Rembulan

Rembulan
Sabar = Lebar


__ADS_3

“Malam ini kita terakhir tidur disini yah” Bulan tersenyum menatap Juno yang sudah memejamkan mata setelah acara smackdown selesai.


“Hmmm” cuma itu jawaban Juno sambil menarik nafas panjang.


“Kenapa? Menyesal?” sambungnya lagi sambil masih memejamkan mata.


“Enggak sama sekali, aku lega malahan, Aa gak usah terlalu khawatir soal pembayaran sewa ruko, terus masih ada selisih untuk biaya hidup kita”.


“Gaji aku masih aku tabungkan sebagian buat sekolah Bebey”.


“Tapi mudah-mudahan kalau aku bisa nyari tambahan bikin laporan keuangan jadi bisa support buat nambah modal usaha”.


“Katanya bikin website usaha yang bagus itu mahal A”


“Musti ada admin yang handle-nya”


“Bang Doni bisa gak? Dia kaya yang gaptek orangnya, masa kemarin aplikasi buat bayar kartu kredit aja minta tolong sama aku”


“Alasannya aku anak keuangan pasti bisa daftarin dan membuat batasan dalam pemakaian kartu”


“Payah… “


“Aku nanti bantu buat bikin laporan keuangannya deh”


“Sama Aa aja nanti dibuat list nya apa saja keperluan yang harus dianggarkan supaya kantor bisa jalan bulan depan...yah?”


“A...Aa” Bulan melirik Juno yang tadi masih menjawab ucapannya, ternyata sudah tertidur lelap, dengan ekspresi muka seperti anak kecil yang di siang harinya sudah banyak ikut les sehingga terlalu lelah.


“Ehhh malah tidur, orang lagi bikin planning”


“Makanya kalau smackdown jangan sampai dua ronde… cape kan jadinya!” Bulan menggerutu, untung saja tadi dia makan cemilan yang padat sehingga setelah pulang kantor tidak merasa terlalu lelah. Sekarang Bulan selalu memaksakan diri untuk makan makanan tambahan atau minum susu di sore hari, karena kalau dulu sebelum menikah biasanya pulang kantor ia akan langsung rebahan sehingga bisa menyegarkan diri. Tapi setelah menikah, begitu tiba di Ruko ia harus menyiapkan makan untuk Juno.


Terkadang kalau harus lembur dan pulang bersama mereka memilih makan malam di luar dan pulang tinggal mandi dan beristirahat. Mending kalau hanya istirahat biasanya senggolan sedikit saja langsung dilanjutkan dengan olahraga malam.


Minggu ini adalah minggu kedua setelah kesepakatan dengan Sarah dibuat, rencananya besok Sarah akan mulai membawa barang-barangnya ke Ruko, hanya barang-barang yang penting saja karena sebagian kamar telah diisi lengkap. Kecuali tempat tidur yang harus dibeli oleh Sarah karena Juno tidak merelakan tempat tidurnya ditempati oleh Sarah.


Keesokan harinya, sang pemilik kamar baru datang. Untung saja Bulan sudah pulang lebih dahulu sehingga saat Sarah datang dengan membawa tas koper yang besar-besar ia sudah ada di Ruko.


“Woaaaah…. Mbak Sarah badannya memang kecil tapi kopernya besar-besar” Bulan terbelalak melihat tiga koper besar yang melintang di depan pintu Ruko. Sarah hanya menjawab dengan dengusan tanpa menjawab komentar Bulan.


“Aku bantu yah…” ucap Bulan sambil menarik satu koper ke dalam Ruko, kali ini Sarah hanya melirik masih tanpa komentar.


“Juno mana?” tanyanya pendek.


“Belum pulang lah… baru jam enam ini, dia biasanya pulang jam delapan” jawab Bulan


“Itu sih gw tau, kan gw yang sekantor sama dia” jawab Sarah sinis.

__ADS_1


“Sekantor aja sombong… aku yang sekamar biasa aja!” balas Bulan sambil menarik koper di tangga.


“Untung aku orangnya soleh baik hati tulus putih hatinya, seputih susu” ucap Bulan sambil terus membawa koper satu persatu ke atas.


Sarah menatapnya kesal, “Hati-hati kopernya rusak… aku belinya waktu liburan di Europe”


“Kalau koper mahal dari luar negeri biasanya tahan banting Mbak, aku pernah liat iklannya dijatuhkan dari ketinggian dia gak rusak… mau coba aku lepasin dari tangga nih sekarang?” tanya Bulan sambil menatap Sarah yang ada di bawahnya yang juga menarik kopernya ke atas.


Sarah melotot kaget mendengar ancaman Bulan, ekspresinya terlihat syok membayangkan koper kesayangannya akan dijatuhkan oleh Bulan dan akan menimpanya.


“Ja...jangaaan… gila lu yah… mau bunuh gw?” ucap Sarah cepat.


“Makanya jangan suka nyari perkara sama aku… aku mah orang baik kalau diajak baik, tetap berusaha baik sama orang jahat kali aja dia dapat hidayah entar aku dapat pahalanya”


“Fuiiiih berat juga ini koper… isinya apa sih Mbak baju atau batu…?“ Bulan menarik nafas panjang.


“Gak nyangka si Juno kawin sama cewek gila!” gerutu Sarah sambil menarik nafas panjang di ujung tangga.


“Kalimatnya gak lengkap Mbak… aku yang bikin dia gila soalnya bisa membuat dia melenguh… hahahah” Bulan tertawa puas sambil meninggalkan Sarah.


“Seta aaannn!” teriak Sarah kesal.


“Temennya Mbak jangan dipanggil kesini ntar nemenin di kamar kan kacau apalagi kalau sendirian, aku mending ditemani A Juno” jawab Bulan. Sarah semakin kesal, setiap omongan selalu saja dibalas oleh Bulan


“Koper satu lagi bawa sama Mbak Sarah aja yah… aku mau masak makan malam dulu… bentar lagi SUAMI pulang” karena pulang lebih cepat, Bulan memutuskan untuk membuat makan malam. Sudah lama tidak memasak makanan kesukaan Juno, kali ini ia ingin mencoba membuat daging dengan bumbu teriyaki, harus dimarinasi dulu sebentar biar bumbunya meresap.


“Arkkkkhhhhhhh..” suara Sarah yang menjerit.


“Kenapa Mbaaak” Bulan bergegas turun, dilihatnya Sarah bersender di dinding tangga sambil menahan koper.


“Kakiku keseleo, gara-gara sandal ini!” ia menunjukkan sandal yang memakai heels bulat seperti bola.


“Ya Allah bawa barang berat kok pakai sandal ber heels sih…. Bahaya Mbak… untung aja gak jatuh…” Bulan langsung menahan koper yang membebani Sarah, ditariknya perlahan hingga keujung tangga.


“Bisa jalan gak?” tanyanya dengan penuh rasa khawatir, Sarah naik perlahan sambil meringis kemudian tersenyum penuh kemenangan.


“Bisa… tadi cuma akal-akalan aku aja supaya kamu bawain koper aku… makasih yaah...hahahahaha” ujar Sarah sambil melenggang masuk ke dalam kamar dengan penuh rasa kemenangan.


“Ishhhhh… jago acting… nyebelin banget Sadako….” Bulan menggerutu kesal, ia tadi benar-benar merasa khawatir ternyata kena prank. Ia hanya bisa tersenyum kecut, kedepannya harus lebih hati-hati dengan perempuan itu, karena bisa sampai acting menipu dengan baik untuk mendapatkan keinginannya.


Selama hampir satu jam lebih tidak ada interaksi diantara mereka berdua, Bulan disibukan dengan kegiatan memasaknya dan Sarah mulai memasukan pakaian yang dibawanya ke dalam lemari.


“Kenapa tempat tidurnya dipindahkan?”


“Aku tidur dimana?” Sarah membuka kamar Bulan dan Juno yang sudah ditata ulang sejak seminggu kebelakang.


“Wooooi…. Main buka aja kamar orang!” Bulan langsung berteriak.

__ADS_1


“Mbak e… tolong yah privacy dihormati!”


“Aku tanya tempat tidur aku mana? Masa aku tidur di sofa bed?” protes Sarah, kemarin sofa bed yang di kamar kerja memang dipindahkan ke kamar utama, rupanya Sarah baru menyadarinya sekarang.


“Mbak Sarah, tempat tidur itu sudah bekas dipakai kami berdua”


“Mas Juno tidak mau berpisah dengan tempat tidur bekas dia melepaskan keperjakaannya, jadi wajar kami bawa serta udah kaya barang keramat sekarang kasurnya” jelas Bulan sambil menahan senyum. Kebohongan harus dibalas lagi dengan kebohongan, salah sendiri tadi nipu nyebut keseleo, padahal kan kasur suci mereka adanya di Bandung bukan disini.


“Aku gak masalah bekas siapapun, toh kalau kita tidur di kamar hotel, itu bekas orang lain juga, hanya ganti sheet pembungkusnya saja” kilah Sarah kesal.


“Yang masalahnya di kami bukan di Mbak Sarah, beda Mbak… kaya udah getarannya gitu, khawatir nanti salah kalau sama Mbak Sarah… bergetar iyah tapi gak ada lawan main… kan bahaya...hihihi” Bulan menggelengkan kepalanya, kenapa ia jadi mesum begini pikirannya tertular si Afi.


“Kamuuuu….” Sarah terlihat kesal.


“Udah ahhh jangan marah-marah terus kita mesti gencatan senjata, aku gak mau Mbak Sarah marah terus sama aku… salah aku tuh apa sih?” Bulan menarik nafas panjang, walau bagaimana ke depan mereka akan terus berada dalam satu atap.


“Pikir aja sendiri!” jawab Sarah ketus, mengambil air minum dan duduk di meja makan, memainkan hp tanpa mempedulikan Bulan yang menatapnya pasrah.


“Mbak Sarah mau makan malam gak?”


“Aku bikin daging bumbu teriyaki kalau kata aku sih enak”  tawar Bulan mencoba untuk bersikap lebih baik dan ramah.


“Aku gak makan sembarangan… “ jawabnya cepat, “Juno kemana sih kok jam segini belum pulang, tadi bilangnya sama aku bakalan pulang cepat mau bantuin, tapi dia kok belum pulang juga!” Sarah cemberut kesal sambil melirik Bulan.


“Dia mah kalau udah kerja gak akan inget sama bumi alam… cuma ingetnya sama Rembulan” Bulan berhenti sejenak kemudian tersenyum sendiri mendengar lelucon yang ia buat. Kepikir aja Bulan kamu tuh…


“Tadi A Juno kirim pesan kalau Mbak Sarah mau datang, aku disuruh bantuin, makanya aku bantu angkat-angkat tadi… dia mah nganggap aku kuli bangunan gegara bisa ngangkat aqua galon”


“Disinilah keuntungan punya persediaan lemak di bumper Mbak… untuk itu Mbak Sarah musti banyak makan biar bumbernya ngegedein” ucap Bulan sambil menata makanan di meja makan.


Diluar terdengar suara mobil Juno yang datang, Bulan menengok ke arah pintu terlihat cahaya mobil yang sedang parkir.


“Tuh panjang umur A Junonya datang, pas makan malam sudah siap” Bulan merasa senang, saat masakan sudah siap suaminya datang.


“Assalamualaikum” terdengar suara Juno di lantai satu.


“Wa…” belum selesai Bulan menjawab sudah terdengar teriakan Sarah yang melongokan badannya dari balkon lantai dua.


“Waalaikum salam… kemana aja sih lu Jun… gw tungguin dari tadi, katanya mau bantuin gw ngangkutin barang…” dengan suara sok-sok manis manja grup band binaan bang Oma, Sarah menyapa Juno.  Hari ini Sarah memang tidak masuk kantor karena bermaksud untuk packing barang pindahan, ia mengirimkan pesan pada Juno untuk membantunya nanti di Ruko.


“Banyak kerjaan gw, tadi udah gw minta Bulan bantuin lu!” jawab Juno datar, sambil naik ke lantai dua. Bulan yang menyambut kedatangan suaminya tersenyum, memberikan tangan untuk salam dan mencium tangan suaminya.


“Cape yah?” tanya Bulan, yang hanya dijawab Juno oleh anggukan dan ciuman di kepala Bulan.


“Udah disiapin nih makan malam, ditungguin dari tadi gw udah laper” ucap Sarah lagi, Bulan menoleh kaget… Dia hanya bisa berkata dalam hati.


“Ewww… lu waras Mbak?… boro-boro nyiapin makan malam, disuruh makan aja alasannya gak bisa makan sembarangan… sekarang ngaku-ngaku nyiapin makan buat suami gw trus laper” Bulan menggelengkan kepalanya… perempuan di depannya benar-benar melatihnya untuk membuka pintu pengertian lebar-lebar.

__ADS_1


__ADS_2