
"Kenapa kau memukulku?" Athar mengusap punggungnya menggunakan tangannya
Sementara itu, Kenanga terlihat memundurkan langkahnya, dirinya terkejut melihat pria di hadapannya ini ternyata bukanlah Galih, melainkan pria asing namun serasa Kenanga pernah mengenalnya.
"Hallo?" Athar mengibaskan telapak tangannya tepat di depan wajah Kenanga yang terdiam mematung di hadapannya
"Eh..." Kenanga terbangun dari lamunannya, kemudian kembali memasang wajah kesal di depan Athar
"Apa kau yang sudah mengganti pakaianku?" tanya Kenanga penuh penekanan
"Hm iya.." jawab Athar santai dan kembali melanjutkan membuat omlet telur
"Kenapa kau menggantinya? kau sungguh tidak sopan" sembur Kenanga
"Pakaianmu tidak layak pakai, kekurangan bahan di tambah kotor terkena lumpur, apa iya aku harus membiarkanmu tidur dengan pakaian basah?" Athar mematikan kompor dan langsung membalikkan badannya, kini kedua matanya menatap Kenanga yang tengah memasang wajah kesal terhadapnya
"Ya tapi tidak seharusnya kau mengganti pakaianku, kau ini..." Kenanga menggertakkan giginya menahan rasa kesal yang membuncah, bagaimana mungkin ada pria asing yang melihat tubuhnya
"Jadi kau mau apa?" Athar mengangkat sebelah alisnya
"Aku bertanggung jawab?" imbuhnya
"Baiklah" lanjutnya
Jawaban Athar membuat Kenanga begitu terkejut bahkan matanya terlihat membola seakan hendak keluar dari tempatnya. Pria di hadapnya ini sungguh to the point sekali.
"Ti-tidak" jawab Kenanga tergagap "Sudahlah, aku tidak mau berdebat denganmu" Kenanga memutar badannya dan hendak berlalu pergi dari rumah Athar
"Kau mau kemana? Lebih baik kau sarapan dulu"
__ADS_1
"Tidak perlu" Kenanga tak memperdulikan perkataan Athar dan tetap melangkahkan kakinya
"Kau mau pulang dengan pakaian tidur kebesaran seperti itu? Kau tidak takut ibu Anesa terkejut dan kembali masuk rumah sakit?"
Kali ini perkataan Athar ampuh membuat langkah kaki Kenanga terhenti, bagaimana mungkin pria asing di hadapannya ini mengenal mamanya? bahkan tau nama mamanya dan mengetahui kalau mama memang memiliki riwayat penyakit jantung?
"Sebenarnya kau ini siapa?" Kenanga membalikkan badannya menatap sengit Athar yang berdiri dengan tenang di hadapannya
Athar menghela nafasnya, ternyata Kenanga benar-benar melupakannya, berbeda dengan dirinya yang malah terus mengingat kebersamaan mereka yang hanya terjadi sesaat kala itu.
"Pasar malam.." Ucap Athar
Kenanga semakin mengerutkan keningnya, apa hubungannya pria ini dengan pasar malam, sungguh Kenanga di buat pusing. Sementara Athar melihat kerutan kening di dahi Kenanga membuat Athar yakin Kenanga belum mengingat dirinya
"Jepit rambut? Lembang" imbuh Athar
Kenanga mengedipkan matanya beberapa kali saat pria di hadapannya ini mengatakan jepit rambut, dengan seksama Kenanga mengamati wajah Athar, apa benar pria di hadapannya ini adalah dokter Athar yang dulu menolongnya? penampilannya sungguh berbeda, model rambut, gaya berpakaian serta kacamata berbingkai emas yang menghiasi kedua matanya membuat Kenanga pangling
Namun jawaban Kenanga membuat senyuman di bibir Athar terbit, akhirnya Kenanga bisa mengingatnya, sungguh Athar sangat senang saat ini. Usahanya tidak sia-sia.
"Benar? Benar kau ini dokter Athar?" tanya Kenanga dan mendapat anggukan kepala dari Athar
"Astaga dokter, kenapa kau tidak bilang sedari awal?" Kenanga mengulas senyuman di bibirnya, sudah sekian lama dirinya tidak bertemu dengan dokter yang telah membantunya beberapa tahun lalu, bahkan kali ini Athar lagi dan lagi menolong dirinya dari kelakuan bejad Galih yang hendak memperkosanya.
"Isilah perutmu dulu" Athar membawa dua piring berisi omlet telur di tangannya dan meletakkannya di atas meja makan
Kenanga yang awalnya merasa takut dan kesal juga kini menjadi lebih tenang bahkan tak bisa di pungkiri kalau perutnya saat ini juga terasa sangat lapar, tak menunggu perkataan Athar yang kedua kalinya, Kenanga terlihat langsung berjalan menghampiri meja makan dan duduk di salah satu kursi.
"Makanlah" ucap Athar yang sudah lebih dulu memulai sarapan paginya
__ADS_1
"Dimana istri dokter?" tanya Kenanga sambil menuangkan air minum ke dalam gelas
"Kalau aku memiliki istri aku tidak mungkin akan bertanggung jawab padamu"
"Uhuk..uhuk" Kenanga tersedak air minum yang baru saja membasahi kerongkongannya
"Tidak perlu dokter, maafkan atas sikap tidak sopanku baru saja. Aku tau dokter orang baik, lagi pula dokter juga pasti sudah sering melihat tubuh pasien bukan" Kenanga tersenyum kikuk
Athar terdiam, kedua matanya menatap Kenanga dengan sorot yang sulit di artikan oleh Kenanga. Melihat milik pasien adalah salah satu bagian dari profesinya, tapi melihat tubuh Kenanga wanita yang sudah di kagumi sekian lama sungguh membuat dirinya merasa panas, bahkan Athar harus rela mandi air dingin tengah malam untuk meredakan hawa panas yang membakar sekujur tubuhnya.
Sementara Kenanga terlihat kembali mengulas senyuman yang begitu kaku saat mendapati tatapan dari Athar yang sulit di artikan olehnya. Suasana menjadi hening, tidak ada obrolan lagi di antara mereka, dan keduanya lebih memilih untuk menghabiskan sarapan masing-masing.
"Oh, jadi dokter Athar masih lajang" tiba-tiba kata-kata itu terlintas di dalam kepalanya
"Karir sudah mapan, wajah juga tampan, mengapa dokter Athar masih belum menikah?" lagi dan lagi pertanyaan di dalam otaknya tak bisa Kenanga jawab.
"Apa kabar?" tanya Athar setelah menyeka bibirnya menggunakan tisu
"Baik. Bagaimana dengan dokter?"
"Baik.."
"Oh iya, apa dokter masih bekerja di rumah sakit yang dulu?" tanya Kenanga
"Begitulah" jawab Athar membawa piring kosong bekas sarapan untuk di cuci
Kenanga yang mengetahui Athar berjalan mendekat ke arah tempat pencuci piring langsung ikut beranjak berdiri dengan membawa piring kosong di tangannya.
"Dokter, biar aku saja" Kenanga menarik lengan tangan Athar membuat langkah kaki Athar terhenti
__ADS_1
Athar membalikkan badannya, kedua matanya untuk kesekian kalinya menatap ke arah Kenanga, ada getaran yang tak bisa Athar jelaskan setiap kali kedua manik matanya menatap wajah Kenanga. Wanita di hadapannya ini sungguh memberikan kesan mendalam untuknya.