
Sebagai pasangan anak kost tinggal bersama Bulan harus menyesuaikan diri dengan kehadiran Juno, dimulai dengan acara menyiapkan perlengkapan untuk ke Surabaya. Entah apa penyebabnya kalau di rumah Juno selalu menyiapkan sendiri, tapi saat di kost-an ia memilih tiduran dan tidak ambil pusing soal keberangkatannya esok hari.
Menyiapkan baju selama di Surabaya membuatnya harus mengobrak abrik koper Juno dan sampai pada kesimpulan kalau Juno ternyata tidak membawa pakaian dalam sama sekali.
“Atuh kalau mau kabur tuh direncanakan dengan baik, bawa pakaian yang lengkap. Kemeja, kaos, celana kerja, celana santai, pakaian dalam, alat mandi” Bulan ngomel-ngomel melihat isi koper Juno
“Gimana mau konsen ada yang nangis mulu di kamar, bikin aku pusing” gerutu Juno
“Aisshhh siapa juga yang nangis?!”
“Jangan suka nyari kambing hitam kalau sendiri gampang emosian!”
“Tau gak A.. orang emosian itu suka ke block otaknya gak bisa berpikir panjang”
“Makanya jangan suka marah-marah ntar cepet pikun”
Berdebat menjadi aktivitas rutin Bulan dengan Juno, sampai akhirnya Juno memilih untuk keluar dari kamar dan bergabung dengan Mas Arif yang sedang teraniaya karena buburnya dianggap terlalu manis oleh Mbak Yanti.
Entah apa yang dibicarakan oleh mereka berdua, karena semenjak Bulan pergi ke IndoMei untuk membeli pakaian dalam sampai ia pulang, mereka berdua masih asyik saja mengobrol berdua dengan ditemani oleh kepulan asap rokok.
Menarik sebetulnya melihat mereka berdua. Mas Arif dengan badannya yang kurus memakai kaos dengan ukuran kebesaran dan sarung sedangkan Juno memakai kaos berwarna hijau yang menempel ketat dan celana training yang kependekan. Benar-benar pasangan yang serasi.
Saat Juno masuk ke kamar saat Maghrib semua perlengkapan untuk ke Surabaya sudah selesai Bulan siapkan.
“Cek dulu A… bisi ada yang kurang” Bulan menyimpan lipatan yang terakhir sajadah dan sarung. Untung saja dia membawa sarung cadangan yang suka dipakai Bapak dan Benny kalau menengok ke Jakarta sehingga bisa dipakai Juno.
“Hmmm…” bukannya memeriksa malah berbaring di tempat tidur.
“Eh… malah rebahan, kalau nanti ada yang kurang jangan nyalahin aku!” akhirnya Bulan menutup koper yang akan dibawa Juno, yang terpenting kewajibannya sudah ia tunaikan soal hasilnya dipakai atau tidak baru bisa diketahui saat suaminya sudah berangkat pergi.
Malam itu akhirnya mereka habiskan untuk mengerjakan pekerjaan kantor. Baru jam 9 malam tiba-tiba saja Juno menggoyang-goyangkan kakinya yang sudah memakai kaos kaki Bugs Bunny tokoh kartun kesukaannya.
“Laper… kita keluar beli makanan” Juno menatapnya dengan penuh harap.
“Hmm jam 9, masa malem-malem makan, bentar lagi mau tidur nanti gemuk” Bulan menatap Juno dengan malas.
“Aku gak tau di daerah sini yang jualan makanan yang enak yang mana” Juno sudah memakai jaket terlihat lebih laki-laki, dengan malas Bulan turun dari tempat tidur, memakai jaket dan beranjak menuju pintu.
“Itu ganti celananya, jangan pakai celana rumahan”. Juno menunjuk celana piyama yang dipakainya. Bulan menatap baju piyamanya, celana katun dan kaos yang nyaman dipakainya.
“Kenapa emang? Bagus kok!” Bulan mengerutkan dahi.
“Bukan soal bagus atau tidaknya, tapi soal kepantasan, orang melihat kamu jalan-jalan pake piyama kaya yang ngajak tidur” ucapnya ketus.
“Itu Aa.. pake celana olahraga kaya yang ngajak olahraga malem-malem… ganti juga atuh...hehhe” Bulan menunjuk celana training yang dipakai Juno.
Juno langsung melotot kesal,
“Ampun… iya aku segera ganti… ih ampun punya suami teh gede ambek (pemarah)!” Bulan mengambil celana santai dari lemari. Hampir saja ia berganti di depan lemari, baru sadar ada Juno di dalam kamar, ia langsung berlari ke kamar mandi.
“Astagfirullah… hampir aja, bisa-bisa ada yang minta vitamin lagi ini mah” gerutunya. Juno tersenyum senang melihatnya, ternyata menikah dengan perempuan ini membuatnya keluar dari zona nyaman yang selama ini dimilikinya.
Sepanjang jalan begitu keluar dari kost-an mereka berjalan perlahan, udara Jakarta kalau lewat jam sembilan malam walaupun masih terasa panas tapi terasa lebih sejuk karena lembab.
“Mau makan apa? Disini yang enak pecel lele, disebelah sana ada restoran Jawa yang terkenal. Banyak yang suka makan disana, tapi aku belum pernah, kalau aku cek harganya lumayan mahal” Bulan tersenyum kecut.
“Paling beda sepuluh ribu atau lima belas ribu dengan makanan di warung biasa” jelas Juno.
“Ehh jangan salah… kalau setiap hari kita bisa menghemat sepuluh ribu maka dalam satu bulan kita bisa menghemat tiga ratus ribu rupiah”
“Tiga ratus ribu itu kalau dikonversi ke harga beras sama dengan bisa memberikan 25 kg beras atau satu karung kecil pada kaum duafa”
“Tiga ratus ribu itu sama dengan jatah dua bulan busway aku”
“Tiga ratus ribu itu sama dengan jatah sepuluh kali makan siang aku”
“Apa kamu sekali makan siang cuma tiga puluh ribu?” Juno melongo heran.
“Heheheh iya hemat, kadang bekal supaya gak usah beli makan siang” Bulan tersenyum senang. Ia paling senang kalau berhasil menghemat uang.
“Berhemat sih pintar tapi investasi seenaknya saja tidak pakai perhitungan” gerutu Juno, Bulan langsung cemberut mendengarnya. Pasti membicarakan soal investasi saham yang ia lakukan dengan Anjar.
“Aku tuh berhitung, kalau aja Anjar ngikutin planning awal gak akan sampai rugi” keluh Bulan, mukanya langsung keruh.
“Ya sudahlah… gak usah dipikirin. Aku mau makan, gak bisa tidur kalau belum diisi perutnya” Ia berbelok ke restoran Jawa yang disebut mahal oleh Bulan.
“Aku ditraktir yah tapinya, jangan bayar sendiri” bisik Bulan pada Juno sambil masuk mencari tempat duduk, di dalam ruangan ada beberapa pasangan yang duduk menikmati hidangan.
“Boleh tapi bayar pakai vitamin lagi” Juno tersenyum senang.
“Vitamin wae… overdosis lagi ntar” gerutu Bulan, duduk memilih posisi di pinggir jendela.
“Kamu memangnya kalau makan sama orang lain selalu bayar sendiri?”
“Iyalah jangan suka dibiasakan minta ditraktir meskipun sama laki-laki.”
“Belum tentu dia punya uang, sama-sama kerja yah betsu-betsu” jelas Bulan.
“Apa itu betsu-betsu” Juno mengerutkan dahi.
“Bahasa Jepang-nya BM bayar masing-masing” jelas Bulan.
“Di Jepang budaya itu sudah biasa betsu-betsu. Perempuan Jepang itu mandiri tidak mengandalkan kaum pria. Mereka menganggap kalau di traktir itu kaya hutang”
“Untuk mereka berhutang itu harus dibayar suatu saat padahal cuma dibeliin minuman di veding machine mereka gak akan mau” Bulan menggelengkan kepala, saat mengingat artikel yang dibacanya tentang budaya di Jepang.
“Hebat yah mereka… coba bandingkan sama di kita, kita yang ngutangin sama teman pas kita nagih ehhhh kita dimaki-maki gak punya perasaaan lah, terlalu perhitungan lah ...nyebelin… makanya aku males kalau ada teman pinjam uang”
“Aku tuh mendingan gini aja.. Dia pinjam uang nih satu juta, kecuali kalau kita kenal betul sama orangnya dan amanah bisa dikasih pinjamlah satu juta gak masalah”
“Tapi kalau orangnya jarang ketemuan, gak deket-deket banget trus ngontak kita mau pinjam uang, dijamin deh bakalan susah ngebalikinnya”
“Kalau kaya gitu aku ngasih seridho-nya aku aja”
__ADS_1
“Dia pinjam satu juta biasanya aku kasih lima persennya atau sekitar lima puluh ribuan lah”
“Anggap aja sedekah membantu orang yang lagi kesulitan”
“Tapi gak aku anggap pinjaman aku bilangin sama orangnya kalau ini bukan hutang tapi bantuan ala kadarnya”
“Kalau pinjamnya sepuluh juta gimana lima persen juga?” tanya Juno sambil tersenyum.
“Oh berlaku hukum semakin tinggi pinjaman semakin kecil persentasenya”
“Yah gak bisa disamain dong masa yang pinjam sepuluh juta sama yang satu juta” Bulan melengos kesal.
“Kamu benar-benar anak keuangan yah, ngitung banget sampai mendetail” puji Juno sambil menggelengkan kepalanya.
“Itu hal yang penting dikuasai perempuan sering dinamakan literasi keuangan”
“Apa lagi ini literasi keuangan, udah pesan makan dulu” Juno kemudian memesan makan, Rawon dan jeruk hangat.
“Nasinya satu aja Mas… saya gak pakai nasi” jelas Bulan, Juno langsung tersenyum.
“Ya satu saja soalnya kita mau betsu-betsu Mas” jelas Juno, Bulan langsung melotot.
“Betsu-betsu cuma berlaku sama teman atau pacar tapi kalau sama istri gak bisa betsu-betsu dong,” protesnya kesal.
“Kalau dibayarin nanti berhutang dong sama aku, yah gak apa-apa nanti dibayar pakai vitamin aja lagi” ejek Juno dengan senang.
“Ihhh… nyebelin!”
“Perasaan si Afi kalau nyeritain Aa gak suka nyebelin kaya gini” ucap Bulan kesal.
“Si Afi mah gak enak digangguinnya, hobinya ngadu sama Mama” Juno menyesap jeruk hangat, ada rasa rindu pada adiknya yang manja.
“Udah telepon Mama?” tanya Bulan, Juno mengangguk.
“Trus Mama bilang apa kalau Aa ada di kost-an aku?”
“Iya… bagus kata Mama jadi gak khawatir”
Bulan tersenyum mendengarnya, ia merasa sedih kalau akibat kehadirannya, Mama Nisa jadi harus berpisah dengan anak laki-laki kesayangannya.
“Maaf yah A… gara-gara aku dulu nyanyi sama Anjar jadinya Papa Bhanu gak suka sama aku”
“Terus terang aku dulu nyanyi di panggung sama dia bukan soal dibayar sama saham”
“Aku kasian aja sama Anjar, kaya yang malu gak punya teman perempuan sedangkan temannya udah pada menikah semua”
“Lagian kan dulu kita udah putus, yah aku pikir kenapa enggak”
“Toh hanya sekedar nyanyi bareng”
“Tapi kenapa orang-orang jadi berpikir kalau aku pacaran sama dia” Bulan mengeluh.
“Sebetulnya kamu sama dia ada perasaan yang lebih kan?” Juno menatap Bulan lekat, yang ditatap memandang Juno dengan termangu.
“Kalau ditanya itu jawab dulu, jangan mengalihkan pertanyaan”
Bulan tersenyum kecut, ternyata upayanya untuk menghindar ketahuan.
“Hehehe… tau aja Abang” jawabnya sambil meminum jeruk hangatnya dengan segera dan memandang keluar.
“Kamu tuh gayanya kaya yang naif sebenernya kamu tuh player juga”
“Weiiis aku disebut player darimana tuduhan itu berasal, punya tunangan juga putus gegara belum mupon dari sang mantan” jawab Bulan cepat.
“Gaya kamu… dekat tapi tidak mengikat, itu gaya perempuan player”.
“Kalau kamu perlu kamu akan mencari dia, tapi begitu diminta kepastian kamu akan bilang kita hanya berteman” cetus Juno menatap Bulan tajam.
Bulan terdiam dan berpikir.
“Big No… aku sama dia memang dekat, kita punya chemistry yang sama, bisa saling mem-backup, jadi kaya sahabat sejati gitu… kita gak ada kontak fisik, kalau player mungkin mereka suka main fisik yah”
“Yah seneng aja punya teman kaya Anjar, baik… nolongin aku banyak dia tuh A”
“Suka bikin aku ketawa waktu aku gak punya semangat”
“Jangan marah sama dia… dia itu kaya teman yang ditinggalkan” Bulan menunduk sedih.
“Kamu nya saja yang menganggap teman, dia sih menganggapnya lebih” jawab Juno sambil terus makan dengan lahap.
“Gak usah pasang tampang sedih gitu sama laki-laki lain”
“Ini makan yang banyak nasinya kita bagi dua… nanti ada laki-laki lain yang ngomong kamu menderita hidup sama aku lagi!” Juno menyendokan banyak nasi ke dalam kuah rawon Bulan
“Aa mah orangnya baperan, padahal kalau ketemu sama mantan masih suka emosi” Bulan memandang Juno dengan kesal.
“Ok… jadi makan kali ini kita membahas para mantan … boleh harus dibuat clear yah supaya tidak ada prasangka” Juno menyimpan piring bekas makannya ke samping. Rupanya ia benar-benar lapar, dalam sekejap satu mangkok rawon plus nasi sudah dihabiskan. Walaupun sebagian nasi sudah ia pindahkan ke piring Bulan.
“Aku sama Inge tidak pernah melakukan kontak setelah dia menikah”
“Buatku setelah dia menikah, semua urusanku dengan dia sudah selesai”
“Bertahun-tahun aku tidak pernah bertemu dengan dia sama sekali”
“Aku ketemu waktu di kantormu saja dulu”
“Aku baru tahu kalau suaminya itu adalah atasan kamu saat kamu cerita dulu, tapi tidak menyangka akan bertemu dia saat itu”
“Terus terang aku tidak tahu harus bersikap bagaimana kalau bertemu dia lagi”
“Makanya aku memilih menghindar” Juno menarik napas panjang”
“Mungkin masih ada perasaan cinta jadinya bingung mesti gimana” jawab Bulan dengan cemberut.
__ADS_1
“Wajarlah kalau ada perasaan sih, aku kan manusia, punya rasa punya hati. Perasaan antara sesama manusia itu kan tidak selalu berarti cinta, sayang, tapi marah, benci, sedih dan senang itu perasaan” jelas Juno.
“Jadi jangan menganggap kalau aku bertemu dengan Inge terus dianggap masih cinta”
“Perasaan cinta itu harus dipelihara supaya tetap ada, aku kan tidak pernah bertemu dengan dia mana bisa merasa cinta”
“Terus kenapa Aa selama bertahun-tahun gak pernah punya pacar?”
“Kenapa masih nungguin dia putus sama Pak Kevin?” balas Bulan.
“Aishhh itu mulut kamu… selalu saja bicara seenaknya!” Juno menatap Bulan dengan kesal,
“Kalau kita pernah dikecewakan, kita akan merasa marah bukan hanya pada orang yang mengecewakan kita, tapi kita membangun sistem pertahan diri di dalam diriku untuk tidak lagi mengalami hal yang sama”.
“Kita menolak untuk semua hal yang menurut kita akan membawa kita pada pengalaman yang sama”.
“Hampir semua perempuan yang aku kenal, punya sikap yang sama seperti Inge, cantik, super, terlihat sempurna”.
“Semua laki-laki dijamin akan menyukainya, tapi buat aku itu seperti akan membawa aku ke jurang yang sama”.
“Terus kenapa Aa suka sama aku?Artinya aku jelek yah, gak menarik, gak supel?” Bulan melotot kesal.
“Iya kamu tuh menyebalkan, suka menangis, ga bisa diatur dan keras kepala”
“Tapi buat aku yang penting dari kamu tuh dadanya besar dan bibirnya tebal….hahahaha” Juno tertawa senang, Bulan menatapnya kesal. Diambilnya dompet dan berdiri dari tempat duduknya, dadanya terasa sesak.
“Gak lucu…” ucapnya sambil beranjak pergi meninggalkan meja.
“Ehhh hehehe kok ngambek …. Heeei aku belum selesai ngomongnya” teriak Juno.
Bulan tidak peduli, hatinya tiba-tiba sesak disebut berbeda dari para perempuan yang tampak sempurna sama saja dengan menyebutnya jelek dan tidak menarik sebagai perempuan. Belum lagi disebut keras kepala, kalau seperti itu mengapa mau menikah dengannya. Bulan berjalan cepat menuju kost-an, dadanya semakin sesak, air mata sudah menggenang di matanya.
“Hei...hei… aduh kamu tuh sensitif banget sih” Juno berlari dan menyusulnya, ditariknya tangan Bulan tapi ia tetap tidak mau mengurangi kecepatan.
“Muney… aku kan belum selesai bicaranya” dirangkulnya Bulan dari belakang. Bulan menepiskan tangan Juno, tapi tetap saja merangkulnya lagi, akhirnya ia tidak peduli selama masih bisa berjalan dan tidak mau melihatnya.
“Muneey… kamu tuh berbeda dengan perempuan-perempuan kebanyakan”.
“Kamu itu perempuan yang mandiri, sayang sama keluarga, sayang sama Mama dan Afi”
“Kamu tau gak… dulu aku suka penasaran sama perempuan yang membuat Afi begitu tergantung” Juno berjalan lambat sehingga Bulan terpaksa harus melambatkan jalannya karena dipeluk bahunya oleh Juno.
“Aku diam-diam suka ngeliatin kamu kalau kamu main ke rumah” Juno tersenyum mengingat saat Bulan masih kuliah dulu.
“Kamu tuh suka diem-diem ngeliatin aku kan...hehehe tahu gak kadang-kadang aku suka sengaja bulak-balik biar bisa ngeliat kamu?”
“Aku tuh suka pengen ketawa kalau kamu pas ketahuan lagi ngeliatin terus salting...hahahaha lucu banget”
“Kamu tuh dulu polos banget yah… gak galak kaya sekarang”
“Siapa juga yang suka ngeliatin Aa? Geer aja itu mah Aa-nya!” Bulan menghapus air mata yang mengalir di pipinya.
“Eheheheh sampai nangis gitu...tuh kan cengeng… disebut cengeng gak ngaku”
“Kamu mau tau apa yang bikin aku semakin yakin untuk menikah sama kamu selain karena dekat sama Mama dan Afi?” tanya Juno.
“Gak mau tau!” jawab Bulan ketus.
“Gak apa-apa kalau gak mau tau, aku kasih tau aja” ucap Juno, sambil menarik napas dan berjalan pelan. Sudah jam sepuluh lebih suasana lebih tenang dan udara semakin sejuk. Ia terus berjalan sambil merasakan betapa nyamannya berjalan seperti ini. Ternyata bukan kendaraan yang membuat orang merasa nyaman untuk berpindah tempat, tapi dengan siapa dia pergi bersama.
“Apa atuh meni lama ngomongnya?!” Bulan menjadi kesal karena Juno diam saja tidak bicara.
“Ehehehehe nungguin toh katanya gak mau tau...hahahahha” Juno tertawa senang, tapi langsung terhenti saat dirasakan ada cubitan diperut.
“Awwww…. Iya-iya aku bilangan… lepasin dulu cubitannya” Juno menggosok-gosok perutnya yang dicubit Bulan, terasa panas menyengat, ia harus olahraga supaya otot perutnya kencang tidak bisa dicubit lagi oleh istrinya.
“Muneey… satu hal yang paling membedakan kamu dengan perempuan yang pernah aku kenal, she who not has be name… “ Juno tersenyum, Bulan melirik kesal seperti Valdemort saja gak boleh sebut nama.
“Kamu selalu bisa membuat aku tertawa… kamu bisa membuat aku lupa sama masalah yang aku hadapi… kamu bikin aku tenang”
“Kalau dulu, aku yang harus melakukan itu pada dia… kadang aku merasa lelah… selalu harus menghibur di saat dia merasa kecewa akan semua ambisinya yang tidak tercapai… aku harus selalu membereskan semua masalahnya… aku harus selalu menenangkan dia disaat dia gelisah”
“Itu sebetulnya yang membuat kami dulu akhirnya saling menjauh…. Karena aku mulai merasa lelah harus selalu menjadi orang yang mengalah, harus selalu mengerti.”
“Di saat aku butuh orang untuk membantu aku… dia tidak bisa mengerti… akhirnya kita sering bertengkar”.
“Daripada bertengkar akhirnya aku menghindar…itu terjadi saat aku harus menyelesaikan tugas akhir”
“Sampai akhirnya kita putus dengan menyimpan banyak masalah yang tidak pernah kita selesaikan” Juno menarik napas panjang
Ia seperti merasa lega sudah bisa menceritakan semua beban perasaan yang selama ini ia simpan.
Bulan terdiam, ia baru tahu ternyata permasalahan yang dihadapi oleh Juno dan Inneke seperti itu awalnya hingga akhirnya mereka berpisah.
“Muneey jangan pernah menyimpan kekecewaan dalam hati… lebih baik kamu ungkapkan” sambung Juno sambil menatapnya dalam.
Bulan tersenyum dan mengangguk, ternyata dengan buka-bukaan seperti ini mereka bisa lebih saling mengerti,
###########################
Kerja Rodi Part 3
Hayooo otaknya udah pada traveling liat judulnya.... wkwkwkwkwkwkk dasar otak ber-experience tuh kaya gitu.
Saya masih melakukan perjuangan kerja rodi malam ini terakhir. Doakan bisa mencapai target, tapi kalau kelewat ya tak apa, namanya juga manusia wajib berusaha... karena Noveltoon nanti yang memutuskan hahahahah.
Terima kasih atas kiriman hadiah kopi dan bunganya, saya tadi bisa kerja menyelesaikan tugas dunia nyata dan masih punya energi untuk dunia halusinasi. Untuk malam ini saya pesan ice americano dan latte saja... kita begadang ramai-ramai... wish me luck
Big hug, sehat selalu semuanya yah...
ShAnti
__ADS_1
Relawan Kerja Rodi untuk Emak-emak Bahagia