
Bhanu menatap Bulan lekat, yang ditatap jadi salah tingkah.
“Papa kenapa gak makan?” Bulan menatap makanan yang terhidang di meja, masih belum tersentuh.
“Ya… Papa lagi tidak enak badan” jawabnya pelan. Bulan menatap pria yang di depannya, tampak kesedihan dan kebingungan di mukanya tapi di pendam dalam dirinya. Karakter laki-laki keras yang memiliki gengsi yang tinggi, karakter yang sama dengan suaminya sehingga ia mulai terbiasa.
“Kalau Papa gak mau makan, aku makan deh” ia tadi hanya makan satu potong pizza karena dihabiskan oleh Anjar. Utamanya ia akan memiliki alasan untuk duduk di depan Papa Bhanu, bisa menemani laki-laki yang terlihat membutuhkan teman.
“Kamu katanya sudah makan, tapi seperti yang kelaparan?” Bhanu menatap Bulan yang tampak makan dengan penuh semangat.
“Hehehe tadi cuma makan sepotong pizza-nya… enak nih Pa… beneran gak mau dimakan? Mau setengah ewang?” tanya Bulan santai, Papa Bhanu jadi tertawa mendengarnya.
“Apa itu setengah ewang?” tersenyum melihat Bulan.
“Setengah ewang itu fifty fifty Pa…”
“Kamu nawarin Papa bekas makan kamu? Enak saja!” ucap Bhanu melengos kesal. Bulan hanya nyengir.
“Biar apet Pa… nanti kangen sama Bulan”
“Apalagi itu apet? Bahasa kamu aneh-aneh”.
“Apet itu akrab… sepiring berdua...hehehhe”
“Kalau gak dimakan mubazir nanti dibuang sama restorannya”
“Kamu makannya sepiring berdua sama Juno?… pantesan dia nempel sama kamu” Bhanu mendengus.
“Gak cuman sepiring Pa seringnya minta disuapin… manja banget… udah manja terus galak kaya Papa… suka gampang marah sama aku” adu Bulan.
“Makanya jangan suka mengesalkan supaya gak mancing marah” jawab Bhanu membela anaknya.
“Emangnya A Juno ikan bisa ..dipancing?” jawab Bulan santai, Bhanu menggelengkan kepala kemudian menarik nafas panjang.
“Papa lagi apa disini? Aku heran bukan tipe Papa jalan-jalan ke Mall…” satu piring steak dengan mashed potato dan salad habis dimakan Bulan. Sekarang perutnya benar-benar kenyang.
“Ada urusan yang tidak bisa diselesaikan di kantor” jawabnya sambil menatap Bulan, kemudian kembali menghela nafas.
“Ada masalah Pa? Itu laporan dari kantor kan? Papa kerjain disini? Sendiri?” Bulan menatap minuman Papa yang masih tampak penuh.
“Mau minum apa kamu?” rupanya Papa Bhanu mengerti kode tatapan mata menantunya.
“Heee… lemon tea aja Pa...melunturkan lemak yang baru aku makan” Bulan tersenyum bahagia, hari ini dia mendapatkan banyak hadiah, coffee maker, dan sekarang makan steak enak lengkap dengan minumannya.
“Pantas saja kamu cocok sama Afi… sama-sama suka makan” Papa Bhanu menahan senyum melihat makanan di piring yang licin tandas.
“Sayang atuh Pa… makanan enak begini gak dimakan… mubazir”
“Rizkinya Papa mungkin ada dimakanan tadi, kalau gak dimakan trus kebuang jadi gak berkah… Allah nya marah kemudian dialihkan rezekinya ke orang lain”
“Kan lumayan kalau rezekinya Papa yang milyaran pindah ke aku… zwiiiing aku jadi milyarder hehehehehe” Bulan terkekeh senang, Papa Bhanu tersenyum sedih.
“Ya bisa jadi karena Papa sering membuang makanan jadinya uang Papa hilang kemana-mana” keluh Bhanu sambil menarik nafas panjang.
“Ehhh… aku gak serius Papa… tapi beneran uang Papa hilang?” mata Bulan membulat, Bhanu mengangguk perlahan.
“Ehhh kenapa… ada apa? Ceritain sama aku kali aja aku bisa bantu” Bulan langsung membereskan piring bekas makan kepinggir dan menatap Bhanu dengan lekat. Waiters membawa minuman pesanan Bulan dan Bhanu. Lemon tea dan kopi tubruk hitam.
“Papa rupanya suka minum kopi juga? Aku tadi dikasih hadiah coffee maker sama teman-teman kantor, nanti yah kalau Papa main ke Ruko aku bikinin kopi”
“Kata temen-temen kantor aku, kopi bikinan aku enak” Bulan jadi gagal fokus melihat kopi tubruk milik Bhanu.
“Kamu senang tinggal di Ruko? Gak masalah?” Bhanu tampak prihatin.
“Seneng seneng aja aku mah, dimana aja hayu yang penting bareng suami” jawab Bulan santai.
“Papa ada masalah apa? Ada yang bisa aku banting?”
“Dibanting?” Bhanu mengerutkan dahi.
“Dibantu Papa...dibantu” Bulan tertawa terkekeh melihat ekspresi papa mertuanya, ternyata lebih menyenangkan daripada mengganggu suaminya, lebih kudet daripada Juno.
“Kamu tuh sama orangtua malah bercanda” Bhanu melengos kesal.
“Hahahahahaha Papa udah tua ternyata pundungan… sok atuh apa yang bisa aku bantu?”
“Ini dokumen apa?” diraihnya dokumen yang ada di meja, Bhanu mencoba menahan tapi Bulan lebih cepat mengambil dan melihatnya satu persatu
“Masalahnya dimana Pa?”
__ADS_1
“Ada biaya yang seharusnya tidak ada tapi masuk jadi beban untuk dibayarkan pada rekening yang fiktif” jawab Bhanu pelan.
“Eh serius… wah itu sih bahaya?”
“Ada berapa dana yang keluarnya?” Bulan mengambil semua dokumen kemudian membaginya pada beberapa kelompok sesuai waktu. Bhanu melihat dalam diam dan memperhatikan.
“Pa… sudah Papa hitung ada berapa?” tanya Bulan.
“Belum… tapi memang selama dua tahun kebelakang ada penurunan income, semula Papa kira memang ada penurunan dari nilai project tapi kemarin Papa dapat laporan dari orang yang Papa percaya katanya ada yang membuat rekening fiktif”
“Papa minta bukti-buktinya dan ternyata benar”.
“Sudah Papa hitung ada berapa? Ini laporan enam bulan terakhir sih aku lihat” Bulan mengerutkan dahi.
“Ya… dari sana saja kalau tadi dihitung secara kasar ada lebih dari lima ratus juta” jawab Bhanu perlahan.
“Itupun baru dihitung kasar, belum me-refer ke tagihan yang resmi, tampaknya lebih besar dari jumlah itu”.
“Gak pernah ada audit internal Pa?” Bulan mengerutkan dahi, Bhanu menggelengkan kepala lemah.
“Wah bahaya ini… Papa kenapa gak cerita sama Afi… Afi itu paling jago sama audit”
“Dia itu bisa menemukan jarum dalam jerami Pa”
“Jangan...jangan sampai Juno dan Afi tahu” Bhanu langsung terlihat panik.
“Kenapa… mereka kan anak-anak Papa, sudah semestinya mereka membantu Papa” Bulan kemudian menyusun dokumen.
“Aku butuh dokumen tambahan kalau mau ngecek mana biaya real dan fiktif”
“Siapa yang menyadari ini?” Bulan mencermati dengan dahi berkerut.
“Anak supir Papa yang kerja di bagian keuangan”
“Supir Papa itu sudah ikut sama Papa hampir dua puluh tahun, anaknya Papa yang sekolahin sampai lulus kuliah di keuangan”
“Waktu lulus dia Papa masukan ke bagian keuangan karena lulusan Akuntansi kaya Afi”
“Katanya pengen pinter seperti Afi… ternyata memang pinter bisa tahu kalau uang Papa diselewengkan”.
“Jangan sampai Afi dan Juno tahu… mereka membenci Papa semenjak Papa menikah lagi, lagi pula perusahaan ini dibangun atas uang bantuan dari Janet”
Bulan menatap Bhanu dengan muka sedih, tidak terbayang mengalami kesulitan tapi tidak memiliki siapapun untuk diandalkan dan dimintai tolong.
“Aku akan berhenti bekerja dua hari lagi, jadi secara waktu insya Allah bisa bantu Papa”.
Bhanu terdiam dan menyesap kopi perlahan.
“Bagaimana mau bisa membantu nanti Juno tahu lagi” jawab Bhanu perlahan.
“Hmmm itu biar aku urus jangan khawatir”
“Aku minta nomor hape Papa, supaya aku bisa inform data apa saja yang harus Papa siapkan” Bulan meraih handphone kemudian mereka bertukar nomor, dan kemudian Bhanu menceritakan tentang suasana kantor dan kesulitan-kesulitan yang ia alami, hingga tidak terasa waktu terus bergeser dan sudah jam empat sore. Bulan baru menyadari itu saat ada telepon masuk. Juno.
“Assalamualaikum… ya A”
“Waalaikum salam, sekarang pulang jam berapa aku jemput”
“Dijemput? Gak apa-apa gak usah aku pulang sendiri aja, nanti paling ojek”
“Gak apa-apa nanggung”
“Macet A”
“Gak macet, udah deket kantor kamu kok aku sekarang"
“Haah Aa lagi di luar?”
“Aku...aku juga masih di luar kantor ini, ada acara perpisahan, tapi mau pulang ke kantor lagi da”
“Ketemuan di kantor aja”
“Acara Farewell Party nya dimana?”
“Dimana?”
Saat ditanya dimana posisi ia berada Bulan langsung bingung dan panik.
“Papa… A Juno mau jemput Bulan… gak apa-apa ketemu?” tanya Bulan bingung.
__ADS_1
“Jangan… kamu pulang aja sekarang… Papa gak bisa ketemu dengan Juno dalam kondisi seperti ini”
Bulan menganggukan kepalanya, ia memahami kalau Bhanu adalah orang dengan rasa gengsi yang besar, tidak ingin terlihat lemah dan tidak berdaya di depan anak-anaknya. Apalagi kondisi sekarang merupakan konsekuensi dari perbuatan buruknya di masa lalu.
“A… aku mau pulang sekarang, lagi di Gandaria City”
“Kamu di Gandaria City? Aku juga sama lagi di Gancit”
“Posisi kamu dimana?”
“Apaaa Aa di Gancit juga?” Bulan langsung panik.
“Papa… A Juno juga di Gancit” ekspresi Bulan seperti akan dikejar rentenir.
“Ya bilang saja kamu temui dia di lantai bawah dekat pintu masuk bagian Utara, tenang saja Mall ini besar” jawab Bhanu pelan.
“A.. “ belum sempat Bulan bicara.
“Kamu lagi sama siapa?” suara Juno terdengar curiga
“Aku… aku sama teman-teman”
“Teman kantor siapa?"
“Iya… temen kantor… Aa gak kenal lah”
“Temen...temen di Pajak” jawab Bulan, Bhanu tersenyum kecut, kentara sekali kalau menantunya itu tidak biasa berbohong.
“Aku sekarang ke bawah yah, ditunggu di dekat pintu masuk Utara”
“Dahhh...assalamualaikum” Bulan langsung mematikan hp tanpa menunggu jawaban dari Juno.
“Papa… aku duluan, jangan lupa yah nanti siapkan data yang aku butuhkan, suruh anak supir Papa itu yang nyiapinnya, kalau dia anak akuntansi pasti ngerti istilah yang aku kasih”
“Papa jangan khawatir nanti aku bantuin”
“Aku pamit pulang” Bulan bergegas berdiri dan mengulurkan tangan untuk bersalaman. Kali ini Bhanu tidak ragu menyambut uluran tangan dari Bulan. Sudut bibirnya terangkat melihat sikap menantunya yang langsung pergi dengan tergesa.
Bulan setengah berlari berjalan menuju Lobby.
“Hadeuuuh kenapa aku kaya yang habis berselingkuh aja yaaa, idihh amit-amit bikin stress beginih” pikir Bulan sambil mencoba terus menarik napas saat menuruni eskalator. Ia tidak ingin Juno menaruh curiga, mencoba untuk bersikap normal.
Di dekat pintu masuk tampak Juno sedang berdiri memakai blazer biru dan celana jeans, tampak serasi dengan tas selempang coklat favoritnya”
“Mana teman-teman kamu?” tanya Juno yang merasa heran karena Bulan berjalan sendirian sedangkan tadi mengakunya sedang bersama teman-teman.
“Mereka masih pada makan… jadi aku duluan takut Aa lama nungguin...hehehehe”
“Makan dimana tadi?” tanya Juno sambil terus memandang ke arah belakang Bulan seakan masih curiga.
‘Di Pizza Maru… enak tapi gak kebagian banyak, dihabisin sama Anjar pizzanya” adu Bulan.
“Mana dia, barengan sama siapa aja tadi? Marissa ikut kan?” selidik Juno masih tidak terima, terlalu aneh menurutnya Bulan lebih dulu dan sendiri.
“Oh mereka udah duluan soalnya mau rapat jam tiga”
“Kenapa kamu gak ikut rapat? Trus teman-teman kamu yang masih makan apa gak pada kerja?” Juno mengerutkan dahi.
“Aku kan udah mau selesai kerjanya, jadi tadi dibolehkan izin sama Mbak Icha, kalau temen-temen pajak baru pada datang belakangan jadi mereka belum pada makan, aku nemenin mereka” dengan lancar kebohongan itu keluar. Juno memandang Bulan lekat, akhirnya ia menerima alasan yang diberikan istrinya.
“Mau makan dulu?” tanya Juno
“Masih kenyang… tadi steaknya gede… weiis enak banget”
“Katanya makan pizza” Juno memandang Bulan heran.
“Ehhh heheheh iya kan di Pizza Maru ada pilihan menu lain” Bulan terpaksa mengeluarkan senjata pamungkas, senyuman dan dekapan hangat di lengan suaminya. Bodoh kamu Bulan pikirnya sambil tersenyum hangat, kontrol mulutmu jangan asal bicara.
“Pulang aja yuk… cape.. Tapi anterin aku ke kantor dulu ngambil tas”
“Aa mau dimasakin apa sama aku? Aku gak akan ngebohong kaya Aa kemarin janji bikinin Spaghetti Aglio e Olio eeeeh yang datang Indomie Kuah Kari”
Juno tertawa senang,
“Sama-sama mie yang penting hangat dibuat penuh cinta dan dedikasi, cintailah produk-produk Indonesia”
“Halaaah alasan…” gemas dicubitnya perut Juno yang langsung mengaduh dan mencoba menjauh tapi sulit karena tangannya dipegang erat oleh Bulan.
Di kejauhan Bhanu hanya menatap interaksi keduanya, ada rasa haru dan sedih. Kebahagian hati melihat anaknya tertawa dengan lebar dan menggandeng erat perempuan yang menjadi istrinya sekarang. Betapa banyak kesempatan yang ia lewatkan dalam mendampingi anak-anaknya, hingga saat pernikahannya pun ia tidak bisa hadir dan memberikan restu.
__ADS_1
Kemarahan yang ia lontarkan karena merasa tidak dianggap menjadi bagian penting dari kehidupan anaknya membuat ia bereaksi negatif dan mendorong mereka menjadi lebih jauh dari sisinya. Sekarang yang ia rasakan adalah rasa kesepian dan kekosongan. Anak-anak Janet yang ia besarkan selama bertahun-tahun, tidak menjadikan mereka memiliki ikatan batin yang kuat. Padahal ia yang menyekolahkan dan membiayai kuliah mereka hingga belajar di Singapura seperti sekarang.
Pertemuannya dengan Bulan hari ini membuatnya bisa mengerti mengapa Juno memilih perempuan itu sebagai istrinya. Perlakuannya yang buruk kemarin kepada perempuan itu seperti tidak berbekas dan menjadikan perempuan menjauh tapi tetap berusaha mendekat. Apakah masih ada kesempatan baginya untuk bisa mengenalnya lebih jauh dan kembali mendekat kepada anak-anaknya?. Apakah masih ada kesempatan kedua bagi dirinya?