Rembulan

Rembulan
Nasib Telur Asin


__ADS_3

Derap langkah yang sedikit berlari terdengar di selasar Rumah Sakit. Juno seperti hilang akal, berbekal informasi dari Doni ia langsung berangkat ke rumah sakit setelah mengikuti acara di hotel tempat meeting. Akhirnya dia menyerah, mengikuti keinginan Doni untuk mengikuti sesi terakhir dari seleksi investasi yaitu tanya jawab. Untung saja ia membawa jas walaupun pada akhirnya  ia tetap memakai kaos berkerah sebagai dalaman  karena kemejanya sudah habis saat di Surabaya.


Ternyata apa yang ditakutkan oleh Doni terbukti, selama sesi tanya jawab dengan calon investor, perusahaan Juno yang paling banyak di cehcar oleh pertanyaan oleh para investor. Doni yang duduk di sebelah Juno hanya mengangguk-angguk memberikan penguatan dengan tersenyum lebar. Kepercayaan dirinya langsung tumbuh begitu melihat Juno datang.


Dari kejauhan Juno melihat Afi yang datang berjalan melewatinya di lobby Rumah Sakit


“Adee… Afi” Afi menoleh dan menatapnya dengan dingin, kemudian berjalan meninggalkan Juno yang melotot melihat sikap adiknya.


“Afiii heeeeh” Juno mengejar adiknya dan memegang bahunya dengan sedikit sentakan.


“Kamu dipanggil malah perr…. Aaaarrrghhhh” belum selesai Juno menyelesaikan ucapannya satu tendangan sudah mendarat di kakinya, menghantam tulang keringnya sehingga ia langsung mengaduh dan menunduk menahan nyeri yang amat sangat. Tapi ternyata Afi tidak berhenti sampai disitu. Tas yang ia bawa langsung dihantamkan pada kepala Juno sehingga kakaknya yang tengah membungkuk kaget langsung terjengkang ke pinggir dan membentur pintu.


“Afiiiiii” jeritan Mama langsung terdengar, tadi rupanya Mama menemani Afi yang sedang mendaftarkan Bulan di bagian pendaftaran rumah sakit sehingga bisa menjalani rawat inap. Saat Mama sedang ke atm Afi tidak mau menunggu lama karena harus menyerahkan surat tanda bukti pembayaran ke bagian IGD.


“Afiii… berhenti” Mama Nisa berusaha menghentikan Afi yang sudah kembali memukulkan tas tangannya pada Juno sambil kakinya sesekali menendang ke arah kakaknya.


“Afi berhenti kamu sedang hamil, tidak boleh terbawa emosi”


“Aku lagi bela-in keponakan aku dari Bapaknya yang bodoh supaya otaknya mikir agak cerdas dikit”


“Gak bisa bedain ulat keket sama ulat sutra”


“Nyesel aku ngenalin Kak Juno sama Bulan nyeseeel aku tuh…. Kak Juno gak beda sama Papa” teriakan Afi menarik perhatian orang-orang yang ada di sekitaran lobby.


“Afi… ya allah istigfar sayang…. Jangan terbawa emosi, nanti kamu jatuh… siapa yang rugi… kasian sama Bulan kalau kamu gak ada disamping dia dalam kondisi seperti ini”


“Istigfar… istigfar…” Mama Nisa memeluk anaknya dengan kuat, badan memang lebih kecil dari Mama Nisa tapi sangat kuat dan liar kalau bergerak. Mama Nisa memeluk sambil menciumi kepala anak perempuannya dan berdoa. Akhirnya tangan Afi berhenti memukuli Juno dengan tas tangan, tapi kakinya masih terus menendang Juno yang hanya bisa bersandar di dinding dekat pintu dengan posisi menunduk melindungi dirinya.


Untung saja Afi memakai sepatu kets, tidak terbayang kalau memakai sepatu heels pasti baju Juno akan terkoyak karena kerasnya tendangan Afi. Tangan Juno terlindungi Blazer yang masih dipakai sejak dari meeting dengan investor sehingga jejak sepatu Afi terlihat di Blazer biru yang dipakainya.


“Kakak jahat… aku gak nyangka kakak sampai sejahat itu… Bulan sampai sakit sekarang gara-gara kakak”


“Kalau sampai Bulan kenapa-napa… srooooks…. Kalau sampai bayi yang diperut Bulan nanti sakit… AKU GAK MAU KETEMU KAKAK LAGI….hwaaaaaa” tangis Afi pecah di pelukan Mama Nisa.


Muka Juno semakin pucat, pikirannya sudah semakin tidak karuan.


“Maa… dimana Bulan Ma? Kenapa dia sampai ke rumah sakit” Juno mencoba berdiri tapi tidak berani mendekat karena tatapan Mama Nisa yang dingin dan menatapnya tajam.


Mama Nisa menarik napas panjang, kemudian mengurai pelukan dengan Afi.


“Kamu sekarang lebih baik duluan ke ruang IGD supaya Bulan bisa segera berproses masuk ke ruang rawat inap. Kasian dia sudah terlalu lama disana” mengusap halus punggung Afi untuk menguatkan anaknya agar tidak terbawa emosi dan bersikap dewasa. Sikapnya terhadap Juno masih bermusuhan, kemudian  Afi menyusut air mata di wajahnya dengan kasar. Meninggalkan Mama Nisa dan melewati Juno yang langsung menjaga jarak karena takut kalau Afi akan memukulnya lagi.


Juno tidak pernah bersikap kasar pada adiknya, dulu mereka pernah berkelahi waktu SD karena Afi yang menganggunya. Dari dulu Juno suka dengan rancang bangun, sehingga hobinya adalah merakit bangunan dari lego. Afi sebagai adik tentu saja akan mengikuti semua aktivitas Juno di rumah kalau ia sedang tidak ada teman.


Saat itu Juno sedang bermain lego, Afi pun ikut bermain dan tentu saja sebanyak apapun mainan pasti akan ada yang  kurang karena dipakai berdua. Juno sangat spesifik membuat suatu rakitan sehingga saat Afi menghabiskan lego yang ia butuhkan, tanpa izin membuka rakitan Afi yang dirasa menghabiskan. Afi langsung mengamuk dan menghancurkan lego yang dibuat Juno dan itu langsung membuat perkelahian diantara keduanya. Rakitan yang sudah hampir selesai hancur berantakan karena di lemparan oleh Afi.


Juno mendorong Afi yang memukulnya saat itu, satu hal yang Juno lupakan kalau badan Afi yang kecil pasti akan langsung terjatuh karena dorongan Juno yang keras, perawakan Juno sejak kecil adalah badannya dua kali lipat dari adiknya. Afi jatuh terjengkang dahinya terbentur meja sebelum jatuh sehingga berdarah dan itu langsung membuat Afi menjerit dan menangis keras.


Juno kaget melihat adiknya berdarah dan menangis berguling-guling dilantai. Bibi yang datang pertama kali melihat Afi menambah panik suasana dengan menjerit dan memanggil Mama Nisa. Suasana sangat kacau saat itu, Mama Nisa yang panik langsung membawa Afi ke rumah sakit meninggalkan Juno yang terpaku dan panik sendirian. Ternyata memang dahi Afi sobek hingga harus dijahit lima jahitan. Untungnya posisinya di sudut dekat anak rambut,  hingga saat ini luka bekas jahitan itu masih berbekas di kepala Afi walaupun tidak kentara hanya sedikit pitak di sisi dahi sebelah kanan.


Sambil memberikan tatapan laser Afi berlalu dari hadapan Juno dan Mama Nisa menyisakan suasana dingin antara Juno dan Mama Nisa.


“Aku mau ketemu Bulan dulu” Juno langsung beranjak untuk mengikuti Afi dari belakang.


“Kakak! Mama mau bicara sebentar!” suara dingin Mama Nisa menghentikan langkah kaki Juno.


“Aku cuma mau lihat Bulan dulu sebentar” pandangan Juno terlihat memelas.


“Sudah ada kakak kelasnya Cedrik yang menemani dari tadi”


“Mama juga tidak berani bertemu Bulan sebelum jelas duduk permasalahannya” ucap Mama Nisa dingin.


“Ikut Mama sekarang” Mama tidak memberikan kesempatan pada Juno untuk menjawab, langsung berjalan mendahului menuju cafetaria.


Di cafetaria, tanpa banyak bicara mengambil nasi rames yang sudah di kemas, dan memesan dua teh manis panas. Juno hanya mengikutinya di belakang tanpa banyak bicara.


“Makan! Kamu akan butuh banyak energi kedepan untuk menyelesaikan permasalahan rumah tangga” ucap Mama sambil membuka kemasan nasi dan menyodorkannya pada Juno, tanpa banyak bicara Juno langsung memakannya dan menghabiskan kurang dari lima menit.


“Sudah! Aku mau ketemu Bulan sekarang” ucapnya.


“Duduk! Jelaskan soal perempuan ini?” tanya Mama Nisa sambil menyodorkan hp Bulan kehadapan Juno yang langsung mengerutkan dahi bingung kenapa Hp Bulan bisa ada di Mama Nisa.


Rupanya saat Afi tadi datang Cedrik diam-diam memberikan hp Bulan dan isyarat untuk membaca pesan dari Inneke


Flasback On


“Afiiiii… tolongin aku” begitu mendengar suara Afi, Bulan langsung meratap sedih. Matanya masih menutup rapat,  Afi masuk kedalam bilik observasi dengan canggung dan menatap Cedrik tajam, tatapannya menusuk pada lengan Cedrik yang digenggam erat oleh Bulan seperti memegang alat penopang.


“Afi masih ingat aku kan Cedrik kakak kelas kamu, tadi Bulan jatuh di toilet saat meeting, barusan dokter sudah observasi dan dia mengalami Vertigo berat”


“Tadi aku diminta mengurus administrasi tapi karena Bulan tidak bisa ditinggal jadi belum diurus administrasinya”


“Apa bisa bantu untuk menguruskan? Supaya Bulan bisa masuk kamar perawatan, kasihan dia sudah terlalu lama disini”


Sambil berbicara Cedrik mengacungkan handphone Bulan, matanya memberikan tanda pada Afi untuk melihat sambil sesekali melihat Bulan yang masih memejamkan mata”


“Kemungkinan pemicunya masih harus diobservasi, tapi tadi asam lambungnya naik dan tekanan darahnya sangat rendah”


“Dokter meminta untuk diobservasi supaya mengetahui penyebabnya apa”

__ADS_1


“Belum bisa diberikan obat karena sedang hamil yaa Bulannya”


Cedrik terus bicara sambil sesekali melihat Bulan, dan tangannya yang satu lagi menunjukkan pesan dari Inneke.


“Bisa bantu yaa? Atau Afi mau disini menemani Bulan?” tanya Cedrik sambil memberikan tanda agar Afi dapat melihatnya diluar.


“Hmmm… oh… iya.. Iya… saya saja yang mengurus administrasinya… Maaf Kak Cedrik bisa menemani Bulan dulu yah. Mama juga dalam perjalanan menuju ke rumah sakit”


“Bul… gw ngurusin administrasi dulu biar lu bisa masuk kamar perawatan” Afi langsung beranjak keluar sambil membawa handphone Bulan.


**Flashback Off **


Juno memandang hp Bulan yang ada di tangannya.


“Hp Bulan kok bisa ada di Mama?” tanyanya pelan.


“Masalahnya bukan kenapa handphone Bulan ada di Mama, masalahnya ada di isi pesan yang dikirimkan oleh perempuan yang membuat Bulan seperti sekarang”


Juno membuka kotak pesan Bulan, perlahan membuka pesan dan dahinya berkerut.


“Pesan apa maksud Mama” Juno terlihat bingung. Mama Nisa tampak tidak sabar, diambilnya kembali hp dan membuka pesan yang dimaksud.


“Pesan dari mantan kamu itu, yang bikin masalah dari kemarin… baru saja kondisi membaik… sekarang dia sudah membuat lagi masalah”


“Apa sih lebihnya perempuan itu Kak? Mama lihat dia tidak lebih cantik dari Bulan”


“Kalau melihat pesan yang dia kirimkan pada Bulan”


“Mama sangat bersyukur kamu sudah putus dengan dia”


“Tidak sopan dan tidak punya perasaan”


“Perempuan macam apa yang menghakimi istri orang lain hanya karena tidak sesuai dengan keinginannya”


"Kamu masih suka berhubungan dengan dia?" tanya Mama kesal, Juno menggelengkan kepala kemudian membaca pesan yang dikirimkan oleh Inneke pada Bulan, dahinya berkerut dalam dan kemudian membuka video nya juga. Mata Juno menyipit tajam, dan tiba-tiba membantingkan handphone di meja. Nafasnya memburu dan kemudian meremas rambutnya dengan penuh tekanan dan kesal.


“MINUM” ucap Mama Nisa pendek dan mendekatkan gelas minum pada anaknya


“Minuum” ulang Mama Nisa karena Juno masih menunduk, terlihat geram dengan *******-***** rambutnya dengan penuh tenaga.


Saat menegakkan kepalanya terlihat mata Juno yang memerah kesal, mengambil air minum dan menegaknya habis langsung. Saat meletak gelas kembali di meja dengan hentakan keras sehingga membuat sebagian orang melihat ke arah mereka berdua.


“Kendalikan diri!” ucap Mama dingin.


“Mama sampai bingung harus bicara apa sama Bulan”


“Untung saja ada kakak kelasnya yang menemani dia saat kejadian tadi, tidak terbayang kalau sampai dia sendirian... Mama sangat bersyukur Bulan kondisinya cepat tertangani”


“Ini seperti … ini seperti membuka lagi kenangan lama”


“Cuma dulu… dulu yang bilang kalau Mama tidak mendukung kemajuan suami itu Papa kamu”


“Padahal Mama merasa sudah memberikan dukungan yang bisa Mama berikan buat Papa” Mama Nisa meneteskan air mata yang segera ia hapus.


“Mama gak bisa bayangkan perasan Bulan waktu melihat video itu, gimana perasaan dia melihat suaminya naik mobil dan tertawa-tawa dengan perempuan lain”


“AKU TIDAK TERTAWA BERSAMA MEREKA” sanggah Juno.


“Tapi kamu bersama mereka Kak… kamu terlihat asyik dan menikmati perjalanan di mobil itu”


“Bulan sedang hamil… kondisi fisiknya baru pulih, tapi dia memaksakan diri untuk hadir dalam rapat untuk kemajuan perusahaan kamu”


“Apa yang dipikir perempuan itu?”


“Untung kondisi kandungannya baik-baik saja”


“Mama gak bisa bayangkan kalau Bulan sampai keguguran karena kejadian ini”


“Aku mau ketemu dia” membayangkan kemungkinan itu membuat Juno bergegas berdiri dan beranjak dari meja cafetaria.


“JANGAN GEGABAH”


“Kondisi dia sekarang sedang tidak stabil… Mama harus pastikan dulu kondisinya… baru kamu bisa bertemu dia”


“Jangan sampai dia mengalami tekanan perasaan lagi sampai memicu stress dan membuatnya sakit lebih parahi”


“Jangan ikuti ego kamu”


“Ingat yang terluka disini Bulan dan bayi yang dikandungnya… bukan kamu!”


“Kamu harus mengalah!” ucapan Mama Nisa kembali menghentikan gerakan Juno yang hanya bisa mengguar rambutnya dengan kasar menandakan kekesalan yang ia coba tahan.


Berjalan pelan mengikuti Mama Nisa yang tampak berjalan dengan tergesa dan muka murung menuju ruang IGD. Saat akan berbelok ke lorong tampak Bulan didorong dengan tetap menggunakan tempat tidur yang ia pergunakan di kamar IGD rupanya proses perpindahan menuju ruang perawatan sudah dilakukan. Mama Nisa menahan Juno supaya tidak mendekat, mereka bisa melihat Bulan yang didorong oleh perawat dan Cedrik yang menyertai karena tangannya digenggam erat oleh dua tangan Bulan. Cedrik tidak menyadari keberadaan mereka berdua karena membelakangi dan sibuk mengatur langkah karena satu lengannya dipegang erat oleh Bulan seperti memegang besi pengaman.


“KENAPA DIA MEMAKAI PENYANGGA LEHER” Juno berseru dengan panik, pikirannya semakin tidak karuan.


“Tadi Afi cerita karena Bulan kena serangan vertigo setiap gerakan tidak stabil akan mempengaruhi kepalanya sehingga merasa pusing hebat” baru saja Mama Nisa berbicara terdengar teriakan kecil Bulan saat tempat tidur mengalami guncangan karena lantai rumah sakit yang tidak rata.


“Kak Cedrikkkk…arghhhhhh kepala aku” teriakan Bulan menghentikan pergerakan tempat tidur yang sedang didorong.

__ADS_1


“Suster… tolong pelan-pelan saja jangan terlalu cepat” ucap Cedrik dengan kesal. Sebagian tangannya memerah karena digenggam Bulan dengan kuat, satu lagi tangan Bulan mencengkram lengan jas Cedrik.


“Bulan tangan aku jangan dipelintir sakit” Cedrik berusaha mengurai cengkraman Bulan.


“Maaf… maaf aku gak sadar”


“Disenderkan saja Mbak supaya gak tegang” saran Suster, Bulan langsung menggeleng.


“Lebih terasa pusingnya kalau bersender. Duduk tegak lebih stabil asal jangan ada hentakan tiba-tiba” ucap Bulan lemah. Akhirnya Cedrik meminta mereka untuk kembali jalan akhirnya masuk lift. Dua pasang mata memandang lekat sampai rombongan itu menghilang dibalik pintu lift.


“Kamu jangan berpikir macam-macam”


“Tepiskan semua ego kamu”


“Mama yakin kalau Bulan tidak akan bersikap seperti itu kepada laki-laki itu kalau kondisinya baik-baik saja”


Mama Nisa bisa melihat tatapan Juno pada Cedrik yang tidak bisa dijelaskan.


“Aku tahu” jawab Juno pelan.


“Mama” Afi yang melihat mereka berdua berdiri mematung dan memandang ke arah lift.


“Bulan udah duluan ke kamar” jelas Afi kedua tangannya sibuk memegang berkas dokumen kesehatan Bulan.


“Iya tadi Mama lihat dia lewat” angguk Mama sambil mengusap punggung putrinya.


“Kamu jangan terlalu cape, ingat kamu juga sedang hamil”


“Biar Kakakmu yang mengurus sekarang”


“Kamu belum makan kan?”


“Oh Ya Allah pantes aja kenapa aku laper” Afi melihat jam tangannya.


“Jangan-jangan aku ngabisin jatah dede bayi di perut”


“Persediaan makan dia aku sedot” ucap Afi sambil mengusap-usap perutnya. Mama Nisa tersenyum mendengar celoteh putrinya. Walaupun anaknya sering bersikap seenaknya tapi ia adalah anak yang berbakti dan setia kawan. Buktinya disaat sahabatnya sakit, tanpa memikirkan kehamilannya, Afi paling sibuk mengurus semua kebutuhan Bulan.


Lirikan maut Afi tidak ditanggapi dengan sikap melawan oleh Juno, hanya menunduk dan kemudian tersenyum samar dan berkata pelan.


“Makasih yah Fi udah membantu mengurus Bulan”


“Kamu makan dulu sana, biar Kakak yang mengurus dia sekarang”


“Kakak?… siapa elu!… gw gak punya kakak yang kelakuannya bejad” jawab Afi sambil mendengus kesal.


“Ayo Ma kita lihat dulu ke atas, baru makan”


“Aku mau pastikan dulu kamarnya sesuai gak”


“Kamu pesan kamar apa buat Bulan”


“VIP…. hehehe”


“Aku pakai akun perusahaan Papa tagihan rekeningnya  Bulan hehehehehe”


“Bulan kan lagi hamil cucunya Papa… musti dikasih kamar yang paling bagus dong”


Mama Nisa langsung tersenyum lebar sambil mengacungkan jempol.


“Bagus kamu cerdas… anak Mama gitu loh” mereka berdua berjalan sambil bergandengan tangan meninggalkan Juno yang mengikuti mereka dalam diam seperti halnya seorang pecundang.


Saat tiba di ruang perawatan, Mama Nisa meminta mereka bertiga untuk menengok dari kaca di pintu kamar, dari sana mereka bisa melihat kalau Bulan sedang dibenahi posisi duduknya oleh dua orang perawat. Cedrik masih ada di sebelahnya, hanya kali ini hanya satu tangan Bulan yang memegang lengan jas Cedrik karena satu tangannya lagi sedang diatur untuk pemasangan infus oleh perawat.


Afi mendengus sambil tertawa sinis pada kakaknya.


“Kelakuan Kakak tuh bikin Bulan bisa lihat beda kelasnya Kakak sama Kak Cedrik”


“Pantas saja dari kemarin Kakak diasinin sama Bulan”


“Sekarang bukan cuma bakalan diasinin”


“Kak Juno udah bakalan jadi telor asin”


“Tuhhh Kak Cedrik sekarang bagaikan telor omega tiga”


“Sehat… Tampan dan bermanfaat bagi tubuh” Afi tertawa sendiri mendengar leluconnya. Lain dengan Juno yang tampak kesal dan kemudian menerjang masuk ke dalam kamar. Tangan Mama Nisa yang menahannya sehingga mengurungkan niatnya untuk masuk.


Saat pintu terbuka terdengar obrolan lirih.


“Aku pengen tidur Kaa… tapi jangan tinggalin aku sendiri dulu yah,  takut nanti langitnya jatuh lagi” suara Bulan terdengar sedih.


“Iya aku temani sampai kamu tertidur”


“Jangan pikirkan soal langit yang jatuh… pikirkan bayi yang dalam perut kamu saja… dia butuh istirahat… Mamanya harus tenang supaya cepat sembuh”


“Amma” ucap Bulan.


“Apa? Amma?” tanya Cedrik.

__ADS_1


“Aku nanti dipanggil Amma sama anakku” ucapnya lirih dan kemudian tampak mulai tenang dan bernafas lebih teratur. Cedrik memandang ke arah pintu ia tahu kalau Juno dan keluarganya ada di sana. Memandang ke arah jendela dan memberikan tanda diam di mulutnya sambil tersenyum dan kemudian memberikan tanda bahwa Bulan sedang menuju proses tidur.


Juno akhirnya mundur dan kemudian duduk terpekur di kursi luar kamar. Entah apa yang dipikirkan oleh si telur asin.


__ADS_2