Rembulan

Rembulan
Lebih Cepat Akankah Lebih Baik


__ADS_3

Juno PoV


Dia menangis tersedu-sedu di sisi tempat tidur sambil memegang tangan Bapak yang terbaring tidak berdaya, aku bingung harus bicara apa. Mama dan Afi juga menangis tapi mereka berdua menangis karena merasa bersalah. Aku sama sekali tidak menyangka kalau gara-gara acara numpang tidur kemarin jadi berbuntut panjang seperti ini.


“Teteh gak ngapa-ngapain…. Itu Kak Juno-nya yang datang maksa numpang tiduuuur” ia mencoba bersikeras meyakinkan Bapak kalau tidak terjadi apapun diantara kami berdua, suaranya makin lirih, tidak terbayang pasien yang sebelah mendengarkan drama ini.


“Teteh berani sumpah teteh gak ngapa-ngapain.. Kak Juno cuma numpang tidur aja karena semalaman gak tidur”


“Itu juga bukan teteh yang mengundang, dia datang sendiri”


“Teteh mah kemarin di kamar beberes, nyuci.. Sumpah Bapak… Teteh gak ngapa-ngapain…. Hwaaaaaa…..”


Kepala jadi pusing mendengarnya menangis, bingung memikirkan harus bagaimana. Untung saja datang Suster Kepala yang terlihat tegas dan galak.


“Teh… maaf jangan menangis keras-keras kasihan pasien yang sebelah” ucapnya tegas.


“Bapak akan saya bawa untuk pemeriksaan MRI”


“Prosesnya agak lama jadi sebaiknya ada yang mendampingi dari pihak keluarga”


Kulihat namanya Purwantini, S.Kes, Ners nama yang singkat padat dan tegas tidak panjang lebar seperti nama anak-anak sekarang. Ternyata namanya berhubungan dengan karakter orangnya yang besar, tegas dan berkekuatan.


“Saya anaknya… saya yang akan menemani Suster” dia langsung berdiri.


“Bulan cuci dulu mukanya” Mama langsung menariknya ke toilet, entah kenapa air matanya tidak habis-habis dari kemarin menangis terus, mukanya sudah sembab dan pucat, hidungnya merah dan matanya bengkak. Tapi walaupun begitu masih saja terlihat cantik, aku baru menyadarinya.


Hari ini aku belum mengajukan izin cuti ke kantor, untung saja paket design yang Surabaya sudah aku serahkan kemarin tinggal menunggu review dari bos. Hanya ada beberapa paket yang harus aku perbaiki tapi tidak mendesak.


“Aku ijin gak masuk kantor ada saudara sakit di Bandung nganterin Mama”  kalau diceritakan aku mengantarkan Bulan jadi panjang nanti ceritanya. Doni pasti bisa membuat surat ke bagian administrasi.


“Ok… Sarah nanyain elu dari tadi. Kayak couple aja.. Lu ijin sama dia gih… berisik gw ditanyain mulu”


Hufttt… Sarah.. Sampai kapan anak itu akan terus mengejar aku, dari saat masuk kantor ini pertama kali, aku sudah tau kalau dia menyukaiku. Tapi masalahnya aku tidak pernah suka sama dia, terlalu plain dan tidak menarik secara kepribadian. Sifatnya keras dan mau menang sendiri, perempuan itu harus membuat kita merasa nyaman dan bahagia. Seharian di kantor bersama dia selalu terasa melelahkan, semuanya harus perfect dan sesuai dengan aturan. Sulit untuk menarik nafas.


Bulan keluar dari kamar mandi sudah terlihat segar, rambut diikat ke belakang.


“Ma.. aku nemenin Bapak dulu… doakan yah Ma hasilnya gak jelek” ternyata walaupun dia merasa diperlakukan tidak adil dengan pesan dari Mama kepada Bapak tapi dia tetap sopan. Berjalan bersama suster ikut mendorong tempat tidur Bapak dari samping, perempuan itu terlihat berusaha tegar.


“Kakak…” lirih terdengar suara Mama, kulihat Mama duduk di sofa dengan muka sedih.


“Kakak mau menikah dengan Bulan kan?” pertanyaan macam apa itu, kenapa ucapan orang sakit dijadikan keputusan, ada-ada saja.


“Mama serius…” rupanya Mama melihat perubahan mukaku yang menyangsikan ucapannya.


“Kamu sekarang menyukai Bulan kan? Dulu juga kalian sempat bertunangan walaupun akhirnya putus”


“Mama lihat kamu sekarang menyukai dia”


“Kalau tidak suka … kenapa kemarin Kakak tidur di kost an Bulan… membuat orang jadi salah persepsi jadinya”


“Mama memang salah, ceroboh mengirimkan pesan pada Bapaknya Bulan, Mama tidak menyangka akan begini akibatnya”


“Tapi kalau memang jalannya harus begini… Mama senang kalau Kakak menikah dengan Bulan seperti keinginan Kang Harlan”


“Bulan perempuan yang baik.. Mama yakin dia bisa membawa kebahagian pada kamu”


“Mungkin jalannya memang harus seperti ini” Mama berkata dengan lirih. Aku tidak menjawab, terlalu gegabah mengambil keputusan besar hanya karena kesalahpahaman semata.


Aku memang menyukai Bulan sekarang, harus aku akui itu. Tapi keputusan untuk menikah hanya karena salah paham, hanya disebabkan sebuah foto terlalu menggelikan. Pernikahan adalah keputusan seumur hidup, tidak bisa diputuskan oleh satu pihak, harus oleh kedua belah pihak, jangan sampai ada penyesalan di akhir.

__ADS_1


“Aku mau ke hotel dulu, mandi dan istirahat sebentar. Nanti siang ke sini lagi”


“Mama temani dulu sama Afi, khawatir kalau ada apa-apa”


Perlu otak yang segar dan tenang untuk memikirkan masalah ini. Bagaimana caranya agar Bapaknya Bulan bisa paham kalau foto yang dikirim oleh Mama hanya sekedar foto iseng yang dibuat oleh anaknya.


Bulan PoV


Bapak dibawa ke ruangan laboratorium, perjalanan ke ruangan itu terasa panjang. Banyak orang yang datang ke rumah sakit, baik sebagai pasien atau mengunjungi kerabat atau keluarga. Sepanjang perjalanan aku hanya berdoa, berharap akan keajaiban Bapak tiba-tiba kembali sembuh dan kita  kembali menjadi keluarga kecil yang bahagia.


Bodoh...bodoh… bodoh… sepanjang perjalanan menuju lab aku hanya bisa memaki diri sendiri. Bodoh kenapa membuat foto yang unfaedah itu dan mengirimkannya pada Afi, aku seperti tidak mengenal Afi saja, dia adalah orang yang impulsif, semaunya sendiri. Selama ini aku sudah tahu kalau Afi ingin aku kembali dengan Juno. Hanya sekedar menggoda dia bahwa keinginannya seperti telah tercapai tapi malah jadi merugikan diri sendiri.


Bodoh kamu Bulan bodoh….


Aku kurang bisa mengendalikan diri. Selama ini selalu bisa berpikir panjang atas segala hal. Apa mungkin aku merasa senang saat Kak Juno datang dan kemudian menumpang tidur, merasa mendapatkan pengakuan dari seorang laki-laki. Allah pasti sedang menghukum aku… memasukan laki-laki bukan mahramnya ke kamar.  Untungnya hanya numpang tidur dan tidak terjadi apa-apa. Bagaimana kalau laki-laki itu memaksakan kehendak, melakukan pelecehan, siapa yang akan disalahkan… pasti perempuannya. Siapa suruh memasukan laki-laki ke dalam kamar. Sama saja seperti mengundang harimau masuk ke kandang… Bodoh kamu Bulan.


Allah pasti sedang mengingatkan kamu, makanya Bapak sakit… tapi bagaimana kalau Bapak tidak sembuh… bagaimana kalau Bapak meninggal gara-gara foto itu… aku pasti akan menghukum diriku selamanya.


“Bapaknya dikasih tahu teh prosesnya 15-90 menit… nanti Bapak masuk ke dalam mesin seperti lubang… suaranya berdengung… tapi akan diputarkan musik mudah-mudahan Bapak jadi nyaman” suster menjelaskan. Aku mengangguk tadi sempat googling dulu pemeriksaan MRI itu seperti apa ternyata kita seperti masuk ke dalam pipa besar, bunyi dengungan  di dalamnya timbul akibat dari medan magnet dan gelombang radio yang memantul untuk memindai struktur organ dalam tubuh kita.


“Bapak… nanti diperiksa MRI yaah… agak lama seperti masuk lubang…. Nanti ada lagu… Bapak dengerin lagu aja.. Teteh nungguin di luar” Bapak terlihat mengangguk lemah.


“Teeeh nikkahh….” Bapak masih bersikukuh menyebutkan nikah, sekarang suaranya terdengar lebih jelas.


“Iya-iya nanti Teteh mau nikah tapi kalau Bapaknya sudah sembuh… supaya sembuh kita periksa dulu yaah” Bapak terlihat seperti anak kecil, yang butuh dikuatkan.


Melihat Bapak di dorong masuk ke ruangan MRI hati seperti diiris, mudah-mudahan Bapak kuat disana, tiba-tiba perut terasa perih. Hufffttt aku lupa dari tadi belum makan, sekarang sudah hampir jam 10, belum sarapan pula. Tadi katanya 15 sampai 90 aku masih bisa mencari makanan dulu.


Untung tadi handphone bisa di charge dengan powerbank. Aku bisa telepon ke kantor, khawatir ada file pekerjaan yang harus dicari.


Kafetaria rumah sakit ternyata lumayan lengkap, karena sekarang sudah jam sepuluh tidak terlalu penuh. Walaupun perut terasa lapar, rasanya sulit untuk memasukan makanan, harus mencari makanan yang ada rasanya. Lontong kari… ok, aku makan itu saja.


Mba Icha : “Semoga Bapak kamu kembali sembuh… yang sabar yah”


Pak Kevin: “Jangan pikirkan pekerjaan kantor, temani dulu orangtua, kalau ada masalah hubungi saya”


Anjar: “Kamu gak bilang-bilang Bapakmu sakit, aku tau dari Mbak Icha. Aku doakan cepat sembuh, jangan khawatir soal kerjaan gw yang kerjain. Fokus urus orang tua biar cepet sembuh biar kamu cepat balik lagi…. Kopi buatan aku gak enak” Selalu saja alasannya ingin dibuatkan kopi dasar, memangnya aku barista pribadi dia, menyebalkan memang dia.


“Assalamualaikum … Mbak.. maaf aku hapenya rusak, baru bisa hidup sekarang” pesan untuk Mbak Icha terkirim, sekarang mengirim pesan untuk Pak Kevin.


“Terima kasih pak.. Mohon maaf meninggalkan pekerjaan mendadak” pesan untuk Pak Kevin langsung terkirim juga, tinggal pesan untuk Anjar


“Iya doakan yah Njar. Bapak kena stroke, sekarang lagi di MRI. Aku butuh uang nih Njar.. gak nyangka bakalan kaya gini kejadiannya”


“Duit yang kemarin di beliin saham aku mau tarik lagi aja… Bapak kemungkinan musti dioperasi”


Kebodohan yang utama adalah yang ini, menginvestasikan uang dan tidak menyisihkan dana cadangan untuk keadaan darurat. Sebagian besar uang ada di Tabungan Berjangka, kalau diambil sekarang jumlahnya akan berkurang banyak, padahal sebelumnya aku simpan di Reksadana hanya saja nilainya memang naik turun, tidak stabil, tawaran keuntungan yang besar dari Tabungan Berjangka membuat aku tergiur sehingga memindahkan sebagian besar dana dari Reksadana.


Dan yang sekarang permasalahannya adalah uang simpanan untuk kejadian darurat aku investasikan untuk trading saham dengan Anjar. Sekarang di tabungan hanya tinggal 4 juta kurang, karena kemarin aku kirimkan uang satu juta ke Benny untuk periksa Bapak ke dokter. Sekarang malahan minus satu juta karena aku berhutang ke Kak Juno lima juta rupiah.


Gajian masih sepuluh hari lagi, mudah-mudahan Kak Juno tidak menagih uangnya cepat-cepat. Kalau Bapak harus dioperasi mesti bayar pakai apa coba,  semua uang ada di luar.


Tak lama setelah makan aku kembali ke ruangan tempat pemeriksaan, ternyata Bapak masih di dalam. Setelah menunggu kurang lebih satu setengah jam, baru pintu ruangan laboratorium terbuka. Tampak tempat tidur Bapak didorong oleh perawat keluar ruangan. Samar terdengar suara Adzan Dzuhur, waktu berjalan cepat kalau dalam kondisi seperti ini.


Bapak tampak tertidur, pasti lelah menjalani pemeriksaan seperti tadi.


“Gimana suster? Bapaknya gak panik?” aku khawatir kalau Bapak panik, perawat yang mendampingi memberikan tanda ok menandakan semuanya baik-baik saja. Syukurlah, aku sudah khawatir dari tadi, takut Bapak merasa tidak nyaman.


“Bapak …. “ aku panggil perlahan, mudah-mudahan Bapak bisa mendengar, ternyata Bapak membuka mata dengan lemah.

__ADS_1


“Ehhh kirain Teteh Bapak tidur, ternyata cuma merem ayam…” kalau dalam kondisi begini harus dibawa ceria jangan sedih. Kalau diajak ngobrol soal ayam Bapak pasti senang, ingat sama si Jalu ayam kesayangan Bapak.


“Si Jalu pasti kangen sama Bapak, tumben kata Jalu kenapa yang ngasih makannya Ema… pakannya gak gurih kalau bukan bikinan Bapak”, Bapak tampak berusaha tersenyum.


“Tadi berisik yah di mesin MRI nya? Hebat ih Bapak gak kaget.. Bakalan cepat sembuh ini mah”


“Nanti makan yah … sama teteh disuapin”


“Teeeh nikkha… Nnoo nikkh” tangan Bapak mencengkeram lenganku yang sedari tadi menggenggam jari Bapak.


“Iyaaa Bapak… Iya … nanti teteh mau nikah….tapi Bapaknya sehat dulu yaah” kuusap-usap tangan Bapak menenangkan, mana mungkin berpikir menikah dengan kondisi seperti ini. Siapa juga yang mau diajak nikah.


Bapak pasti berpikir untuk menikahkan aku dengan Kak Juno gara-gara foto itu, masalahnya siapa yang mau menikah karena kesalahpahaman sebuah foto.


Kalau digerebek saat berduaan di kamar sering kejadian masuk di koran. Sepasang remaja digerebek sedang bermesraan di kamar, ASN ditangkap sedang asyik masyuk saat jam kerja. Suami memergoki istri main serong dengan temannya di kamar hotel. Berita-berita yang masuk halaman koran merah, menarik untuk dibaca karena membicarakan aib.


Untung saja saat kemarin Kak Juno numpang tidur tidak ada yang tahu dan menggerebek. Tidak terbayang digerebek sama Pak Daan saat Kak Juno sedang tidur dan aku sedang mencuci selimut, mirip seperti Tuan Muda dan Pembantunya, cerita di novel online.


Di kamar, Mama Nisa dan Afi tidak terlihat mungkin mereka berdua sedang makan siang, untunglah jadi aku tidak usah terlalu memikirkan masalah foto itu. Perasaan kesal dan malu sebetulnya bercampur menjadi satu saat tahu Mama Nisa mengirimkan foto itu ke Bapak. Semua orang punya andil  dalam sakitnya Bapak.


Aku yang bodoh membuat foto iseng dan mengirimkannya ke Afi yang seperti senang memperoleh barang bukti kalau Kakaknya masih berhubungan denganku. Mama Nisa yang merasa mendapatkan jalan untuk kembali mendekatkan kami berdua. Tapi biang kerok permasalahan ini adalah Kak Juno, untuk apa dia sebetulnya harus numpang tidur di kamar kost-an, masih banyak kamar di hotel yang bisa dia pakai untuk istirahat seperti sekarang. Setelah selesai masalah Bapak aku harus membuat garis batasan yang jelas dengannya.


Ternyata sangat sulit untuk menyuapi Bapak, mulutnya sulit untuk mencerna makanan karena serangan stroke, aku harus menghaluskan makanan supaya  bisa dimakan Bapak dan tidak tersedak. Akhirnya Bapak bisa menghabiskan setengah piring bubur dalam waktu satu jam.


Ternyata benar adanya, terkadang kita tidak menyadari kenikmatan yang dirasakan karena kemudahan untuk mendapatkannya. Bernafas baru terasa berharga kalau kita mengalami sesak, tidur yang lelap baru terasa berharga saat kita mengalami insomnia, buang air besar pun baru terasa nikmatnya kalau kita merasakan sulitnya karena sembelit. Seperti Bapak sekarang,  untuk menghabiskan semangkuk bubur nasi pun luar biasa susahnya. Dulu Bapak bisa menghabiskan dua mangkuk bubur kalau memakai pepes daun bawang.


Setelah makan Bapak terlihat tenang, sehingga  bisa aku  tinggalkan untuk menjalan sholat dhuhur, meminta ampunan atas segala khilaf yang kemarin aku sudah lakukan sehingga membuat Bapak sakit, dan memohon dikabulkan doa agar Bapak bisa kembali sembuh seperti sedia kala.


Tempat tidur yang sebelah sudah kosong, rupanya suami Bu Marlina sudah bisa pulang. . Syukurlah aku jadi lebih santai dan tidak terlalu khawatir mengganggu pasien sebelah. Terdengar pintu kamar terbuka disertai suara hak sepatu perempuan yang melangkah tegas.


“Selamat Siang Pak Harlan, Saya dokter Dini ahli Bedah Syaraf yang dirujuk oleh dr. Samuel” terdengar suara perempuan menyapa Bapak, aku segera berdiri ternyata dokternya datang lebih cepat.


“Selamat siang dokter, saya anaknya Pak Harlan, terima kasih sudah datang cepat” ucapku, ia mengangguk, rambutnya pendek, masih muda tapi terlihat pintar.


“Saya ada jadwal operasi hari ini, dr. Samuel mewanti-wanti saya untuk memeriksa, katanya sahabatnya..” aku benar-benar tidak menyangka kalau hubungan Bapak dan dr. Samuel sangat akrab.


“Hasil MRI nya sudah keluar?” tanyanya cepat, perawat langsung memberikan map berwarna hijau.


“Baru datang dari Lab dok… untung saja cepat keluar hasilnya”


“Saturasinya turun dok jadi 90%, kemarin 95. Tekanan darahnya jadi 155/90, nadinya 88x/menit” dokter mengangguk-angguk sambil membaca laporan hasil MRI. Mukanya berkerut dan tampak tidak  menyenangkan, Ya Allah semoga tidak harus dioperasi, kasihan Bapak ya Allah.


“Mbak putrinya yah.. Hmm ini Bapak mengalami aneurisma otak, yaitu kondisi ketika pembuluh darah otak melebar dan rapuh sehingga mudah pecah kapan saja. Bisa dilihat di gambar ini yah” aku tidak bisa mencerna ucapan dokter, tubuh terasa melayang.


“Kalau tidak segera menjalani operasi, Bapak bisa mengalami stroke yang disebut stroke hemoragik sebagai akibat pecahnya pembuluh darah di otak sehingga menimbulkan perdarahan dan penumpukan darah di sekitar jaringan tersebut. Kondisi ini dapat menyebabkan kerusakan otak permanen.” Ingin rasanya menghilang dan pergi bersama Bapak


“Saya akan berkonsultasi dengan dokter Samuel dan mendiskusikan ini. Mbak saya mohon untuk bersiap pada  kemungkinan terburuk” dokter ini walaupun perempuan tidak berbasa-basi seperti kebanyakan perempuan lainnya.


“Saya permisi ada jadwal operasi sekarang,  lebih cepat lebih baik. Kalau dimungkinkan besok atau lusa karena hari Kamis saya harus ke Kalimantan” tanpa berbasa basi ia langsung pergi meninggalkan kami.


“Lebih cepat lebih baik…. Lebih cepat lebih baik… “ kalimat itu terngiang-ngiang di kepalaku. Bukan cerita penyelesaian proyek tapi operasi yang harus dilakukan agar Bapak bisa kembali seperti sedia kala.


“Teeeh…. Teh….” aku sampai tidak sadar Benny masuk ke kamar.


“Gimana Bapak… dokter sudah periksa?” dia masih memakai celana seragam, hanya atasnya sudah diganti dengan kaos. Rupanya dari sekolah langsung ke rumah sakit.


“Ben… tungguin Bapak yah… Teteh mau ngecek biaya operasi berapa”


“Tadi dokter bedah syarafnya merekomendasi Bapak supaya dioperasi… Tolong tungguin Bapak” aku bergegas keluar kamar. Permasalahannya adalah biaya operasi, dengan kondisi sekarang aku harus siap untuk kemungkinan terburuk.

__ADS_1


__ADS_2