Rembulan

Rembulan
Tentang Rasa


__ADS_3

Bulan memeriksa pesan di hp nya setelah Shalat Duhur, ada pesan dari Juno.


“Aku duluan beli dulu makanan, Anjar nunggu kamu di pintu masuk Mushola” Bulan termenung, merasa heran Juno menyebut Anjar seperti temannya sendiri.


“Njar… ayo” Bulan menepuk bahu Anjar yang tengah duduk bersender di dinding Mushola.


“Astri sama Lidya lagi gak shalat kayanya… “ Bulan memandang ke sekeliling.


“Iya lagi M… Males” jawab Anjar sambil sinis, Bulan tertawa mendengarnya.


“Jangan suka suudzon gitu…” Bulan mendorong sahabatnya itu. Anjar hanya melengos mendengarnya.


“Kenapa kamu ngajak dia sih” muka kesalnya masih terlihat


“Siapa? Kak Juno?” tanya Bulan, Anjar diam dengan muka kesal.


“Ya maaf, tadi aku suruh pulang gak mau, malah nungguin di parkiran”


“Masa musti aku usir… lagipula gak apa-apa supaya kamu ada teman kan, gak dikejar-kejar sama si Astri”


“Ada yang mengalihkan perhatian” hibur Bulan sambil menepuk-nepuk pundak Anjar. Tumben-tumbenan temannya ini merajuk.


“Gak pengen disaingin yah… pengen jadi cowok idola semua cewek...hehehhe” Bulan menggelengkan kepalanya.


“Udah ah … ceritain soal investasi aja. Kamu beli berapa lot?” Bulan memandang Anjar lekat.


“A lot” jawab Anjar pendek.


“Hah?” Bulan bingung


“A lot…. Banyak” Anjar tertawa renyah melihat ekspresi Bulan, perempuan ini selalu mudah untuk diganggu.


“Owhhhh a lot…. Ih kamu tuh suka nyebelin ngejawabnya… kepikir aja” Bulan memukul pundak Anjar kesal… baru sekarang akhirnya Anjar tertawa sejak tadi bertemu.


“Duuuuh mesra banget nih berdua… udah di kantor berduaan terus di sini juga kita diasinin aja” Lindya yang datang bersama Astri dan Juno yang hanya menatap sekilas mereka berdua.


Bulan hanya tersenyum kecut, muka Juno tampak kalem dingin-dingin saja. Membawa popcorn, corn dog, cola dan chips.


“Ayoo… “ ucapnya berjalan mendahului mereka. Bulan mengikuti dibelakangnya diikuti Astri, Lidya dan Anjar, sambil berjalan menuju studio Bulan berpikir rasanya ada yang aneh, bukankah yang punya ide menonton itu mereka tapi malah sekarang mengikuti Juno seperti anak bebek.


“Njar lu duduk di ujung… gw diujung sini” Juno menunjuk posisi kursi yang dipesan.


“Eitsss… yang ngatur duduk kita dong yang traktir… astri diujung, anjar ditengah, gw, abang, nah baru Bulan diujung… ok ..selang seling biar adil” Lidya, langsung mendorong Astri untuk masuk lebih dulu dan Anjar setelahnya dan kemudian dia menyusul Anjar. Bulan hanya bisa melongo melihatnya, ternyata membelikan tiket nonton memiliki privilage untuk mengatur tempat duduk.


“Permisi Mba… mau duduk di line ini?” seorang laki-laki yang hendak duduk rupanya dalam barisan yang sama tapi terhalangi oleh Bulan dan Juno yang masih belum duduk.


“Masuk kamu…” Juno mendorong Bulan masuk lebih dulu, melihat sepasang kekasih yang akan duduk.


“Iss…. Bang Juno yang duduk di sebelah aku dong” Lidya langsung protes.


“Aku suka pengen pipis kalau lagi nonton” jawab Juno asal, Bulan memandang Juno dengan pandangan malas, ia tidak ingin duduk dekat Lidya tidak nyaman rasanya. Dia langsung memberikan kode ingin duduk disisi luar.


“Plissss” bisik Bulan sambil cemberut.. Juno menatapnya jengah


“Kamu mau pacar kamu dipegang-pegang sama orang… aneh”  bisik Juno ketelinga Bulan, dengan malas Juno kemudian duduk disebelah Lidya yang langsung tersenyum senang.


Disebelah Bulan ternyata yang duduk bukan perempuan tapi laki-lakinya, melihat itu Bulan menggeser posisi duduk mendekat ke arah Juno.


“Dibilangin aku yang duduk disitu” Juno menghela nafas, tapi ada hikmahnya juga, Bulan jadi duduk merapat kepadanya.


“Mau makan apa?” tanya Juno


“Apa aja… tadi aku gak sempat titip uang” Bulan tersenyum semangat melihat makanan.


“Mau yang mana? Sebelum aku kasih ke orang”


“Popcorn sama corndog juga mau kalau boleh” bisik Bulan, ia belum makan siang, jadi semuanya terlihat enak.


Juno tersenyum melihat sikap malu-malu Bulan, sesuatu hal yang jarang ia lihat. Terlihat menggemaskan dan seperti perempuan normal lainnya. Diberikannya corndog,


“Nih makan …” kemudian ia memberikan makanan kepada yang lain kecuali pop corn.

__ADS_1


“Film belum mulai tapi cemilannya udah abis” Bulan menikmati makanan dihadapannya, biasanya ia melihat di sosial media, ternyata seperti ini rasanya.


“Aku bisa bikin ini… gampang… enak juga ternyata” sambil dipandang lamat-lamat makannya.


“Coba aku cobain … nanti kalau kamu bikin nanti aku bandingkan”  Juno menarik Corn Dog yang tengah dimakan Bulan..


“Ehhh…” Bulan hanya bisa bengong melihatnya,


“Digigitnya banyak lagi” gumam Bulan, Juno tertawa mendengarnya diusapnya kepala Bulan yang langsung merunduk menghindari usapan Juno.


“Bang Jun… mau punya aku nih… masih banyak” Lidya mengasongkan Corn Dog miliknya, Juno menggeleng


“Aku gak suka mozarella… gak ada rasanya” jawabnya pendek


“Lahhh tadi makan yang punya Bulan” protes Lidya


“Tadi saya nyobain pengen tahu gimana rasanya aja” masih tersenyum dengan sopan. Lidya kemudian hanya mengangkat bahu, dan tanpa diduga Anjar menggigit corndog nya.


“Aaaa…. Anjar iiih bikin kaget… punya kamu udah abis lagi?” Lidya melotot kaget, corndognya tinggal setengahnya…


“Gak usah jauh-jauh kalau mau nawarin… aku masih laper” mendengar keributan Anjar dan Lidya, Bulan hanya tersenyum saja… rupanya anak bagian umum itu benar-benar menyukai Anjar.


“Makanan yang seperti ini bikin kita kenyang tapi palsu di perutnya” keluh Juno.


“Gak apa-apa sekali-sekali… dinikmati… tadi kan makanan sehatnya udah pagi-pagi”


“Udah jangan berisik… filmnya mau dimulai” Bulan tampak bersemangat, sudah lama ia tidak menonton film di bioskop.


Sekitar satu jam setelah  film berjalan, perhatiannya terpecah oleh suara di sebelahnya, ternyata laki-laki perempuan yang ada di sebelah Bulan juga asyik membuat adegan film sendiri… mereka bosan menonton adegan di layar bioskop.


“Ahhhh… jangan kesitu dooong”..  perempuan yang duduk disisi luar terdengar mendesah.. Mata Bulan langsung membulat, konsentrasinya jadi terpecah.


“Arghhhhh….hmmmmmmpppp…” tampaknya adegan di film tidak seasyik adegan di sebelahnya. Bulan langsung menegakkan badannya, rasa penasaran ingin melihat adegan yang ada di sebelahnya.


Belum sempat ia menoleh, suara Juno membuatnya langsung kembal fokus melihat kedepan.


“Kamu jangan coba-coba ngeliat ke sebelah… “ Bulan langsung meluruskan pandangan kembali ke depan.


“Aku penasaran pengen liat dikiiiit aja” bisik Bulan kembali sambil perlahan melirik dan menggerakkan kepalanya ke arah kanan.


“Hmmmmmm…. Aku ke toilet dulu..”ucap Juno keras dan langsung berdiri membuat pasangan yang disebelah tiba-tiba bergerak dan berusaha duduk normal. Bulan mendengus kesal, kesempatannya untuk melihat adegan live langsung pupus.


Akhirnya ia kembali menonton film, pasangan yang sebelahnya seperti tidak akan melanjutkan reka adegan kalau Juno belum kembali. Hampir sepuluh menit ia menghilang dan saat kembali tiba-tiba saja menarik tangannya untuk berdiri.


“Pindah ke sebelah sana..” perintahnya, Bulan menggeleng, malas duduk sebelah Lidya dan ingin kembali melihat reka adegan di sebelahnya.


“Buruan pindah…” Juno mendorong Bulan pindah ke sebelah Lidya, tapi enggan berpindah.


“Masss… Mbak buruan dong… ngehalangin nihhhh” penonton di belakang protes, Bulan akhirnya pindah dan duduk di sebelah Lidya sambil cemberut.


“Kak Juno gak asik…” akhirnya ia memusatkan perhatian ke film yang diputar di layar, tak lama aktivitas reka adegan sudah dimulai lagi sebelah.


Merasa tertutup oleh Juno, penasaran ingin melihat  Bulan melirik dan kemudian menoleh perlahan ke sebelahnya, tapi ia langsung kaget karena langsung berhadapan dengan muka Juno yang menatapnya lekat.


“Sekali lagi kamu ngeliat ke arah mereka, aku langsung cium kamu kaya mereka” ancam Juno tepat di depan muka Bulan yang langsung menegakkan badannya dan menatap lurus ke depan.


Juno PoV


Ekspresinya yang terlihat kaget dan lucu saat aku mengancam akan menciumnya kalau melihat lagi ke pasangan yang sedang asyik masyuk. Setelah itu ia tidak lagi berusaha mencuri-curi pandang melihat ke mereka.


Mereka masih anak remaja usia SMA, kesal juga melihat kelakuan mereka berdua, ingin memarahi tapi bukan siapa-siapa mereka.


“Haaaahh… masih anak SMA mereka” dia langsung teriak tertahan saat film habis dan melihat pasangan yang ada di sebelahku.


“Kaliaann heeeh…. Masih kecil udah main gila dibioskop….”


“Awas … aku foto kalian dikirim sama pengurus XXI … suka main gila di dalam” suaranya cukup keras sehingga menarik perhatian beberapa orang yang berjalan keluar.


“Ehh Tante… jangan suka ngomong seenaknya… situ yang main gila” si anak perempuan membalas nge gas. Laki-laki yang bersamanya langsung menarik anak perempuan itu pergi.


“Aku udah foto kaliaan… awas aja kalau main gila lagi” teriaknya lagi.

__ADS_1


“Emang mereka ngapain Bul?” mereka bertiga langsung penasaran melihat Bulan tampak kesal.


“Mereka kayanya gitu-gituan tadi… sampai desah-desah aku dengar” mukanya terlihat kesal.


“Gitu-gituan gimana?” Lidya berdiri merapikan pakaiannya dengan gaya yang menarik perhatian semua laki-laki. Dadanya terlihat membusung karena pakaiannya yang pendek memperlihatkan perutnya yang ramping.


“Yah gitu deh…” bagaimana mungkin dia bisa menerangkan, tadi aku halangi terus.


“Gitu gimana…” tanyaku, ingin tahu daya imaginasinya.


“Yah gimana aku bisa nerangin tadi dihalangin terus sama Kak Juno” dia terlihat kesal,


“Biasa anak SMA pengen coba-coba, wajarlah.. Lagi masanya” perempuan yang memakai rok itu tampak tidak ambil peduli, dia tampak ingin berdekatan dengan Anjar, memegang tangannya terus seakan tak ingin lepas. Baguslah.


“Gak bisa… musti diawasin jangan sampai Bioskop dipakai tempat maksiat” masih kesal rupanya dia.


“Ayo sekarang udah jam 3 lebih kita nyari coffe shop … ngopi sore yuks” Lidya menggandeng tanganku, dari tadi perempuan ini terus saja mepet-mepet menempelkan dadanya ke tangan.


Aku melihat ke Bulan ia seperti tidak ambil peduli, mukanya masih cemberut mengingat kelakuan remaja tanggung tadi.


“Aku mau pulang aja… besok kan kerja… mau istirahat supaya besok fresh” ia langsung berdiri dan berjalan mendahului.


“Aku nganterin Bulan pulang dulu… sekalian pulang dari kemarin belum pulang ke rumah” kilah Juno.


“Makasih yaa sudah bisa ikut nonton film barengan kalian”


“Njay… aku pulang duluan yaaa cape… tadi habis nyuci selimut belum sempet istirahat”


“Pantesan tadi selimut kamu gak ada” Juno menimpali, Bulan langsung melotot mendengarnya, jangan sampai orang tahu kalau Juno tidur di kost an tadi.


“Lyd… Ast… aku pulang duluan yahhh…” Bulan langsung pamit. Mereka berdua mengangguk bersama-sama.


“Bang Juno.. mendingan nongkrong bareng sama kita aja… Bulan bisa pake mobil online deh” Astri tersenyum, dua perempuan ini tampaknya sudah biasa agresif sama laki-laki.


“Saya gak tidur semalaman ngerjain proyek, sekarang pengen istirahat dulu” malas rasanya berbasa-basi lagi dengan mereka, cukup tadi saja saat datang supaya bisa nonton bareng bersama Bulan.


“Bul.. besok kita obrolin lagi.. Telepon gw nanti kalau udah di rumah” laki-laki itu seperti ingin menunjukkan hubungannya yang dekat dengan Bulan padaku, Bulan hanya tersenyum dan mengangguk. Hubungan mereka memang terlihat sangat dekat.


Sepanjang perjalanan pulang dia lebih banyak diam, entah mengantuk atau memikirkan laki-laki itu. Akhirnya aku tidak tahan lagi untuk menanyakannya.


“Bulan aku minta kamu jawab jujur” dia langsung menoleh. Aku menarik nafas panjang… mencoba untuk berani menghadapi kemungkinan yang terburuk.


“Kalau sekarang kamu disuruh memilih antara Aku atau Anjar untuk jadi pacar kamu sekarang kamu pilih siapa” tanyaku tegas.


Dia terlihat bengong dan kemudian memalingkan muka melihat kembali keluar.


“Bulan… jujur saja aku gak aka marah…”


“Antara Aku atau Anjar kamu memilih siapa?” dia seperti pura-pura tidak mengerti.


“Hmm kenapa mestinya bertanya tentang itu….” dia melengos dan diam, dahinya berkerut seperti berpikir.


“Aku gak bisa memilih…. Anjar tidak pernah meminta aku buat jadi pacar dia kok”


“Aku juga tidak bisa memilih Kak Juno…. Aku masih belum nyaman…” itu saja jawabnya pendek tapi membuat hati ini seperti dilempar ke jurang karena tidak berharga.


Sepanjang perjalanan dia lebih banyak diam, sesekali menghela nafas hingga kami sampai ke kost annya.


“Terima kasih sudah mengantar aku pulang. Kaosnya untuk Kak Juno saja karena saya gak pernah pakai”


“Kedepan jangan memaksa lagi… aku ingin tetap menghormati Kak Juno sebagai kakaknya Afi”


“Kalau kita sekarang berhubungan lagi sebagai pasangan… akan membuat kita berdua tidak nyaman… apakah kita berpasangan karena saling menyukai atau hanya sekedar membuktikan pada orang-orang bahwa kita bisa bersama lagi”


“Untuk menjadi pasangan kita butuh gairah untuk saling membahagiakan… mengistimewakan”


“Aku masih mencari itu…”


“Aku butuh membangun itu kembali… karena terus terang saya sudah kehilangan rasa itu…”


Dia turun dengan muka murung dan tergesa, hanya memberikan salam dengan diam dan pergi menjauh tanpa ada rasa untuk melihat kebelakang.

__ADS_1


Kenapa perasaan kehilangan lebih terasa saat ini daripada waktu dia memutuskan pertunangan. Apakah itu berarti dia memilih Anjar…..


__ADS_2