
Pagi ini adalah jadwal pameran anthurium yang ingin dikunjungi oleh Mama Nisa. Tidak ada seorangpun yang menyadarinya hingga pagi-pagi Mama Nisa tampak sudah siap dan rapi saat sarapan.
“Weiiis Mama mau kemana nih pagi-pagi udah siap aja” dengan memakai piyama celana pendek, penampilan Afi seperti anak SMP yang menderita busung lapar, karena muka seperti anak kecil tapi perut membusung besar.
“Mama mau lihat pameran anthurium, ini pameran yang terbesar loh se-Indonesia, wiiih Mama senang banget mau lihat, pasti banyak tanaman unik” muka Mama terlihat berseri, hobi Mama menata taman memang terbukti hasilnya, taman di depan rumah semakin tertata dan cantik.
“Dimana Ma?” tanya Juno yang sudah siap dengan pakaian kerja, yaitu kaos polo, celana jeans dan sepatu kets. Memiliki kantor sendiri membuatnya lebih bebas dalam memilih pakaian yang nyaman untuk dipakai kerja. Bulan sendiri masih belum bisa ikut, ia belum mendapatkan izin untuk ikut bekerja. Walaupun dokter hanya memintanya untuk beristirahat selama dua minggu, tapi Juno memaksa agar Ia beristirahat hingga satu bulan sehingga benar-benar pulih.
“Bogor! Kaka kerja pakai mobil Mama… Jangan membantah” ucap Mama Nisa tegas.
“Mama hari ini ikut Tante Yani yang rumahnya diujung jalan itu loh”.
“Tanaman di rumah Tante Yani bagus-bagus banget, Mama jadi mau belajar juga sama dia”
“Tante Yani atau Tante Yani?… bukannya barengan sama Om Teguh” goda Afi sambil mengambil nasi goreng.
“Iya Pak Teguh juga ikut, katanya Tante Nani yang sebelah rumah mau ikut juga kalau dibolehin sama suaminya, ramai-ramai kita” jelas Mama.
“Kalian jangan suka bikin gossip … gak pantes ah masa Mama digosipin sama anak sendiri”
“Mama bisa lihat kalian suka senyum-senyum kalau Pak Teguh datang, ndak boleh begitu kita harus sopan sama tamu” tegur Mama. Semuanya terdiam, ternyata Mama tahu kalau mereka suka membicarakan persaingan para aligator. Mama Nisa menarik nafas panjang.
“Mama tahu kalau kalian pasti bingung harus bersikap bagaimana kalau melihat Papa kalian datang, apalagi setelah ajakan Papa untuk menikah lagi”
“Mama masih belum menemukan ketetapan hati, masih menunggu petunjuk dari Allah”
“Soal Pak Teguh, sampai sejauh ini Mama masih merasa kalau beliau itu orang yang baik dan bisa menjadi teman yang diandalkan. Seperti halnya hubungan kalian dengan teman-teman kalian sendiri”.
“Mama pun merasa seperti itu dengan Pak Teguh, dia tetangga yang baik. Perhatian dengan tetangganya tidak cuma Mama. Mungkin karena pendatang baru jadi ingin banyak bersilaturahmi sehingga diterima oleh lingkungan disini”
“Tapi karena dia seorang Duda dan Mama Janda jadinya orang suka curiga. Jadi Mama harap kalian jangan seperti orang lain, kalian kan paling mengerti bagaimana kondisi Mama”.
Penjelasan Mama seperti menyiram air kepada api gossip yang sedang berkobar, tidak ada satupun yang menjawab dan hanya mengangguk dan tersenyum malu.
“Iya Ma… maaf kalau kemarin-kemarin kami membuat Mama tidak nyaman” ucap Bulan memecah keheningan.
“Iya Mama perlu bilang sekarang pada kalian, supaya kalian tidak berpikir aneh-aneh soal Pak Teguh… Mama sedang menikmati kebebasan dalam beraktivitas pada hobi baru Mama”
“Bolehkan?” tanya Mama pada anak-anaknya.
“Boleh Ma… Afi senang kalau Mama menikmati kegiatan dengan siapapun… boleh kok, yang penting Mama bisa jaga diri jangan terlalu capek”
“Aku tahu Mama bisa menjaga diri, nikmati hobi baru Mama” ucap Juno pendek.
“Iya Mama…nikmati waktu luang Mama sekarang. Jangan terlalu memikirkan pendapat orang lain. Karena seperti pepatah bilang kita tidak perlu menjelaskan diri kita pada orang lain, karena orang yang mengenal kita, tidak perlu penjelasan tentang ini dan itu, sedangkan orang yang gak suka pada kita, mau dijelaskan bagaimanapun akan tetap tidak percaya atau berpikir buruk”. Ucap Bulan bijak.
“Walaupun Mama gak jelasin apapun tentang Pak Teguh, teteh tahu kok kalau Mama bisa menjaga diri”
“Go Mama go” ucap Emil sambil mengacungkan tangan keatas memberi semangat.
Mama Nisa tersenyum melihatnya, dukungan dari anak-anak menjadi penguat untuk dirinya dalam beraktivitas.
Ting. Pesan di Grup Chat
Afi:
“Mama mungkin bisa santai beraktivitas sekarang, yang gak bisa gw bayangin gimana panasnya alegator kalau tahu Mama berangkat sama Om Teguh”
“Bisa-bisa danau diubek-ubek”
Bulan:
“Papa jangan sampai tahu kalau Mama pergi sama Om Teguh”
Emil:
__ADS_1
“Mudah-mudahan jangan datang sarapan gratis”
Juno:
“Sudah jangan dibahas lagi”
Baru saja mereka membaca pesan yang dikirimkan dalam grup, ucapan salam terdengar dari pintu masuk.
“Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh” suara Papa Bhanu terdengar keras di pintu.
Semuanya terhenyak kaget, bukan menjawab salam malah saling berpandangan seakan ingin menyamakan langkah dalam menghadapi serangan musuh.
“Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh… waduh Papa sekarang salamnya lengkap” Bulan bergegas berdiri mencegah kekakuan. Mama Nisa pun tampak kaget melihat kehadiran Papa yang datang pagi-pagi, karena biasanya paling cepat, Papa datang jam delapan, tapi ini belum jam tujuh pagi sudah ada di rumah.
“Papa sarapan dulu, Bulan bikin nasi goreng enak”
“Aku belum siap bekerja nih, belum mandi. Sarapan dulu Papa” Afi langsung menarik Papa Bhanu untuk duduk, sedikit dipaksa karena Papa terlihat bingung melihat Mama yang sudah siap pergi.
“Mama kamu mau kemana?” tanyanya pada Afi.
“Mau pergi ke Pameran Anthurium sama Tante Nani” jawab Afi pendek. Papa Bhanu langsung berdiri, ia langsung ingat rencana Mama Nisa yang akan pergi dengan Pak Teguh.
“Mau ke pameran tanaman yang di Bogor yah Nis”
“Aku yang antar, jangan ikut sama orang lain. Kaya yang gak punya keluarga saja” ucap Papa dengan senyuman yang kaku, Mama Nisa langsung melengos kesal.
“Aku pergi dengan teman-teman aku yang paham tanaman gak cuma mau melihat pameran saja. Aku bisa diskusi dengan teman-teman, Mas Bhanu kan tidak tahu soal tanaman. Selada air disamakan dengan tanaman hias… gimana sih” Mama terlihat kesal.
“Yahh nanti kan kamu bisa ajarin… Sudah aku yang antar, sudah siap kok” Papa Bhanu berdiri dan dan bersiap untuk beranjak keluar.
“Tidak usah” ucap Mama Nisa tegas.
“Aku sudah ada janji dengan teman, tidak enak dibatalkan tiba-tiba”
“Mas Bhanu sarapan saja sama anak-anak. Tidak usah repot mengantar saya” jawaban Mama Nisa terdengar pendek dan tegas.
“TIDAK USAH, saya mau pergi sendiri” suara Mama yang tiba-tiba mengeras, membuat Papa Bhanu terhenyak kaget, Mama Nisa tidak pernah bersuara keras padanya.
“Papa ini sarapannya sudah siap” Bulan mencoba memecahkan suasana tegang, namun belum sempat ia berdiri, tangan Juno menahannya. Saat menoleh ia bisa melihat muka Juno yang dingin menggelengkan kepala. Akhirnya Bulan kembali duduk.
“Kamu gak usah pergi sendiri aku bilang!, nanti aku saja yang akan antar” Papa Bhanu seperti tidak mendengar penolakan Mama Nisa dan kembali memaksa, nada arogan terdengar dari suaranya. Meraih tangan Mama agar tidak pergi keluar. Sesaat anak-anak melihat dengan penuh ketegangan, khawatir kalau suasana semakin tidak terkendali. Merasa tangannya dicekal Papa, Mama berhenti dan menoleh menatap Papa Bhanu dengan dahi berkerut kemudian matanya menatap tajam pada lengannya yang dicekal. Diam tidak bersuara tapi matanya bergantian menatap antara Papa Bhanu dan lengannya.
“Mas..” ucapnya tenang dan dingin
“Kamu bukan suami aku, rumah ini juga sekarang adalah milik aku bukan rumahmu, jadi tolong hormati aku… sekarang kamu tidak berhak memaksa aku dan aku tidak berkewajiban untuk patuh lagi padamu”
“Apa yang aku lakukan sekarang menjadi tanggung jawabku sendiri, toh anak-anak juga mendukung aktivitas yang aku lakukan”
“Tolong jaga batasan itu”
“Hormati aku selagi aku masih menghormati Mas Bhanu sebagai Papanya dari anak-anak”
“Malu sebentar lagi kita akan punya cucu… sudah tidak pantas lagi kita bertengkar seperti dulu”
“Tidak malu apa dilihat oleh anak-anak seperti itu?” Mama Nisa menggerakkan kepala ke arah anak-anak.
Mendengar ucapan Mama Nisa, perlahan Papa Bhanu melepaskan cekalan tangannya, matanya melirik ke arah anak-anak. Juno berdiri dan berkata dengan tenang.
“Pa… tolong dimengerti, Mama mau menikmati waktu senggangnya bersama dengan teman-teman”
“Tolong Papa hargai keinginan Mama” ucapan Juno semakin menguatkan Mama Nisa untuk beranjak pergi.
“Bu.. ada Pak Teguh, sama Bu Yani dan suaminya diluar, apa disuruh masuk saja? Saya sudah persilahkan masuk tapi ndak mau” Mbak Nah yang selama ini membantu bekerja membersihkan taman di depan, tampak ragu-ragu masuk ke dalam rumah menginterupsi suasana tegang.
“Mama pergi dulu yah, itu sudah pada menunggu di depan katanya”
__ADS_1
“Assalamualaikum” tanpa menoleh ke arah Papa Bhanu, ia langsung bergegas pergi. Terdengar riuh suara orang di luar. Laki-laki dan perempuan yang tertawa. Papa Bhanu bergegas melihat ke ruang tamu untuk bisa melihat keluar rumah. Ternyata benar, Mama Nisa sudah ada yang menjemput, tampak beberapa orang sudah menunggu di samping mobil. Ada seorang perempuan dan dua laki-laki berdiri di samping mobil, bersenda gurau dengan akrab. Papa Bhanu tidak mengenal yang lainnya, hanya satu orang yang ia tahu…Pak Teguh. Saat melihat Om Teguh membukakan pintu untuk Mama Nisa, serta merta Papa Bhanu beranjak untuk keluar dari ruang tamu.
“Papa!” ucapan Juno cukup keras sehingga mengurungkan niatnya untuk keluar, ternyata sedari tadi Juno sudah menyusulnya ke ruang tamu.
“Jangan mempermalukan Mama, mereka semua tetangga disini. Kalau Papa sampai membuat keributan di depan mereka. Kasian Mama akan malu”
“Papa harus bisa menahan diri”
Bhanu terdiam, menatap keluar dengan tatapan berkerut. Menahan ludah berkali-kali seakan ingin berbicara tapi ia menahan diri, tangannya mengepal sempurna.
“Kalau Papa sampai mengganggu kegiatan Mama sekarang, aku khawatir Mama akan menolak keinginan Papa untuk kembali menikah”
“Mama yang sekarang berbeda dengan Mama yang dulu”
“Mama yang sekarang tidak lagi bergantung pada Papa, karena Mama sudah tidak memiliki lagi ikatan dengan Papa, secara finansial ataupun tanggungjawab” jelas Juno lantang.
“Papa masih membiayai hidup kalian setiap bulan, kata siapa Mama bisa hidup tanpa Papa!” ucap Papa Bhanu dengan keras.
“Sekarang Mama tidak pernah menggunakan uang kiriman Papa kecuali untuk keperluan kami anak-anaknya”
“Terakhir Mama memakai uang kiriman dari Papa untuk pernikahan aku”
“Walaupun aku menolak, tapi Mama bersikeras katanya ini adalah tanggungjawab dari orangtua untuk membiayai pernikahan anaknya”
“Kemarin Mama bilang, biaya hidup Mama telah ditanggung dari dana kiriman perusahan keluarga di Bandung”
“Setiap bulan Mama mendapatkan kiriman dari Om Rahmat hasil keuntungan dari perusahaan keluarga. Jadi semenjak aku dan Afi menikah, Mama tidak lagi menggunakan kiriman uang dari Papa” jelas Juno. Ternyata saat Mama menangis dulu dan ditemani Juno dan Afi di kamar. Mama menceritakan kalau semenjak anak-anak menikah, Mama sudah merasa tidak berhak menggunakan tunjangan keluarga dari Papa Bhanu.
“Jadi Pa… bagi Mama sekarang sudah tidak ada lagi ikatan dari Papa yang harus Mama jaga. Anak-anak Mama sudah menikah, sehingga Mama merasa sudah menyelesaikan tugasnya sebagai ibu” Juno menarik nafas panjang.
“Kalau Papa mau mendapatkan Mama kembali, Papa harus berjuang kembali dari nol, karena Mama yang sekarang bukan lagi mantan istri Papa. Dia adalah seorang Khaerunissa Rahmadi”
Papa Bhanu termenung dalam diam masih memandang keluar, padahal mobil yang membawa Mama Nisa sudah menghilang dari pandangan semenjak tadi.
“Papa pergi dulu ke kantor” ia langsung beranjak berdiri
“Bilang sama Afi supaya ke kantor diantar oleh Emil”.
“Papa ada urusan dulu” ucapnya pendek tanpa mengucapkan salam, langsung pergi meninggalkan rumah.
Juno menarik napas panjang. Untunglah Perang Dunia bisa dihindarkan, tidak terbayang kalau Papa tidak bisa mengendalikan emosinya. Bukan hanya Mama yang malu tapi juga seluruh anggota keluarga.
Setelah kepergian Papa Bhanu ke kantor, suasana kembali terasa damai sehingga semua orang merasa kalau masalah terselesaikan dengan baik. Sampai tiba-tiba saja menjelang makan siang ada panggilan telepon masuk di hp Bulan, ia baru saja menyelesaikan tugas domestik membereskan rumah dan kamar, kemudian beristirahat sambil tiduran membuka-buka halaman sosial media.
“Halo assalamualaikum… kenapa Fi” tanya Bulan heran, jarang-jarang Afi meneleponnya.
“Bull… hwaaaaaaa” terdengar suara Afi yang menangis.
“Afiii kenapa? Ada apa?” Bulan langsung duduk karena kaget.
“Papa…. Papa tiba-tiba pingsan…hwaaaaa”
“Ini aku lagi perjalanan …. Ke rumah sakit”
“Kamu tolong teleponin kakak sama emil….tadi aku telepon mereka ghak ngangggkattt” suara Afi terdengar tersedu di sela tangisannya.
“Hahhh pingsan? Kenapa sampai pingsan? Apa Papa jatuh? Tadi pagi kan gak apa-apa?” pikiran Bulan menerawang pada pertemuan hari ini, Papa Bhanu terlihat segar dan bersemangat walaupun pada akhirnya pergi dengan perasaan marah.
“Ghhhak tauuu… tadi kata sekretarisnya Papa datang agak siang, terus mengamuk di kantor… semua barang di kantor Papa dilempar”
“Sekretaris Papa trus…trus telepon aku soalnya dia taaakut… Pas aku masuk Papa.. Papa udah di jatuh di kursi…. Hwaaaaa”
“Bulll buruan telepon kakak….hwaaaaa” tangisan Afi terdengar keras. Kemudian tiba-tiba terdengar suara.
“Papa… papa… gak apa-apa?” terdengar suara Afi yang menjauh dari telepon.
__ADS_1
“Kamuuu… nangisnya keras” terdengar suara Papa Bhanu yang serak. Langsung sambungan telepon terputus.
Bulan termenung kaget, rupanya tadi Papa pingsan dan kemudian terbangun karena suara tangisan Afi. Ternyata orang pingsan juga bisa kaget oleh suara tangisan Afi.