Rembulan

Rembulan
Vitamin


__ADS_3

“Kamu akrab banget sama mereka?” Juno tengah selonjoran di karpet sambil terus menatap laptopnya.


“Akrab lah udah tiga tahun aku disini, mereka yang banyak bantuin aku, kalau butuh bumbu masakan minta sama mereka, mereka juga kalau ada keperluan minta sama aku”


“Buburnya A dimakan dulu mumpung masih hangat” Bulan menyodorkan bubur ketan bagian Juno yang hanya dipandang, seperti banyak yang dipikirkannya.


“Kenapa A… ada masalah? ” tanya Bulan, tampaknya ia bisa menanyakan soal telepon tadi sekarang.


“Aku mau cerita sama kamu… soal rencana kedepan” memandang Bulan dengan tatapan serius, Bulan segera meletakan bubur yang tengah disantapnya.


“Hmmm sebelum kita menikah sebetulnya aku berencana untuk membuka Kantor Konsultan Desain sendiri, sudah dari dua tahun kebelakang. Aku sama Doni berencana untuk mandiri, ada banyak peluang yang kita rasa bisa kita lakukan lebih maksimal kalau gak kerja sama orang.”


“Cuma kita selalu menunggu dan menunda karena banyak pekerjaan yang harus dilakukan, sampai akhirnya awal tahun kemarin kita berdua sudah final akan mulai di tahun ini.” Juno menarik napas panjang.


Bulan menunduk ia mendengar tarikan napas Juno tahu kalau rencananya untuk membuat kantor sendiri akan gagal lagi karenanya.


“Sekarang gagal lagi yah… gara-gara terpaksa nikah sama aku” ucapnya lirih.


“Kamu kalau aku lagi bicara jangan nyela dulu kenapa sih!” ucap Juno kesal, Bulan menunduk,


“Maaf…. Ya udah terusin”


“Aku tidak merasa terpaksa menikahi kamu, memang kita sudah seharusnya menikah”


“Dan rencana untuk membuka kantor malah akan aku percepat soalnya kita akan memakai kantor itu sebagai rumah tinggal”


“Kamu gak apa-apa kan kita tinggal di Ruko dulu? Tempatnya bagus kok”


“Lantai satu dipakai kantor terus kita tinggal di lantai duanya” jelas Juno. Bulan mengangguk.


“Kamu mau?” tanya Juno setengah tidak percaya.


“Mau, kenapa enggak? Yang penting bisa ditinggali, malah bagus jadi ngantornya gak usah jauh-jauh tinggal turun tangga A Juno-nya” Bulan tersenyum tapi Juno menggelengkan kepala.


“Untuk sementara ini aku masih harus ngantor di kantor lama, modal untuk membuka kantor masih belum memadai, kita mau nyicil dulu perlengkapan kantornya, jadi sambil kita tempati kita tata begitu pulang dari kantor” jelas Juno, Bulan mengangguk setuju.


“Cuma masalahnya aku akan banyak menghabiskan tabungan, jadi untuk sementara waktu uang tabungan yang kartunya kamu pegang, tidak akan berisi uang banyak. Yah paling hanya tersisa sepuluh juta, mudah-mudahan bisa cukup untuk memenuhi kebutuhan kita sebulan kedepan” Juno tampak berhati-hati menjelaskannya.


“Maaf ya A… kalau gak dipakai sama biaya rumah sakit Bapak, Aa gak akan kesulitan seperti ini” Bulan tampak menyesal.


“Jangan khawatir, semua ada jalannya aku yakin kok bakalan bisa segera tertanggulangi. Kemarin ada teman yang mau gabung investasi… yah cuma masalahnya kita akan butuh energi lebih untuk kantor baru” Juno terlihat optimis, Bulan mengangguk mengiyakan.


“Jangan khawatir soal uang bulanan aku sudah gajian kan sekarang, A Juno pakai saja uang yang di atm, biaya hidup sebulan kedepan bisa aku handle” jawab Bulan tenang, muka Juno kembali mengeras.


“Saya tidak mungkin hidup dengan memakai biaya tanggungan dari istri, kamu pakai uang yang di tabungan, jangan banyak protes. Pakai dulu yang ada untuk kehidupan sehari-hari kita kedepan”


Bulan menarik nafas, suaminya ternyata paling sensitif terkait uang.


“Iya… tapi paling tidak A Juno juga musti dengar pendapat aku, jangan cuma memaksakan keinginan sendiri”


“Suami istri kan menjalani hidup bersama”


“Kemarin aku banyak dibantu sama Aa… yang kedepan aku juga ingin banyak membantu”


“Beberapa bulan kedepan aku juga banyak pengeluaran untuk membantu biaya perawatan bulanan Bapak jadi tidak akan maksimal membantu”


“Soal biaya operasi Bapak aku benar-benar ingin mengembalikan karena sejak awal tidak berniat untuk meminta hanya meminjam”


“Bukan berarti karena suami istri jadi bebas meminta uang suami, aku tahu kalau Aa selama ini kerja keras makanya bisa mengumpulkan uang banyak”


Bulan mengambil jeda untuk menarik napas. Muka Juno masih tetap dingin,


“Walaupun tidak seberapa tapi insya allah kedepan aku mau terus membantu mengembalikan dana pinjaman”


“Jangan marah… kalau kemarin gak ada Aa, aku gak tau mesti gimana”


Juno tersenyum sinis, rupanya sulit sekali berbicara soal uang dengan perempuan ini.


“Kalau kamu tidak membayar uang rumah sakit kamu merasa menjual diri memangnya?” tanyanya kesal


“Maksudnya?” Bulan terlihat bingung.


“Kamu merasa menjual diri kamu dengan harga biaya rumah sakit Bapak!” Juno menatapnya dengan lekat, tatapannya penuh kekesalan.

__ADS_1


“Bukan seperti itu ….eh Aa selalu salah paham” Bulan melengos kesal. Niat baiknya selalu disalah artikan.


“Artis yang kemarin disebut menjual diri dibayar berapa 80 juta atau 100 juta” Juno mendekat dan merapatkan tubuhnya pada Bulan.


“Aa… apa-apaan sih… jangan gitu arghhh….” Bulan mendorong Juno supaya menjauh, tapi apa daya tenaga laki-laki lebih kuat.


“Mau dibayar lunas saja malam ini? Aku kan sudah bilang kalau bayarnya gak pakai uang” Juno langsung menyergap dan mendorong tubuh Bulan ke kasur, menindihnya sehingga tidak berdaya. Muka Bulan langsung pucat, cerita Afi tentang unboxing langsung terbayang dipikirannya.


“Gimana masih mau ngomongin soal pembayaran uang rumah sakit?” Mata Juno menatap lekat mata Bulan yang tampak ketakutan berada di bawah himpitannya.


“Eng...enggak… aku gak akan ngomong apa-apa lagi janji… sumpah beneran… gak akan ngungkit-ngungkit lagi soal hutang rumah sakit” Bulan meringis, badan Juno terasa berat dirasakannya. Juno tersenyum senang, melihat ekspresi Bulan seperti ini ia menjadi terhibur diantara kepenatan yang dirasakannya semenjak pulang dari Surabaya. Disibaknya sebagian rambut yang menutupi muka istrinya.


“Kamu mau membantu aku untuk bisa mewujudkan bisa punya kantor konsultan sendiri?” tanya Juno lagi, Bulan mengangguk dengan penuh keyakinan, ia merasa gugup, jantungnya terasa seperti mau copot, ia bisa mendengar detak jantungnya sendiri.


“Kamu tau gimana caranya membantu suami?” tanya Juno lagi, sekali lagi Bulan mengangguk cepat.


“Tau-tau… tapi ini Aa nya turun dulu aku gak kuat berat” keluh Bulan,


“Aku baru turun setelah kamu berjanji mau dengan cara apa membantu aku tapi tidak dengan memakai uang” Juno tersenyum licik.


“Aku janji tiap hari masakin makanan yang enak buat Aa” ucap Bulan, terasa sesuatu ada bergerak. Juno tersenyum


“Apa lagi selain makan” desak Juno, perasaannya pun sudah campur aduk, tapi kapan lagi bisa menyiksa tapi menyenangkan seperti ini.


“Aku siapkan pakaian, aku pijitin kalau capek, aku bersihin nanti rumahnya” jawab Bulan, semakin kesini ia merasakan ada yang mendesak di bagian bawah. Ia sudah bisa memperkirakan apa itu.


“Tidak ada tambahan? Vitamin mungkin?” tanya Juno.


“Iya… iya nanti aku kasih vitamin A, B, C dan D semuanya untuk Aa” jawab Bulan, Juno mengangguk sambil tersenyum, ia segera menyingkir dari tubuh Bulan, yang langsung menarik napas lega. Diam-diam dia melirik ke arah Juno yang tampak menarik napas panjang untuk menenangkan dirinya.


“Hmmm… aku mau ke toilet dulu” Bulan berniat menenangkan diri, satu ruangan sekarang dengan Juno membuat jantungnya seperti mau copot.


“Mau kemana kamu… aku butuh vitamin sekarang” Juno menarik tangan Bulan supaya tetap duduk.


“Ehhh… aku cuma punya Vitamin C aja, vitamin yang lain aku gak punya persediaan” Bulan tampak bingung, secepat itu Juno langsung menagih janjinya.


“Gak apa-apa vitamin C juga cukup” Juno menarik Bulan mendekat.


“Ehh…. itu vitaminnya di laci sebentar aku ambilkan” Bulan beranjak mencoba meraih laci di nakas samping tempat tidur.


“Eh… kalau vitamin C itu cium… trus kalau vitamin B apa?” Bulan terlihat bingung.


“Vitamin B itu Body” jelas Juno dengan tersenyum licik. Mata Bulan semakin membulat,


“Bo..body… Body badan maksudnya?”


Juno mengangguk sambil tersenyum senang, melihat ekspresi Bulan itu yang membuatnya sangat terhibur.


“Kalau… kalau vitamin D?” Bulan terlihat semakin panik.


“Vitamin D kamu bisa perkirakan apa?” tanya Juno sambil terus tersenyum, Bulan menggelengkan kepala bingung.


“Vitamin D itu Dada… “ Bulan refleks menutup dada dengan tangannya.


“Ahahahahah….” Juno tertawa senang melihat ekspresi Bulan.


“Aa… jahat.. Darimana istilahnya bisa kaya gitu? Aku kira itu vitamin beneran makanya aku sanggupin” hidung Bulan sudah kembang kempis, mulutnya cemberut merasa kesal karena Ia sama sekali tidak tahu akan kena tipu muslihat Juno lagi.


“Kamu gak tanya vitamin A apa?


“Gak mau tahu ah… Aa pasti nipu lagi” Bulan duduk membelakangi Juno, ia tidak bisa menjauh karena tangannya dipegang erat Juno.


“Gunanya vitamin A itu apa?” tanya Juno dengan senyum penuh tipu muslihat. Lama Bulan hanya diam, akhirnya dia menjawab sambil mendelik ke arah Juno.


“Buat mata supaya bagus kalau ngeliat” jawabnya cepat.


“Jadi kalau aku bilang aku butuh Vitamin A, itu artinya aku butuh ngeliat kamu”


“Soalnya ngeliat kamu aja, bikin mata aku merasa sehat lagi…. Ahahahaha” Juno menertawakan gombalan receh nya.


“Gombal… gak lucu…” Bulan melengos kesal sambil berusaha menahan senyum.


“Ya udah kalau gitu cukup dikasih vitamin A aja, udah selesai aku mau ke toilet”

__ADS_1


“Etssss…. Tadi kamu udah bilang mau ngasih Vitamin C jangan suka berbohong!” Juno menarik tangan Bulan mendekat.


“Karena tadi kamu yang mau ngasih vitaminnya, sekarang kamu yang duluan ngasih” Juno tersenyum. Bulan hanya bisa pasrah, kalau biasanya vitamin yang beneran bikin tubuh jadi sehat, vitamin yang ini sih belum apa-apa bikin tubuhnya jadi lemas.


Butuh Vitamin C dosis berapa mg ini… yang 500 atau 1000 aja … dikasih dosis tinggi, pikir Bulan sambil menatap wajah Juno


“Ingat biar efektif aku butuh yang dosis 1000 mg” tiba-tiba saja Juno nyeletuk membuat Bulan kaget


“Eh.. jangan langsung dosis tinggi dong, nanti maag”


“Gak apa-apa lambung aku kuat, yang di bawah lambung yang udah gak kuat” Juno tersenyum matanya masih terus saja menatap bibir Bulan. Yang ditatap akhirnya hanya menarik napas pasrah, mau gimana lagi masih untung cuman minta ciuman coba kalau minta vitamin B, bisa apa dia.


“Merem Aa nya aku suka gugup… difilm-film juga suka pada merem” Bulan mengguncangkan tangan Juno, yang langsung dituruti sambil tersenyum senang.


Tuluit tuluit….. Tuluit tuluit…. Bunyi handphone Juno terdengar keras. Bulan yang sudah mendekat menatap handphone Juno.


“A… telepon”


“Arghhhh lama kamu….” Juno langsung meraih tengkuk Bulan dan meluapkan semua gairah yang sudah dirasakannya semenjak tadi. Bulan sebagai pemberi vitamin hanya bisa pasrah, dosis 1000 mg ternyata benar-benar dosis tinggi sampai-sampai dia kehabisan nafas saat Juno menghabiskan jatah vitaminnya.


Tuluit ...tuluit… tuluit tuluit….


“Bang sadh… mengganggu saja!” Juno mengambil handphonenya sambil mengatur napasnya yang tersenggal.


“Ya…” dia langsung keluar dari kamar.


Bulan langsung terkapar di tempat tidur, seumur hidupnya baru sekali ini dia merasakan seperti masuk pada medan magnet, menempel sampai sulit untuk melepaskan diri. Bibirnya terasa bengkak, mulutnya terasa diobrak abrik, dadanya terasa kempes karena ditekan kuat oleh Juno.


“Kenapa kamu?” tiba-tiba saja suara Juno sudah mengagetkannya. Buru-buru ia bangun, posisi terkapar tadi adalah posisi tidak aman.


“Gak apa-apa cuma lemes aja” keluhnya sambil menunduk malu.


“Aku musti ke Surabaya lagi besok” ucap Juno kesal.


“Haaah… kan baru pulang?” protes Bulan


“Belum istirahat juga kok disuruh berangkat lagi!”


“Ada perbedaan penanganan untuk project Surabaya, antara klien sama bos besar.”


“Makanya aku pengen hengkang, mereka ingin pengerjaan cepat tapi gak memperhatikan aspek estetis, nilai project memang jadi murah tapi kepercayaan konsumen jadi turun drastis” Juno melemparkan dirinya ke tempat tidur. Dia benar-benar merasa kesal.


“Agak lama di Surabaya… kayanya sampai seminggu soalnya aku harus me-layout ulang semua gambar project.”


“Indoor Garden yang awalnya tanaman lokal dan asli diganti dengan tanaman sintetis dengan alasan akan lebih kuat dan minim biaya perawatan”


“Stupid reason”


“Ngabisin waktu saja, sia-sia tiga hari kemarin aku ke Surabaya”


“Kamu mau ikut?”


“Hah…. kemana? Surabaya?” tanya Bulan


“Iya sekalian Honey Moon dengan Moon Honey” ucap Juno tersenyum.


Eh… gak ngantor lagi atuh... Bulan mengerutkan dahinya, rasanya sulit.


"Kerjaannya banyak dan pasti menguras energi... Aku pasti butuh multi vitamin" Juno tersenyum sambil menatap Bulan yang langsung pucat.


Dimana-mana orang pasti lebih suka multi vitamin semuanya lengkap ada gak usah dicicil satu-satu


############


Kerja Rodi Part 2


Sebagai informasi dalam 2 hari ini saya akan mencoba melakukan kerja rodi... menulis hingga bisa mencapai 60.000 kata... wagileseeh 🙈🙈🙈


Kalau dalam kasus mengerjakan tugas... nyang kaya gini disebut sks yaitu story kebut semalam. untuk itu saya mohon dukungan pembaca menemani saya menulis, dengan membantu menulis komen yaaaaaang panjaaaang biar saya semangat ada teman. Komennya kaya story wkwkwkwk. Jangan lupa bawa kopi masing-masing jangan minta saya suguhin. Komen yang bagus bakal saya mention.. kalau beruntung nanti dicarikan hadiah... minimal doa hadiahnya 🤭.


bilangin you are not alone... 😂💪


Big Hug

__ADS_1


ShAnti


Relawan Kerja Rodi


__ADS_2