
Waktu menunjukkan 11.20 saat Bulan mendengar ketukan di pintu, lebih tepatnya gedoran.
Dug dug dug… dug dug dug… suara itu masuk ke dalam mimpinya.
Ia bermimpi bertemu Ibu… sudah lama sekali ia tidak bermimpi tentang Ibu, Ibu sedang di dapur memasak, memakai rok kotak-kotak kesukaan ibu kalau pergi dengan Bapak. Rambut pendeknya diselipkan ke belakang telinga.
Kenapa ibu terlihat masih muda, tidak menua padahal Bulan sudah 25 tahun, ibu hanya sesekali melihat ke arah Bulan tapi tidak bersuara apapun padahal Bulan memanggilnya.
“Ibu… ibu darimana kenapa baru datang sekarang?”
“Ibu masak apa?”
“Ibu ….Ibu” tapi ibu tidak melihat hanya melihat ke arah belakang Bulan tapi bukan memandang Bulan… ibu seperti khawatir, kemudian Ibu berhenti masak dan melihat ke arah Bulan. Pandangannya terlihat sedih…
“Ibu…. Ibuuu… kenapaaa?” Bulan berteriak tapi tidak ada suara, dan saat itulah ia mendengar suara di pintu, masuk ke dalam mimpinya… kemudian ibu menghilang.
Dugg...duggg… “Bulaaaan….. Bulaaan…. Bangun nakk”
Tokkk took...tokkk tokkkk terdengar suara yang lebih kencang lagi…
"Bulll.... Gembulllll.... bangunn... ya ampun lu tuh kalau tidur kaya orang mati"...
“Siapaaa…” lirih terdengar suara Bulan dari dalam kamar.
“Bul… ini gw.. Afi buruan buka pintu” terdengar suara Afi dipintu. Bulan mengerutkan dahi, dilihatnya beker di samping tempat tidur jam sebelas lebih.
“Afii itu kamu?” Bulan turun dari tempat tidur, tadi jam delapan ia sudah tidur, badannya terasa lelah sepulang dari nonton di bioskop. Dibukanya pintu kamar sedikit meyakinkan kalau itu benar Afi sahabatnya, ternyata benar.
“Fi ada apa? Kenapa kamu malam-malam ke sini” Bulan memicingkan mata sambil membuka pintu lebar, ternyata ada Mama Nisa di belakang Afi.
“Bulan… sudah bangun sayang… ayo sekarang ikut sama Mama” Mama Nisa langsung masuk ke kamar, Bulan tercengang… ada apa ini. Afi mengikuti Mama dari belakang.
“Ganti baju lu Bul.. buruan” Afi ke lemari pakaian Bulan dan mengambil pakaian untuk Bulan yang hanya bengong melihatnya.
“Minum dulu sayang biar kamunya segar. Maaf yah dibanguninnya sampai gedor-gedor” Mama Nisa menyodorkan gelas
“Lu tuh gimana sih ditelp gak bisa… tidur kaya orang mati” Afi menggerutu sambil mengaduk-aduk lemari Bulan.
“Hahhh kenapa emang… hp aku mati yah… kamu nyariin apa fi?” Bulan mendekat pada Afi yang sedang mencari sesuatu di lemarinya.
“Jaket… kamu musti pake jaket nanti dingin kena ac mobil… kamu suka meler kalau kena AC” sambil bingung Bulan mengambil jaket di lemari gantung dan menyodorkannya ke Afi.
"Bukan buat gw... buat kamu entar... buruan sana ganti baju"
“Kita mau kemana emang… ini ada apa… aku gak ngerti… Mama ada apa?” Bulan duduk kebingungan melihat semuanya seperti repot.
“Ganti baju dulu sayang, nanti Mama jelaskan di jalan” Mama Nisa mendorong Bulan ke kamar mandi untuk berganti pakaian, setengah linglung karena baru bangun tidur Bulan menurut dan berganti pakaian, mencuci muka menyadarkannya dan kembali masuk ke kamar.
“Fi ada apa ini?” Bulan sekarang sudah sadar penuh, ia mulai curiga saat Afi terlihat kebingungan menjawabnya.
“Bulan nanti Mama jelaskan di jalan yah… sekarang bawa perlengkapannya dulu, dompet dan handphone kamu dimana?” Mama Nisa merengkuh Bulan dan mencoba mengalihkan dari Afi. Bulan mengerutkan dahi ia masih belum menerima.
“Mama ada apa? Jelaskan dulu ini mau jam 12 malam, kenapa Mama dan Afi tiba-tiba datang” Bulan menarik tangannya dari genggaman Mama Nisa, ada sesuatu yang aneh disini dan ia tidak menerimanya.
Mama Nisa menarik nafas, tampak berpikir mempertimbangkan.
“Hmm Bulan harus pulang sekarang ke Bandung” ucapnya singkat, Bulan mengerutkan dahi kenapa ia harus pulang ke Bandung sekarang… apakah ada sesuatu yang terjadi… Bapak!
Bulan langsung mencari handphone nya… Mati!
Pantas saja Afi dan Mama Nisa datang ke kost an rupanya handphone mati. Sudah beberapa kali memang handphone bermasalah sulit untuk isi baterei.
“Argghhh mati lagi… kok gak bisa masuk sama sekali listriknya” Bulan membanting chargernya. Dia menatap Afi..
“Pinjem hp aku mau telepon Benny… “ ia memegang tangan Afi dengan erat.
“Ehhhh hp aku ada di mobil…” Afi langsung keluar dari kamar, Bulan langsung beranjak hendak mengejar, tapi Mama Nisa mencegah.
“Bulan …. Bulan dengar Mama… sekarang kita ke Bandung. Kamu mau bawa apa aja” Mama mengarahkan muka Bulan kepadanya. Bulan tampak bingung, sejenak ia seperti kehilangan fokus.
“Kita berangkat sekarang.. Ada barang yang akan kamu bawa? Pakaian di Bandung kan ada… kamu mau bawa laptop atau barang lainnya?” Mama Nisa mengacungkan tas kerja Bulan, ia kemudian memasukan dompet dan handphone yang tergeletak ke dalam tas.
“Ok kita berangkat sekarang… kamu bawa tasnya ke mobil, mama kunci dulu kamarnya” Mama Nisa mendorong Bulan keluar, ia seperti kambing yang dicocok hidungnya, berjalan seperti robot tanpa kata, mengambil kunci yang disodorkan Mama Nisa tanpa banyak protes.
__ADS_1
“Mau pulang sekarang Mbak Bulan? Bapak doakan semoga tidak ada apa-apa yah” tiba-tiba Pak Daan muncul dari arah ruang belakang.
“Iya terima kasih Pak… kami berangkat sekarang” Mama Nisa tidak membiarkan Bulan bertanya lebih lanjut, sebelum mereka mengetuk-ngetuk kamar Bulan, mereka harus menjelaskan dulu kepada Pak Daan, tentang kondisi darurat yang terjadi.
“Fi… hape kamu” Bulan masuk ke bangku belakang, dilihatnya Juno tengah bersender di bangku pengemudi. Semua orang ada disini… ada yang aneh.
‘Nanti aja hape aku habis baterei” Afi menjauh dari Bulan ia menyembunyikan handphone ke belakang tubuhnya.
“Afi jangan main-main kamu… Aku mau telepon Bebey” Bulan merangsek memaksa Afi untuk menyerahkan handphone nya.
“Engga… hp aku habis baterei” Afi merunduk menutupi handphone dengan tubuhnya, mereka saling tarik menarik. Hingga akhirnya terdengar suara Bulan yang sudah mulai menangis.
“Afiiii handphonenya… aaaaaaaah” Bulan mulai menangis panik, ini terlalu aneh. Mama Nisa hanya diam di depan, begitupula dengan Juno yang tampak hanya menarik nafas dan sesekali melihat dari spion.
“Fi… berikan handphone nya… dia harus tahu” ucap Juno pendek.
“Tapiiii….” Afi melirik Bulan yang sekarang sudah tidak lagi menyerangnya hanya duduk di pinggir sambil menangis.
“BERIKAN… “
“Tapi….nanti dia panik” Afi masih menolak, Juno mendengus kesal. Diambilnya handphone di dashboard depan dan diberikannya kepada Bulan.
“Ini telepon Benny… dari tadi dia berusaha menelepon kamu tapi tidak bisa” Bulan langsung mengambil handphone Juno, namun saat akan menelepon ia lupa no telepon Benny, adiknya sering berganti-ganti nomor. Melihat Bulan yang terdiam memandang telepon Juno melirik dari spion.
“Kenapa? Kamu ingat kan passwordnya 109876” Bulan masih ingat password hanphone Juno yang ia tidak ingat adalah nomor telepon Benny.
“Aku lupa nomor telepon Benny… eh tapi aku ingat nomor hape Bapak” Bulan memijit tombol telepon dan melakukan sambungan…. Beberapa kali tapi tidak ada nada sambung.
“Hp Bapak kayanya mati…” Bulan berbicara sendiri, berusaha mengingat-ingat nomor Benny tapi apa daya sama sekali tidak terekam dalam memorinya.
“Fi… aku gak inget nomor Bebey… pinjem hape kamu lahhh” Bulan meminta dengan memelas, akhirnya Afi menyodorkan hapenya dengan penuh rasa ragu.
“Aku mau telepon Bebey bentar aja… maaf yaa” Bulan membujuk dengan muka bersalah, Afi mengangguk lemah padahal alasan baterei habis hanyalah alasan Afi agar Bulan tidak melakukan panggilan telepon dulu, ia tidak bisa membayangkan reaksi Bulan.
Baru terdengar nada sambung satu kali.. Telepon langsung diangkat.
“Halo … Kak Afi gimana udah bisa ketemu teteh” terdengar suara Benny yang panik.
“Teeeeetehhh tadi kemana Benny udah telepon dari jam 9 tapi gak diangkat terusss”
“Teeteeeeh ini Bapak…. Bapak masuk RS….. tadi Bapak jatuh dari tempat tidurrr….”
“Truss Bapak gak bisa banguuuun…..huwaaaaaaaaaa”
“Bapak kaya yang matiiiiiiii……. Huwaaaaaaa” terdengar tangisan Benny yang terdengar menyayat hati.
“Teteeeh kenapa gak pulanggg….. Ini Bapaaaaaaak gimanaaa….” suara Benny sampai terdengar di dalam mobil saking kerasnya, Mama Nisa diam sambil mengusap air mata, dari tadi saat telepon Benny menelpon Afi karena tidak bisa melakukan kontak dengan Bulan, ia sudah menangis walau tidak sekeras sekarang.
“Gimana apaaaanya…. Kamu jangan nangis… ngomong yang jeeelass…” Bulan terus mengucurkan air mata…
“Tadi ade pulang dari rumah teman habis magrib… srooooks…” Benny bercerita sambil tersedu
“Trus ade liat Bapak udah di lantai… kaya jatuh soalnya kursi jhuuuuuga terguliiiing..... srooooks”
“Trus sekarang Bapak gimana? Arghhhh ahaaaaaaa……” Bulan menangis tersedu..
“Thadiii ade bawa Bapak ke rumah sakit… adhee hhhudaah telpon dokter Samuuueell”
“Diaa nyurruh bawa Bapaaa ke rhuumaah syakit…. Tadi ddiaaa nyusuuuul… kataaanya Bhaapa kena serangan strokeee...ahaaaaaaaa” terdengar lagi tangisan Benny keras.
“Beeebey… udah atuh jangaan nangis aja… sekarang Bapaak gimaana” Bulan menutup mukanya sambil terus tersedu… penyesalan yang tidak terhingga karena tidak pulang. Ia malah nonton film… mungkin saat Bapak tadi sakit ia tengah asyik menonton.
“Sekarang Bapak laagi di ruaang observasii…. Katanya ade musti ngurusin adminstrasi dulu … bharuuu Bapak bisa masuk ruaang perawathaan...sroooks…..sroooks” terdengar Benny masih tersedu.
“Thruuus ade udhaaah ke adminininistrasi… adhee disuruh deposit uang duluuu sepuluh jutaaa…”
“Adeee bingung theeteh dari tadi diteleponin gak jawaaaab ajaaa….aaaarghhhhhh” Benny terdengar putus asa.
Bulan membelalakan mata uang sepuluh juta harus disiapkan sekarang, ditabungnya sekarang hanya ada uang lima juta kurang.
“Iiiya … iya nanti teteh transfer…. Se...sekarang teteh udah di jalan…”
“Bapak… bapaknya udah sadar de?” Bulan bertanya dengan tergagap.
__ADS_1
“Bhapaak dari thaaadi gak sadarr… sadarrr….. Huwaaaaaaaaa” terdengar lagi tangisan Benny. Bulan menutup mata, ia semakin merasa bersalah.
“Beeey… kamu jangan nangisss ghhituuuu… kamuuu mustiii kuat… sampaai teteh dataaang sroooks” Bulan mengusap air mata dipipinya… semua orang di dalam mobil tidak ada yang bersuara.
“Ingaaat kaamuu jangaan nangiiis depaan Bapaa…. Maluuuu kamuuu udah gedeee… jhangan nangis kayaa anak kecilll….”
"Kasiaan Bapaaa kalau kamu denger khaaamu nangiiiiis githuuuu"
“Kaaaalow bhapaa matiii… kita samaaa siapaaaa...hwaaaaaaa…” Benny kembali menangis, Bulan menarik nafas… sejak kecil Benny sangat dilindungi oleh Bapak dan dirinya, ia baru tahu kalau ibu meninggal saat melahirkan dirinya waktu SMP…. waktu itu Benny sangat terpukul… selama itu ia hanya tahu kalau ibu sakit.
Bapak memberitahu Benny kalau ibu meninggal saat melahirkan karena Benny saat mulai sulit diatur dan senang nongkrong-nongkrong dengan teman sekolahnya yang suka merokok. Puncaknya saat Bapak menemukan rokok di saku celana Benny… Bapak sangat marah sampai mengucap kalau Ibu akan mati sia-sia karena melahirkan anak nakal.
Mendengar itu selama berhari-hari Benny seperti terpukul dan tidak mau keluar rumah, sampai akhirnya Bulan harus membujuknya untuk bisa kembali bersikap normal. Tapi sejak saat itu sikap Benny lebih melankolis, sering merasa bersalah atas segala hal. Sampai akhirnya Bapak yang meminta maaf, Bapak bilang kalau Ibu paling bahagia saat hamil Benny karena akan punya anak laki-laki. Itu sebabnya ibu bersikeras untuk melahirkan Benny walaupun mempunyai penyakit darah tinggi.
Perilaku Benny jadi lebih terkendali, ia menjadi anak yang lebih patuh walaupun sering ngeyel, ada kata rahasia yang selalu Bapak dan Bulan pakai dalam membujuk Benny..
“Anak kesayangan Ibu…” kalau Benny sulit diatur kalau disebutkan kata rahasia itu Benny akan lebih terkendali.
Bulan langsung teringat, kata rahasia dalam membuat Benny menjadi lebih tenang dan baik.
“Benny … anaak kesayangan ibuu….srooooks…” sambil tersedu Bulan memanggilnya.
“Sekarang kesayangan ibu jangan menangis…. Kasian Ibu pasti khawatir lihat Bapak…” Bulan melamun, pantas saja tadi ia mimpi tentang ibu yang cemas saat memasak… rupanya ia sedang memikirkan Bapak.
“Benny harus bisa menemani Bapak yaaaah…. Buat air doa kemudian usapkan ke muka Bapak sambil dibacakan doa….”
“Ade harus tenang…. sekarang teteh transfer uang buat rumah sakit...sroooks…. Ade harus langsung ke administrasi rumah sakit supaya bapak bisa mendapatkan kamar perawatan” suara Bulan terdengar berusaha tenang.
“Yaaah tarik nafas jangan nangis…. Minum supaya tenang… gak akan apa-apa… Bapak cuma tidur ituuu...kan katanya kmarin kurang tidur...srooookss…” Bulan mencoba menenangkan hatinya dan juga Benny.
“Sekarang teteh mau transfer uang yaaa.. Hp teteh bagian chargernya rusak.. Nanti teteh betulin dulu”
“Ade sekarang minum makan dulu kalau Bapaknya masih sadar… sroooks… jangan sampai ade sakit… nanti teteh ghaak ada temeeen”
“Udah theeeteh thuthup dulu…”
“Assalamualaikum”.... Bulan mematikan hp, sesekali mengambil nafas sambil tersedu. Diambilnya hp nya yang mati, tangannya terlihat gemetar.
“Fhi… punya colokan charger type C gak…” dengan mata penuh linangan air mata Bulan menatap Afi yang diam terpaku melihatnya.
“Gak aku kan pake iphone kamu juga tau…” Bulan menghela nafas, sulit baginya untuk melakukan panggilan telepon saat hp nya mati.
“Akhuuu musti transfer uang… hpku matiiii…. Aghhhhhh haaaaaa” Bulan menangis tersedu, pikirannya jadi kalut kembali.
“Aku transfer…. Jangan nangis … kamu tuh kaya sama siapa” Afi langsung meraih handphonenya yang di tangan Bulan..tapi kemudian dia berhenti dan terlihat bingung.
“Ehh… aku lupa kemarin uang yang ditabungan aku habiskan untuk bayar DP inden mobil” dia langsung tersenyum kecut, karena mobil Nico sering mogok kemarin menjelang pernikahan mereka sepakat untuk membayar uang muka mobil baru.
“Ambil dari tabungan Kaka… paswordnya sama dengan pasword masuk hp” Bulan tergagap, diserahkannya handphone Juno kepada Afi.
Afi langsung mengeksekusi begitu membuka mobile banking Juno, ia langsung menjerit:
“Owwwwoow tabungan kaka banyak bangetttt….” mata Afi melotot melihat jumlah tabungan Juno.
“Kamuuuuu tuhhh…. Cepetan transfer ke rekening Benny” Juno menggelengkan kepalanya, selama ini tidak ada yang tahu kalau dia selalu menabungkan semua penghasilannya dengan baik.
“Bul… rekening Benny berapa?” Bulan tergagap, ia lupa selama ini semuanya dilakukan otomatis.
“Aaaaku gak hapal… sbentar aku telepon dulu ade”
Akhirnya urusan pembayaran biaya rumah sakit bisa diselesaikan dengan cepat. Bulan menghela nafas lega… sebetulnya ia tadi bingung karena di tabungannya bahkan kurang dari lima juta.. Ada untungnya handphone nya mati sehingga semua bisa dihandle dulu oleh Juno.
Sepanjang perjalanan suasana kembali hening, Bulan melihat Mama Nisa tertidur di depan, begitu juga dengan Afi yang tidur dengan lelap di kursi yang di rebahkan ke belakang. Melihat Juno yang menyetir sambil sesekali menguap membuatnya merasa bersalah.
“Maafin Bulan...Ka Juno jadi gak tidur lagi sekarang…” ucapnya pelan sambil tersenyum sedih.
“Gak apa-apa… tadi sepulang dari nonton aku langsung tidur untungnya… dibangunin sama Afi jam 9… jadi sekarang lumayan segar”
“Kamu tidur aja sekarang … nanti aku bangunkan… sampai disana kamu bakalan gak akan bisa tidur” suara Juno terdengar tegas.
“Gak apa-apa aku temanin Kak Juno aja nyetir… udah gak ngantuk aku juga tadi tidur dari jam 8” dengan kondisi sekarang ia sudah tidak akan bisa memejamkan mata, dipandangnya laki-laki yang didepan itu, hanya dalam hitungan jam ia merasa ada yang berubah dari cara pandang terhadapnya.
Bulan menarik nafas, ia harus menyiapkan mental, dua jam kedepan ia harus siap menghadapi kenyataan terburuk tentang Bapak.. Pantas saja tadi ibu datang dalam mimpinya terlihat khawatir melihat kearahnya tapi bukan pada dirinya. Ibu mengkhawatirkan bapak rupanya… Bapak… jangan tinggalkan aku dan Benny… kita cuma berdua… dalam keheningan malam air mata Bulan kembali mengalir.
__ADS_1