
Sejak kedatangan Anjar lima hari kebelakang Juno sama sekali tidak mau berbicara, ajakan Bulan untuk makan ditanggapinya dingin, ditanya mengenai sesuatu hal pun hanya diam atau menggeleng dengan muka dingin. Akhirnya Bulan menyerah, terlalu melelahkan dengan kondisinya sekarang saat harus membuat rencana investasi dan juga mengurus rumah membuat kondisinya menjadi cepat lelah.
Sudah dua malam mereka tidur dengan saling memunggungi, keadaan yang tidak pernah terjadi sebelumnya. Sebetulnya Bulan bisa dikatakan tidak bisa tidur malam itu, pikirannya melayang jauh mengingat kembali kalau memang sikap Juno dari dulu seperti ini, jarang bersikap manis dan selalu dingin kalau tidak menyukai sesuatu hal.
Entah kenapa akhir-akhir ini batas toleransi terhadap sikap Juno cenderung rendah, ia mudah merasa sedih dan kesal atas sikap suaminya. Setiap kali Juno mengabaikan dan meninggikan suara perasaannya langsung down, sedih dan merasa ingin menangis.
Sudah lebih dari satu bulan ia tidak pulang ke Bandung, semakin kesini semakin sulit rasanya mencari waktu untuk pulang. Ternyata punya kantor di rumah seperti tidak memiliki hari libur, apalagi saat Sarah dan Doni yang hanya punya banyak waktu luang saat weekend untuk diskusi tentang proyek, sehingga menjadikan Sabtu Minggu seperti perpanjangan waktu kerja. Untung saja kondisi Bapak yang sehat dan Benny yang sibuk dengan sekolah membuat mereka berdua tidak terlalu mempersoalkan saat Bulan tidak bisa pulang.
“Bulaan…” suara Doni mengagetkan Bulan yang tengah fokus di laptopnya.
“Ngerjain apa sih sampai fokus gitu?” Doni jadi penasaran melihat Bulan yang tampak asyik.
“Lagi belajar bikin web ternyata gampang-gampang susah juga… udah seminggu ini aku buat, lumayan lah tinggal ngisi windowsnya pake gambar sama deskripsi… sebagian lagi aku mau masukin video”
“Bang bantu aku lah... mau bikin video desain interior yang hasil A Juno… kita sample aja beberapa proyek” jelas Bulan.
“Hmm buat apa?” tanya Doni heran
“Orang akan lebih mudah menangkap pesan dengan audio visual daripada visual saja Bang…. Sok gini deh abang lebih suka mana melihat interior lewat video atau hanya melihat gambar… pasti lebih suka video kan? jadi lebih ngena gitu Bang”
“Lihat nih aku kemarin search kafe yang di Surabaya yang interiornya dibuat sama A Juno… dia punya website sendiri caffe nya bagus banget videonya… aku lagi ijin sama ownernya buat memuat video interior caffe mereka dia ke web kita… yah win win solution juga… caffe dia di promote, trus kita juga punya bahan promosi hasil kerja desain” jelas Bulan.
“Weiiis keren gini yah… gak kepikir sama gw… gw pikir cukup bikin proposal aja hitung berapa dana yang dibutuhkan kemudian bagi keuntungannya cukup dah itu”
“Yah gak bisa seperti itu juga Bang… kita perusahaan baru… sebelum orang mutusin mau invest mereka akan lihat dulu kemampuan kita barulah hitung-hitungan persentase keuntungan”
“Trus yang kedua nih Bang” Bulan menarik nafas panjang,
“Aku mau ikutan seleksi new company investment”
"Itu nanti perusahaan yang lolos seleksi akan presentasi di depan para investor untuk dapat menarik investasi ke perusahaan mereka. Yang berkompetisi perusahaan baru semua, jadi kita gak akan bersaing sama perusahaan kelas kakap".
“Sebetulnya sih persyaratannya yang gak bisa kita penuhin, minimal sudah lima tahun beroperasi perusahaannya itu, tapi karena yang bikinnya perusahaan Kak Cedrik aku bisa maksa masukin proposal”
“Cuma kita mesti bikin banyak produk Bang selain proposal, company profile, video profile, letter recommendation, sama website usaha” tatap Bulan penuh harap.
“Aku gak bisa ngarepin A Juno buat ngebantu, dia kaya sibuk sama dunianya sendiri, ngegambaaaar aja… diajak ngomong aja susah… aku padahal cuma minta pertimbangan ini itu tapi dia kaya gak nanggepin gitu” keluh Bulan.
“Bantu yah Bang... Aku yakin aku bisa lolos seleksi!” ucap Bulan dengan penuh semangat.
“Cuma aku perlu dukungan Bang Doni sama Mbak Sarah… kalau Mbak Sarah bisa kasih masukan terkait teknis tampilan interiornya, sedangkan Bang Doni bisa gak nganter aku ke perusahaan, usaha dan rumah yang dulu proyeknya dikerjakan sama A Juno” Bulan meminta dengan penuh harap.
“Lah dia kenapa gak mau bantuin? belagu banget sih tuh orang” Doni terlihat cemberut sambil melirik ke arah lantai satu dimana Juno sedang asyik menggambar.
“Gak tau dia sekarang lagi sensitif banget… emosian… aku jadinya capek… jadi ya udah terserah dia” jawab Bulan dengan nada berat.
__ADS_1
“Ya udah lu tinggal ngomong aja kapan mau pergi… tapi bagusnya lewat dhuhur yah… jadi ntar gw cari alasan izin keluar” jelas Doni, Bulan langsung mengangguk setuju.
“Makan lu yang bener, muka lu pucet banget” ucap Doni sambil menepuk pundak Bulan seperti memberikan semangat.
“Iya nanti” jawabnya, beberapa hari ini selera makannya menghilang sehingga terkadang Bulan makan hanya sekedar untuk tidak kehilangan energi saja.
“Jangan nanti… sekarang… mau gw belikan makanan?” tawar Doni, muka Bulan terlihat pucat.
“Gak usah… nanggung ini lagi ngedit dulu” jelas Bulan sambil kembali menatap layar laptop, ia memilih bekerja di lantai atas karena lebih nyaman tidak satu ruangan dengan Juno.
Doni memandangnya dengan prihatin kemudian memutuskan turun ke lantai bawah.
“Lu gak khawatir liat istri lu udah kaya mayat hidup gitu… coba periksa ke dokter… badannya ngurusin trus mukanya pucet gitu” ucap Doni dengan nada prihatin, tapi Juno tampak serius dengan gambar di depannya.
“Doeel… denger gw gak sih lu” teriak Doni.
“Apaan sih lu teriak-teriak” mata Juno melotot kesal.
“Lu tuh gimana sih? kerja di rumah bukan berarti lu gak ada waktu buat yang lain… ada banyak yang musti lu perhatiin”
“Lu gak liat istri lu ngurusin kaya yang sakit… kalau gw liat di meja makan atas gak ada makanan artinya dia gak masak hari ini, dijamin dia juga belum makan” ucap Doni kesal, hari ini dia sengaja pulang lebih cepat dari kantor karena harus menghitung anggaran biaya tambahan proyek Kuldesak.
“Dia lagi diet kali… kalau laper juga bakalan makan” jawab Juno dengan tenang. Doni menggelengkan kepala heran.
“Gw mau beli makanan buat istri lu bukan buat elu” ucapnya sambil beranjak keluar dengan kesal. Juno hanya melirik dan kemudian mengerutkan dahi. Ucapan Doni membuatnya berpikir bahwa memang ia sudah beberapa hari ini tidak memperhatikan istrinya. Saat ia mau melanjutkan gambar tapi pikirannya menjadi tidak tenang hingga akhirnya ia berdiri dan naik ke lantai dua.
Dlihatnya Bulan yang sedang asyik dengan laptop hingga tidak memperhatikan kedatangannya. Juno berusaha membuat keributan dengan mengambil air minum tapi Bulan tidak memperhatikannya.
“Aku mau makan!” ucap Juno berusaha mengalihkan perhatian Bulan, tapi Bulan tidak mengalihkan pandangannya dari laptop. Baru sekarang ia menyadari kalau istrinya terlihat kurus apalagi dengan kerudung rumahan yang dipakainya sekarang, membuat mukanya semakin terlihat tirus.
“Hmmm Muneey aku mau makan” ucap Juno lagi, sudah lama ia tidak memanggil istrinya dengan panggilan itu.
“Muneey” panggilnya lagi, Bulan memalingkan mukanya dari laptop dan menatapnya tajam.
“Mau apa?” tanyanya dingin.
“Makan” jawabnya pelan. Bulan tampak menarik nafas panjang, kemudian berdiri dan beranjak mengambil kotak makanan di lemari pendingin. Mengeluarkan beberapa bahan makanan ke atas wadah dan menyimpannya di microwave. Sambil menunggu makanan hangat ia mengisi nasi dengan piring, menyimpannya di depan Juno di meja makan mengambil air minum dan kemudian kembali mengambil lauk yang dihangatkan. Mengambilnya dengan muka datar tanpa berkata sepatah katapun dan menyimpannya kembali di depan suaminya. Semuanya dilakukan tanpa ada perubahan ekspresi dan dilakukan dengan diam.
“Kamu gak makan?” tanya Juno pelan. Bulan hanya menggelengkan kepala dan kembali menatap layar laptop.
“Makan dulu baru kerja lagi” ucap Juno sambil memandang istrinya. Bulan menarik nafas panjang dan memandang suaminya dengan tatapan yang sulit diartikan. Akhirnya menutup laptop dan beranjak dari meja makan.
“Aku mau rebahan dulu capek” katanya sambil beranjak pergi tapi bukan ke kamar mereka melainkan kamar tamu yang selama ini menjadi ruang kerjanya. Juno hanya diam melihat kepergian Bulan, merasa kalau Bulan sedang membalas perlakuannya beberapa hari kebelakang, yang mendiamkannya selama berhari-hari.
“Mana si Mumun?” tanya Doni saat melihat Juno yang hanya makan sendiri sambil malas-malas.
__ADS_1
“Tuh ke kamar katanya pengen rebahan” jawab Juno sambil menengokkan kepalanya ke arah kamar. Doni langsung beranjak ke kamar dan mengetuk pintu dengan keras.
“Muuun… Mumun makan dulu...nih Abang beliin nasi padang kesukaan kamu” teriaknya. Juno memandangnya kesal.
“Bukan di kamar itu, dikamar sebelah!” jelasnya.
“Perhatian banget sih lu sama istri orang” ucapnya kesal.
“Lagian dianya tadi gak mau makan udah aku ajakin juga” sambungnya, tapi Doni seperti tidak peduli dengan ucapan Juno, ia langsung berpindah ke kamar yang disebut sebagai kamarnya sambil melanjutkan mengetuk pintu.
“Bul… jangan tidur perut kosong, makan dulu ntar lu sakit lagi gak bisa bikin video… katanya mau shooting objek buat video” bujuk Doni sambil mengetuk-ngetuk kamar tamu. Entah karena bujukan Doni tak lama Bulan membuka pintu dan mengambil bungkusan nasi di tangan Doni.
“Lahhh kok makan di kamar, disini dong makan bareng sama kita” ucap Doni sambil menahan pintu yang akan ditutup.
“Lagi males ngomong akunya” ucap Bulan sambil mendorong pintu.
“Bang makasih” ucapnya lagi sambil menutup pintu, Doni tampak terpaku melihat pintu yang menutup di depan mukanya.
“Kenapa sih dia, jadi pendiem gini?” ucap Doni sambil mengerutkan dahi.
“Kalian berdua ribut yah?”
“Tadi dia ngeluh kalau lu sibuk sama diri lu sendiri, susah diajak ngomong” jelas Doni sambil mendekat ke meja makan sambil membawa piring dan menatap makanan yang dimakan Juno.
“Lu itu makanan dari mana?”
“Tadi gak ada makanan di meja” ucapnya heran.
“Si Bulan nyimpen makanan di lemari pendingin, tadi dia ngangetin makanan di microwave” ucapnya sambil makan dengan malas-malas dan melirik pada nasi bungkus yang tengah dimakan Doni.
“Kenapa lu gak beliin gw, si Bulan lu beliin tapi gw gak dibeliin” protesnya kesal.
“Lah lu gak nitip pengen dibeliin makanan, gw cuma mikirin si Bulan yang kaya kurang makan, mustinya lu sebagai laki yang mikirin” ucap Doni kesal.
“Orang tuh kadang suka gak bersyukur sama yang dimiliki sampai suka disia-siain” ucap Doni pelan, Juno hanya mendengus mendengarnya.
###############
Aku mah kalau lagi ada tenaga gak rugi nulis buat pembaca, soalnya kebayang perasaan penasaran pengen cepet pagi supaya bisa baca kelanjutan cerita...hehehe hadeuuh indahnya masa itu… Yeorobun...Tanjakan menuju rollercoaster udah mau dimulai nih, siapkan mental yah.. Jangan protes kadang-kadang musti dikasih pahit dulu biar yang manis terasa indah dan menyenangkan.
Oya menjelang akhir tahun ini untuk meningkatkan silaturahmi dan kedekatan dengan pembaca, GC ShanTi akan dibuka kepada pembaca yang ingin mengenal pembaca lain yang sudah ada disana. Di GC ini kita mengutamakan silaturahmi yang baik bukan soal poin, sehingga kami membuka diri bagi pembaca yang memiliki sikap dan kesantunan untuk bergabung. Tidak ada persyaratan khusus untuk masuk, silahkan salam dan perkenalkan diri terlebih dahulu pada saat masuk. Apabila tidak memenuhi aturan dalam GC dan mengganggu ketentraman maka mohon maaf akan langsung diberikan tendangan bebas.
__ADS_1