
Sudah seminggu ini Juno melihat sikap yang berbeda dari istrinya, sering telepon diam-diam dan tiba-tiba pergi keluar tanpa rencana. Seperti hari ini, tiba-tiba saja Bulan meminta izin untuk pergi keluar dengan alasan untuk membeli buku. Pada waktu pagi hari, Bulan tidak berkata apa-apa saat Juno berencana untuk membuat pertemuan dengan Doni dan Sarah terkait dua project yang sudah mulai running.
“A… aku mau keluar dulu ya bentar bada dzuhur, mau beli buku tentang membuat web”
“Aku mau coba kembangin sendiri, nanti yang developnya sih orang IT tapi untuk konten dan konsep harus kita rancang sendiri”
“Jadi aku mau lihat dulu di buku, konsep yang bisa dikembangkan”
Tiba-tiba saja saat mereka makan siang Bulan meminta ijin keluar. Juno mengerutkan dahinya
“Jam tiga nanti Doni sama Sarah mau kesini, kita mau rapat soal progres dua project yang akan kita kerjakan".
“Kamu sekarang sering banget keluar, ada kegiatan apa?” matanya menatap tajam penuh selidik.
“Hmmm masa? Nggak ah biasa aja, wajar aja keluar masa diem di rumah terus” jawab Bulan tenang.
“Aku juga bosen kalau terus dirumah, palingan ketemuan sama klien dari UMKM atau belanja mingguan ke market disana”
“Kenapa gak boleh?” tanya Bulan menatap Juno dengan penuh selidik matanya terlihat mengerut kesal.
“Gak apa-apa cuma aneh aja, suka tiba-tiba pergi”
“Trus gimana maunya Aa… aku musti di rumah terus begitu?” Bulan menatap Juno dengan kesal.
“Aku mau bantuin kerjaan, aa bilang belum ada pekerjaan yang perlu di bantu”
“Aku kan sudah biasa bekerja, kalau hanya memasak dan mencuci itu kan tidak menghabiskan waktu seharian”
“Makanya aku mau coba develop web supaya lebih mudah mengenalkan perusahaan kita sama klien, selain itu juga lebih terlihat profesional dan kredibel”
“Ya gak apa-apa aku gak melarang kamu keluar kalau memang ada keperluan penting” Juno menggaruk-garuk kepala meski tidak gatal.
“Cuma aneh aja, kok jadi sering keluar seminggu belakangan ini”
“Yah ada keperluan aja, kalau kerja juga kan setiap hari keluar rumah, gak dimasalahin”
“Ini kan cuma keluar beberapa jam, itu juga aku minta ijin keluar sama Aa”
“Gak ujug-ujug pergi diam-diam gitu” protes Bulan merasa disalahkan.
“Yahh gak apa-apa aku sih… kamu tuh aku kan cuma tanya aja, ngejawabnya sampai panjang kali lebar begitu” gerutu Juno sambil beranjak keluar.
Hingga akhirnya saat Bulan pergi keluar Juno tidak bertanya dan berkata sepatah kata pun saat Bulan pamit.
“Kok cemberut? Gak ridho aku keluar?” tanya Bulan saat pamit pergi.
“Nggak… silahkan aja!” ucap Juno dengan mata masih menatap laptop.
“Ya udah aku pamit, aku usahakan jam tiga udah di rumah” sambung Bulan, sambil meraih tangan Juno yang tidak bereaksi hanya mengangguk dengan muka datar.
Bulan seperti tidak terpengaruh dengan ekspresi Juno yang terlihat kesal, setelah menikah beberapa bulan dengan laki-laki itu ia mulai kebal dengan ekspresi dingin dan datar suaminya. Pada awalnya ia sering merasa bersalah namun lama kelamaan ia merasa kalau tidak melakukan kesalahan kenapa mesti terintimidasi. Harus membuat batasan yang jelas kalau dengan pasangan pikir Bulan, jangan sampai ada warna abu-abu sehingga membuat kita sulit untuk melangkah.
Namun hingga jam tiga sore saat Doni dan Sarah datang untuk rapat project Bulan masih juga belum pulang. Juno tak berhenti menatap jam tangan dengan muka berkerut kesal.
“Sudahlah ngapain juga nunggu cewek pergi luar”
“Lagi me time dia…. me time”
“Telepon aja daripada lu blingsatan gitu… susah amat jadi orang” gerutu Doni karena dari tadi Juno hanya memandang hp dan jam tangan terus.
“Ya sudah kita mulai saja, untuk project Kuldesak lu kan yang tanggungjawab Sar” Juno menghembuskan nafas panjang, kemudian menggelenggkan kepalanya keras seperti berusaha menepis pikiran-pikiran buruk yang muncul di kepalanya.
“Udeeeh jangan banyak pikiran, gak akan kemana-mana dia sih” Doni kembali menenangkan Juno yang hanya mengangguk. Akhirnya rapat mereka mulai tanpa Rembulan, sibuk membuat rencana kerja hingga pembagian tim agar semuanya bisa berjalan walaupun hanya dikerjakan bertiga.
Menjelang jam lima sore yang ditunggu-tunggu akhirnya muncul juga, datang dengan tergopoh-gopoh dan terlihat seperti merasa berdosa. Kedua tangannya penuh dengan kertas dokumen dan buah tangan berisi kotak kue.
“Assalamualaikum… hehehehe maaf...maaf gak kerasa waktunya cepet banget sampai gak sadar sudah jam empat lebih tadi, mana jalanannya macet lagi… aku sampai naik ojek online aja supaya gak kena macet” tanpa memberikan jeda kepada orang-orang yang dirumah untuk menjawab Bulan langsung nyerocos cepat.
“Aku beli makanan ini, ada roti pisang keju, harum banget pas diovennya. Aku langsung inget yang pada rapat pasti belum beli makanan”
“Cocok ini sama kopi”
“Bentar yah aku bikinin kopi”
“Ehhhh tapi aku belum sholat ashar, mau sholat dulu yah… nanti setelahnya aku bikinin kopi”
Yang tengah duduk rapat hanya bisa bengong mendengar rentetan kalimat yang keluar dari mulut Bulan tanpa titik dan koma.
“Aa kopinya tanpa gula kan, kalau Bang Doni kasih gula sedikit tipenya tuh… Hmmm Mbak Sarah pasti mau dikasih creamer dan gula sedikit… no worry aku bikinin yah” sambungnya sambil beranjak ke lantai atas.
“Dia tadi pake nafas gak sih ngomongnya?” ucap Sarah dengan dahi berkerut.
“Sengaja dia tuh gak kasih jeda, soalnya kalau tadi ada jeda si Doel bakalan ngegas… hahaha” Doni tertawa senang terutama saat melihat muka Juno yang terlihat kesal tapi berusaha menahan diri.
“Udah jangan esmosih… ingat Doel… ada banyak laki-laki diluar sana yang ingin menjadikan dia sebagai bunga di tamannya”
“Termasuk elu salah satunya” sambung Sarah sambil tersenyum sinis.
“Kagak…. Gw mah orangnya setia kawan, gak akan menikung punya sahabat sendiri, lagian mau nikung gimana… si Bulannya juga gak akan mau sama gw”
“Gak mau gimana sama Bang Doni?” tiba-tiba saja yang dibicarakan muncul sambil membawa roti pisang keju. Doni langsung kaget mereka tidak memperhatikan arah tangga karena mengira Bulan masih lama di lantai atas.
“Gak mau… itu… gak mau satu tim sama aku… pasti maunya sama Sarah” jawab Doni cepat.
“Nggak aku mah sama siapa aja, asal memberikan manfaat. Sama Mbak Sarah hayu, sama Bang Doni ok… Sama A Juno… bo..leh” ucapan Bulan terhenti saat melihat muka Juno yang dingin dan kesal. Bulan langsung merasa kalau Juno marah karena ia terlambat pulang.
__ADS_1
“Maaf tadi aku pulang terlambat, ketemuan sama temen yang punya perusahaan, dia minta dibantu dibuatin laporan keuangan” ucapnya pelan. Juno tidak menjawab dan berkomentar tampak berusaha menyibukan diri dengan laptopnya.
“Aku mandi dulu yaah, nanti setelah sholat dan mandi bergabung sambil bawa kopi” berusaha tidak terganggu dengan sikap Juno, Bulan kembali ke lantai dua.
“Kamu tuh nyebelin banget jadi orang”
“Si Bulan kan nyampe ke rumah sebelum magrib… emang telat berapa jam sih sampe di diemin kaya gitu”
“Dia juga datang-datang bukan bawa tas belanjaan dari Mall kalau gw liat”
“Tangannya penuh sama kertas dokumen”
“Jadi lu gak usah memvonis gitu dong” Doni memprotes sikap Juno yang berlebihan menurutnya.
“Lu kan gak tau tadi minta izinnya mau ke toko buku buat nyari bahan untuk mengembangkan web”
“Tapi kenapa sekarang dia tiba-tiba ketemuan sama klien untuk pembuatan laporan keuangan?”
“Seminggu kebelakang mantannya yang waktu kuliah telepon dia?!”
“Pengen ketemu and bermaksud meet up” Muka Juno terlihat kesal.
“Ahaahahah lu cemburu nih ceritanya… gile bener si Doel cemburu” Doni tertawa terbahak-bahak.
“Gw cuma ngelindungi apa yang menjadi milik gw… jangan sampai jatuh ke lubang yang sama”
“Haaah lu emang pernah masuk ke lubang yang mana sebelumnya?”
“Sama si Inne?” tampang polos Doni langsung mendapatkan sambitan pinsil, Sarah hanya bisa menggelengkan kepala prihatin.
“Bang sadd lu ini pepatah mo nyet… jangan mengulangi kesalahan sehingga masih ke lubang yang sama bukan lubang gituan… dasar otak lu konslet” Juno terlihat kesal.
“Ohhh ahahahahahah sorry...sorry… gw kirain lubang yang lain ahahahahahahha” Doni terbahak menertawakan kebodohannya sendiri.
“Haaah susah bener ngomong sama elu tuh… sering konslet” keluh Juno.
“Ahahahaha… gini deh Doel… buat gw si Bulan tuh beda sama cewek kebanyakan”
“Kalaupun ada mantannya mau balikan sama dia yah wajar lah… secara kan kalian nikah diam-diam jadi tuh mantan gak tau dia udah merit”
“Temen-temen lamanya dia bakalan mengira kalau dia masih single”
“Jadi saran gw sih… lu bikin lah acara syukuran kawinan gitu… gak usah gede-gede model garden party gitu”
“Nahhh lu undang deh disitu temen-temen elu sama temen-temen dia… biar sudah ter declare.. Kalau kalian berdua udah gak available lagi”
“Gw udah pernah nawarin opsi itu sama dia, bapaknya juga udah ngasihkan duitkan ke dia, tapi dia tetep gak mau… gak guna katanya, ngabis-ngabisin duit mendingan dipakai modal usaha” jelas Juno kesal.
“Ahhh emang tuh cewek idaman gw banget… gw minta bayangannya aja deh Doel…”
“Gak pake ngabisin duit dia mah malah nambahin aset” Doni termenung.
“Lu kalau pengen orang tahu kalian udah menikah tinggal bikin pengumuman aja di koran”
“Sudah menikah Juno dan Rembulan.. Mohon doa restu” jelas Sarah gamblang, Doni langsung membelalak mendengar saran dari Sarah.
“Lu lahir di planet mana sih Sar… aneh banget pola pikir lu… gak ada aroma-aroma silaturahmi dan kekeluargaan banget”
“Terlalu to the point… seperti hidup di era industri kalau berteman sama elu tuh… kaya robot” cela Doni.
“Lah yang penting tujuannya tercapai kan, kok dipakai ribet sih hidup”
“Semua orang tahu kalau kalian sudah menikah” balas Sarah.
“Siapa Mbak yang menikah?” kembali Bulan nimbrung dengan membawa kopi tampak sudah mandi sekarang terlihat segar.
Duduk disebelah Sarah dan membagikan kopi untuk semuanya, termasuk untuk dirinya sendiri. Kemudian mengambil sepotong kue pisang keju yang telah tersaji.
“Ituuuu noooh tetangga sebelah yang udah nikah gak woro-woro jadi banyak mantan yang pengen balikan karena gak tau” sindir Doni sambil tertawa melirik ke arah Juno yang kembali menyibukan diri dengan laptopnya.
“Trus kenapa? Aku juga nikah gak woro-woro tapi aman-aman aja” jawab Bulan santai.
“Beneey nih aman? Katanya kemarin ada mantan yang mau balikan lagiiii… wadaaw… bang saadd lu kalau nendang yang kira-kira dong… sakit nih kaki gw” rupanya Juno langsung membalas mulut ember Doni dengan tendangan maut di bawah meja.
Bulan tersenyum mendengarnya, ia menatap Juno lama.
“Tadi aku terlambat ketemu klien yang minta diperiksain laporan keuangan, gak ketemu Kak Cedrik… janjinya Kak Cedrik kan kalau ketemu sama aku dia mau ketemu A Juno”.
“Jadi gak akan mungkin aku ketemuan sama dia main belakang”
“Pantesan manyun aja dari tadi”
"Buat aku tuh mantan kaya Orang-orangan Sawah... menghantui tapi secara fisik gak bermakna"
“Aku kan bukan kaya A Juno yang janjian ketemu mantan diem-diem”.
“Tapi dasar nasib yah Bang Don.. mereka janjian ketemuan berdua… kepergoknya sama aku dan lakinya… nasib deh yang mau CLBK an kaya kena gerebek” ucap Bulan sinis sambil memandang Juno.
“Annnjiiiir gw ketinggalan berita inih…. Kapan ini kejadiannya kapaaan?” Doni langsung bangkit dari kursi dan mendekat ke arah Bulan.
“Ohhh gak cerita yaaah… beuh pas aku temuin mereka lagi ketawa-ketawa berdua tuh Bang”
“Begitu kita berdua datang langsung ceeesss… mirip kaya api yang disiram air es, tiba-tiba diam” Bulan membuat cerita dengan gaya hiperbol.
“Trus lu langsung ribut… hajar… tendang trus tarik-tarikan rambut gitu?” tanya Doni dengan penuh *****.
__ADS_1
“Eitsss.. Jangan salah aku bukan cewe model gitu… bukan orang yang dengan tipe sumbu pendek main hajar ajar trus baku hantam di depan umum” sindir Bulan kembali, Juno hanya melengos.
“Aku mah mau diem-diem aja pengen liat kelakuan mereka berdua” jawab Bulan santai.
“Diem-diem atau sembunyi karena merasa bersalah pergi barengan rapat berduaan lagi padahal udah jelas dilarang” balas Juno menatap Bulan lekat, sekarang giliran Bulan yang melengos.
“Terserah deeeh yang pasti aku kalau pergi berduan sama Pak Kevin konteksnya urusan kerja bukan buat acara intim berdua” jawabnya tidak mau kalah.
“Tapi aku kan disuruh sama kamu buat nyelesaikan urusan masa lalu. Kamu yang beberapa kali bilang… beresin urusan sama Inneke”.
“Ehhh giliran aku turutin kemauan kamu… aku malah jadi kaya jadi pelaku perselingkungan disini” keluh Juno sambil cemberut.
“Yahhh paling tidak Aa kalau mau ketemuan itu bilang dulu sama aku, jadi aku nya bisa siap-siap mental”
“Kamu juga pergi sama si Kampret itu gak bilang-bilang sama aku”
“Pak Kevin bukan Kampret… gimana sih suka seenaknya ngubah-ngubah nama orang”
“AHHHH BERISIK… Jadi masalah domestik begini”
“Kalau mau ngeributin yang kaya ginian nanti di kamar kalian… jangan disini” teriak Sarah kesal.
“Ya udah aku pamit… mau kerja di atas aja”
“Disini hawanya panas mulu” keluh Bulan sambil membawa kopi dan kue pisang keju yang tengah di makannya.
“Ahhhh gak rame jadinya… padahal gw pengen liat keributan domestik kaya gimana”
“Mendingan balik aja gw sih… udah magrib” ucap Doni sambil beranjak dan mengikuti Bulan ke atas.
“Heeeeh mau kemana lu?” tanya Juno cepat.
“Mau sholat Magrib… curiga aja lu… sama orang lain gak boleh, tapi sendirinya marah-marah melulu sama Bini” gerutu Doni.
Akhirnya rapat dihentikan oleh anggota secara sepihak, membubarkan diri dengan alasanya masing-masing.
Juno masih menyimpan kekesalan sampai malam tiba. Saat Doni sudah pulang ke rumahnya dan Sarah sudah masuk ke kamar bersama Samson, tinggal Bulan dan Juno yang sibuk dengan pekerjaannya masing. Bulan terlihat tidak terlalu ambil peduli dengan sikap diam Juno, tumpukan dokumen yang ada di hadapannya mengalihkan fokus dan perhatiannya, dan ini membuat Juno semakin kesal karena merasa diabaikan.
“Ngerjain apa sih kamu dari tadi perasaan gak berhenti, aku kan mau makan!” ucapnya kesal sambil menghempaskan dirinya di sofa. Bulan menarik nafas panjang, makanan sudah tersaji di meja makan tinggal mengambil sendiri tapi mengapa sampai menjadi suatu masalah besar.
“Semuanya sudah tersaji di meja a… tinggal ngambil sendiri” Bulan menarik nafas panjang, tapi tak urung dia beranjak dari meja kerjanya dan menghampiri meja makan.
“Mau aku ambilkan?” tanyanya pelan, Juno mengangguk.
Mengambil nasi dan lauk pauk lengkap kemudian memberikannya pada Juno, kemudian mengambil air putih hangat dan menyimpannya di meja depan sofa.
“Udah? Mau apa lagi?” tanyanya pelan,
“Udah… tapi kamu duduk disini nemenin aku” ucap Juno, Bulan yang sudah akan beranjak meninggalkan suaminya, akhirnya berbalik dan kembali, kemudian duduk di sebelah Juno.
“Ngerjain apa kamu… mata kamu udah cape gitu kok masih memaksakan diri duduk bekerja”
“Udah jam delapan lebih waktunya istirahat”
“Nanggung…”
“Aa juga belum tidur, nanti aku tidurnya nungguin Aa beres kerja”
“Aku kerja buat hidup kita berdua, buat masa depan kita berdua”
“Aku juga bekerja buat kita berdua… buat masa depan kita berdua jangan khawatir aku bisa membagi waktu” tanpa sadar menyelusup ke belakang pundak Juno sambil mengendus-ngendus…
“Nyium bau A Juno tuh biarpun ada asem-asemnya tapi nenangin bikin ngantuk” ucap Bulan pelan.
“Aku tau kamu modus manja-manja begini supaya gak dimarahin gara-gara terlambat pulang tadi siang” ucap Juno kesal.
“Hmmmm aku mah gak merasa bersalah dan emang terlambat karena kerja bukan main atau shopping” jawab Bulan santai, suaranya terdengar mulai mengantuk.
“Mau marah-marah juga terserah aja… gak akan aku pikirin” jawabnya lagi.
“Jangan ulangi lagi atau aku akan melarang kamu pergi keluar”
“Kamu harus ingat aku paling tidak suka dibohongi”
“Zero tolerance” ancamnya lagi.
“Emang aku suka dibohongin… yah sama lah enggak… udah ah jangan marah-marah terus nanti mukanya makin keliatan tua… “
“Kerja di rumah tuh… A Juno jadi keliatan kaya bapak-bapak padahal belum punya anak”
“Gak keliatan seksi lagi”
“Apa kamu bilang? Aku kaya bapak-bapak” Juno langsung berdiri dan menatap Bulan yang langsung tersungkur di sofa karena pergerakannya yang tiba-tiba.
“Hihihihi meni sensi… ya deh gak kaya bapak-bapak… kaya om-om aja…”
“Om-om setengah baya gitu deh...hihihi” Bulan menutupi kepalanya dengan bantalan sofa takut ditarik lagi pipinya.
“Kamu tahu gak… kalau om-om itu konotasinya suka main sama anak ABG”
“Sayangnya kamu sekarang udah gak pantes jadi ABG… kamu udah kaya mamih-mamih”
“Udah berpengalaman kamu sekarang mainnya”
“Eitsss jangan salah… mamih-mamih senangnya main sama om-om loh”
__ADS_1
“Soalnya Om-om itu lebih berpengalaman dari brownies...hahahahhaha”
Juno menggelengkan kepalanya kesal, perempuan yang ada di depannya benar-benar sudah mempermainkan hatinya selalu dengan mudah membalikkan perkataanya padahal dulu sangat mudah baginya untuk mengendalikan Bulan. Sekarang ia harus mengeratkan kendali dan pengaruh dalam rumahtangganya supaya bisa tetap bisa mengarahkan berjalan lurus kedepan dan kuat menghadapi rintangan dan cobaan.