Rembulan

Rembulan
Kena Diskualifikasi


__ADS_3

Flashback On


“Kita ke Bogor”


“Tadi kamu lihat mobil yang bawa Bu Nisa?”


“Iya Pak mobil yang warna putih”


“Kita ikuti mobil itu, cari sampai ketemu, tapi kalau susah kita harus lebih dulu sampai kesana”


“Kesana kemana Pak?” Pak Murtoyo terlihat  bingung.


“Ke Bogor…ehmmm… maju saja dulu jangan banyak tanya, saya cari dulu tempatnya dimana” Papa Bhanu mengerutkan dahi dalam, ia lupa dimana tempat pameran yang akan dikunjungi Mama Nisa.


“Ita kamu cari pameran tanaman hias yang sekarang lagi ada di Bogor. Cepat gak pakai lama” ucap Papa Bhanu dalam telepon. Kepalanya terlalu pusing untuk mencari tahu di internet. Lebih mudah untuk menyuruh sekretarisnya Ita.


“Sekarang ada Pameran Anthurium di Kebun Raya Bogor Pak”


“Kalau itu saya sudah tahu, lebih spesifik dong. Kebun Raya kan luas” bentak Bhanu kesal. Ia membutuhkan pelampiasan amarahnya sekarang.


“Iya Pak maaf, tadi saya belum selesai bicara” Ita hanya bisa menghela nafas bersabar, ia sudah biasa dimarahi oleh Bhanu tanpa sebab. Dibandingkan dengan sekretaris Bhanu sebelumnya, hanya dia bisa yang bertahan paling lama.


“Lokasinya di dekat Griya Anggrek Pak, masuk dari Pintu Tiga, dari gerbang pintu masuk  Bapak belok kanan kemudian belok kiri, posisinya ada di sebelah kiri Pak” lengkap dengan arahnya Ita memberikan petunjuk.


“Ya… bagus” ucap Bhanu pendek dan langsung menutup sambungan telepon.


“Kebun Raya Bogor, masuk dari Pintu Tiga, nanti ambil ke kanan dan kemudian belok kiri”


“Kamu sekarang harus ngebut supaya kita bisa lebih dahulu disana”


“Ambil posisi parkir yang strategis di dekat pintu masuk jadi kita bisa lihat mobil yang baru datang” jelas Bhanu sambil memijat kepalanya, terasa sakit mungkin karena belum sempat sarapan.


Setibanya di Kebun Raya, Bhanu langsung menunjuk tempat parkir yang di dekat pintu masuk,


“Kita menunggu disini, parkir di belakang mobil itu jadi tidak terlihat” ucapnya cepat.


“Kalau nanti ada satpam datang bilang saja sedang menunggu rombongan keluarga, kasih uang biar gak banyak omong” ucapnya sambil menyimpan uang di dashboard. Pak Murtoyo mengangguk tanpa banyak bertanya, ia bisa mengerti kalau Bhanu ingin memata-matai Mama Nisa yang tadi pergi dengan teman-temannya.


Ternyata mereka tak lama menunggu, hanya lima belas menit, tiba-tiba Pak Murtoyo berteriak.


“Itu Pak baru datang mobilnya” tadi ia memang memacu kendaraan lebih cepat agar bisa mendahului mobil yang ditumpangi Mama Nisa dan teman-temannya. Bhanu langsung menegakkan badannya. Mengamati mobil yang melintas di depannya.


“Ikutin mobilnya dari belakang Yo.. tapi jangan sampai terlihat, pelan saja” matanya memandang dengan lekat, berusaha menajamkan pandangan untuk bisa melihat penumpang yang ada di dalam mobil. Sejenak ia menarik nafas lega, penumpang laki-laki duduk di depan, artinya mereka tidak duduk berpasangan. Sedari tadi pikirannya sudah berkelana kemana-mana membayangkan Mama Nisa duduk bersebelahan dengan laki-laki lain.


Di area parkir, dengan cermat Pak Murtoyo memutar posisi mobil sehingga berada di sisi kanan tanpa terlihat oleh mobil target.


“Mau saya temani keluar Pak?” tanya Pak Murtoyo, ia bisa mengerti kalau Papa Bhanu terlihat enggan untuk keluar dari mobil tapi rasa penasaran membuatnya celingukan melihat ke arah mobil target.


“Ya ya… kamu coba lihat dulu disana, beli tiket dan lain-lain. Jadi nanti saya tinggal masuk” menyodorkan uang pada Pak Murtoyo dan menyenderkan tubuhnya di bangku belakang. Kepalanya semakin terasa sakit, matanya terasa semakin berat tapi bukan mengantuk

__ADS_1


Pak Murtoyo datang tergopoh-gopoh dengan membawa tiket dan air mineral di tangannya.


“Pak.. itu rombongan sudah masuk, saya bawa payung dulu supaya tidak panas”


“Bapak terlihat tidak sehat”


“Minum dulu Pak”


Pak Murtoyo sudah bertahun-tahun bekerja dengan Papa Bhanu, ia sudah kenal dengan karakter Bhanu yang emosional dan cenderung otoriter, serta enggan memperlihatkan kelemahan dirinya pada orang lain.


Setelah meneguk air Bhanu merasa lebih baik, awalnya ia bermaksud membatalkan niatnya untuk memata-matai istrinya Nisa di acara pameran ini. Tapi ia sudah jauh-jauh datang ke Bogor, kalau dibatalkan maka semua yang ia lakukan sia-sia saja.


“Kamu temani aku kedalam, pakai payungnya” rupanya walaupun penasaran tapi rasa gengsinya tetap tinggi. Jangan sampai Mama Nisa mengetahui kalau ia ikut masuk ke Kebun Raya.


Pak Murtoyo yang pada akhirnya mengarahkan posisi mereka agar bisa memantau terus kemana Mama Nisa pergi. Terkadang bahkan Pak Murtoyo yang harus menahan Papa Bhanu agar tidak terlalu dekat. Mereka berdua harus menjaga jarak agar tidak terlihat, untung saja pengunjung sudah cukup banyak, sehingga jarak antar pengunjung lumayan padat.


Papa Bhanu terlihat kesal, awal mula Mama Nisa dan Tante Yani berjalan berdua mengunjungi setiap stand, mereka berdua terlihat asyik berinteraksi dan memilih tanaman. Untuk bisa membeli tanaman yang mereka sukai, mereka harus mengambil kupon yang berisi kode tanaman di stand sehingga tidak merepotkan . Nanti pada saat keluar tinggal menyerahkan kupon kepada petugas untuk bisa diambilkan tanaman yang mereka beli.


Namun apa yang ditakutkan Papa Bhanu akhirnya terjadi, Tante Yani karena perlu berdiskusi dengan suaminya Om Rio, akhirnya mereka berdua asyik memilih tanaman pada satu stand, untuk memilih tanaman untuk taman yang dibuat di dalam rumah. Melihat Mama Nisa yang sendirian di stand yang berbeda akhirnya Pak Teguh menemani Mama Nisa disana. Dari kejauhan Papa Bhanu bisa melihat kalau mereka berdua terlihat akrab walaupun menjaga jarak.


Tiba-tiba saja Mama Nisa terdorong oleh seorang laki-laki yang membawa pot besar sehingga terhuyung dan hampir terjatuh, untung saja Pak Teguh segera memegangnya dengan erat. Dari kejauhan terlihat kalau mereka berdua terlihat kaget karena berada dalam posisi yang sangat dekat seperti berpelukan.


“Kurang ajar” teriak Papa Bhanu.


“Pak… Pak sabar Pak…. Sabar… itu tadu karena Ibu mau jatuh… sabar Pak sabar… jangan sampai ada keributan… mohon Bapak bersabar” Pak Martoyo langsung memegang tangan Papa Bhanu dengan erat. Ia tidak ingin kalau Papa Bhanu membuat keributan.


Bhanu mengepalkan tangannya dengan erat, amarahnya sudah memuncak, tapi ia teringat kembali ucapan Juno sebelum ia pergi. Ia tidak bisa bertindak gegabah karena ini akan merugikan dirinya sendiri. Amarah tidak kunjung mereda, apalagi saat melihat Pak Teguh yang kemudian menggunakan payung agar tidak kepanasan, sehingga mau tidak mau Mama Nisa harus berdekatan dengannya.


“Sebentar, saya mau kesana dulu… biar laki-laki itu tahu kalau saya tidak akan membiarkan Nisa sendirian sama dia” ternyata Bhanu tidak ingin kedatangannya ke Bogor sia-sia belaka. Ia harus meninggalkan jejak agar saingannya tidak akan berani mengganggu wilayah kekuasaannya.


“Kamu ikut” ucapnya cepat. Mengambil beberapa kupon dari stand tanaman yang dilewatinya tanpa bertanya lebih lanjut jenis tanamanya apa. Pak Murtoyo tergopoh-gopoh mencoba mengikuti jejak langkah Bhanu yang cepat, bergerak dari arah yang berlawanan hingga akhirnya bertemu dengan pasangan panas yang menjadi incarannya.


“Waaah Mas kesini juga rupanya, apa mau menjemput Mbak Nisa?” Pa Teguh yang pertama kali melihat kehadiran Papa Bhanu yang sengaja sedang berpura-pura sibuk melihat tanaman.


“Wahhh bertemu juga, tadi saya cari-cari waktu Nisa bilang akan ke Bogor untuk pameran tanaman”.


“Iya saya mau mengupgrade taman di rumah” sambil memainkan kupon yang ada di tangannya, seperti ingin menunjukkan bahwa niatnya untuk membeli tanaman itu benar adanya. Mama Nisa melihat ke arah Pak Murtoyo yang tampak terengah dengan keringat yang mengucur deras. Dari tatapan Pak Murtoyo, Mama Nisa bisa melihat drama yang dilakukan oleh mantan suaminya.


“Mana Nis… tanaman yang kamu beli, saya ambilkan sekarang” tangan Papa Bhanu terulur untuk mengambil kupon yang ada di tangan Mama Nisa.


“Gak usah, saya masih mengumpulkan tanaman” ucap Mama Nisa dingin.


“Sini saya bawakan saja, supaya kamu tidak repot, mobilnya kecil begitu nanti gak akan muat tanaman yang kamu pilih” Papa Bhanu mengambil kupon di tangan Mama Nisa dengan cepat. Tidak ingin meninggalkan kesan ribut, akhirnya Mama Nisa membiarkan Papa Bhanu mengambil alih semua kupon di tangannya. Mulutnya terkatup rapat seakan menahan dirinya untuk tidak berbicara apapun.


“Eh ada Mas Bhanu… kemana saja Mas tidak pernah terlihat" Om Rio yang sudah selesai memilih tanaman bersama istrinya datang bergabung.


“Biasalah masih harus bekerja.. Ada saja yang harus dikerjakan padahal saya sudah tua begini” ucapnya mencoba merendah.


“Iya Mas Bhanu punya perusahaan sendiri jadi gak mengenal kata pensiun yah” ucap Om Rio sambil menjabat erat tangan Papa Bhanu.

__ADS_1


“Ya… lumayan untuk nambah-nambah, nambah rumah, nambah mobil” ucapnya sambil tertawa sendiri.


“Nambah istri juga  ya Mas” sambung Om Rio sambil tertawa dan melirik pada Mama Nisa, ucapan Om Rio langsung membungkam tawa Papa Bhanu.


“Janganlah nambah istri… bahaya nanti” ucapnya pendek sambil menatap Mama Nisa yang menatapnya tajam, ia sudah membaca sirene tanda bahaya akan segera berbunyi.


“Saya pamit dulu yah, mau ke kantor dulu. Ada rapat nanti siang” ucapnya dengan penuh percaya diri, lebih baik ia segera memisahkan diri pikirnya.


“Iya Mas… monggo kami juga tidak akan sampai siang, mudah-mudahan sebelum Jumatan ini nyonya-nyonya sudah selesai belanjanya” sambung Pak Teguh yang sedari tadi lebih banyak diam.


“Ya.. saya titip Nyonya Nisa Mas… dijaga jangan sampai kepanasan. Itu payungnya kekecilan gantian saja dengan payung saya supaya lebih leluasa”


“Mur… kasihkan payungnya supaya Ibu gak kena panas”


Pak Murtoyo terlihat melongo mendengar ucapan Papa Bhanu, kemudian dengan ragu-ragu menutup payung untuk diberikan kepada Mama Nisa.


“Bapak gimana” ucapnya pelan.


“Ndak usah Pak Mur… dipakai bapak saja, saya sudah ada payung… bawa sendiri juga” tolak Mama Nisa sambil memandang Papa Bhanu dengan tajam.


“Ambil saja, saya mau pulang kok sekarang, ayo Mur kita pulang, rapat nanti siang harus sudah di kantor”


“Saya pamit duluan yah… selamat siang” ucapnya sambil melirik ke arah Mama Nisa yang tatapannya datar tidak berubah sedikit pun.


“Ibu… mohon maaf ini payungnya mohon diterima, kalau tidak nanti Bapak marah sama saya” ucap Pak Murtoyo pelan, Mama Nisa mengangguk sambil tersenyum penuh pengertian diambilnya payung yang ada di tangan Pak Murtoyo. Ia sudah mengenal supir suaminya itu sejak lama dan paham sifat Bhanu yang akan marah kalau perintahnya tidak diikuti.


Dengan tergopoh-gopoh Pak Murtoyo mengejar Papa Bhanu yang sudah berjalan terlebih dahulu. Dari kejauhan Mama Nisa bisa melihat kalau Papa Bhanu langsung memberikan kupon-kupon yang ada di tangannya kepada supirnya itu. Ia sudah hafal sifat licik Bhanu yang gemar memanupulasi situasi. Mama Nisa hanya bisa menarik nafas panjang.


“Waah Mas Bhanu masih perhatian saja sama Mbak Nisa padahal sudah lama berpisah, naga-naganya ada yang mau CLBK nih Mbak” goda Tante Yani.


“Dia kan bapaknya anak-anak Mbak jadi wajar kalau perhatian, takut anaknya tidak diperhatikan”


“Ayolah jangan jadi gagal fokus kita lanjutkan huntingnya” Mama Nisa segera mengalihkan perhatian, ia tidak ingin dirinya menjadi bahan pergunjingan.


Bhanu menarik nafas panjang, usahanya untuk tidak memperlihatkan amarah berhasil ia lakukan. Tapi walaupun ia tidak mengumbar amarahnya pada laki-laki yang ia tidak sukai itu, ia tetap merasa puas. Ia bisa menunjukkan kalau dirinya masih memiliki kelebihan dan kekuasaan atas Nisa. Memperlihatkan kalau Nisa masih mengikuti perintahnya dan juga menunjukkan kalau dia lebih berdaya, masih bekerja dan memiliki perusahaan sendiri, bukan seorang pensiunan yang bisanya hanya berkebun.


Dibukanya jas kerja yang membuatnya berkeringat dan sesak. Pengunjung pameran tidak ada yang memakai jas seperti dirinya, ia seperti orang yang salah kostum.


Ting.. Bunyi pesan masuk ke dalam hapenya. Ternyata Mama Nisa yang mengirimkan pesan. Papa Bhanu langsung tersenyum lebar, duduk bersantai di dalam mobil sambil menunggu Pak Murtoyo memasukan tanaman ke dalam bagasi mobil.


“Tanaman yang aku pesan tidak usah dibawa ke rumah, aku sudah membawa kupon yang baru”


“Mulai sekarang Mas Bhanu harus menjaga jarak”


“Aku tidak mau lagi ada di dalam satu ruangan atau berkegiatan bersama dengan Mas Bhanu”


“Tolong berikan saya ruang untuk diri saya sendiri sekarang. Kita sudah resmi berpisah… saya minta Mas ingat itu”


“Kalau Mas Bhanu masih tidak melakukan itu, jangan kira saya akan diam saja”

__ADS_1


“Saya akan laporkan pada pihak yang berwenang sebagai gangguan atas ketenangan dan privacy”


Bhanu termenung, baru saja ia merasakan suatu kepuasan memenangkan suatu pertandingan dengan memukul telak lawannya. Tapi ternyata kemenangannya dianggap tidak sah, ia bahkan didiskualifikasi. Diminta untuk keluar dari pertandingan dan menjadi seorang pecundang. Tiba-tiba saja sakit kepala berat kembali menderanya. Semua kebahagian yang baru saja ia rasakan musnah begitu saja.


__ADS_2