Rembulan

Rembulan
Smack Down only for Syalala Time


__ADS_3

Katrin ternyata seorang perempuan yang supel, hanya butuh hitungan hari ia sudah bersikap seperti teman lama dengan Bulan dan Juno. Hari ini ia bahkan datang sendiri ke Ruko untuk mendiskusikan tentang desain Restoran yang akan dibukanya di daerah Jakarta Timur.


“Kamu yakin perempuan itu gak bakalan jadi staples dalam bakso?” tanya Doni sambil melirik ke arah Katrin yang tengah berapi-api menjelaskan konsep restoran tanpa memberikan jarak pada Juno. Pada awalnya mereka duduk bersebrangandihalangi meja kemudian Katrin mendekat, duduk berhadapan tanpa dihalangi meja.


“Hmmm steples bakso gimana?” tanya Bulan bingung. Doni menggelengkan kepalanya kemudian berbisik.


“Kamu menyangka perempuan itu bakso urat, jadi kamu makan, tapi pas di dalam mulut hanya melukai kamu karena ternyata didalamnya ada potongan staples besi” ucap Doni, Bulan langsung terbahak.


“Ahahahaha punya pengalaman makan kue trus pas digigit staplesnya kemakan yah?...hahahahha… aku juga pernah..ahahahahha” Bulan malah tertawa terbahak sehingga menarik perhatian Juno yang melirik mereka berdua tajam. Laki-laki itu memang selalu memasang muka serius dengan siapapun ia berhadapan.


“Udah ah… serius kerja bosnya ngambek” ucap Bulan pada Doni, mereka berdua tengah menghitung biaya yang harus disiapkan untuk dua proyek yang akan berjalan.


“Waah gede juga yah buat inden ke workshopnya siapa yang mau nanggung nih? Brengsek emang si Sarah… pake ngerubah isi surat kerjasama” keluh Doni sambil menggaruk-garuk kepalanya.


Bulan mengerutkan dahinya sambil berpikir, ternyata salah satu alasan project Kuldesak itu mudah di dapatkan karena Sarah menyanggupi kesepakatan untuk menerima pembayaran interior saat rumah sudah terjual. Ini berarti perusahaan harus mengeluarkan modal terlebih dahulu. Saat mereka kemarin Sarah dan Doni berdebat hebat, akhirnya argumen Sarah diterima karena Project Kuldesak itu memiliki prospek yang bagus, karena berada di daerah yang strategis. Sehingga walaupun tidak dibayar uang muka untuk pemasangan interior, project tersebut bisa dipastikan akan memberikan keuntungan.


“Kita harus mendapatkan suntikan dana untuk modal usaha Bang” ucap Bulan pelan, ia sudah menghitung, kalau dana yang ada sekarang tidak akan mencukupi untuk bisa membiayai dua proyek besar. Proyek rumah Bintaro walaupun hanya satu tapi membutuhkan dana besar karena menginginkan kualitas interior nomor satu. Sedangkan Project Kuldesak walaupun interiornya standar tapi jumlah yang harus diisinya lumayan banyak hingga sepuluh rumah.


“Pinjam sama Bank?” tanya Doni, Bulan menggelengkan kepala, ia tahu kalau Bank akan sulit mengucurkan dana pinjaman bagi perusahaan baru yang tidak memiliki aset apapun.


“Trus gimana?” Doni mengerutkan dahinya bingung.


“Kita mesti mencari investor, waktu di KAP dulu aku bagian yang nyari investor buat perusahaan kecil macam kita ini”.


“Tapi yah kalau aku evaluasi sih, kategori perusahaan baru macam kita ini bakalan sulit juga dapat investor soalnya kita belum punya klien juga sebelumnya”


“Hadeuuh pusing” Bulan menutup mukanya mencoba berkonsentrasi, tapi kepalanya sulit memfokuskan diri karena mendengarkan percakapan Katrin yang lucu, yang selalu mencampurkan bahasa Indonesia dan Inggris bersamaan. Anehnya Juno tampak serius tidak terlihat muka menahan senyum, tapi terlihat berpikir lebih serius dari biasanya.


“Ok.. sudah jelas bukan. I want open space… so orang-orang bisa terlihat menerawang sehingga tidak ada yang disembunyikan” terdengar suara Katrin mendominasi ruangan.


“Telanjang maksudnya?” tiba-tiba saja Doni menyela sambil tersenyum ditahan.


“Whaaat telanjang what do mean… Masa orang telanjang di restaurant.. Are you crazy?” ucap Katrin kesal. Bulan langsung memukul lengan Doni dengan keras.


“Otak mesum jangan suka dibawa-bawa kesini, udah tau orang lagi mikir serius” ucap Bulan berusaha menengahi.


“Lah dia yang bilang tadi orang-orang bisa terlihat menerawang… yah apalagi kalau bukan telanjang” sanggah Doni kesal sambil mengusap-usap lengan atasnya, pukulan Bulan tadi terasa pedas.


“Konteksnya Jang Doni konteksnya di dengar dulu…  dia bilang open space jadi bisa saling mengamati satu sama lain… cuma gak pas tadi si eceu kalimat lanjutannya… sing ngarti ari kamu dia lagi belajar bahasa Indoensia” sambil kembali Bulan memukul Doni dengan gemas.


“Aduuuh udah ahhh… jangan pukul-pukul terus dong… sakit inih… kamu tuh muka aja feminim tapi ganas… Jun.. lu gak di KDRT kan sama si mbul?” tanya Doni sambil menjauh dari istri temannya itu.


“Gak mungkin lah aku melakukan kekerasan sama A Juno, yang ada malah A Juno yang melakukan kekerasan sama aku” ucap Bulan sambil tersenyum lucu.


“Maksud lu… si Juno sukanya main “kasar” gitu?” tanya Doni sambil mendekat kembali dan berbisik, ia penasaran apakah temannya tipe-tipe yang suka main aman atau agak nackal.


“Iyaalah Bang… Kalau A Juno gak keras dia gak bakalan masuk” jawab Bulan sambil balas berbisik dan tertawa. Doni mengerutkan dahinya sambil berpikir baru kemudian dia mengerti sambil berteriak dan memiting kepala Bulan.


“Anjiiiir luuuu mesum… kurang ajar...kurang ajar” ucap Doni sambil menarik kepala Bulan.

__ADS_1


“Awww… awww kerudung aku A… tolongin… Abaaang lepasss ih” teriak Bulan, tapi Doni malah semakin senang menarik kepala Bulan.


“Don… Lepas… lu gimana sih.. Ini lagi ada klien gimana?” tegur Juno. Doni langsung melepaskan Bulan yang melayangkan tendangan ke kaki Doni.


“Nyebelin… bau ketek tau Bang Doni… hoeeekkk… mual aku… kerudung aku jadi bau begini” Bulan menutup hidungnya. Ia langsung berlari ke atas untuk mengganti pakaian dan kerudung.


“Sialan… ngehina nyebut aku bau segala, aku mandi setiap hari pake parfum juga” Doni mencium ketiaknya dan menggelengkan kepala bingung, baginya badannya tercium harum. Juno memandangnya dengan kesal karena malah bermain-main saat ada klien.


“I like this team work… kalian semua lucu-lucu” ternyata Katrin malah menikmati interaksi diantara mereka.


“You know when people do this to you” ucap Katrin sambil mendekat ke Doni dan kemudian tiba-tiba saja menyergap Doni dan memiting kepalanya tiba-tiba.


“Wowwww…. Wait a minute…” Doni tampak bingung ia ingin melawan tapi bingung karena berhadapan dengan perempuan, tapi sekarang ia dipiting oleh Katrin dengan keras sehingga menyulitkan dirinya untuk bergerak dan harus mengikuti Katrin yang bergerak maju dan mundur. Juno menahan tawa melihatnya, tapi ia membiarkan Katrin berbuat sesukanya pada Doni, karena tadi pun ia kesal melihat istrinya dipiting oleh Doni.


“Why don't you fight back?… don’t worry, you can punch me if you want… I can handle”


“Tadi I see you do this to Rembulan”


“Rembulan don’t know when someone lock her like this… she should fight back” ucap Katrin sambil menarik Doni maju dan kemudian membantingnya. BAAAAM.


“Arrrghhhhh…. Perempuan Edaaaaaan” teriak Doni sambil terkapar, ia terbanting keras ke lantai, untung saja Katrin masih menahannya, sehingga tidak mencederai punggungnya langsung.


“Now you can feel it… don’t you ever underestimate woman”


“Aku pemegang sabuk hitam taekwondo… so don’t you ever do that again” ucap Katrin serius. Ia merasa tidak suka karena ia merasa Bulan adalah perempuan yang baik teman tunangannya.


“Aku juga cuma main-main neng… aku gak mungkin nyakitin istri temen akuuu LingLing” teriak Doni sambil mengusap-usap pinggangnya dan menatap Katrin dengan kesal, bagi Doni semua perempuan keturunan Tionghoa akan ia panggil Lingling untuk memudahkan.


“Apaaa aku disebut Dakocan… enaknya aja… Bang Doni mirip Jelangkung… datang suka gak diundang pulang gak diantar” jawab Bulan.


“Apa itu Jelangkung?” tanya Katrin bingung.


Akhirnya hari itu dihabiskan untuk saling bercanda dan meledek, sambil sesekali membahas proyek restoran, hingga akhirnya saat sore hari Cedrik datang menjemput Katrin.


“You look so happy!” tanya Cedrik sambil merangkul tunangannya. Katrin yang tengah duduk membelakangi pintu terlihat kaget dan senang melihat tunangannya datang langsung memeluk dan mencium pipi Cedrik dengan penuh semangat.


“I have a good time here. It’s already settle, I want this company to handle my restaurant interior”


“Juno really understands what I want. I think he can read my mind…. Hahahaha” kembali Katrin tertawa senang.


“Tumben, biasanya dia agak rewel sama orang baru, suka banyak protes” ucap Cedrik sambil memandang Bulan dan Doni, saat menatap Doni ia agak berkerut melihat muka Doni yang terlihat kesal dan cemberut.


“Something happened?” tanya Cedrik sambil memandang Bulan dan Katrin, yang ditanya beda ekspresi jawaban. Katrin terlihat kikuk sedangkan Bulan tertawa terkikik.


“Doni di smackdown sama Katrin..hahahahah… gegara tadi dia ngeliat Doni miting aku...hahahahha” cerita Bulan sambil tertawa antara senang dan kasihan melihat Doni yang terlihat menderita karena pinggangnya terasa sakit.


“Honeeey… please don't do that… in here people love to make fun of each other… nothing be serious” ucap Cedrik sambil menatap Katrin lekat.


“I didn't know before… saya sudah minta maaf sama Bank Doni.. dia sudah bilang tidak apa-apa” jelas Katrin dengan muka tidak bersalah.

__ADS_1


“Sudah tidak apa-apa Mas… nanti saya bakal diurut di rumah. Babeh suka diurut kalau keseleo langsung sembuh... ehhh jangan nyebut Bank ... Bang singkatan dari Abaang” jelas Doni tidak ingin memperpanjang urusan, karena sebetulnya ia merasa malu dengan semudah itu dibanting oleh seorang perempuan yang terlihat kurus.


“Kak ada yang aku mau tanyakan” ucap Bulan pelan. Cedrik langsung menatapnya lekat. Bulan terlihat ragu-ragu apalagi ada Doni dan Katrin disana.


“Tapi nanti aja, kalau aku sudah benar-benar yakin” sambung Bulan sambil tersenyum tawar. Cedrik mengangguk ia sudah mengenal karakter Bulan yang tidak akan berbicara banyak kalau masalah serius.


Perhatian mereka langsung terpotong oleh kehadiran Juno dari lantai atas yang membawa kertas sketsa. Rupanya tadi ia memutuskan untuk bekerja di lantai dua karena terganggu kehadiran banyak orang  membuatnya sulit berkonsentrasi.


“Ini gambar sketsa dari apa yang kamu ceritakan” ucap Juno pada Katrin.


“Please give a note in every detail if you want to add something specific”


“I will make a design based on it” sambung Juno, Katrin mengangguk antusias, mukanya langsung bersinar saat membuka gulungan kertas besar itu.


“Wooow its beautiful… how come you make a great picture in a short time?”


“This is not a real design? Just a sketch?” tanyanya kagum. Ternyata Juno memang sangat berbakat dalam menggambarkan keinginan kliennya.


“Sketsa  yang sangat bagus” ucap Cedrik sambil mengacungkan jempolnya. Juno hanya menanggapi dengan senyuman samar, ia sudah terbiasa mendapatkan pujian tentang gambarannya yang terlihat real.


“Ok.. I will make a note on this sketch”


“Thank you so much” ucap Katrin sambil mendekat dan mencoba memeluk Juno, yang langsung mundur saat melihatnya.


“Honeeey… this is Indonesia” tarik Cedrik sambil menarik Katrin mundur, Bulan berusaha menahan senyum, kemudian menggoda suaminya supaya suasana tidak menjadi kaku.


“Takut amat… aku gak akan marah kok” ledek Bulan sambil menusuk perut Juno dengan jarinya. Juno tersenyum kecut dan kemudian langsung memiting leher Bulan seperti tadi Katrin memiting Doni.


“Thank you Katrin for your lesson … I will try to use it with my wife” ucapnya sambil menarik Bulan pergi.


“Aa…. iiiih Katrin help meee…. Ini mah bakalan di smackdown beneran”


“Don… tamunya antar kedepan… aku udah cape”


“See you Katrin.. Cedrik” ucapnya sambil ngeloyor pergi dan menarik Bulan menjauh.


“Aa… gak sopan iiih itu tamunya belum pulang… kok malah ditinggalin… lepassss” teriak Bulan, tapi Juno seakan tidak peduli, kepalanya terasa pusing dan ingin beristirahat setelah seharian harus mendengarkan celoteh Katrin yang mencampurkan bahasa Indonesia dan bahasa Inggris bersamaan.


“Gak aneh mereka seperti itu memang setiap malam” jelas Doni sambil menatap sepasang suami istri itu yang sedang naik tangga atau lebih tepatnya ditarik naik tangga.


“Every night is syalala time” jelasnya. Cedrik hanya tersenyum kaku melihat keduanya, tangannya kemudian menggamit Katrin untuk mengajak pergi.


“Terima kasih… kita ketemu lagi nanti… dan maaf tadi kalau Katrin keterlaluan” ucapnya lagi pada Doni.


“It’s OK” jawab Doni sambil meringis,


“Customer is a King and Queen…. I can bare it” jelasnya sambil mengantar tamu pulang.


“Next I will teach you how to fight back” hibur Katrin.

__ADS_1


“No...No… enough it's ok.. I like smackdown only for syalala time so fightback nya sambil syalala saja” jelas Doni, mendengar itu Cedrik hanya menggelengkan kepala sambil tersenyum, pantas saja Katrin betah diam seharian di kantor itu karena orang-orangnya nyeleneh semua. Sedangkan Katrin hanya bisa mengerutkan dahi tidak mengerti.


Memang kalau mau suasana hidup dan menyenangkan kita harus hidup bersama orang nyeleneh. Orang yang kaku itu terasa membosankan dan monoton. Ibarat kata kalau gak ada elu gak rame daaah.


__ADS_2