
Hari-hari berikutnya menjadi minggu yang penuh dilema bagi Mama Nisa. Kondisi Papa Bhanu yang belum stabil dan tampak ringkih membuat Mama Nisa dan anak-anak harus berdiskusi untuk penanganan selanjutnya pasca keluar dari rumah sakit.
“Aku sih gak apa-apa nemenin Papa di rumahnya, cuma terkadang suka gak nyaman sama omongan Papa… suka nyolot. Bikin aku emosi” ucap Afi sambil cemberut dan mengusap-usap perutnya yang semakin besar.
“Mama khawatir kalau Afi menemani Papa disana, kamu kalau beraktivitas suka gak sadar lagi hamil, loncat sana sini. Bawa barang suka seenaknya, belum lagi bertengkar sama Papa kamu kaya seperti sama teman sendiri” Mama Nisa menarik nafas sambil menggelengkan kepalanya melihat gaya Afi.
“Trus Mama gak ikhlas kamu tinggal di tempat yang perempuan itu pernah ada. Takut aura jeleknya masih tertinggal di sana… jangan ah”
“Aku gak mungkin nemenin Papa… seminggu kedepan aku harus mulai mengerjakan project rumah Villa di Bali” belum ditanya Juno sudah langsung menjawab.
“Seminggu?” ucap Bulan kaget, tidak menyangka akan ditinggal selama seminggu.
“Iya… kamu bisa ikut kan? kata dokter lewat dari trimester pertama bisa perjalanan dengan pesawat” ucap Juno yakin.
“Eh… ikut ke Bali kapan?” tanya Bulan kaget, suaminya itu sering membuat rencana tanpa didiskusikannya dengannya sekarang.
“Dua hari lagi kita berangkat, begitu Papa sudah keluar dari rumah sakit” jelas Juno.
“Kalau begini siapa yang akan mengurus Papa kalian?” tanya Mama Nisa dengan muka murung, semenjak kunjungan rumah sakit kemarin ia tidak lagi menemui Bhanu. Khawatir terperangkap oleh rasa kasian yang dulu pernah menjebaknya.
Semua terdiam kalau sudah seperti ini barulah terpikirkan, disaat tua ternyata kedekatan dengan anak menjadi kondisi yang menyenangkan. Namun jangan mengharapkan anak akan dekat dengan orangtuanya kalau saat mereka tumbuh, orangtua tidak pernah ada bersama mereka.
“Kita sewa perawat saja untuk mengunjungi Papa” ucap Afi.
“Hah… duh kok rasanya kejam banget sih Fi… keluarga masih ada tapi diurus sama orang lain” ucap Bulan pelan. Mama Nisa menarik nafas panjang.
“Iya Mama juga gak enak, seperti habis manis sepah dibuang”
“Bertahun-tahun Papa kalian mensupport kehidupan kalian, tapi saat dia sakit tidak ada yang mengurus”
“Aku kasian sama perawatnya, pasti dimarahin terus sama Papa…hehe” ucap Emil sambil tertawa nyengir. Afi langsung mencubit perut suaminya dengan keras tanda protes.
“Awwww…. becanda Fi bercandaaa” ucapnya sambil mengusap-usap perut.
“Bagaimana kalau… bagaimana kalau selama seminggu Papa kalian tinggal dulu disini sampai kondisinya stabil… hanya satu minggu tidak boleh lebih”
“Bulan selama Papa disini jangan ke Bali dulu” ucap Mama sambil memandang anaknya Juno.
“Mama tidak ingin ada fitnah. Kalau siang-siang kan kalian semua pergi ke kantor”
“Walau ada si Mbak tapi tetap saja Mama gak enak” ucapnya lagi
“Yahhh gak jadi deh mau honeymoon” ucap Juno pelan.
“Uyug-uyug… udah mau jadi Bapak juga lu masih mikir honeymoon Ka… sadar woy sadar.. tiap hari disini juga udah honeymoon… keramas aja tiap pagi tuh si Bulan”
“Kalau Kakak bawa Bulan ke Bali bisa-bisa blong tuh rem nya… brojol sebelum waktunya” protes Afi pada kakaknya.
“Adee” Mama Nisa langsung berteriak.
“Jangan suka bicara sembarangan”
“Habis Kakak sih, masih mau honeymoon segala, kan kasian keponakan aku… yah cantik… kebayang kalau di bawa ke Bali nanti ditengokin terus sama Bapaknya… bisa-bisa mirip sama Kakak nanti… kan aneh… perempuan tapi mukanya mirip Kak Juno” ucap Afi sambil kemudian beralih mengelus-elus perut Bulan dengan rasa sayang.
“Lah kalau begitu kamu aneh dong… perempuan tapi mirip sama Papa” ejek Juno langsung.
“Nggaaaak aku gak mirip sama Papa… aku mirip sama Tante Esty adiknya Papa” Afi paling marah kalau disebut mirip dengan Papa Bhanu.
“Gak apa-apa lagi Fi kalau anak perempuan mirip sama ayahnya tuh. Gede darajat kalau kata orang Sunda mah… akan membawa kesuksesan dalam hidup” ucap Bulan sambil tersenyum dan mengacungkan jempol.
“Kalau laki-laki mirip ibunya gede apanya dong?” tanya Juno sambil tersenyum.
“Gede sayangnya… karena untuk anak laki-laki hubungannya dengan ibu itu menjadi paling utama dalam hidupnya melebihi perempuan lain di dunia walaupun sudah menikah” jelas Bulan.
“Alaaah udah mulai pinter nih cari muka sama Mama…hahahaha” Afi tertawa terbahak.
“Ehhh kamu tuh suka suudzon aja sama aku nyebut cari muka segala, muka Mama udah ada di depan aku juga gak usah dicari-cari” Bulan mencibir kesal.
“Udaah ah ini kalian malah jadi ngobrolin yang gak jelas. Mama udah tahu kok Bulan menantu yang baik jadi gak akan nyari muka”
“Jadi gimana kalian setuju kalau Papa kalian menginap selama seminggu sampai kondisinya stabil?” tanya Mama lagi.
__ADS_1
“Aku pikir itu keputusan yang terbaik Ma… Aku juga jadi tenang selama di Bali, semuanya berkumpul di rumah dan ada Emil yang nanti bisa menjaga disini selama aku pergi” ucapnya sambil tersenyum pada adik ipar yang langsung mengacungkan jempol tanda setuju.
Akhirnya keputusan itu dibuat sebagai langkah terbaik untuk semuanya. Pada saat hubungan suami istri mungkin terputus tapi tidak ada istilah bekas anak atau bekas orangtua. Mama Nisa ingin anak-anaknya tetap berbakti pada Papa Bhanu walaupun itu membuatnya berada dalam kondisi yang tidak nyaman karena mereka telah bercerai.
Saat keesokan harinya saat Juno menjemput Bhanu pulang, ia sama sekali tidak menyangka akan dibawa pulang ke rumah Mama Nisa.
“Papa kenapa dibawa kesini Jun?” Bhanu terhenyak kaget saat membuka mata. Selama di perjalanan ia memilih tidur, sulit baginya untuk memejamkan mata selama di rumah sakit.
“Kemarin kita sudah diskusi kalau selama seminggu kedepan sampai kondisi Papa stabil, Papa istirahat dulu dirumah Mama”
“Setelah Papa sehat, Papa bisa kembali lagi kerumah Papa di Sunter”
“Tapi aku mohon satu hal Pa… tolong hormati Mama”
“Mama sudah berlapang dada mau menerima Papa untuk dirawat di rumah selama sakit”
“Mama ingin kami anak-anaknya bisa berbakti pada Papa saat Papa dalam kondisi sakit”
“Aku minta Papa jangan bersikap arogan seperti kemarin… kasihan Mama yang sudah banyak menderita karena Papa dulu”
Bhanu terhenyak mendengar permintaan Juno, kondisi sakit kemarin seperti menjadi titik balik dirinya dalam menilai perjalanan hidupnya selama ini.
Ia memang berhasil meningkatkan status ekonominya, dari yang asalnya anak pedagang di pasar menjadi seorang pemilik perusahaan besar di Jakarta. Keluarganya di Palembang sekarang memiliki rumah yang layak dan bisa menopang keluarganya memiliki status sosial dan ekonomi yang baik.
Tapi semakin meningkat kehidupan sosial ekonomi ternyata tidak berkorelasi dengan kebahagiaan hati, ada kekosongan yang terus ia rasakan, dan semakin lama semakin menghimpit. Awalnya ia mengira kalau semakin besar perusahaan maka kekosongan itu akan tertutupi dengan kekuasan dan penghormatan yang didapatkan dari orang. Ternyata tidak
Entah kenapa setiap kali ia berkunjung dan melihat rumah yang dulu ia tempati bersama Nisa dan anak-anak, muncul perasaan tenang. Perasaan lega yang timbul karena sejatinya ternyata tempat inilah yang membuatnya merasa telah pulang ke rumah. Rumah ini luasnya hanya setengah dari luas rumah yang ia tempati di Sunter. Tidak ada tiang tinggi menjulang dan pintu dengan pegangan emas yang menunjukkan status dirinya sebagai pemilik perusahaan besar. Ada dua mobil yang sedang berderet di depannya. Mobil milik Nisa yang ia belikan dulu untuk dipakai mengantar jemput anak-anak. Sudah sepuluh tahun lebih tapi masih terlihat bagus dan terawat. Mobil milik Afi yang baru dibelinya setelah menikah dengan Emil. Saat ini Juno menyetir mobil miliknya dan meminta Murtoyo untuk pulang.
“Kapan mobil kamu datang?” tanya Bhanu sambil memandang ke arah taman. Tampak asri dan sejuk walaupun udara Jakarta siang ini terasa panas terik.
“Katanya minggu depan, lagi diurus dulu surat-suratnya”
“Kamu pakai mobil Papa saja dulu sementara mobil kamu belum datang” ucap Bhanu pelan.
“Gak usah, seminggu kedepan aku ada kerjaan di Bali”
“Mobil akan mulai aku cicil begitu proyek perumahan Kuldesak cair” sambung Juno. Bhanu menggelengkan kepalanya perlahan sambil masih menatap taman yang ada di samping mobil.
“Hadiah pernikahan. Mobil itu nanti akan dipakai oleh cucu Papa. Cucunya Bhanu Senggala jangan sampai naik kendaraan umum”
“Bertahun-tahun Papa kerja hanya ingin memastikan kalau keturunan Papa tidak akan merasakan sulitnya mencari makan dan penghidupan”
“Cukup Papa saja yang merasakan” ucapnya dengan penuh kegetiran. Juno hanya bisa diam mendengarkan. Ia merasa kalau Bhanu yang duduk disampingnya saat ini bukanlah pria yang sama dengan yang dulu.
“Papa minta maaf kalau dulu Papa menyakiti kalian”
“Papa dibutakan oleh keyakinan kalau uang akan membawa kebahagiaan lebih”
“Ternyata perasaan Papa lebih sakit saat berpikir akan kehilangan kalian daripada kehilangan perusahaan”
“Saat Papa berpikir kalau posisi Papa akan digantikan orang lain, Papa merasa sendiri. Kehilangan uang perusahaan saat mengalami penipuan dulu tidak seberapa dengan ketakutan yang Papa rasakan kemarin”.
“Uang bisa Papa cari lagi.. I’m good on it”
“Tapi kalian… kalau kalian pergi dan menghilang dari kehidupan Papa, dimana lagi Papa akan bisa menemukan anak-anak hebat seperti ini” Bhanu menyusut air mata yang mengalir perlahan.
“Kamu menikah pun Papa tidak tahu”
“Betapa bodohnya Papa selama ini, sampai melewatkan banyak kejadian penting dalam kehidupan anak-anak”
“Wisuda Afi yang harus dirusak karena keegoisan Papa”
“Dan sekarang kalian akan memiliki anak sendiri… tiba-tiba saja kalian sudah dewasa”
“Bukan anak-anak lagi yang selalu meminta ini dan itu kalau Papa pulang kerja”
“Anak yang selalu minta alat gambar sekarang sudah bisa membeli alat gambarnya sendiri” Bhanu tersenyum getir.
“Mamamu benar-benar perempuan hebat, bisa mendidik kalian dengan baik”
Juno hanya diam termenung mendengarkan curahan hati Bhanu.
__ADS_1
“Afi akan Papa minta untuk belajar mengelola perusahaan Papa sekarang, karena kamu sudah memiliki perusahaan sendiri maka Papa akan bantu untuk modal usaha sehingga kamu tidak usah repot lagi mengajukan bantuan kesana kemari”
“Tidak usah aku bisa berusaha sendiri”
“DENGARKAN PAPA”
“Papa tidak mau kamu menghabiskan energi dan waktu sehingga melupakan keluarga demi mengembangkan perusahaan”
“Perusahaan baru itu banyak tantangannya, berat dan butuh dukungan dari banyak pihak. Percayalah Papa pernah melewati itu. Hanya saja Papa melewati itu sendirian”
“Kamu jangan menghadapi tantangan seperti itu lagi, tantangan yang kamu lewati harus lebih tinggi levelnya. Kamu dan Afi sudah memiliki batu loncatan”
“Papa yang akan menjadi batu loncatan kalian” ucapnya tegas.
“Luangkan waktu untuk keluarga, jangan melakukan kesalahan yang sama seperti Papa dulu, untung saja Mamamu bisa menutup kekurangan itu sehingga kalian bisa tumbuh dengan baik”
“Soal Mamamu, jangan khawatir. Papa tidak akan lagi menyakiti perasaannya lagi”
“Hanya kalau saja Papa boleh egois Papa tidak ingin ada yang menggantikan posisi Papa di mata kalian”
“Walaupun Papa tahu kalau selama ini Papa sudah menjadi contoh buruk. Papa minta kesempatan untuk memperbaikinya sekarang”
“Papa mohon” ucapan Bhanu yang terakhir terdengar rapuh dan putus asa. Membuat Juno hampir tidak percaya, kalau laki-laki yang ada di sebelahnya ini adalah laki-laki yang sama yang selama ini selalu arogan dan mau menang sendiri.
Juno diam dan berpikir, tidak pernah terpikir olehnya kalau sikap seperti ini akan muncul dari seorang Bhanu Senggala.
‘Aku senang kalau Papa sudah banyak berubah”
“Buat Aku dan Afi tentu saja tidak akan ada seorangpun yang bisa merubah status Papa… sampai matipun Papa tetap orang tuaku dan Afi”
“Semoga Mama bisa melihat perubahan sikap Papa ini, tapi aku minta jangan paksa Mama untuk menerima Papa kembali. Kecuali itu memang menjadi keinginan Mama”
“Berikan Mama kesempatan untuk bahagia dengan pilihannya”
“Papa sudah pernah mendapatkan kesempatan itu dulu, tapi sayangnya Papa sia-siakan”
“Mudah-mudahan saja Papa diberikan kesempatan yang kedua, seperti aku dulu dengan Bulan” ucap Juno sambil tersenyum. Bhanu mengerutkan dahinya, selama ini ia tidak pernah mengetahui permasalahan hati anak-anaknya.
“Sudahlah Papa tidak usah tahu, yang penting aku sekarang bahagia dengan Bulan”
“Ayo berjuang tunjukkan kharisma Papa yang dulu, yang membuat Mama sulit melupakan Papa”
“Kita anak-anak tentu saja akan bahagia kalau orangtua kembali hidup rukun dan bahagia”
Ucapan Juno seakan memberikan semangat untuk Bhanu. Sambil mengangguk dan tersenyum bahagia Bhanu keluar dari mobil. Ada harapan yang tumbuh dalam hatinya, bahwa setiap orang berhak untuk mendapatkan kesempatan kedua. Manusia adalah tempatnya salah, yang terpenting adalah menyadari kesalahan dan berusaha memperbaikinya serta tidak mengulangi lagi kesalahan yang sama.
Juno:
“Kita sudah sampai... FYI... Harimau ternyata sudah meninggalkan belangnya”
Afi:
“What? Maksud kakak?’
Juno:
“Iya… sekarang yang akan masuk kedalam rumah adalah kucing besar yang butuh belaian dan garukan”
Emil:
“Miaww”
Bulan:
“Ahahahahah… aku bagian nyiapin makanan basah dan keringnya aja deh”
Afi:
“Aku siapkan semprotan air… Kalau nanti Om Teguh datang.. sudah dipastikan akan berubah wujud menjadi kucing garong”
Hadeuuuh… Jangan dicontoh yah, ini kelakuan anak-anak yang akan diazab, dimana hpmya nge hang dan loading karena sering menggibahkan orangtua.
__ADS_1