
“Baaangssaaaad…… jangan sentuh diaaa!!” suara teriakan Juno membuat Bulan tersentak melihat arah suara dari belakangnya.
“A… bukan...ini….”
“Bughhhh…..” Kevin terpental ke belakang ….. Badan Bulan yang menjadi tumpuan Kevin pun terhuyung ke depan. Bulan yang berusaha mengembalikan keseimbangan berbalik melihat ke arah Juno dan Kevin dilihatnya Juno yang terus merangsek memukul Kevin.
“Dulu gw gak tau pelakunya, sekarang gw gak akan membiarkan lu melakukannya lagi!”
“Bughhh…” kembali Juno memukul Kevin yang masih berusaha menyeimbangkan diri.
“A…. Aa…. jangaaaaannn” Bulan berteriak menerjang Juno tapi pukulan kedua sudah dihantamkan dan membuat Kevin terjatuh ke lantai, masih belum puas Juno mengejar dan berusaha menendang tubuh Kevin.
“Aa….Aa… Pak Kevin itu sakit taa..taadi dia...Aaaa” jeritan Bulan berusaha menahan Juno yang terus saja berusaha menendang tubuh Kevin yang tersungkur. Bulan berusaha menarik Juno tapi tenaganya tidak sebanding dengan tenaga Juno yang diliputi amarah. Sampai akhirnya berusaha melindungi Kevin dengan menahan kaki Juno yang masih berusaha menendang tubuh Kevin.
“Paaak tolooong Pak... “ Bulan berteriak meminta tolong kepada satpam yang bengong melihat kejadian itu, tersadar oleh teriakan Bulan mereka bergegas menahan Juno. Ditahan oleh dua orang satpam barulah Juno bisa dijauhkan dari tubuh Kevin yang masih terkapar di lantai.
“Pak… gak apa-apa Pak…” Bulan pucat melihat muka Kevin yang berdarah di mulut dan badannya yang penuh oleh bekas kaki Juno.
“REMBULAN… jangan kamu dekati laki-laki itu… pezinah dia…” teriak Juno. Bulan yang mendengar teriakan Juno, Bulan langsung berdiri antara kasihan melihat Kevin yang terkapar dan takut pada Juno yang diliputi amarah.
“Hahahahahahahaha….” tiba-tiba saja terdengar suara tertawa Kevin, Bulan menoleh kaget bagaimana mungkin Kevin tertawa setelah dipukul hingga tersungkur.
“Kamu… kamuu menyebut aku pezinah… kita sama-sama suka kok…”
“Aku gak tau kalau Inne punya pasangan… dia gak pernah bilang kalau selama ini kalian sudah bersama…. Hahahahaha” suara tawa Kevin terdengar menakutkan bukan menggelikan.
“Kalau kamu memang masing menginginkan dia… ambil sana… dia juga masih menangisi kamu!”
“Nothing to lose...hahahahahaha”
Bulan terbelalak mendengarnya.
“Je…. Je…. hahahahah dia masih suka menyebut kamu dalam mimpi-mimpi dia… hahahahaha”
“Ambil sana kalau kamu mau… “ teriak Kevin dengan tatapan yang penuh amarah.
“Kalau aku tahu kamu selama ini begitu menginginkan dia… ambil… aku sudah tidak peduli!” teriaknya lagi.
“Atau wanna change wife maybe….hahahaha” ucap Kevin sambil berdiri dengan terhuyung-huyung.
Ucapan Kevin yang terakhir membuat Bulan terperangah dan menjadikan Juno kembali naik pitam.
“Bangsssaaaaddd kamuuu!!!” Juno dengan mudah terlepas dari genggaman satpam yang asyik mendengarkan drama percintaan didepannya, menerjang Kevin sambil mendorongnya dengan keras ke dinding. Tapi rupanya kesadaran Kevin telah pulih, satu tendangan dengkul ke perut Juno menjadikan cengkraman terlepas dan memberikan kesempatan Kevin untuk menendang tubuh Juno hingga terhuyung ke belakang.
Bulan hanya menjerit dan kembali menatap satpam yang hanya bisa memandang keduanya dengan bingung.
“Susah Bu misahinnya nunggu sampai lemas aja” ucap satu satpam yang hanya bisa menggeleng bingung.
“Pak tolong Pak… itu nanti mereka pada celaka” Bulan kebingungan
__ADS_1
“Biasa Bu kalau laki-laki merebutkan cewek kaya gitu… tenang Bu bentar lagi juga agak tenang baru pisahin… percuma dipisahin sekarang malah kita kena hajar nanti” rupanya satpam itu sudah berpengalaman menengahi orang berkelahi.
Posisi sekarang berimbang mereka berdua tersungkur di lantai saling memukul satu sama lain. Bulan melihat kalau Kevin memiliki kemampuan dalam mengendalikan perkelahian, ia tiba-tiba ingat kalau Mbak Icha suka cerita Kevin setelah pulang kantor sering berlatih Muay Thai di Sport Center dekat kantor.
“Pa Kevin… Pak… tolong Pak sudaaah Pak…” teriak Bulan ia tidak berani mendekat karena keduanya masih baku hantam dengan keras.
Mendengar teriakan Bulan, Kevin teralihkan perhatiannya sehingga Juno berhasil merubah posisi dan memukul perut Kevin dengan keras hingga terjengkang. Disaat itulah kedua satpam kemudian menahan keduanya yang tampak terengah-engah dan memandang dengan penuh kebencian, tepatnya Juno yang memandang dengan kebencian karena Kevin masih dengan muka sinis dan mentertawakan.
“Aku sudah tidak peduli dengan dia lagi… jadi jangan pernah masuk lagi dalam kehidupanku” ucap Juno dengan tatapan membunuh.
“Hahahaha bilang kalau begitu sama dia… kalau kamu sudah tidak peduli padanya”
“AKU TIDAK PEDULI!” teriak Juno sambil berjalan dengan terhuyung dan menarik Bulan dengan keras.
“PULAAANG!” ucapnya sambil menghentakkan tangan Bulan agar mengikutinya, ditarik setengah diseret karena Bulan memandang ke arah Kevin dengan bingung.
Kevin berusaha tersenyum dengan mulut yang robek dan melambaikan tangan dengan lemah ke arah Bulan, menatap hingga mereka menghilang di area parkir hotel.
Bulan berjalan sambil terseok-seok, tangannya ditarik Juno dengan keras, mobil yang diparkir di basement menjadikan penderitaannya lengkap sudah.
“A… sakit, tangan aku sakit” ucap Bulan sambil berusaha melepaskan genggaman tangan Juno yang mencengkram erat. Tapi ucapan Bulan seperti suara angin yang hanya masuk dari telinga kiri dan keluar dari telinga kanan.
“Masuk” cengkraman tangan Juno baru terlepas saat mereka sampai disamping mobil dan Bulan hampir terhuyung karena tarikan tangan Juno yang keras. Bulan menarik napas panjang, pantas saja ia sudah merasa tidak nyaman saat tadi akan pergi berdua dengan Kevin, ternyata memang akan jadi begini kejadiannya.
Membuka pintu dengan perlahan dan duduk dengan diam, selama beberapa lama hanya keheningan di dalam mobil. Setelah beberapa saat akhirnya Bulan memberanikan diri menoleh memperhatikan muka Juno, yang ternyata juga sama-sama lebam seperti Kevin. Ada percikan darah di sudut bibir Juno, Bulan mengeluarkan tisu basah dari tasnya dan kemudian berusaha menyusut darah kering di ujung bibir Juno.
“Jangan sentuh” ucapnya dingin, Bulan menatapnya dengan sedih.
“Jangan marah seperti itu, apa yang terjadi tidak seperti bayangan Aa”
“LALU APA?” teriak Juno kesal.
“Laki-laki dan perempuan saling berangkulan di depan hotel… sedang apa? Sedang rapat? Sampai jam 10 malam? Hebaaat sekali alasannya!”
Mata Bulan terbelalak.. “Sedang berangkulan? Siapa yang berangkulan?” pikirnya bingung.
“Siapa yang berangkulan? Pak Kevin memegang bahu aku karena dia hipoglikemia… tadi kita melewatkan makan malam karena terlambat datang”.
“Haaahahah… kamu tuh bodoh atau dungu… masa orang kekurangan gula bisa punya tenaga untuk berkelahi”
“Kenapa merasa senang ada yang merangkul… merasa kurang sentuhan dari suami?” ucap Juno sinis.
Mata Bulan kembali terbelalak, ia tidak menyangka kalau Juno akan berkata hal yang menyakitkan seperti itu.
“Aa kalau mau marah karena aku pulang malam bekerja boleh saja… tapi jangan bicara seperti itu!”
“Tadi aku juga kaget saat Pak Kevin akan terjatuh, aku refleks memegangnya”
“Aku bukan perempuan murahan yang mau disentuh oleh laki-laki lain!”.
__ADS_1
Juno kembali tertawa sinis. “Kalau aku tidak datang tadi, mungkin kalian sudah bisa meneruskan sentuhannya di mobil bersama-sama”
Mata Bulan mulai berair mendengar tuduhan Juno, dipandangnya Juno dengan tatapan kesal.
“Kenapa bicaranya jadi seperti itu…??“
“Kalau hape aku gak mati aku pasti tidak akan memilih pulang sama Pak Kevin”
“Aku udah bilang kalau hp aku habis batre”
“Kalau aku bisa pulang lebih cepat, aku akan memilih pulang lebih cepat”
“Tapi masalahnya aku kan punya tanggung jawab pekerjaan, aku tidak mungkin meninggalkan meeting hanya karena sudah malam” jelas Bulan air mata sudah mulai mengalir di pipinya.
“Alasan bisa dicari kalau kita berniat” tungkas Juno
“Alasan apa?”
“Aneh kalau aku tiba-tiba bilang pulang duluan hanya karena takut suami marah”
“Sangat tidak profesional… lagipula baru sekarang aku pulang malam” Bulan tidak mau kalah ia merasa tidak bersalah.
“Sudah kalau begitu tidak usah bekerja… selesai sudah permasalahan” jawab Juno cepat
Bulan terhenyak kaget, tiba-tiba saja ada kesimpulan yang diambil sepihak.
“Apa?” ucapnya bingung.
“Kamu berhenti bekerja… mulai besok!”
“Tidak ada tawar menawar”
“A… jangan mengambil keputusan ketika emosi…” Bulan menyusut air matanya yang terus mengalir.
“Aku gak bisa tiba-tiba berhenti begitu saja”
“Aa mesti dengerin dulu alasan kejadian tadi...sroooks” kembali air di hidung mengalir dengan deras.
“Turun!” tidak terasa ternyata mereka sudah di depan Ruko.
“A.. mau kemana lagi? Mukanya itu harus dikompres dan diobati” Bulan menyusut air mata di pipinya.
“Turun… aku masih banyak pekerjaan!” hanya itu ucapan Juno.
“A… jangan begitu pulang dulu, aku obati dulu lukanya” Bulan mencoba meraih tangan Juno yang menggenggam stir, tapi Juno menepisnya.
“Mau turun sendiri atau aku seret lagi kamu masuk ke dalam?” ancamnya dengan tatapan kesal. Bulan menunduk dibukanya seatbelt dengan perlahan dan keluar dengan penuh keragu-raguan.
Sesaat setelah pintu mobil tertutup, Juno langsung pergi meninggalkan Bulan yang hanya berdiri mematung melihat mobil hingga hilang dari pandangan. Air matanya tidak berhenti mengalir, sulit untuk meredam amarah Juno kalau sudah seperti itu. Entah akan pergi kemana suaminya sekarang.
__ADS_1