
Ketika dulu aku kau hancurkan..
Tapi pada nyatanya aku masih berdiri menanti dengan setia..
Saat dulu diriku kau buat terluka..
Tapi aku masih bertahan tanpa tahu alasannya
Diriku tak lagi sama..
Tapi hatiku masih sama, masih mencintaimu dengan bodohnya
Luka ...
Luka...
__ADS_1
Luka yang kau torehkan, mungkin tak terlihat..
Tak memiliki bekas..
Tapi rasa dengan penuh luka aku tak tahu bagaimana cara menghapusnya..
Mama Anesa menutup pintu ruang rawat tempat dimana kini kenanga sedang berisitirahat. Tanpa di duga Athar masih duduk di barisan kursi tunggi yang terletak di depan pintu kamar Kenanga. Pria itu lekas berdiri tatkala mendengar pintu kembali tertutup. Senyum di bibirnya selalu tersaji begitu manis, sejak dulu hingga setelah beberapa tahun berlalu senyuman itu masih membuat Anesa merasa kagum. Kedua mata Anesa yang kini mulai tidak jelas untuk melihat indahnya dunia, tapi pada nyatanya Anesa masih bisa melihat dengan jelas betapa pria di hadapannya begitu memancarkan ketulusan dari kedua bola matanya, meski kejadian pahit telah menimpanya di masa lampau, entah mengapa takdir begitu mempermainkannya serta putrinya, jika saja pernikahan itu tidak gagal mungkin saat ini Kenanga sudah hidup bahagia bersama Athar, atau bahkan Anesa kini sudah mendapatkan bonus cucu dari keduanya. Sayangnya takdir telah menuliskan jalannya yang berbeda, hingga kini Kenanga malah terbaring tak berdaya di dalam sana dengan menyimpan sejuta kesedihan tentunya.
"Nak Athar masih disini??"
"Jangan panggil nyonya, panggil saja Bu" Anesa menepuk pundak Athar perlahan dan membalas senyuman Athar dengan ramah.
"Oh iya, saya mau ke kantin membeli makanan, nak Athar bisa tolong gantikan saya menjaga Kenanga seventar??" Kedua manik mata Anesa menatap Athar dengan tatapan bertanya
"Ya tapi kalau nak Athar tidak sibuk" Sambungnya.
__ADS_1
"Tentu saja bisa Bu" Athar langsung menjawab dengan antusias
Tak ada jawaban dari bibir Anesa, beliau hanya tersenyum lalu meninggalkan Athar yang masih berdiri di tempatnya. Sepeninggal Anesa, Athar bergegas masuk ke dalam ruang rawat Kenanga. Kedua manik matanya melihat Kenanga yang masih memejamkan matanya, beberapa alat bantu kesehatan menempel di tubuh gadis itu. Perasaan Athar kembali terkoyak, Mengapa kondisi Kenanga bisa seburuk sekarang? bukankah beberapa tahun silam kondisinya baik-baik saja?? begitu banyak pertanyaan berkecamuk di dalam benak Athar. Dengan langkah perlahan Athar mendekati ranjang Kenanga, tangannya menarik kursi lantas dirinya duduk diam di kursi yang terdapat tepat di samping tempat tidur Kenanga.
"Hai..." Sapa Athar lirih, hatinya begitu sakit melihat kondisi Kenanga
"Hai Kenanga, aku harap keadaanmu kembali membaik, aku berharap pula bisa kembali dekat meski hanya sebagai teman, jikalau tak bisa menjadi teman aku tak masalah dekat hanya sebatas dokter dan pasien, apapun itu Kenanga asalkan aku bisa dekat denganmu aku akan senang menerimanya" sambungnya dengan perasaan yang kembali hancur. Andaikan Kenanga tau betapa sulitnya Athar hidup beberapa taun ini. Kenanga yang masih dalam keadaan tak sadar tak terasa kedua sudut matanya meneteskan air mata.
"Are you oke?" Athar segera meraih tangan Kenanga dan menggenggamnya.
"Aku baik Kenanga, jangan meneteskan air mata untukku. Aku tak akan rela" Kenanga mengusap air mata Kenanga dan berusaha tersenyum, Athar sadar betul meskipun Kenangan masih belum sadarkan diri tapi pikiran alam sadar Kenanga tentu bisa mendengar apa yang Athar bicarakan padanya.
"Semua yang sudah terjadi di masa lalu jangan di ingat, aku hidup baik-baik saja, hanya saja kamu belum tergantikan di hatiku. Jadi aku mohon kamu mengerti untuk yang satu ini. Aku janji perasaanku ini tak akan menganggu kehidupanmu, ataupun rumah tanggamu. aku hanya berharap kamu selalu bahagia" Athar memaksa senyum dan mencoba berbicara dengan nada yang setegar mungkin.
Athar melepaskan tangan Kenanga, dan perlahan menjauh dari ranjang Kenanga. Kedua manik matanya menatap Kenanga dengan seksama. Kakinya membawa tubuh Athar menjauh meski sebenarnya Athar masih ingin berada di samping Kenanga. Tapi Athar mengerti posisinya saat ini. Bila tiba-tiba Riko datang, tentu saja itu bukan hal baik untuk hubungan rumah tangga Kenanga. Jadi untuk meminimalisir pertengkaran yang mungkin terjadi, Athar memilih meninggalkan Kenanga dan menitipkan Kenanga kepada suster yang berjaga.
__ADS_1