Rembulan

Rembulan
Sinetron Azab


__ADS_3

Terperangah itu adalah kata yang tepat saat tiba-tiba saja Papa Bhanu sudah berdiri dan masuk ke lantai dua di Ruko.


“Astagfirullahalaziem… ya allah Papa kapan datang?… aduh Bulan kaget tiba-tiba ada orang di tangga” Bulan memegang dadanya sambil kemudian duduk di kursi makan, ia tengah menyiapkan sarapan. Mereka kemarin tidak pulang karena Juno ingin menyelesaikan pekerjaannya di Ruko tanpa gangguan. Alasannya kalau pulang ke rumah ia lebih memilih untuk tidur dan akhirnya pekerjaan tidak terselesaikan.


“Kalian kenapa tidak pulang ke rumah? mau pindah lagi ke sini? ini bukan rumah tapi tempat kerja” ucapnya dengan mata tajam, dahinya terlihat berkerut.


“Iya Aa banyak kerjaan belum selesai, tadi malam juga gak tau sampai jam berapa kerjanya, aku tidur duluan Pa”


“Papa udah sarapan belum? aku lagi bikin nasi goreng”


“Papa belum mau sarapan, tadi ke rumah mau ketemu suamimu tapi gak ada” ucapnya sambil duduk di sofa.


“Temen suamimu yang tidur disini masih ada?” rupanya Papa Bhanu masih ingat kehadiran Sarah di Ruko.


“Mbak Sarah lagi di apartemennya, katanya sudah hampir sebulan ini”


“Kemarin sudah tidak dikontrakan jadi ingin ditempati lagi katanya”


“Suami kamu mana?”


“Baru bangun Pa… lagi mandi kayanya”


“Aku kasih tahu sebentar”


“Gak usah biar Papa tunggu saja” Bhanu membuka hp dan menyibukan dirinya sendiri. Tak lama saat Juno keluar dari kamar ia pun kaget mendapatkan Papa Bhanu sedang duduk santai di sofa.


“Papa? ada apakah?” sudah hampir tiga hari mereka tidak bertemu dan terakhir kabar yang mereka dapatkan adalah masalah yang dihadapi Papa tentang aset tanah yang diambil oleh Janet.


“Papa ada perlu sama kamu” ucapnya pendek.


“Soal Mama kamu”


“Kenapa Mama? dimarahin Mama lagi?” tanya Juno sambil tersenyum, Bhanu hanya tersenyum kecut.


“Papa lebih senang dimarahi daripada didiemin seperti sekarang”


“Kemarin Afi cerita” Bhanu tampak terdiam sejenak. Bulan berpura-pura menyibukan diri dengan membersihkan peralatan dapur tapi diam-diam dia menyimak.


“Ehmm Papa senang kalau Mama kamu mau memikirkan dan katanya setuju untuk menikah lagi sama Papa”


“Cuma Mama kamu dari kemarin malah diam-diam terus sama Papa, sekalinya bicara malah marahin Papa karena meninggalkan pekerjaan menanam Bonsai” keluh Bhanu. Juno menunduk menahan senyum.


“Ya gak akan mungkin lah Mama akan bilang sama Papa… gengsi dong Pa”


“Papa tuh kaya yang gak hapal sama sifat Mama aja”


“Dengan Afi udah bilang ke Papa kalau Mama mau menikah lagi, Papa mesti ngerti dan bikin gerakan lagi”


“Masa Mama mesti nanya kapan mau nikah lagi”


“Gak usah dibahas .... langsung aja Papa gerak cepat, ambil aksi” jelas Juno dengan gaya seorang ahli.


“Sekarang Papa jadi gak percaya diri kaya dulu lagi sama Mama mu, takut salah melangkah nanti malah diusir gak boleh datang lagi” keluh Bhanu.


“Kalau Mama gak suka sama Papa… udah dari dulu Papa diusir sama Mama, tapi kan sampai sekarang enggak”


“Tapi bukan berarti Papa bisa memperlakukan Mama seenaknya seperti dulu”


“Mama yang sekarang beda Pa… udah gak punya rasa takut lagi sama Papa. Gak takut kalau Papa gak ada… soalnya Mama sudah tahu kalau gak ada Papa pun Mama baik-baik saja”


“Iya… sekarang Papa yang gak baik-baik aja kalau gak ada Mama mu dan kalian” keluh Bhanu.


“Gimana masalah tanah yang kemarin dipersengketakan sudah selesai Pa?”


“Aman, perempuan itu panik udah gak punya aset buat dijual”


“Dia mencoba menipu transaksi dengan menggunakan akta palsu, untung notarisnya pinter di cek terlebih dulu”


“Dia gak berani macem-macem soalnya bisa kena pasal penipuan” jelas Bhanu dengan muka kesal.


“Bodoh mau saja diperalat, padahal kalau untuk hidup sehari-hari tunjangan yang diberikan cukup”


“Sudah jangan membicarakan soal itu lagi. Papa sudah lelah”


Lama terdiam, Bhanu tampak seperti sedang berpikir keras.


“Sarapan dulu aja Pa”


“Pasti Papa tadi sarapannya cuma minum kan, masih pagi keluar rumah”


“Bulan bikin nasi gorengnya buat Papa dan A Juno” Bulan menghidangkan makanan di meja lengkap dengan air teh hangat.


“Iya terima kasih”


“Jun… antar Papa ke Bandung sekarang kalau begitu”


“Papa tinggal minta restu dari keluarga Mamamu” ucapnya pelan.


Juno langsung tersedak, datang tak diundang langsung minta diantar ke luar kota. Benar kata Emil rupanya Papa ingin disegerakan.

__ADS_1


“Sekarang? Hari ini?” tanyanya bingung.


“Iya kapan lagi? Papa takut Mama kamu berubah pikiran, setiap Papa dimarahi sama Mama kamu, setiap kali itu pula Papa merasa kehilangan kesempatan” ucapnya sambil menarik nafas panjang. Juno menatap Bulan yang berdiri di dekatnya. Sebetulnya banyak pekerjaan yang harus diselesaikan, untungnya sebagian deadline sudah ia selesaikan tadi malam.


“Ya sudah, aku temani ke Bandung. Tapi Papa makan dulu supaya kondisi badannya sehat dan kuat, nanti  sakit seperti kemarin lagi gara-gara gak sarapan”, bujuk Juno. mendengar itu Bhanu langsung mengangguk setuju dan melahap dengan penuh semangat sarapan yang sudah disiapkan.


Bulan memandang suami dengan penuh harap, tapi Juno tampak asyik dengan sarapannya tanpa mengindahkan istrinya yang berulang kali menatap dan sesekali memberikan kode.


“A” ucap Bulan akhirnya, Juno memandang penuh tanya. Bulan memberikan kode untuk membaca pesan di hape, dan langsung membuatnya tersenyum.


“Ikuut lah ke Bandung… aku pengen ketemu Bapak” dari nada tulisan terdengar memelas membuat Juno ingin tertawa.


“Pa… ini ada yang mau ikut ke Bandung gak mau ditinggalin” ucap Juno sambil menahan tawa.


“Hah siapa? Afi? gak usah dia lagi hamil gede, udah sama kamu aja” jawab Papa cepat.


“Akuuuu… aku mau ikut… mau ketemu Bapak” jawab Bulan dengan tatapan sedih.


“Ohh… hahaha yaa kalau kamu sih boleh. Bagus biar bisa ketemu sama Bapakmu”


“Papa juga belum sempat bersilaturahmi”


“Sana bersiap. Kita harus berangkat pagi-pagi supaya Om-mu belum berangkat ke kantor, dia biasanya suka siang datang ke kantor. Malas bangun paginya gak pernah hilang-hilang”


“Siaaaap” Bulan langsung beranjak cepat.


“JANGAN LARI-LARI…. Biasa aja gak akan ditinggalkan juga” gerutu Juno


Ternyata perjalanan ke Bandung hanya memakan waktu dua jam setengah, tidak sia-sia Papa Bhanu membelikan mobil baru dengan untuk Juno, ternyata hasil jerih payahnya langsung dibayar dengan dikawal untuk perjalanan keluar kota. Bhanu memilih untuk diantar Juno daripada ditemani Pak Murtoyo, merasa kalau kehadiran Juno membuatnya merasa tidak berjuang sendiri.


Mereka sampai ke Bandung jam sepuluh kurang, awalnya Bulan akan diantar pulang dulu ke rumah tapi karena waktu yang sudah mendesak membuat Bhanu ingin diantar langsung ke rumah keluarga Mama Nisa. Selama ini Rahmat tinggal di rumah keluarga besar, karena hanya tinggal Ibu Rahmadi atau Oma yang tinggal disana sendiri. Bapak Rahmadi sudah meninggal lima tahun yang lalu, sehingga hanya tinggal Rahmat yang menemani ibunya yang sudah sendiri.


Ternyata firasat Bhanu benar, saat mobil masuk ke halaman rumah, tampak mobil Rahmat sudah bersiap terparkir di depan, supir keluarga sudah bersiap membawa tas kerjanya masuk ke mobil, diikuti Rahmat yang berjalan di belakangnya


Rahmat memandang mobil yang masuk ke pekarangan. Memakai kemeja polos berwarna biru muda dan celana kanvas menjadikan penampilannya masih segar dan tampak muda walaupun usianya sama dengan Bhanu. Yang menarik rambutnya hampir setengahnya sudah dipenuhi dengan uban, tapi ia membiarkannya tumbuh bersama rambutnya yang agak panjang dan diikat ke belakang. Sungguh penampilan yang menarik.


Bulan tidak berkedip melihat ke arah Rahmat, ia baru melihat dengan tegas laki-laki yang menjadi kakak dari Mama Nisa dan teman kuliah Papa Bhanu. Ia seperti melihat suaminya di masa depan, hanya tubuh Rahmat lebih kurus tidak tegap berisi seperti Juno sekarang.


“Papa keluar duluan” ucap Bhanu pelan, ia seperti mengumpulkan keberanian untuk bertemu dengan teman lamanya itu.


“Aku temani” ucap Juno ia bisa melihat kalau Papanya terlihat ragu.


Begitu Rahmat melihat Bhanu yang keluar dari mobil, ekspresinya langsung berubah. Tatapan mukanya langsung terlihat penuh amarah. Pintu mobil yang sudah dibuka untuk pergi ke kantor dia banting dengan keras bersama umpatan yang langsung membuat suasana menjadi tegang.


“Bangsaaaad… berani-beraninya kamu datang lagi ke rumah ini”


‘Aseeep… usir dia dari rumah ini” Rahmat berteriak pada laki-laki yang sedang berdiri di taman. Laki-laki yang dipanggil Asep tampak berdiri mendekat dengan bingung. Belum pernah bertemu dengan Bhanu kenapa harus mengusir laki-laki yang terlihat perlente dan sudah terlihat tua pikirnya.


“Ahhhh banyak omong kamu” Rahmat beranjak mendekati mobil Juno. Bhanu tampak berdiri mematung menatap Rahmat yang datang dengan tatapan penuh amarah.


“Kamu diam di mobil jangan keluar” ucap Juno pada Bulan yang hanya mengangguk dengan takut. Ia segera keluar dari mobil, tapi sebelum sempat menghampiri Rahmat sebuah pukulan sudah dilayangkan terlebih dahulu pada Bhanu.


“Laki-laki berengseeek… bughhh” pukulan demi pukulan dilayangkan Rahmat yang diterima Bhanu tanpa perlawanan.


“Arghhhhh” Bhanu langsung tersungkur. Juno kaget melihat kejadian itu, berlari mendekat Bhanu yang sudah terjatuh di halaman rumah sambil memegang perutnya.


“DIAM KAMU DISITU JUNO!”


“INI URUSAN OM SAMA PAPA KAMU YANG BERENGSEK INI” Bhanu pun memberikan tanda pada Juno untuk menjauh.


“Bertahun-tahun aku menunggu kedatanganmu…. dughhh” tendangan keras pada tubuh Bhanu kembali membuatnya mengaduh.


“Bertahun-tahun aku berdoa supaya karma bisa segera terjadi... dudghhhh”


“Ternyata akhirnya semua harapanku terwujud…. dughhhh” Rahmat kembali menendang kaki Bhanu.


“Perusahaan kamu ditipu oleh perempuan ****** yang kamu jadikan istri”


“Kamu sakit… kenapa kamu gak mati sekalian” teriak Rahmat.


“Ampun Mat… ampun maafkan aku” teriak Bhanu sambil menutupi mukanya.


“Aku sudah perkirakan kalau kelakuan kamu gak akan berubah. Nisa terlalu bodoh untuk bisa melihat semua kebejatan kamu… dughhh”


“Arghhhh” tendangan yang terakhir ke perut Bhanu membuatnya menjerit kesakitan. Juno langsung bergerak melindungi Bhanu yang terus ditendang Rahmat.


“Omm.. sudah Om… tenang Om… jangan terbawa emosi”


“Jangan kamu bela Papa kamu yang kelakuannya bejat ini… Dia hanya berpura-pura sakit. Dari dulu dia paling jago buat akting. Pengen dikasihani tapi menusuk dari belakang” teriak Rahmat kesal. Nafasnya terengah-engah karena kesal.


‘RAHMAT” teriakan seorang perempuan dari pintu rumah terdengar keras.


“Berhenti… jangan mengotori sepatu kamu sama laki-laki itu” seorang perempuan tua keluar dari rumah dengan menggunakan tongkat. Semua rambutnya telah memutih, walaupun ia  berjalan dengan bantuan tongkat tapi tatapannya terlihat jernih dan tegas.


“Mama… maafkan saya” Bhanu yang menatap perempuan tua itu, kemudian berusaha bangkit dan merangkak mendekat.


Perempuan itu hanya menatap Bhanu dengan muka dingin, tapi tatapannya berubah lembut saat Juno dengan telaten membangunkan Papanya agar duduk.


“Juno… kemana saja kenapa gak pernah nengok Oma” tangannya menggapai memanggil Juno untuk mendekat.

__ADS_1


“Kamu sudah menikah kata Tantemu tapi tidak pernah membawa istrimu datang kesini diperkenalkan”


“Cucu macam apa kamu itu” memukuli lengan Juno dengan kesal, hingga akhirnya tangannya diraih Juno dan dicium lembut.


“Maafkan Juno Oma… Juno berencana mau membawa Bulan bertemu Oma, tapi kemarin banyak sekali masalah sampai akhirnya terlupa belum silaturahmi”


“Oma sudah tua, gak lama lagi hidup di dunia”


“Kamu harus sering menengok Oma disini, jangan karena takut sama Om kamu jadi gak pernah menengok Oma”


“Aku bawa istriku Bulan itu ada di mobil, sebentar aku ajak dia kesini bertemu Oma” Juno bergegas pergi meninggalkan Neneknya yang sudah lama tidak ia temui. Permusuhan antara Rahmat dan Bhanu menjadikan mereka jarang bersilaturahmi dengan keluarga.


“Bhanu… jangan berani datang kesini, kecuali Nisa yang memintamu datang” begitu Juno pergi menjauh Oma langsung mengambil alih komando. Berbicara dengan tegas pada Bhanu yang duduk di halaman dengan muka penuh luka dan pakaian yang kotor bekas injakan kaki Rahmat.


“Terlalu banyak pengorbanan yang sudah dia lakukan untuk kamu”


“Mama sudah terlalu tua untuk mendengar pertengkaran seperti ini”


“Rahmat kamu pergi ke kantor sekarang”


“Jangan membuat keributan lagi kecuali kalau kamu Mama masuk rumah sakit” ucapnya sambil berjalan masuk kembali ke rumah.


Rahmat membuang ludahnya kedepan Bhanu sambil mendengus kesal, kemudian masuk ke dalam mobil tanpa banyak kata dan meninggalkan Bhanu yang terpekur di halaman. Bhanu hanya menatap nanar kepergian Rahmat, dalam hitungan menit tubuhnya terasa sakit oleh pukulan dan tendangan yang dilayangkan Rahmat.


“Papa gak apa-apa” Bulan berjongkok sambil memegang tangan Bhanu.


“Kamu masuk temui dulu Oma, aku bantu Papa masuk ke mobil, nanti aku menyusul kedalam” ucap Juno sambil meraih Bhanu agar berdiri. Bulan mengangguk, selama di mobil ia hanya bisa menutup mata karena ngeri melihat perlakuan Rahmat.


“Papa mau ke rumah sakit?” tanya Juno, muka Bhanu kotor karena tadi ia tersungkur di tanah.


“Gak usah… Rahmat tadi tidak mengeluarkan tenaganya full”


“Kalau tadi dia beneran mukul dan nendang, mungkin Papa sudah pingsan” ucapnya pelan. Berusaha duduk sambil menahan sakit.


“Kita periksa saja ke dokter, aku khawatir ada luka di dalam”


“Tidak usah, Papa tahu kondisi badan Papa sendiri, sana temui saja Oma-mu, jangan sampai dosa Papa menjadi dosa turunan. Kalian sampai tidak pernah bertemu dengan Oma kalian” ucapnya dengan nada serak. Perasaan bersalah menyergap hati Bhanu, selama ini Oma adalah orang yang paling baik di keluarga ini setelah Mama Nisa, tidak pernah memandang sebelah mata walaupun ia bukan anak orang berada.


Ternyata Juno dan Bulan tidak lama bertemu dengan Oma, mereka sepertinya khawatir dengan Papa Bhanu mengalami luka akibat pukulan dan tendangan dari Rahmat.


“Papa kita periksa ke dokter dulu sebentar, sekedar memastikan kalau kondisi Papa baik-baik saja. Aku khawatir soalnya” Juno bersikeras untuk memeriksa kondisi Bhanu yang terlihat lemah terbaring di kursi belakang mobil. Tiba-tiba telepon Bulan berbunyi, ternyata Mama Nisa yang melakukan panggilan video.


“Assalamualaik…” belum sempat Bulan menyelesaikan salam Mama Nisa sudah terlebih dahulu memotong.


“Waalaikumsalam… Bulan kata Afi Papamu itu dipukuli Om Rahmat… kapan kalian ke Bandung? Kenapa gak bilang sama Mama”


“Papa kamu pasti yang meminta kalian ke Bandung”


“Dia kaya gak pernah belajar dari pengalaman, sudah tahu kalau Om kamu tuh sifatnya keras masih saja di tentang… masih mending kalau dia gak punya salah… ini udah banyak salah masih saja bersikap sok suci” pernyataan demi pertanyaan dilontarkan Mama Nisa tanpa memberikan kesempatan pada Bulan untuk menjawab.


“Nisss… maafkan aku Nisss…. aku cuma mau minta maaf sama Rahmat…. sama Mama kamu”


“Tolong aku Nisss” ucap Papa pelan. Perlahan Bulan mengarahkan kamera handphone ke kursi belakang, dan Mama Nisa langsung berteriak kaget.


“Ya Allah… Bulan papa kamu kenapa?” teriak Mama Nisa.


“Gak apa-apa Ma… tadi Om Rahmat melampiaskan rasa marahnya, aku gak bisa mendekat belain Papa soalnya dia ngelarang udah kaya kesetanan”


“Untung aja ada Oma keluar jadi Om Rahmatnya akhirnya pergi” jelas Juno, Bulan hanya bergantian mengarahkan kamera hp.


“Nisss… kamu ke Bandung, cuma kamu yang bisa menaklukan Mama sama Rahmat… kaya dulu Niss”


“Tolongin aku Nisaaa” suara Bhanu terdengar lirih pilu. Air mata terlihat menggenang di matanya, selama tadi dipukuli tidak tampak air mata menahan sakit. Tapi begitu mendengar suara Mama Nisa, Bhanu langsung menjadi cengeng.


“Salah kamu sendiri… makanya jadi orang jangan suka keras kepala”


“Aku sudah perkirakan kalau Kang Rahmat akan marah seperti itu sama Mas Bhanu”


“Rasakan saja… anggap itu pembalasan dan semua perlakukan buruk Mas Bhanu dulu sama aku”


“Baru dipukul seperti itu saja sudah cengeng…. aku bertahun-tahun di sakiti perasaan sampai habis air mata aku” ucap Mama Nisa dengan kesal.


“Nis… maafin akuuu” ucap Bhanu sampai akhirnya terdiam. Bulan yang mengarahkan kamera ke arah Papa Bhanu langsung kaget.


“Papa… eh… Papa kenapa?” Bulan langsung meraih tangan Papa, ternyata lemas tanpa adanya daya.


“Ya Allah Papa…. A.. Papanya pingsan!” teriak Bulan. Mendengar teriakan Bulan, Mama Nisa langsung menjerit.


“Abaaaang…. heeeei… Bulan kenapa Papa kamu?” tanya Mama Nisa panik, panggilan yang sudah lama ia lupakan pada Bhanu tiba-tiba saja keluar tanpa disadari.


“Maaa tenang, ini aku sudah dalam perjalanan ke rumah sakit, telepon ditutup dulu yah, supaya gak panik”


“Papa gak apa-apa kok” ucap Juno, ia memberikan kode kepada Bulan untuk menutup sambungan video.


Begitu telepon tertutup, ia langsung memberikan instruksi pada Bulan.


“Suruh Afi pulang ke rumah, Mama pasti panik”


“Kalau bisa Mama suruh datang ke Bandung sama Afi, diantar Pak Murtoyo saja”

__ADS_1


Bulan mengangguk dengan muka pucat. Ia tidak menyangka hari ini akan menyaksikan adegan yang biasanya ia lihat di sinetron. Kalau ada sinetron perazaban mungkin judul yang akan keluar adalah “Akibat Gila Harta Akhirnya Mati Dipukuli Kakak Ipar”.... Belummm belum mati… Masih hidup… kasian dong Bhanu baru juga jadi tokoh utama udah mati aja.


__ADS_2