
Afi:
“Udah lama banget gak nginep di rumah Oma, adem gini tinggal di Bandung gak pake AC udah semriwing”
Bulan:
“Tergantung rumahnya lah Fi… rumah Oma kan luas, ditambah banyak tanaman di taman belakang aku lihat, halaman depan juga luas. Jadi wajar adem, tapi aku juga lagi ngadem ini... Bandung oh Bandung”
Afi:
“Mama bikin pengumuman waktu makan malam, bilang mau nikah lagi sama Papa”
“Jadi takut ditabokin gegara yang mirip Papa duduk di meja makan kan gw….hahahhaha”
Bulan:
“Serem amat pikiran kamu itu sih Fi”
Afi:
“Sampai susah menelan nasi gw, gak nyangka Mama ternyata bisa galak”
“Om Rahmat dimarahin sama Mama gegara mukulin Papa …wkwkkwkw”
Bulan:
“OMG..OMG… kenapa gak direkam Fi biar kebayang”
Afi:
“Gw emang songong tapi masih waras Bul…lagi makan malam masa video in Mama ribut sama Om Rahmat… sekalian aja upload di yucub! (emot mendengus)”
Bulan:
“Ahahahhahaha bener-bener”
Afi:
“Oma marahin Mama sama Om Rahmat… disitu gw ngeliat setua berapapun umur lu… di mata ortu kita tetep aja anak-anak”
Juno”
“Kesimpulannya?”
Emil”
“Kirain gw aja Ka yang gak sabar nungguin berita kesimpulan”
“Kudu sabar kalau emak-emak lagi ghibah… banyak iklannya”
Afi:
“Oma besok mau ke rumah sakit nengok Papa”
__ADS_1
“Jadi kudu sabar nunggu keputusan Oma besok”
“Om Rahmat langsung meninggalkan meja makan”
“Closing statement nya Om Rahmat yang luar biasa”
“Dia bilang gini "Aku akan merestui kamu menikah lagi sama si Bhanu kalau dia sudah miskin (emot mendengus)”
“Dia gak akan macam-macam kalau miskin seperti dulu”
“Gimana coba Papa miskinnya duitnya aja udah milyaran…hahhahaha”
Juno:
“Mereka berdua sahabat lama jadi lebih kenal sifat dasar”
“Ya sudahlah kita lihat saja gimana reaksi Oma besok”
“Mudah-mudahan besok Papa bisa pulang, aku banyak kerjaan!”
Semua orang seperti menunggu hari esok dimana Oma akan datang menjenguk Bhanu. Bulan sejak pagi sudah bersiap untuk berangkat ke rumah sakit diantar Benny karena Bapak sudah berangkat lebih dahulu ke sekolah. Ada janji rapat dengan pengawas sekolah sehingga Bapak tidak boleh datang terlambat.
Hasil visit dokter menyatakan kalau Bhanu bisa pulang hari ini, tidak ditemukan luka dalam, hanya luka luar dan memar yang bisa diobati oleh salep supaya bisa cepat kembali pulih.
“Assalamualaikum” salam yang terdengar di pintu mengalihkan perhatian semua orang. Ternyata Mama Nisa yang datang dengan membawa Oma yang duduk di kursi roda bersama Afi, tiga generasi keturunan Rahmadi.
“Waalaikum salam.. Oma, Mama waaah datangnya pas setelah dokter visit. Papa juga sudah sarapan ini” Bulan tengah merapikan bekas makan Bhanu.
“Kamu tidur disini?” Oma mengerutkan dahi.
“Nggak atuh Oma, Bulan pulang ke rumah, kan Bulan mah orang Bandung” membayangkan dirinya harus umpel-umpelan tidur di kasur kecil penunggu pasien bersama suaminya membuat Bulan tersenyum lebar.
“Rumah di Bandung tapi gak pernah nengokin Oma, kalau gak ada kejadian kemarin, mana Oma tahu punya cucu menantu cantik kaya kamu”
“Ahahahah Oma jagoan ih marahin sambil muji aku, ini sama aja dengan digendong sambil dicubitin”
“Nanti Bulan akan sering nengok Oma jangan khawatir, asal cucu Oma-nya ngijinin pulang ke Bandung aja. Ini sekarang aja Bulan jarang pulang ketemu Bapak” adu Bulan sambil memandang suaminya, yang tampak datar pura-pura tidak mengerti.
Oma memandang Bhanu yang duduk di tempat tidur dengan salah tingkah, ditatap dengan penuh selidik membuatnya merasa tidak nyaman.
“Terima kasih Mama sudah menjenguk saya, sebetulnya saya tidak apa… anak-anak saja berlebihan sampai dibawa ke rumah sakit segala” ucap Bhanu pelan.
“Tidak apa-apa gimana? kalau pingsan yah apa-apa… gimana sih kamu kok makin tua jadi gak cerdas” ucapnya ketus. Mama Nisa langsung menepuk tangan Oma pelan.
“Iya… iya… gak usah tepuk-tepuk gitu… kalau memang dia mau niat bener disuruh menyelam ke laut mengambil batu karang juga mesti mau … jangan terlalu dilindungi… nanti gede kepala kaya dulu”
“Dulu dia besar kepala karena kamu terlalu melindungi dia, ribut sama Rahmat malah kamu menjauh dari keluarga, ngikut apa kata suami… mending kalau suaminya bener… lah kalau lasut kaya dia malah jadi bubar” ucap Oma kesal.
“Saya minta maaf Oma, karena sikap saya Nisa dan anak-anak jadi jarang bertemu dengan keluarga besar di Bandung”
“Saya ingin memperbaiki hubungan keluarga sehingga lebih baik kedepan… Saya mohon ijin dari Oma supaya saya bisa menikah kembali dengan Nisa”
“Insya Allah saya akan terus memperbaiki diri, menjalin silaturahmi yang dulu terputus dengan keluarga besar semuanya”
Oma tampak termenung, menatap Bhanu dan kemudian melihat ke sekeliling dan terakhir melihat Juno yang tengah sibuk bekerja di depan laptopnya.
“Baik… walaupun tidak mudah untuk kami menerima kamu kembali, tapi aku harus menghargai permintaan Nisa… gak tau dipelet apa Nisa sama kamu, lah kok bisa saja memaafkan” ucap Oma sambil menggelengkan kepala.
“Urusan Rahmat kamu harus urus sendiri, aku gak ngerti permintaan dia apa”
“Tapi Oma ada permintaan, dan ini harus disetujui oleh seluruh keluarga kalian”
“Oma memberikan restu kamu menikah lagi sama Nisa asalnya Juno pindah ke Bandung dan kerja bareng sama Rahmat”
JEDEEEEEER….. Semua orang tampak diam menyimak dan meresapi perkataan Oma yang terakhir. Termasuk Mama Nisa yang mengerutkan dahi dan memandangnya Mamanya.
“Maksud Mama? Juno pindah kerja ke Bandung dan kerja bareng sama Kakang di perusahaan kita?” tanya Mama Nisa bingung.
“Iya… baru Mama setuju kalian berdua menikah lagi”
“Rahmat sudah tua… bertahun-tahun sibuk mengurus perusahaan sampai lupa menikah”
“Siapa yang akan meneruskan perusahaan ini kalau bukan cucu Oma, anaknya Rista masih SMA dan katanya gak mau masuk Teknik maunya jurusan komunikasi.
“Cuma Juno yang bisa meneruskan perusahaan ini”
“Masa sampai cucu-cucu aku sebesar ini dan sudah menikah, bisa dihitung jari Oma ketemu mereka”
“Sekarang mau punya cicit Oma tidak mau lagi kehilangan kesempatan”
“Pilih mana? Menikah atau membiarkan Oma tidak mengenal cucu dan cicit?
Semua tatapan mata mengarah pada Juno yang sedang asyik bekerja sehingga tidak menyadari situasi yang terjadi. Bulan yang tengah berdiri disisi tempat tidur seakan ingin terbang dan melayang-layang.
“Pindah ke Bandung…. dekat sama Bapak…jalan-jalan dibonceng Benny…. bisa ke pasar belanja lebih murah…. bisa jajan Cuangki dan Cilok tiap hari… micin oh micin… gak usah pakai AC kalau tidur… bisa jalan-jalan gak pakai keringetan… wisata kuliner setiap hari…. oooooh indahnya duniaaaa”
__ADS_1