
Muka Bulan terlihat cerah saat masuk ke mobil ternyata mendengar suara Bapak membuatnya terlihat bahagia. Suara bapak yang terdengar semakin jelas membuatnya optimis kondisinya akan terus membaik.
Saat masuk ke mobil dilihatnya Juno melakukan panggilan telepon, ia tidak ambil pusing yang terpenting sudah bisa mendengar suara Bapak. Tapi matanya langsung melotot begitu mendengar percakapan Juno.
“Assalamualaikum Pa.. ini Juno… maaf telepon lagi tadi saya belum sempat bicara”
“Mau minta ijin minggu ini Bulan belum bisa pulang ke Bandung. Saya ada tugas ke Surabaya sehingga tidak bisa menemaninya”
“Iya kondisi Bulan agak kurang sehat jadi saya khawatir kalau dia pulang sendiri”
Bulan langsung menoleh dan memohon-mohon tanpa suara , hanya memakai gerak tubuh untuk tidak memberitahu soal Bapak tentang luka di kepalanya, Juno tersenyum melihat aksi pantomim di sebelahnya. Terdengar suara Bapak yang menjelaskan suatu hal pada Juno.
“Iya Pak betul memang seperti itu, suka lupa makan kalau sudah sibuk,...iya betul tadi sempat pingsan karena …hmmppp” mulut Juno sudah ditutup Bulan.
“Bohong Pak… teteh gak pingsan cuma ketiduran tadi mah… gak apa-apa teteh mah sehat alhamdulillah,” Bulan berteriak, matanya melotot kesal,
“Jangan dibilangin ihhh kenapa sih… nanti bapak kepikiran lagi” desisnya kesal. Mulut Juno masih ditutup oleh tangan Bulan, saking kuatnya sampai kepala Juno mundur menempel ke jendela kaca mobil.
“Awww…” Bulan menjerit kecil, tangannya digigit kecil oleh Juno.
“Aa geuleuh ihhh…” ia langsung mengusap tangannya yang digigit ke baju Juno, Juno tertawa tertahan dan melanjutkan pembicaraan dengan Bapak.
“Iya sekarang kondisi Bulan sudah baik Pak, barusan makannya juga banyak. Lebih banyak dari saya malah.. Hahahaha” Bulan menatap Juno tajam.
“Apaan Aa yang banyak makan juga.. Aku cuma dikasih bonus dagingnya dibanyakin” Bulan menggerutu kesal.
“Iya… iya… insya allah”
“Bapak juga harus semangat untuk sehat terus” kali ini suara Juno terdengar serius.
“Insya allah” jawabnya lagi.. Bulan mencoba menyimak apa yang diucapkan Bapak tapi tidak terdengar jelas.
“Apa kata Bapak?” bisik Bulan mencoba mendekat mendengar lebih jelas
Juno mendorong dahi Bulan menjauh dengan jarinya… sambil mendengar ucapan Bapak, Bulan mengerutkan dahi melihat muka suaminya terlihat berbeda kalau sedang berbicara dengannya, lebih terlihat manusiawi.
“Aishhhh… sakit…” Bulan mengeluh saat jari Juno menyentuh area dekat jahitan di pelipis. Kaget karena tidak fokus memperhatikan Bulan saat mendorong dahi, reflek tangan Juno mengusap rambut Bulan sambil terus berbicara dengan Bapak. Bulan terdiam untuk pertama kalinya Juno memperlakukannya dengan penuh kelembutan.
“Ya.. baik.. Terima kasih Pak… Bapak juga sehat selalu. Amiiin yra.. Makasih… Assalamualaikum” Juno mengakhiri pembicaraan dengan Bapak.
“Ngomongin apa sih… panjang banget, tadi sama aku Bapak ngomongnya gak panjang lebar” mata Bulan menyelidik, aneh rasanya melihat mereka berdua berbicara dengan akrab.
“Biasalah obrolan laki-laki” jawab Juno pendek.
“Hadeuuuh gaya amat obrolan laki-laki… sebelumnya juga Bapak manggil A Juno, Juned” Bulan mencibir kesal mendengar gaya Juno.
“Aku cuma dengerin Bapak bicara, kayanya Bapak bosen dirumah butuh teman bicara” jelas Juno
“Trus… ?”
“Yah tadi aku biarkan Bapak bicara saja supaya melatih lisannya bicara lebih jelas”
“Terus ..” tanya Bulan karena lama Juno berhenti bicara.
“Terus… terus kaya tukang parkir aja” Juno membalas ucapan Bulan sebelumnya sambil tersenyum senang juga bisa membalas saat orang penasaran, Bulan langsung mendelik kesal, antara malu dengan ingin tertawa tapi ia tahan.
“Nyebelin aa ih.. “ Bulan langsung melengos melihat pemandangan keluar jendela.
“Ya sabar dong, aku kan sambil nyetir. Laki-laki ga bisa mikir multi tasking mesti satu-satu” jawab Juno.
“Perempuan bisa… kalau perempuan, sambil masak bisa sambil nyuci piring, nyuapin anak, trus masukin cucian ke mesin cuci… dilakukan bersamaan” tungkas Bulan.
"Masa nyetir sambil ngomong aja gak bisa"
“Iya banyak tapi tidak mendalam” tungkas Juno
__ADS_1
“Laki-laki juga bisa memasak tapi levelnya lebih profesional.. Walaupun perempuan bisa memasak tapi yang menjadi juru masak profesional di restoran, hotel ataupun cafe siapa? Laki-laki biasanya”
“Hmmm iya juga sih perempuan itu multitasking-nya kuantitatif kalau laki-laki multitasking-nya kualitatif” sambung Bulan.
“Maksudnya?” tanya Juno.
“Iya perempuan itu ngurusin banyak hal cuma gak terlalu mendalam yang penting semuanya terurus dan beres”
“Kalau laki-laki cuma ngurusin satu hal tapi sampai ke remah-remahnya juga dipikirin”
“Coba itu chef yang restoran… makanan sampai dibikin kaya titik-titik bikin pusing jelimet… gak bikin kenyang… memang jadi lucu tapi cuma indah dilihat gak kenyang dimakan”
“Beda lagi sama ibu-ibu kalau ngasih makan tuh langsung guyur sama air sop, nasinya setumpuk, sayur capcay, ikan satu, sambal sesendok.. Nih makan” Bulan memperagakan ibu-ibu yang menyiapkan makan untuk anaknya dirumah.
Juno tersenyum melihatnya,
“Gaya kamu udah mirip ibu-ibu banget” ucapnya, Bulan langsung mendelik,
“Lah kan emang kaya gitu… perempuan itu gak mau ribet… kalau ngasih makan anak sedikit porsinya kaya chef di restoran dijamin anak-anaknya busung lapar semua”
“Makanya kalau yang masuk ke restoran yang ada cecep-cecepnya itu kebanyakan Bapak-bapak atau Om-om yang perutnya udah gede… ditemani sama perempuan yang badannya kaya gantungan baju… dikasih makan dikit juga gak protes!”
“Hmm.. untuk level menengah ke atas makanan itu bukan soal kuantitas tapi kualitas” jawab Juno.
“Weiiiis ngebalikin lagi omongan aku soal kuantitas kualitas” Bulan mencibir sambil tersenyum.
“Semakin membaik tingkat ekonomi, orang akan lebih selektif… mereka akan memilih bahan terbaik, juru masak terbaik menghasilkan makanan terbaik… kualitas menjadi pilihan utama” jelas Juno.
“Sebaliknya disaat kemampuan ekonomi masih di bawah, mereka tidak bisa memilih bahan terbaik, ataupun orang yang ahli tapi mereka lebih membutuhkan energi yang cukup supaya bisa meningkatkan kualitas hidup, kuantitas adalah hal yang penting.”
Bulan memandang Juno lekat, tumben dalam pikirannya laki-laki di sebelahnya bicara banyak.
“Kenapa? Kaya yang bingung” tanya Juno.
“Hehehe aneh aja… tumben aa juned ngomongnya banyak…” Bulan tersenyum sambil melihat ke arah luar, Juno melengos ia juga tidak sadar sudah bicara banyak barusan.
“Dia harus bisa menerima kalau kamu sudah menikah, terlepas kita menikah mendadak atau sudah direncanakan lama”
“Sakit memang tapi itu kenyataan” sambungnya lagi.
“Apakah gak bisa kita tetap berhubungan baik? Berteman meskipun sudah menikah” ucap Bulan pelan.
“Tidak ada dalam kamusnya laki-laki dan perempuan itu berteman!” tungkas Juno pendek.
“Kata siapa? Bisa saja aku pikir… sama-sama manusia, cuma beda jenis kelamin saja. Asal tau posisi masing-masing”
“Aku sadar sebagai orang yang sudah menikah, dia juga tahu kalau aku sudah menikah” Bulan tetap bersikukuh.
“Rembulan….” suara Juno menghentak dalam satu tarikan kata. Bulan tersentak kaget, suara Juno seperti Bapak kalau marah dan memanggil namanya lengkap.
“Saat aku dulu mengakhiri hubungan dengan Inneke aku sudah memutuskan untuk tidak melakukan kontak apapun dengan dia”
“Sakit iya… tapi itu kita harus terima!” sambung Juno tegas, Bulan menunduk.
“Sampai sekarang memangnya A Juno gak pernah kontekan sama Kak Inne?” tanya Bulan.
Juno menggelengkan kepalanya, tatapannya lurus kedepan, mukanya terlihat dingin sangat terlihat kontras dibanding tadi saat berbicara dengan Bapak, seperti kembali kepada chasing awal.
“Gak penasaran gitu?” tanya Bulan lekat.
“Say Hi… apakah kamu baik-baik saja?” tanya Bulan sambil mendekatkan kepalanya ke arah Juno.
“Apakah kamu bahagia disana?” Bulan tersenyum meledek, Juno tetap memandang lurus kedepan.
“Aku disini kesepian… puluhan purnama kulalui tanpa kamu” Bulan menahan senyuman, muka Juno masih tanpa ekspresi.
__ADS_1
“Tapi ingatanku tidak pernah bisa lepas dari mu”
“Tidak juga semenjak dia hadir dalam hidupku”
“Bayanganmu selalu tetap ada”
Tiba-tiba tangan Juno terjulur dan mendorong dahi Bulan menjauh.
“Berhenti bicara yang tidak perlu…!!” ucapnya kesal.
“Aawwww…. Sakiiit A….” Bulan menjerit, Juno tanpa sengaja menyentuh pelipisnya yang dijahit.
“Ohhh… maaf.. Maaf…” Juno langsung panik, tadi ia agak keras mendorong Bulan, kesal karena Bulan terus mengganggunya.
“Kamu sih… kenapa suka bicara yang gak jelas…” Juno menghentikan mobil di area parkir, diraihnya kepala Bulan sambil mengamati perban yang menempel.
“Arghhh… udah ahhh… suka galak gitu… bilang aja baper… Dasar! Pura-pura sok-sok-an cool kaya kulkas padahal baperan!” Bulan mendorong Juno dengan kesal.
“Diem coba sini aku liat dulu!” diraihnya pundak Bulan untuk mendekat, diamati dengan seksama tapi tidak terlihat darah atau apapun itu, tapi karena luka pasti sakit kalau tersentuh.
“Gak apa-apa kok… sini aku cium biar cepet sembuh” ucap Juno sambil mengecup perlahan pelipis Bulan. Tubuh istrinya terasa mendadak kaku begitu mendapatkan sentuhan darinya.
“Eh.. kok aku lupa yah.. Yang hutang tiga ciuman kan kamu bukan aku” Juno menjauhkan tubuh Bulan dan melihat muka istrinya, ekspresi Bulan benar-benar lucu. Mukanya terlihat seperti malu, bingung dan kaget bercampur menjadi satu.
“Boleh minta cicilan cium pipi sekarang?” tanya Juno, Bulan langsung mendorong Juno menjauh.
“Aa apaan sih… malu ih di tempat umum!” Bulan merengut malu, matanya menatap sekitar, ia baru sadar kalau mereka sudah parkir di pelataran sebuah Mall.
“Ehh ini dimana?” Bulan menatap keluar dengan bingung.
“Kenapa kita disini, aku belum sholat” keluhnya.
“Shalat di mushola saja, bagus kok bersih tempatnya” jawab Juno sambil membuka seat belt.
“Kita mau apa kesini?” Bulan menatap bingung.
“Beli handphone buat kamu” ucapnya pendek sambil menarik nafas
“Aku belum gajian A… uang aku tinggal satu juta kurang lagi di atm” Bulan menarik tangan Juno dengan erat.
“Gampang… urusan hitung menghitung kamu kan paling jago” Juno tersenyum penuh tipu daya.
“Kecuali kamu memang berniat untuk meminjam hape aku terus supaya bisa nambah hutang ciumannya”
“Enggaaak ihhhh!” Bulan terlihat bingung.
“Aku aseli gak ada uang buat beli hp… tiga hari lagi gajian, aku janji beli hape nanti” Bulan merengek dengan muka memelas, Juno berusaha menahan senyum, agar mukanya tetap terlihat datar.
“Masalahnya walaupun kamu pengen nambah hutang ciuman sama aku sampai tiga hari kedepan, tapi aku kan ke Surabaya, jadi percuma tetap gak bisa” Juno tersenyum penuh pengertian pada Bulan, muka Bulan tampak cemas.
“Jadi aku menawarkan pilihan win win solution” Juno tersenyum dengan bijak.
“Aku belikan kamu hape baru, nanti kamu bisa nyicil dengan bunga yang sangat rendah”
“Berapa?” tanya Bulan cepat, ia paling tidak suka membeli barang dengan cara kredit. Itu sebabnya ia tidak memiliki kartu kredit. Baginya kalau ingin membeli sesuatu, ia akan menabung sampai batas kemampuan yang bisa ia capai, kemudian baru membeli barang sesuai nominal yang dimiliki.
“Tergantung kesanggupan kamu, mau langsung full, atau dicicil”
“Ya sudah, aku ikutan aja… aku butuh telepon sama Bapak tiap hari, apalagi gak bisa pulang minggu ini.” Bulan tampak berpikir panjang, toh dengan suami sendiri, pasti bunganya lebih fleksibel.
“Aku kasih uang muka yang lima ratus ribu dulu sisanya nanti aku cicil” selama tiga kedepan paling ia hanya butuh dua ratus ribu.
“Aku kan gak bilang nyicilnya pake uang” jelas Juno sambil keluar pakai mobil.
“Haaaah pake apaaa?” Bulan langsung panik menyusul keluar.
__ADS_1
“Pakeee apa?” Bulan mengejar Juno dengan cepat, yang dikejar berjalan santai sambil tersenyum senang. Tidak disangka semenyenangkan ini menikah, bisa mengganggu perempuan setiap hari sehingga membuatnya lupa akan kepenatan di kantor.
Pake apa atuh nyicilnya Juneeeed… yang cicilan 3x aja belum dibayar, ini sudah ditambah lagi cicilan tambahan.. Ini suami atau rentenir sih?