
“Ternyata kita meeting di tempat yang sama” suara Kevin memecah percakapan antara Inneke dan Juno. Tawa Inneke langsung terhenti saat melihat Kevin yang datang mendekat sambil tersenyum santai menenteng jas yang ia lepaskan setelah rapat.
Juno menatap Kevin dengan dingin tanpa ekspresi, berbeda dengan Inneke yang terlihat senang dan tersenyum tipis.
“Rapat disini juga Beb, dengan siapa?” Inneke menatap ke arah belakang Kevin.
“Biasa sama staff” ucapnya sambil melirik ke belakang, tadi Bulan ada di belakangnya. “Bu..” Kevin melirik kebelakang mencari Bulan tapi tiba-tiba saja perempuan itu menghilang.
Bulan yang pada awalnya merasa kesal melihat Juno sedang berdua dengan Inneke tapi kemudian ia baru ingat kalau ia tidak memberi tahu Juno kalau ia menemani Kevin rapat berdua. Rasa kesal berganti dengan pikiran kalut bagaimana kalau Juno marah dan kemudian kembali emosi di depan orang banyak. Rasanya akan sangat memalukan sehingga begitu ia melihat ada tiang yang cukup besar, tanpa berpikir panjang langsung menyembunyikan dirinya sambil berpikir mencari alasan berharap tidak terlihat. Ia berdoa kalau Pak Kevin hanya akan menyapa istrinya dan tidak menyebutkan kalau bersamanya pada Juno.
“Rembulan…” teriak Kevin, seketika lutut Bulan terasa lemas.
“Hadeuuuh kenapa manggil-manggil aku segala, dia mau nyapa istrinya, kenapa aku mesti setor muka juga?” perlahan Bulan keluar dari dinding yang membatasi ruang teras Restoran dan bagian Teras.
“Lagi apa kamu disitu?” tanya Kevin bingung,
“Nyari toilet Pak… eh ada Aa… cepat banget ngejemput akunya?” Bulan nyengir sambil mengacungkan jari tanda perdamaian. Berusaha mengeluarkan senyuman yang paling manis sambil menghampiri Juno. Mengulurkan tangan untuk bersalaman tapi saat mencium tangan Juno matanya langsung melotot kesal.
“Bau rokok!” ucapnya kesal sambil menghempaskan tangan Juno, kemudian melirik pada asbak dan ia melihat ada lima puntung rokok.
“Katanya mau berhenti merokok, ini sampai 1..2..3...4...5… lima batang?” mata Bulan mendelik kesal.
Juno menatap ke arah Kevin dan kemudian menatap istrinya lekat, menarik nafas tanpa berkata-kata hanya menatap Bulan dengan tatapan tajam seperti ingin bertanya tapi menahan untuk berbicara.
“Hmmm kalau kita pulang sekarang pas sampai ke kantor sudah habis jam kantornya Bulan, lebih baik kita ikut ngopi saja disini… tidak berkeberatan kan kita bergabung?” Kevin meletakan jasnya di sandaran kursi di sebelah Inneke. Tidak menunggu jawaban dari istrinya ia langsung duduk dan membuka kancing lengan bajunya dan menggulung lengan kemeja panjangnya dengan santai.
Tanpa berkata-kata Juno menggeser kursi disebelahnya supaya Bulan bisa duduk, menyimpan tas tempat ia membawa laptop dan kelengkapan lainnya ke bawah meja.
“Udah lama A?” tanya Bulan berusaha terlihat normal seakan ia sudah tahu kalau Juno akan datang kesana.
“Dari jam tiga” jawab Juno pendek.
“Rembulan mau makan apa? Tadi kamu tidak sempat makan siang kan saya lihat” Kevin menatap menu yang disodorkan oleh waiters yang menghampiri mereka saat duduk.
“Iya Pak, mereka meminta contoh pelaporan untuk investor, mana saja yang harus dilaporkan, padahal menu makan siangnya kayanya enak tadi harum banget” keluh Bulan, untung saja ada yang membawakannya Samosa, sehingga ia bisa ngemil sambil menjelaskan bahan kepada para klien.
“Kita pesan makanan yang berat saja kalau begitu, tadi saya juga gak sempat makan”
“Ini enak nih kayaknya, Salmon Dabu-dabu… kamu mau apa?” Kevin sibuk memesan makanan tanpa menghiraukan kehadiran Inneke dan Juno yang seperti menjadi penonton.
“Apa aja deh Pak yang penting enak dan cepat” jawab Bulan, ia melirik pada Carrot Cake yang tengah dimakan Inneke dengan gayanya yang cantik. Sepotong besar cake yang tampak menggiurkan dengan lapisan cream keju di tengahnya.
“Kamu pasti suka sama Salmon Mentai-nya, Elma juga suka, enak katanya, creamy”.
Bulan menganggukan kepala cepat, sudah lama ia ingin makan itu, ternyata kesempatan itu datang juga.
“Aku pesan Cream Cheese” tiba-tiba saja Inneke menyela, diliriknya Juno yang tampak sibuk dengan handphone tanpa mempedulikan suasana di meja tempat ia duduk. Kevin mengerutkan dahinya melihat Carrot Cake yang dimakan Inneke masih belum habis tapi sudah memesan yang baru. Tapi ia tetap memesankan juga, Bulan menghela nafas, suasana tidak nyaman sudah mulai terasa.
“Ok… cream cheese, salmon dabu-dabu dan salmon mentai”
“Minumnya Summer Cooler Daiquiris sama Apple Cooler”
“Itu semua kesukaan Elma” ucap Inneke sambil tersenyum sinis.
“Dia cocok sama Elma, biasanya selera makannya juga sama” Kevin tersenyum sambil menertawakan Bulan yang hanya diam sambil tersenyum kaku. Bingung harus bersikap saat berhadapan dengan Inneke, Kevin dan Juno bersama-sama. Tiba-tiba saja ia ingat kalau Juno belum meminta maaf pada Kevin, atas sikapnya yang memicu perkelahian kemarin.
“A… minta maaf sama Pak Kevin soal tiba-tiba memukul salah paham gituh bilang” Bulan mengirimkan teks pesan kepada Juno, yang dikirimi pesan tampak tidak peduli. Malah asyik saja dengan hp seakan tidak membaca pesan yang dikirimkan Bulan.
“A”
“Aa”
“Aa…. Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa”
Juno masih terlihat tidak peduli, melihat sikap suaminya Bulan mulai kesal.
“P”
“P”
“P”
__ADS_1
“P”
“P”
“P"
“P”
“P”
“P”
“P”
Juno melirik Bulan dengan kesal, yang dibalas dengan tatapan mata melotot Bulan.
“Apaan sih?”
“Minta maaf… gimana sih”
“Gak perlu!”
“Ehhh… udah tau salah masih gak mau minta maaf”
“MINTA MAAF”
“Aku gak salah ngapain minta maaf”
“Jelas salah... udah salah paham, apa susahnya minta maaf”
“Jadi orang itu musti berani mengakui kesalahan… GENTLEMAN DONG”
Ekspresi Bulan yang mengetik penuh dengan emosi sambil sesekali melirik Juno dengan kesal akhirnya menarik perhatian Kevin dan Inneke. Pasangan yang ada di hadapan mereka berdua terlihat saling menatap kesal sambil terus menulis pesan di hp nya masing-masing.
“Kalian sedang apa? Gak bisa bicara langsung? Kenapa malu memperlihatkan kemesraan di depan kita?” Kevin tertawa mengejek melihat keduanya, Inneke tersenyum sinis. Tapi Bulan dan Juno masih saja perang dengan menggunakan pesan.
“Aku mau minta maaf tapi kamu mesti melakukan yang aku mau”
“Ingat! Kamu harus melakukan semua permintaan aku” tulis Juno lagi.
“Iya-iya... pokoknya buruan ih minta maaf” tulis Bulan,
“Saya minta maaf atas kesalahpahaman kemarin, dari belakang saya tidak tahu siapa yang mendekati istri saya” tiba-tiba Juno langsung berkata tanpa berbasa basi terlebih dahulu. Inneke tampak kaget dan menatap Juno lekat seakan menunggu ucapan Juno berikutnya.
“Hehe iya Pak… Maaf suami saya sumbunya pendek Pak… kesulut dikit langsung meledak” Bulan tampak tertawa nyengir berusaha membuat suasana lebih mencair. Juno melotot menatap Bulan yang menambahi permintaan maafnya kepada Kevin.
“Aku kira kesalahpahaman seperti itu bisa diminimalisir kalau tidak ada pemicunya” ucap Inneke ketus, Bulan melirik Inneke mukanya terlihat dingin dan kesal, ingin rasanya Bulan mencari kipas agar semua energi negatif yang ada di antara mereka terbang dibawa angin.
“Hehehe iya Kak pemicunya adalah telat makan. Bekerja sama Pak Kevin selalu bikin lupa makan. Kerja lembur bagai kuda… kaya sekarang. Makan siang di skip” Bulan menggaruk-garuk kepala sambil nyengir.
“Makanya Pak nanti mah sambil kerja sambil ngemil supaya gak bikin hypoglycemic trus keleyengan deh”
“Sejak kapan kamu hypoglycemic?” Inneke memandang Kevin dengan dahi berkerut, yang disambut dengan senyuman khas Kevin mengerutkan dahi sambil mengulirkan mata ke atas.
“Kapan yah aku lupa… lumayan lama lah… untung aja Bulan bawa cokelat, kalau gak udah pingsan... “ Kevin tersenyum
“Atau jangan-jangan kamu hypoglycemic juga?” tanya Kevin pada Bulan
“Dia bukan hypoglycemic tapi Hippopotamus” ucap Juno tiba-tiba sambil mencubit pipi Bulan keras.
“Awwww…. Sakiiiiiiit” Bulan menjerit pipinya kemerahan saking kerasnya Juno menarik pipinya, mata Bulan sampai kemerahan dan berair. Dipandangnya Juno dengan kesal dan marah yang dipandang terlihat tidak peduli hanya tersenyum mengejek sambil menunjuk Hp seakan mengingatkan Bulan akan perjanjian mereka.
“Jun… jangan gitu dong sama istri kan kasihan” tegur Inneke sambil tersenyum melihat Bulan yang sudah seperti menahan ingin menangis karena kesal.
“Bulan kita makan dulu supaya tidak kekurangan energi… untuk bertahan hidup itu butuh energi yang banyak” Kevin menyela keributan yang terjadi. Bulan memalingkan mukanya dari Juno yang tampak tersenyum puas melihat ekspresi kekesalan Bulan.
“Salmon mentai dan Summer Cooler supaya segar dan berenergi lagi” Kevin memisahkan makanan untuk Bulan dan dirinya.
“Ini Cheese Cake nya… tumben kamu mau makan yang manis” Kevin menyimpan cheese cake di depan Inneke.
“Bukan buat aku, buat Juno” Inneke mendorong cheese cake ke depan Juno yang meliriknya dengan dahi berkerut.
__ADS_1
“Kamu kan paling suka cake ini” sambung Inneke.
“Sudah gak suka lagi… aku sekarang sukanya yang asin” jawab Juno cepat, mengambil Salmon Mentai milik Bulan dan menyantapnya dengan cepat.
‘Aa… itu punya aku!” protes Bulan tapi Juno tidak peduli, asyik menyantap Salmon Mentai seperti yang belum makan dari pagi. Kevin dan Inneke tampak kaget melihat sikap Juno.
“Kamu suka yang manis-manis kan sekarang, makan nih cheese cake nya” mendorong cheese cake kedepan Bulan dengan santai, dan mengambil minuman Summer Cooler yang tampak menyegarkan dan meneguknya hingga habis.
“Habiskan cheese cake nya… kita pulang sekarang!” ucapnya dingin setelah menghabiskan makanan Bulan. Dengan muka kesal Bulan memakan cheese cake yang disodorkan Juno, perutnya merasa lapar sehingga sudah tidak bisa protes lagi. Begitu cheese cake yang dimakan Bulan habis, Juno langsung berdiri.
“Saya berharap kedepan tidak akan ada lagi kesalahpahaman seperti kemarin”
“Terima kasih sudah memberikan ijin untuk istri saya berhenti bekerja supaya bisa lebih fokus membantu saya”
“Kami pamit pulang lebih dulu”.
Tangan Juno terjulur untuk bersalaman, awalnya Kevin hanya memandang muka Juno dengan tatapan datar, melihat sikap Juno yang mengambil makanan yang ia belikan untuk Bulan membuatnya kesal. Tapi tak urung ia menyambut uluran tangan Juno kemudian berdiri.
“Ok… selamat atas perusahaan barunya semoga sukses” ucapnya singkat. Juno mengangguk dan melihat ke arah Inneke dan tersenyum dengan muka datarnya sambil menganggukkan kepala.
“Aku pulang duluan… sukses dengan pekerjaannya di Bank” satu sudut bibirnya terangkat ke atas, membawa tas laptop Bulan dan menarik tangan istrinya untuk mengikutinya.
“Pak… saya pamit laporannya besok saya buat” Bulan mengangguk sambil ditarik Juno.
“Kak… aku..” belum sempat menyelesaikan ucapannya tapi ia keburu keluar dari teras menuju kasir restoran.
“Aku masih lapar...cuma diisi cheese cake cuma ngeganjel doang” ucap Bulan sambil bersungut-sungut kesal.
“Bisa gak pesan Salmon Metai tadi?, aku pengen makan itu banget dari dulu”
“Pas udah di depan hidung ehhhhh dimakan sama buaya... “
“Kalau gak malu sama Pak Kevin dan Kak Inne… beuuh Aa udah aku pites-pites” gerutu Bulan sambil menatap Juno kesal yang tengah membayar makanan yang tadi mereka pesan.
“Tadi kamu janji, aku minta maaf trus kamu mesti ngikutin maunya aku gak banyak protes”
“Sekarang diam jangan banyak protes” ucap Juno kesal, tadi tadi ia berusaha bersikap tenang.
“Ya udah gak akan ngomong lagi kaya kemarin... “ Bulan langsung diam dan cemberut. Juno memandangnya dan menarik nafas panjang.
“Ya sudah nanti dirumah aku masakin Spaghetti Aglio e Alio” ucap Juno singkat
“Apaan itu namanya sampe muntir-muntir gitu” tanya Bulan, rencana membuat gerakan tutup mulut langsung terlupa.
“Aku diajarin sama Mama bikin itu simple tapi enak” jawab Juno enteng sambil beranjak meninggalkan restoran.
“Serius!... Janji loh… begitu sampai rumah nanti bikinin yah… jangan bohong!” ucap Bulan sambil menggandeng tangan Juno.
“Iyaaa… berisik ah.. Masuk sana” Juno mendorong Bulan masuk ke mobil dengan tidak sabar. Langit sudah mulai gelap, segelap tatapan mata perempuan yang menatap kepergian mereka.
“Pengantin baru memang seperti itu, gampang marahan tapi gampang baikan lagi”
“Dulu bukannya kita gitu begitu?… atau malah gak pernah” Kevin mengerutkan dahi seperti berusaha berpikir mengingat masa lalunya.
“Hmmm… lama banget yah… kaya udah puluhan tahun yang lalu” Kevin tertawa sinis sambil terus menyantap makanannya.
“Kamu masih lama? Aku masih harus ke kantor lagi, tandatangan buat laporan tutup buku kas dari kepala teller” tanya Inneke dengan datar.
“Kamu duluan aja, aku mau menikmati makan dulu”
“Jangan terlalu malam pulangnya, kasian Elma sudah dua malam ini tidak bertemu Mommy-nya” sambung Kevin tanpa melepaskan pandangan dari hp-nya.
“Aku usahakan mudah-mudahan tidak ada kasus” ucapnya sambil beranjak meninggalkan meja restoran.
Tatapan mata Inneke tampak dipenuhi dengan pikiran dan berulang kali menarik nafas panjang seakan mencoba mengeluarkan semua sesak di dalam dada. Pertemuan hari ini dengan Juno membuatnya yakin kalau ia belum bisa melupakan laki-laki itu.
Ucapan Juno untuk menjalani hidup mereka masing-masing terasa sangat berat untuk ia lakukan, ia merasa masih belum bisa melepaskannya pergi dan dimiliki orang lain. Lima tahun berlalu dan kenangan bersama Juno masih melekat dalam ingatannya, padahal dulu ia yang memilih untuk pergi dan meninggalkan laki-laki itu untuk berhubungan dan menikah dengan Kevin.
“Lima tahun lebih tapi ternyata tidak menghapus semua kenangan itu”
“Jun… bagaimana kalau waktu ternyata tidak bisa menghapus kenangan kamu?!”
__ADS_1
“What if I never get over you”