Rembulan

Rembulan
Berbeda Sekali


__ADS_3

"Kau mau makan apa?" Sherin bertanya pada Athar sambil terus membuka buku menu yang di pegang di tangannya


Ya, saat ini Sherin dan Athar sedang makan malam bersama di salah satu cafe, sudah sepekan ini Athar mencoba membuka kesempatan untuk Sherin, tapi sayangnya Athar belum merasakan apapun. Entah mengapa Sherin tak bisa membuatnya nyaman atau bahkan senang. Gaya hidup Sherin terlalu mewah dan manja, meski bila di perhatikan wajah Sherin sangat lugu dan polos tapi bila sudah mengenalnya secara utuh dan jauh akan sangat berbanding terbalik dengan kehidupan aslinya.


"Athar, kenapa kau diam saja? kau mau makan apa?" Sherin kembali mengulangi pertanyaannya, bahkan kali ini kedua matanya menatap intens Athar yang malah menggeser layar ponselnya


"Terserah kau saja" jawab Athar seperti biasanya, karena selama bersama Sherin Athar selalu menyerahkan segala yang di makan di pilih oleh Sherin


"Steak beef medium?" tanya Sherin


"Boleh" jawab Athar


Sherin memanggil pelayan dan memesan dua steak beef medium dengan sebotol wine yang akan menemani malam mereka. Sementara Athar masih memainkan ponselnya, hanya menggulirkan layar ponselnya tanpa tujuan.


"Athar, Bibi Vina mengajakku berlibur ke villa yang ada di Lembang, kata Bibi beliau akan sekalian melihat keadaan perkebunan di sana"


"Benarkah?" ucap Athar ala kadarnya, rasanya dirinya tidak terlalu berminat mengobrol dengan Sherin, Sherin di hadapannya ini tidak asik seperti dulu, sikapnya yang terlalu berlebihan membuat Athar malah merasa begitu risih


"Apa kau mau ikut? Kata Bibi, kau sudah lama sekali tidak berkunjung ke sana?"


Sejenak Athar terdiam, dalam benaknya kembali teringat malamnya bersama Kenanga beberapa tahun yang lalu, menghabiskan permen kapas, jagung bakar, bermain di pasar malam dan di tutup dengan obrolan sepanjang malam bersama Kenanga. Ya ,obrolan itulah yang membawa Athar memilih menjadi seorang dokter Spesialis Urologi.


Pengalaman hidup Kenanga yang pernah menderita kelainan ginjal membuat Athar akhirnya memantapkan pilihannya pada Urologi. Namun sayang sekali, gadis itu kini hilang entah kemana, tidak ada pertemuan lagi setelah pertemuannya yang terakhir kali di Rumah Sakit.


"Athar ada apa?" tanya Sherin menyipitkan matanya


"Tidak apa-apa" Athar kembali mengalihkan pandangan matanya ke layar ponsel, membuat Sherin sedikit kesal hingga gadis itu memutuskan untuk berpamitan ke toilet sebentar dan di iya-kan oleh Athar.


"Maaf, maaf, saya tidak sengaja"

__ADS_1


"Jalan lihat-lihat dong, kau kan punya mata" seru Sherin dengan begitu kesal saat seorang gadis di bawah usianya tak sengaja menabrak dirinya hingga Sherin harus terbentur pojok meja


Athar yang mendengar keributan langsung mencari sumber suara, terlihat Sherin sedang memaki seorang gadis yang kini memunggungi Athar.


"Maaf, Maaf, saya benar-benar minta maaf"


"Memangnya maaf bisa merubah segalanya?" bentak Sherin


Athar menggelengkan kepalanya, Sherin sekarang suka sekali membesar-besarkan masalah sepele membuat Athar sama sekali semakin tidak nyaman. Namun kening Athar tiba-tiba berkerut, saat melihat jepit rambut yang menghiasi wanita yang tak sengaja menabrak Sherin, jepit rambut yang mempunyai bentuk sama persis dengan jepit rambut milik kakaknya, Athira.


"Apa jangan-jangan dia..." Athar melebarkan matanya, berharap wanita itu adalah Kenanga.


"Ah tidak mungkin" Athar langsung menepis angannya, dirinya tidak mau berharap lebih perihal Kenanga.


Jepit rambut seperti itu sangat banyak, apalagi Athar saat itu membelinya di pasar malam, tentu saja barang itu pasti banyak yang memiliki. Athar kembali memperhatikan gadis yang tak sengaja menabrak Sherin, kini gadis itu sudah duduk di meja tang terletak tidak jauh dari meja Athar. Penampilannya sangat feminim bahkan terkesan seksi, lekuk tubuhnya sangat terlihat karena mengenakan pakaian yang begitu minim, belum lagi rambutnya yang di biarkan terurai semakin menambah kesan sensual di mata Athar, tentu saja itu bukan Rembulan yang Athar cari selama ini, Rembulan Athar tidak mungkin berpenampilan seperti itu.


"Kenanga..."


Mendengar nama Kenanga, Athar yang baru saja kembali membuka ponselnya langsung mengalihkan pandangan matanya ke arah sumber suara. Benar saja, ternyata gadis itu adalah Kenanga, Rembulan yang Athar cari selama ini, kini Athar bisa melihat dengan jelas saat Kenanga berdiri menyambut teman lelakinya.


"Kau sudah menungguku lama?" Galih mendaratkan tubuhnya dan duduk bersebelahan dengan Kenanga


"Baru saja tiba" Kenanga tersenyum manja ke arah Galih


"Kau sangat cantik" puji Galih seraya mencubit dagu Kenanga.


Kenanga hanya tersenyum simpul menanggapi pujian Galih, baru sebulan ini Kenanga mengenal Galih, dan baru sebulan ini pula Kenanga kembali ke kota dimana dirinya di lahirkan.


"Kenanga..." Athar melafalkan nama itu perlahan, seakan ada gejolak yang begitu bergemuruh di dalam dadanya saat ini

__ADS_1


"Rembulanku.." imbuhnya, kedua mata Athar terpejam kemudian menghirup oksigen banyak-banyak untuk mencukupi kebutuhan nafasnya yang terasa sesak


"Mengapa dia sangat berubah? aku tidak bisa melupakannya, tapi sepertinya dia sudah melupakan aku" ucap Athar kecewa


Athar benar-benar tidak menyangka kalau Kenanga yang dirinya kagumi kini menjadi seperti itu, bahkan mungkin Athar bisa menebak kalau pria di samping Kenanga adalah kekasihnya, dari cara mereka berdua mengobrol sangatlah akrab, apalagi tangan pria tersebut terlihat merangkul pundak Kenanga.


"Apa kau malam ini mau menemaniku minum?" tanya Galih seraya menuangkan bir dari dalam botol ke dalam cawan kosong.


"Tentu, tapi tidak banyak" jawab Kenanga


Kini keduanya terlihat bersulang dan meminum bir yang baru saja datang di antar pelayan. Obrolan keduanya sangat asik, bahkan Kenanga sama sekali tidak menyadari kalau di perhatikan oleh sepasang mata yang tengah merasa kecewa.


"Galih, apa kau akan lama di Bandung?"


"Akhir tahun aku harus pindah dinas, aku di mutasi di wilayah jawa timur"


"Kita bakalan susah bertemu?" Kenanga sedikit memanyunkan bibirnya


"Tentu saja tidak, aku pasti akan sering mengunjungimu, wanita cantik sepertimu tidak pantas di biarkan begitu saja" Galih tersenyum, senyuman penuh makna yang Kenanga tidak sadari


Sementara itu, Sherin baru saja kembali ke meja makan setelah membuang air kecil di toilet.


"Tapi dia masih memakainya" ucap Athar tanpa sadar


"Siapa? Apa yang di pakai?" tanya Sherin penasaran sambil mendaratkan kembali tubuhnya di atas kursi


"Bukan apa-apa" jawab Athar kembali pura-pura bermain ponsel di tangannya.


Sherin mengajak Athar berbincang santai, dan Athar selalu menjawab apa adanya, pikirannya kali ini sedang fokus memikirkan Rembulannya, sudah sekian lama Athar mencarinya dan kini sudah berada di depan matanya maka Athar akan berusaha, langkah pertama yang harus Athar lakukan adalah mencoba menyapa Kenanga. Athar berharap Kenanga masih mengingat dirinya, toh jepit rambut yang pernah Athar berikan masih di simpan dengan baik, bahkan masih di gunakan oleh Kenanga. Setidaknya masih ada harapan, pikir Athar.

__ADS_1


__ADS_2