
Makan siang itu menjadi makan siang terakhir mereka berdua, karena di minggu-minggu berikutnya Juno sudah disibukan dengan proyek baru di Makasar dan Bulan kembali sibuk dengan pekerjaan di kantor yang memakan waktu dan energi.
Setiap minggu pasti Juno akan mengirimkan pesan untuk sekedar menyapa dan menanyakan kabar Bulan, tapi tidak pernah sekalipun Bulan yang menyapa terlebih dahulu. Tekadnya untuk membiarkan mereka berdua memulai dari awal lagi, tidak ada hubungan saling terikat satu sama lain. Terutama di saat ini Juno masih memiliki bayangan dengan masa lalunya yang membuat Bulan tidak nyaman.
Tinggal satu bulan menjelang pernikahan Afi, kesibukan tinggal menyebarkan undangan dan mengecek kesiapan dari pihak WO. Jumat sore Afi sudah mewanti-wanti Bulan untuk membantunya mengemas undangan. Cukup banyak undangan yang harus disebarkan ada 1000 undangan.
“Fi…” siang itu saat Bulan membantu Afi untuk mencetak nama di label.
“Nanti di acara nikahan yang naik ke pelaminan barengan Mama Nisa siapa?” sudah lama Bulan ingin menanyakan hal ini.
“Ya Papa lah… emang siapa lagi” jawab Afi santai
“Hmmm ibu tiri kamu gak akan ngamuk lagi tuh kaya waktu wisuda… katanya keukeuh pengen ikut masuk ke Gedung” Bulan ingat saat Afi sudah hampir menangis saat mendengar kericuhan akibat ibu tirinya.
“Papa bilang gak akan ada keributan… semuanya sudah diatur sama Papa…” jawab Afi tenang.
“Gak khawatir ntar ada huru hara?” tanya Bulan hati-hati.
“Aku udah nyiapin pengamanan dari orang WO… aku udah bilang kalau ada perempuan dengan muka kaya gini langsung tahan jangan sampai masuk gedung” Afi nyengir membayangkannya.
“Seriusan? Hebat kamu kepikir sama kesana” Bulan tersenyum menggeleng-gelengkan kepalanya. Afi memang cerdas suka terpikir ide out of the box.
“Kamu sampai di mana hubungan sama Kakak?” Afi langsung menembak, ia sudah tahu kalau kakaknya beberapa kali pergi bersama Bulan keluar.
“Biasa aja… sudah lebih baik lah… bisa ngobrol kaya manusia normal, dia sudah keliatan banyak ketawa sekarang”
“Eh Kak Juno emang lama sekarang banyak job di luar kota?” Bulan melirik ke arah kamar Juno yang tertutup. Ia kemudian merenggangkan badannya, pegal juga melipat dan menempelkan label.
“Hari ini katanya pulang” jawab Afi pendek
“Haah… kamu kok gak bilang… waduh… ntar aku disangka sengaja nyambut dia lagi” Bulan langsung terlihat gelisah.
“Biasa aja lagi… lu kegeeran banget sih..katanya udah gak ada rasa, pas mau ketemu kenapa pake panik segala… itu artinya lu masih nyimpen rasa” Afi tertawa sinis.
“Alaaah paling bisa aja kamu tuh ngejebak gw… “ Bulan menggerutu, saat kemarin dia menanyakan pada Afi apakah Juno ada di rumah jawaban Afi adalah kakaknya sedang keluar kota. Ternyata Juno pulang hari ini, kalau ia sekarang pulang jadi aneh seperti menghindar. Benar juga apa kata Afi, kalau memang ia sudah tidak ada rasa, ia harus bersiap netral dan santai pikir Bulan.
Hingga siang hari tidak ada tanda-tanda kehadiran Juno, hingga akhirnya Bulan mulai melupakan rasa gugupnya. Tumpukan kartu undangan mulai terurai, tinggal menempelkan label nama, sambil menunggu Nico yang membawa daftar nama dari keluarganya mereka makan siang terlebih dahulu.
“Assalamualaikum…” suara Nico terdengar di pintu
“Assalamualaikum juga” kali ini Bulan yang menoleh ia mengenal suara yang rada cempreng ini. Anjar.
“Waalaikum salam… akhirnya dari tadi Nico Mama tungguin ih… “ Mama Nisa langsung berdiri dan menyambut dua orang laki-laki yang tampak santai masuk berdua ke ruang makan.
“Waaah pas laper pas ada yang makan….ehhh ternyata memang sudah jam nya makan siang” Bulan langsung melengos, Anjar dimana-mana kalau sudah berurusan perut suka gak pake malu kalau bicara.
“Pantesan Tante pengen masak banyak rupanya bakalan ada yang ganteng” Mama Nisa rupanya sudah mengenal Anjar saat acara pertunanangan Afi.
“Waduuuh makasih Tante… saya tuh dari dulu meyakini kalau kecantikan perempuan itu memang selalu berkorelasi sama kemampuan dan keinginan untuk memasak” Bulan langsung mendengus, ia sudah biasa mendengar gombalan Anjar pada setiap perempuan. Sehingga kalau ia mendengar Anjar memujinya sulit meyakini kalau itu tulus atau hanya sekedar lips service.
“Ahahahaha biarpun Tante tahu kamu cuma ngebohong, tapi dibohongin yang kaya gini sih dimaafkan soalnya bikin happy” Mama Nisa langsung ketawa-ketawa melihat sikap Anjar yang bebas.
“Pantesan lama, main dulu sama Kuya rupanya” Afi langsung mendelik kesal pada Nico, hampir satu jam mereka menunggu Nico membawa daftar nama undangan. Orangtua Nico meminta Afi untuk menuliskan nama undangan untuk mereka sekaligus, karena Nico dan adiknya Raisha sulit untuk diandalkan bisa membantu.
“Ehhehehe jangan marah sayang… aku tadi minta tolong Anjar buat nyariin spare part motor Vespa… dia yang tahu lokasi yang jual ori tapi bisa ditawar” Nico berusaha membujuk Afi yang terlihat kesal, terutama karena membawa Anjar ikut ke rumah.
“Ngapain juga kamu ngajak dia kesini” Afi melengos kesal.
“Masa aku udah dibantuin langsung ngusir dia, lagian aku kan dibonceng sama Anjar” muka Nico terlihat memelas. Bulan menahan diri untuk tidak tersenyum, Afi ternyata sangat dominan pada Nico.
“Alhamdulillah Fi… aku tenang kamu mau nikah sama Nico… bisa jadi penyeimbang… Yin and Yang… kamu nyebelin nico sabar, kamu ngeselin nico nyenengin, kamu pinter nico suka oon, kamu rajin nico suka males” Bulan menambahkan hal yang baik pada Afi supaya tidak marah.
“Yang satu calon penghuni surga satu lagi calon penghuni neraka” Anjar dengan santainya menambahkan sambil nyegir. Afi langsung melotot.
“Lu tuh setan neraka…” Bulan langsung cekikikan, Anjar memang suka bablas kalau ngomong, sudah tau Afi antipati malah suka menambahkan api.
“Enggak dong saya… kita berdua kan sehidup sesurga… “ Nico mengusap-usap tangan Afi sambil tersenyum.
“Ahiiiiw Mil… gatel gw liatnya… Umi … minta nasi sama lauknya… ngeliat yang serem-serem kaya mereka bikin pengen makan nasi dua piring” Anjar menyodorkan piring pada Bulan untuk diisi nasi yang kebetulan ada di sebelah Bulan.
“Ambil sendiri gih… biar bisa ngambil banyak” Bulan melengos, Anjar suka tidak peduli kalau ada Afi dan Mama Nisa yang pasti tidak nyaman dengan keakraban mereka berdua, tapi Anjar tidak peduli dan tetap menyodorkan piringnya ke depan Bulan.
__ADS_1
“Kenapa Anjar memanggil Bulan dengan panggilan Umi?” Mama Nisa akhirnya tidak tahan untuk bertanya.
“Ini Ma… gegara harus bawa anak bos ke rumah sakit, kita jadi ngaku suami istri sambil bawa anak, daripada disangka nyulik anak orang” Bulan sambil mengisi nasi di piring Anjar.
“Cuma asin cumi yang ini suka over acting aja manggil-manggil Umi di depan umum… “ Bulan menarik nafas kesal, yang disindir santai saja.
“Anjar suka yah sama Bulan” dengan santainya Mama Nisa menembak Anjar.
“Suka lah soalnya perempuan, kalau laki-laki saya gak suka” jawab Anjar santai. Mama Nisa langsung tertawa.
“Suka sama Bulan karena apanya?” Mama Nisa terus memancing Anjar.
“Mama apaan sih ah… “ Afi langsung protes, Bulan tersenyum malu dan segan, ia tahu Mama Nisa pasti menanyakan itu karena Anjar dekat dengannya.
“Suka soalnya bisa disuruh-suruh bantuin ngerjain tugas, bisa bikin kopi, bisa diajak main tapi gak suka minta dijajanin jadi uang aman” jawab Anjar santai, Bulan langsung melotot.
“Enaknya aja … dasar kamu mah orangnya pelit” Bulan langsung mencak-mencak kesal.
“Pelit dari mana semua yang aku dapatkan dari harta pampasan langsung setor sama kamu, kurang gimana coba Abi sama Umi” Anjar mengumbar budi baik yang selama ini dia lakukan.
“Terus kalau pulang aku anterin sampai Halte Busway… kan lumayan hemat energi” selama ini Bulan memang selalu menumpang pada Anjar, lumayan menghemat energi 200m dari kantor menuju halte.
“Intinya kita berdua simbiosis mutualisme Tante, selalu ada saat membutuhkan, seperti sekarang saat saya lapar ada teman di sini yang membuat saya bisa ikutan makan….heheheh” Anjar tertawa santai. Mama Nisa menggelengkan kepalanya, ia tidak melihat Anjar sebagai orang yang mengancam untuk hubungan anaknya dengan Bulan.
“Saya banyak dibantu Anjar Ma… saya orang baru di divisi Konsultan Bisnis, Anjar banyak ngajarin saya banyak hal. Cuma kekurangannya dia orangnya agak bocor sedikit otaknya sehingga sering tidak seimbang cairan otaknya” ledek Bulan, yang diledek kalem saja.
Suasana makan siang memang jadi semarak, Afi yang pada mulanya kesal akhirnya jadi menikmati suasana kebersamaan mereka. Pengemasan undangan diselesaikan jam dua siang oleh Afi dan Bulan, karena pada akhirnya Nico dan Anjar malah asyik main game di PS.
“Kalian tuh yah malah main game sendiri… aku kemarin beli Jenga… Bul.. kita berpasangan lawan anak cowok… yang kalah musti traktir makan belikan online” Afi mengeluarkan kotak permainan ia beli kemarin.
“Mendingan kita berpasangan Aku sama Kamu, Bulan sama Anjar” Nico merajuk, tidak mau berpasangan dengan Anjar.
“Gak… kamu mainnya kasar ntar aku kalah. Aku lagi pengen menang, aturannya lawan diperbolehkan mengganggu saat bermain. Perempuan boleh menyentuh laki-laki tapi laki-laki gak boleh menyentuh perempuan.” Afi tersenyum licik.
“Ahhh trus gimana kita mau gangguin kalian...licik” Nico cemberut.
“Bisa teriak atau bikin apa lah yang membuat kita gagal fokus” sambung Afi. Anjar tersenyum dengan santai
“Ok kita mulai yah…” mereka langsung memasang posisi berpasangan. Pada saat putaran pertama tidak ada yang saling mengganggu, mereka masih berhati-hati dalam menarik setiap balok hingga tidak mengganggu kestabilan tower. Hingga akhirnya Nico mulai menarik balok kayu yang mulai menjadi penyangga tower perlahan-lahan supaya tidak runtuh. Afi sudah mulai iseng mengganggu, tangannya merayap mengusap-usap muka Nico kemudian turun keleher dan masuk ke dalam kemeja.
“Fi… diam lu.. Geli… diem…. Argghhhhh” balok kayu runtuh. Afi tertawa senang… dalam satu kali putaran permainan mereka diperkenankan untuk menganggu satu kali. 1-0 kemenangan ada di pihak perempuan. Mereka mulai lagi putaran permainan sampai akhirnya mulai mendekati titik kritis keseimbangan menara Nico mengganggu Afi, tangannya mengganggu pandangan Afi, sambil terus bernyanyi di telinga Afi. Suara Nico yang sumbang mengganggu Afi, dan membuatnya kesal hingga menara jatuh. 1-1.
“Kamu ngenganggunya bikin mata gak bisa lihat telinga aku sampai sakiiiiit” Afi kesal karena Nico mengganggunya hingga hancur.
“Hahahah kamu tadi lebih parah pegang-pegang aku…” Nico tertawa puas.
“Njar ganggu si Bulan sekarang, jangan sampai lemah” Nico mendorong Anjar untuk mulai mengganggu Bulan.
“Tenang … dia mah paling gak tahan aku kasih suara merdu… ambilin gitar” Nico berlari ke kamar Afi, selama ini mereka suka bermain gitar bersama-sama.
“Ehmmm…. Siapkan Neneng Bulan untuk mendengar suara Aak Anjar..” Anjar mendekat sambil tersenyum menggoda.
“Halaah suara sumbang kaya gitu gak ngaruh” Bulan mencoba perlahan menarik balok kayu. Perlahan-lahan dia menarik..
“Jreeeeng… Jreng….”
“Ini gimana le.. Kok Kakak manis le…
“Buat jatuh cinta terngiang ngiangee”
“Aku jadi gimana gimana gitu yah kaa”
“Aku masih kecil suka sama kakak kakak”
Bulan langsung berhenti menarik balok menahan senyum mendengar nyanyian Anjar… menarik nafas supaya bisa fokus.
“Mantaaap hahahahah ada yang gak nahan dikasih nyanyian”
“Lanjut Njar…”
“Ini gimana le… Kok Adek manis le..”
__ADS_1
“Senyumnya yang manis terngiang ngiange"
“Aku jadi gimana-gimana gitu yah dee..
“Aku udah gede suka sama de ade..”
Bulan tertawa mendengar nyanyian Anjar… menarik nafas dan menengangkan diri.
“Lanjut trus Njar..dikit lagi lewat dari hitungan 2 menit dianggap gagal menarik balok” Nico membuat aturan karena Bulan tidak segera menarik balok.
Mama Nisa yang mendengar Anjar bernyanyi tertarik datang ke ruang keluarga dan duduk di sofa. Melihat Mama Nisa disana Anjar langsung pindah mendekat ke Mama Nisa.
“Ini gimana le kok Tante manis le…”
“Buat jatuh cinta terngiang-ngiange…”
“Aku jadi gimana-gimana gitu yah Tan…”
“Aku masih kecil suka sama Tante Tante”
Mama Nisa langsung menjerit dan tertawa-tawa…. Bulan berteriak “Anjarrrr geuleuh ih… geli denger lagunya juga…”
“Satu menit lagi…. Kalau gak segera ditarik baloknya kalian kalah” teriak Nico.
Bulan dan Afi tertawa-tawa mendengarnya, bersamaan kemudian Juno datang sambil menarik koper mendengar keributan di ruang keluarga. Rupanya lagu Anjar belum selesai, mendekat ke Juno sambil melirik ke Bulan.
“Ini gimana le kok mantan manis le..”
“Bikin susah move on terngiang-ngiange…”
“Aku jadi gimana-gimana gitu yah kan..”
“Kamu udah putus tapi kok masih sayang…”
“Tapi boong….” ucapnya sambil mencibir ke Juno
“Ahahahahahah…. “ Mama Nisa tertawa terbahak-bahak mendengarnya,
“Yak kalah… sudah lewat 2 menit” Nico berjoget senang, ternyata kemampuan Anjar memang susah untuk dilawan.
Juno hanya menggelengkan kepalanya dan membawa koper masuk, baru datang ke rumah sudah rusuh pikirnya.
“Ok… skor 2-1.. Posisi kita menang… Kalau Anjar bisa menarik balok tanpa runtuh kalian yang harus traktir makan”
“Bul… lawan kalau perlu cium si Anjar jangan sampai kita kalah” Afi mendorong Bulan untuk mendekat kearah Anjar, Bulan langsung mendelik, disuruh mencium Anjar kaya orang gila aja pikirnya.
Saat Anjar mulai menarik balok Bulan kemudian mendekat, ia tidak ingin menyentuh Anjar, tapi ia ingat kalau Anjar orangnya gelian. Saat Anjar mulai menarik balok lebih jauh… Bulan meniup muka Anjar..
‘Aihhh… diem luuu...jangan tiup-tiup bau…” Anjar berteriak mendorong muka Bulan menjauh. Bulan tertawa, Anjar paling tidak tahan kena tiupan. Ia berpindah ke pinggir dekat telinga Anjar, saat Anjar hampir menarik balok ditiupnya dengan lembut sambil berkata…
“Fuuuuuh… kapaaaan kita mau maiiiin berdua lagiiiii aabiiii…” Anjar langsung tersungkur sambil menutup telinganya…
“Bulaaaaan….” teriakan Juno di sebrang ruangan mengangetkan semuanya. Bulan langsung pucat… kalau dari arah Juno, Bulan terlihat seperti sedang mencium pipi Anjar.
“Kalian main apaan sih… bubar semuanya… Pulang…”
SATPAM DATANG
***************************************
Ini gimana Le kok rangking turune
Udah susah nulis sampe pegel-pegele
Aku jadi gimana gimana ya kan
Kalau udah baca jangan lupa pada vote...
Hahahahah nyanyi ala minta vote kaya gitu.... Makasih yah atas dukungan teman-teman semua. Tetap bahagia dan senyum terus... aku nanti update lagunya Anjar di IG asha_shanti_ig.. chekidot
Lope-lope sekebon buat semua.... Tariiiik Mang
__ADS_1
ShanTi