Rembulan

Rembulan
Harapan


__ADS_3

"Bertahanlah Kenanga" Athar membawa Kenanga masuk ke dalam ruang IGD di temani beberapa perawat yang membantunya.


Ya, kini Athar sudah sampai di rumah sakit tempat dimana dirinya bekerja selama beberapa tahun ini, maka tak perlu menunggu lagi, Athar langsung melakukan pemeriksaan terhadap Kenanga. Meski dirinya gelisah dan takut bila terjadi sesuatu yang parah pada Kenanga, tapi Athar berusaha setenang mungkin menghadapi situasi seperti ini. Meski Athar sering mengalami situasi seperti ini, tapi saat ini keadaan benar-benar berbeda, nyawa wanita yang dirinya cintai berada di tangannya.


"Kenanga ayolah" Athar berucap dengan begitu parau.


"Ambilkan alat pacu jantung" Perintah Athar kepada perawat yang sedari tadi membantunya memasangkan jarum infus pada Kenanga.


"Baik dok.."

__ADS_1


Athar menggosokkan alat pacu jantung kemudian menempelkan pada dada Kenanga, namun sayangnya ketika alat tersebut di angkat, dada Kenanga pun ikut terangkat. Membuat Athar semakin takut, takut bila harus kehilangan Kenanga untuk selamanya. Namun Athar tak putus asa, Athar kembali mencoba beberapa kali hingga kini detak jantung Kenanga telah kembali, meski wanita itu senantiasa tetap setia memejamkan kedua matanya.


Athar menarik nafasnya panjang, menghembuskan perlahan dengan penuh kelegaan. Akhirnya apa yang dia takutkan tidak benar-benar terjadi. Setelah semuanya sedikit membaik, para perawat pun satu persatu meninggalkan ruang IGD. Kini hanya tinggal Athar seorang diri di samping Kenanga.


"Kenanga, bertahanlah. Aku tau kau wanita yang kuat, wanita yang mampu bertahan meski badai cobaan datang menerpa" Athar meraih tangan Kenanga dan menggenggamnya dengan begitu erat, kedua mata Athar terpejam.


"Halo..." Ucap Athar sedikit ragu


"Halo?? ini dengan siapa? Kenapa memakai ponsel putri saya? dimana putri saya sekarang?" pertanyaan beruntun dari Mama Anesa membuat Athar canggung, sudah sekian lama dirinya tak bertegur sapa dengan Mama Anesa. Meski dulu keduanya sempat begitu dekat, tapi semenjak kejadian pernikahannya dengan Kenanga batal, Athar tak lagi bisa berbicara dengan kedua orang tua Kenanga.

__ADS_1


"Halo, iya ibu. Saat ini, Kenanga sedang berada IGD Di Rumah Sakit Edelweis, tadi putri ibu tak sadarkan diri di taman komplek.


Tanpa mengucapkan sepatah katapun, ponsel yang Athar pegang kini layarnya telah menghitam, Mama Anesa langsung menutup telefonnya begitu saja. Athar hanya menghela nafasnya. Athar paham betul saat ini pasti mama Anesa tengah di landa rasa kawatir, terlebih lagi dengan kondisi kesehatan Kenanga saat ini.


"Dokter Athar. Perihal administrasi pasien bagaimana?" Tiba-tiba seorang perawat membuat Athar terkejut, dan langsung menoleh ke arah sumber suara.


"Oh perihal itu, biar saya saja yang mengurusnya" Athar beranjak berdiri, dan meninggalkan Kenanga sebentar untuk mengurus administrasi pasien, supaya Kenanga juga bisa di pindahkan ke ruang rawat biasa.


Athar mengambil kertas formulir pasien, kemudian tangannya mulai menulis mengisi data-data Kenanga. Setelah semua data terisi, kini Athar mengeluarkan kartu dari dompetnya. Kemudian menyerahkan kartu tersebut kepada petugas. Athar pula meminta ruangan VIP untuk Kenanga. Bahkan Athar juga langsung mendoposit biaya perawatan untuk beberapa hari kedepan. Setelah semuanya beres Athar kembali menuju IGD tempat dimana Kenanga kini. Athar kembali duduk di posisinya. Kedua matanya senantiasa menatap Kenanga dengan intens. Sudah sekian lama dirinya tak menatap wajah Kenanga. Wajah gadisnya kini sudah terlihat sangat tirus, pucat. Hati Athar berdesir dengan hebat. Andaikan saja ada yang bisa mendonorkan ginjal untuk Kenanga. Athar mengerjapkan matanya beberapa kali, benar juga. Mengapa dirinya tak mencoba melakukan pemeriksaan, siapa tahu saja ginjalnya cocok dengan ginjal Kenanga. Senyum di bibir Athar merekah, ada harapan Kenanga akan sembuh dan bertahan bila ginjalnya cocok dengan dirinya. Meski sebenarnya Athar faham betul resiko hidup dengan satu ginjal itu tidaklah mudah, tapi Athar akan berusaha supaya Kenanga sembuh dan bisa hidup dengan sehat. Meski kemungkinan sangan kecil kalau ginjal Athar cocok dengan Kenanga, tapi apa salahnya bila mencoba ? daripada Athar hanya diam saja dan berpangku tangan tanpa melakukan sesuatu padahal dirinya tahu betul, kini Kenanga sangat membutuhkan dirinya.

__ADS_1


__ADS_2