Rembulan

Rembulan
Kamu Dimana, Dengan Siapa dan Sedang berbuat Apa


__ADS_3

Berusaha tampil tenang disaat perasaan penuh rasa khawatir bukan perkara gampang. Bulan masuk ke dalam Ruko dengan perasaan gamang. Lampu lantai dua masih bersinar terang menandakan penghuninya masih belum tidur padahal sudah hampir jam sebelas malam.


“Kemana aja sih kalian? Aku kan bukan penjaga rumah” suara ketus Sarah menyambut kedatangan Bulan.


“Si Juno mana?”


“Tadi aku ngelembur Mbak… A Juno ada perlu dulu katanya” jawab Bulan lemah, ia sudah tidak ada energi untuk bersilat lidah.


Sarah mendengus kesal, sebetulnya kalau Sarah mau tidur lebih dulu tidak jadi masalah karena mereka memiliki kunci cadangan masing-masing. Tapi entah kenapa setiap hari Sarah seperti menunggu kedatangan mereka kalau ia datang lebih dulu ke Ruko.


“Mbak Sarah kenapa belum tidur?” Bulan duduk di kursi makan sambil menatap Sarah lekat. Lebih baik bicara dengan Sarah sambil menunggu kepulangan Juno.


“Gak ngantuk” jawabnya tanpa melihat ke arah Bulan


“Mbak Sarah sudah makan?” tanya Bulan setelah berganti pakaian rumah dan mengambil air minum. Sarah masih duduk di sofa menonton TV padahal di kamarnya ia memasang tv juga.


“Aku gak suka makan malam, kalori di malam hari hanya menumpuk lemak di dalam tubuh” jawabnya sambil mengusap-usap Samson.


“Hmm badan Mbak Sarah terlalu kurus kata aku, malah mesti nyimpen persediaan lemak, jadi kalau sakit gak drop”


“Aku angetin pasta mau?” harus melakukan satu kegiatan supaya gak kepikiran, tanpa menunggu jawaban dari Sarah, Bulan mengambil persediaan pasta yang disimpan di lemari pendingin untuk dihangatkan di microwave. Disimpan dalam piring dan kemudian duduk diam di sofa di samping Sarah


“Ngapain lu malah nonton disini? Bukannya udah tidur jam segini?” Saran memandangnya dengan tatapan heran.


“Hmm mau nunggu A Juno, aku belum ngantuk juga” jawab Bulan cepat, diraihnya Samson dari pangkuan Sarah.


“Samson sini sama Onti… Mom Sarah-nya mau makan…” Samson berpindah tempat tidur dengan cepat, langsung mendengkur di pangkuan Bulan.


“Dimakan dulu Mbak… aku pakai tuna kok.. Aku tahu Mbak Sarah gak suka red meat” Bulan memberikan senyuman manisnya walaupun matanya terlihat sedih.


“Kenapa lu tiba-tiba baik sama gw?” Sarah menatap Bulan curiga,


“Ah dari dulu juga aku mah baik orangnya, Mbak Sarah nya aja orangnya curigaan… udah itu makan pasta nya keburu dingin”.


“Kata orang kalau kita gak bisa makan biasanya nahan lapar, makan aja gak apa-apa, gak bikin kita langsung gemuk kok”


“Apalagi Mbak Sarah orangnya kurus”.


Dengan malas Sarah meraih piring berisi pasta yang sudah dihangatkan Bulan, mencobanya sedikit tapi kemudian langsung menyendok penuh di suapan kedua.


“Enak yah?” tanya Bulan dengan tersenyum


“Biasa aja” muka Sarah terlihat datar tapi ia mengunyah dengan cepat. Samson yang tidur di pangkuan Bulan mencium harum tuna langsung terbangun dan menciumi udara.


“Ahahahah Samson juga laper yahhh, ok.. Onti kasih makan yaaa”


“Dimana makanan Samson Mbak?” Bulan menggendong Samson menuju area makannya di depan kamar Sarah.


“Ambil di kamar dekat lemari” ucap Sarah masih asyik menghabiskan pasta sambil menonton TV.


Saat Bulan masuk ke kamar Sarah, matanya terbelalak kaget, kamarnya seperti kapal pecah. Pakaian bekas pakai, tas dan sepatu berserakan bersama dengan kertas-kertas yang sampah bekas desain gambar.


“Astagfirullah ini kamar gadis meni kaya kapal pecah terus karam” Bulan menggelengkan kepala bingung melihatnya, sungguh diluar dugaan.


“Mbak kamarnya diberesin atuh, nanti banyak serangga kalau berantakan gitu!” protes Bulan sambil memberi makan Samson.


“Hmmm… nanti aku panggil tukang bersih-bersih” jawab Sarah malas, Bulan hanya menarik nafas.


“Ahhh kenyang… aku tidur dulu” ucap Sarah beranjak meninggalkan piring bekas makan di meja.


“Piringnya cuci!… disini setiap orang punya tanggung jawab masing-masing!”


“Gak peduli Mbak Sarah udah bayar, kalau gak mau ikut berbagi tanggung jawab lebih baik aku balikan uang sewanya” ucap Bulan tegas, Sarah mendelik kesal dan mengambil piring kemudian mencucinya.


“Cerewet kaya nenek-nenek!” ucapnya sambil melengos.


“Mbak Sarah pemalasan kaya anak SMP” balas Bulan, ia ingat saat usia SMP biasanya suka paling malas untuk disuruh membantu di rumah.


“Bilangin kalau si Juno pulang, aku mau pinjam desain cafe… buat besok pagi” teriak Sarah sambil masuk ke kamar. Bulan hanya termenung, dari tadi pesan yang dikirim tidak dijawab Juno. Akhirnya ia memutuskan untuk menelepon, tapi sampai panggilan selesai Juno tak juga mengangkatnya. Sudah jam dua belas lebih lima belas menit kemana perginya suaminya itu, pikiran Bulan mulai kalut.


Waktu Anjar mengalami luka lebam ia bisa mengurus dan mengompresnya tapi saat suaminya mengalami hal yang serupa ia malah tidak bisa merawatnya sama sekali. Apa pulang ke rumah Mama Nisa? Pikir Bulan tapi rasanya tidak mungkin. Juno tidak mungkin membuat Mama Nisa khawatir dengan kondisinya saat ini.


Sampai jam satu malam Bulan masih menunggu sampai akhirnya ia tertidur di sofa, lelah seharian di kantor ditambah dengan tambahan lembur untuk mengikuti rapat di malam hari menjadikannya tertidur tanpa memakai selimut padahal ia paling tidak kuat dengan udara AC. Akibatnya lewat dini hari ia terbangun dengan perasaan menggigil kedinginan, televisi masih hidup dan kepalanya terasa pusing. Bergegas bangun dan ke kamar dengan harapan Juno ada disana sedang tidur, tapi harapan tinggal harapan. Laki-laki yang ia nanti dan khawatirkan tidak tampak hanya tempat tidur yang kosong dan dingin.


Kembali Bulan mengirimkan pesan.


“A… ada dimana?”


“Kenapa gak pulang? Itu luka-lukanya harus dirawat supaya gak bengkak mukanya”


Tapi ternyata pesan yang ia kirimkan hanya centang satu, artinya hp suaminya sedang tidak aktif. Apa maunya laki-laki itu pikir Bulan bukannya memberikan kabar malah mematikan handphone.


Enggan bergulat dengan ketidakpastian Bulan akhirnya mengambil wudhu dan menjalankan shalat subuh, berdoa kepada Maha Pencipta, memohon diberikan ketenangan hati dan perlindungan bagi suaminya. Hatinya merasa sedih, sulit rasanya merangkul Juno disaat emosinya sedang tidak stabil seperti itu.

__ADS_1


Walaupun kepalanya terasa berat dan hidungnya mampet karena alergi dingin, Bulan memaksakan diri untuk bersiap berangkat kerja. Hasil meeting tadi malam belum ia buat laporannya, Kevin selalu meminta laporan untuk segera di e-mail kan agar dapat ditindaklanjuti untuk disampaikan ke VP. Apalagi meeting yang melibatkan pihak eksternal seperti kemarin harus lengkap berita acaranya.


Hingga waktu menunjukkan jam tujuh lebih sepuluh menit tapi belum ada tanda-tanda kalau Juno akan pulang. Bulan menarik nafas panjang, ia memutuskan untuk pergi dengan ojek online daripada terlambat masuk kerja.


“Mana si Juno kok gak balik sih, aku kirim pesan dia gak jawab” Sarah keluar dari kamar dengan muka kesal.


“Aku perlu desainnya sekarang, tapi dia gak bales-bales. Kalau kaya gini aku mesti ke kantor dulu buat ngambil file”


Bulan hanya diam, rasanya terlalu memalukan untuk menjawab Sarah kalau ia pun diperlakukan sama, seperti tidak dipedulikan.


“Mbak aku berangkat duluan, jangan lupa nanti pintu di kunci” teriak Bulan sambil turun ke lantai satu.


“Heiii… kamu gak akan barengan sama aku?” tiba-tiba saja Sarah berteriak keras. Bulan terhenyak kaget, angin darimana Ratu Penyihir tiba-tiba berhembus sejuk.


“Hmm enggak deh Mbak macet kalau pakai mobil aku udah telat, lagian udah pesan ojek” jawab Bulan di pintu, ia mencoba menghindari percakapan lebih jauh dengan Sarah, bagaimana kalau nanti Sarah bertanya kenapa Juno tidak pulang selama mereka di mobil, Bulan paling sulit untuk berbohong.


Sesampainya di kantor, ternyata Anjar sudah datang lebih dulu, masih jam delapan kurang jadi ia punya waktu untuk menyiapkan diri. Tadi Bulan memilih membawa bekal sarapannya ke kantor. Perutnya terasa penuh dan agak mual untuk diisi pagi ini.


“Kemarin kenapa gak datang menyusul rapat meeting ke Kempinski Njar?” tanya Bulan langsung saat mereka berdua sudah duduk di mejanya masing-masing.


“Aku baru beres jam sembilan, sudah terlalu capek” jawabnya pendek. Bulan hanya mengangguk, wajar saja kalau Anjar tidak bergabung, rupanya mereka berdua lembur sampai malam kemarin.


“Laporan dinner meeting kemarin aku email langsung ke Pak Kevin yah, cc sama Mbak Icha dan kamu, khawatir nanti kalau aku berhalangan hadir kamu tahu progres terakhir” mencoba untuk melakukan pembicaraan yang profesional. Semenjak Anjar menginap di Ruko dulu, dia tidak lagi bersikap ketus dan pemarah padanya tapi menjaga jarak dan jarang berbicara lagi dengan Bulan.


Bagi Bulan lebih baik seperti itu, daripada selalu memancing pertikaian yang tidak perlu dan bersikap kekanak-kanakan. Terkadang Bulan merindukan saat mereka masih bisa bercanda dan berdiskusi tentang pekerjaan yang sedang mereka garap. Mereka merasa menjadi the winning team karena selalu berhasil menemukan solusi permasalahan saat berdiskusi. Tapi sekarang masing-masing saling menahan diri jangan sampai terjadi lagi letupan emosi.


“Selamaat Pagi….” suara Marissa memecah keheningan di ruangan saat datang.


“Gw kira belum ada yang datang, sepi-sepi amat” candaan yang cenderung suka menyindir menjadi khas dari Marissa.


“Bulan gimana meeting tadi malam sukses?” Marissa menatapnya dengan lekat,


“Alhamdulillah sukses Mbak” jawab Bulan tersenyum tipis.


“Ok Good…  Njar lu tolong wakilkan aku ke bagian Umum dong, tadi Ferdi, Manager di Umum mau konsultasi soal berkas MoU untuk investor sama Third Party, aku udah jelasin di pesan tapi kayaknya dia gak ngerti khawatir salah katanya”


“Lu kan kemarin pernah menyusun MoU jadi tau detailnya, bagiaan mana yang mesti dilengkapi” .


Dengan malas Anjar beranjak keluar, tidak mengucapkan sepatah katapun, padahal biasanya dulu ia paling cerewet kalau diminta untuk ke bagian Umum.


“Bul.. sini aku minta laporan lengkap” tiba-tiba saja nada Marissa berubah setelah Anjar keluar. Bulan terhenyak kaget, jangan-jangan Marissa tahu kejadian semalam.


“Lu ceritain gimana awalnya sampai Kevin sama si Juno berkelahi” tanpa basa basi Marissa langsung menembak pada masalah inti.


“Tadi malam si Inne telepon ribut sama gw, nanya kenapa Kevin sampai bonyok pulang kerja”


“Hari ini dia off gak masuk”


“Pak Kevin gimana kondisinya Mbak?


“Gak apa-apa?”


“Semalam sih katanya di bawa ke rumah sakit sama si Ingge, ada yang sobek sedikit tapi gak dijahit”


“Juno gimana?” tanya Marissa cepat, Bulan tergagap kaget.


“Ehmmm… sama Mbak memar dan ada luka, tapi… tapi gak ke rumah sakit” memang ia tidak ke rumah sakit karena suaminya menghilang, Bulan berusaha membuat alibi.


“Gimana ceritanya sampai si Juno ngamuk?”


“Semalam dia kebingungan nyariin kamu, katanya hp kamu mati, minta dijemput tapi gak jelasin lokasi mau dijemput dimana”


“Dia telepon aku jam sembilan malam”


“Aku udah kasih kabar sama si Kevin tapi dia gak balas juga”


“Ngasih tau kalau Juno nyariin kamu”.


“Hp aku habis batre Mbak terus chargernya ketinggalan, maksud hati mau pinjam sama Pak Kevin tapi beda jenis chargernya”


“Terus kenapa mereka berdua sampai berkelahi kaya anak kecil begitu?” tanya Marissa dengan dahi berkerut. Bulan menarik nafas dan kemudian menceritakan asal muasal perkelahian.


“Edannn si Juno… masih sumbu pendek aja tuh anak, main tonjok aja” Marissa menggelengkan kepala mendengar cerita Bulan.


“Pak Kevin juga sih Mbak malah terus memprovokator, ngomongin soal Kak Inne yang masih gak bisa move on lah dari A Juno… sambil ngetawain gitu”


“Aku juga kaget sama sikap Pak Kevin gak kaya Pak Kevin gitu yang sopan dan baik”


“Semalam Pak Kevin kaya yang sengaja mancing-mancing A Juno supaya marah terus mereka baku hantam lagi sampai parah”


“Aku beneran bingung… khawatir sama Pak Kevin pas pulang gimana?”


“Tapi A Juno marahnya luar biasa, sampai sekarang aku gak diajak ngomong sama dia” Bulan mengeluh sambil menunduk.

__ADS_1


“Aku baru dengar kalau Kevin punya Hipoglikemia, Inne gak pernah cerita sama aku”


“Dia minum alkohol gak kemarin?” tanya Marissa cepat. Bulan mengangguk


“Minum Anggur Mbak… itu investornya Pak Markus pesan anggur trus mereka pada minum, tapi aku gak minum Mbak… cuma orange jus aja” Bulan cepat-cepat membela diri. Marissa tersenyum mendengarnya.


“Pantes kalau gitu, masa minum anggur aja dia mabok sih… aneh banget si Kevin kaya anak kemarin sore” Marissa tersenyum sinis.


“Parah nih kalau begini ceritanya, bakalan panjang” gumam Marissa sambil mengetuk-ngetuk bolpoin ke meja,


“Panjang gimana Mbak? Aku beneran gak ngerti kenapa mereka sampai emosi kaya gitu, Pak Kevin juga kaya yang kesal banget sama A Juno” Bulan menunduk bingung, ia tidak kuasa menceritakan kalau semalam ia diminta berhenti bekerja. Tidak ingin menambah kerumitan dalam masalah yang dihadapi.


“Tadi Kevin minta kamu kirimkan email laporan ke dia”


“Udahlah gak usah dipikirkan… aku males kebawa-bawa urusan kaya gini… ribet!” ucap Marissa sambil beranjak dari meja rapat.


“Lain kali kamu kalau rapat kamu mesti dibarengi sama si Anjar deh… eh susah juga yah?!” Marissa seperti bingung.


“Ahhhh ribet banget sih Bulan sama kamu… banyak pantangannya” Marissa akhirnya pergi meninggalkan ruangan, mukanya terlihat kusut. Bulan duduk termangu di meja rapat, kenapa jadi banyak masalah seperti ini. Padahal ia tidak pernah membuat masalah, berusaha bekerja dengan baik dan tidak mengganggu siapapun. Ingin rasanya menangis dan mengadu tapi kepada siapa. Sekarang untuk bercerita kepada Afi pun sulit karena ia adiknya Juno, pasti akan membela kakaknya terlepas benar atau salah.


Ditatapnya hp yang di tangan, sampai sekarang Juno masih belum menjawab pesannya, status pesan masih centang satu itu berarti Juno mematikan sambungan selulernya. Bulan menarik nafas panjang ia harus berpikir jernih, dari kemarin ia belum menanyakan keadaan Kevin, walaupun bagaimana dia atasannya, sudah sewajarnya sebagai bawahan menanyakan kabar keadaannya.


“Pak bagaimana kondisinya? Semoga Bapak sudah lebih baik”


“Mohon maaf kalau kemarin Bapak jadi terluka, saya sudah mencoba menjelaskan kepada suami supaya dia mengerti”


“Laporan sedang saya kerjakan dan segera akan saya kirimkan via email”


“Sekali lagi saya mohon maaf dan semoga Bapak cepat sembuh”


Bulan mengirimkan pesan kepada Kevin dengan cepat khawatir ia kemudian berubah pikiran, terlepas kesalahpahaman yang terjadi tetap saja suaminya tidak sepatutnya mengedepankan emosi dalam menyelesaikan suatu masalah, dan disini Kevin pun ikut andil memicu perkelahian lanjutan dengan memprovokasi. Kurang dari lima menit jawaban dari Kevin sudah muncul.


“Aku baik-baik saja, hanya kondisi fisik tidak memungkinkan untuk masuk kantor sekarang”


“Aku remote pekerjaan dari rumah saja, jangan khawatir”


“Jangan merasa bersalah, bukan salah kamu. Ini urusan laki-laki”


“Saya tunggu laporannya”


Seperti biasa jawaban Kevin selalu efektif dan efisien, tidak bertele-tele dan terdengar optimis. Bulan lega paling tidak satu kekhawatiran sudah teratasi, tinggal bagaimana mengetahui kabar suaminya. Bagaimana caranya bertanya kepada Afi tanpa menimbulkan kecurigaan. Akhirnya Bulan memantapkan diri untuk mencari tahu.


“Fi sehat?”


“Kemana aja sekarang jarang ngajak makan siang bareng”


Tak lama langsung ada jawaban.


“Lu sibuk mulu, diajakin makan gak pernah ada di kantor”


“Gw sekarang kalau makan diajakin Nico keluar, kantornya pindah ke gedung seberang”


Bulan tersenyum, pantas saja sudah satu minggu ini Afi tidak pernah mengajaknya makan siang bareng.


“Mama sehat?”


“Sehat lah… sibuk tiap hari nanyain gw udah kerasa mual-mual gak… gak sabaran pengen punya cucu kayanya…”


“Lu aja deh duluan punya anak… gw masih mau asyik-asyikan dulu sama si Nico”


“Punya bayi ribet ntar kudu nyusuin...bisa-bisa gw mesti berhenti kerja lagi”


Bulan kembali tersenyum Afi secara kategori mental kedewasaan lebih lambat dari yang lain, mana mungkin anak kecil mengurus bayi pikirnya.


“Hmmm kamar A Juno dibersihin sama bibi gak setiap hari?” pancing Bulan


“Dibersihkan lah… dia kan maniak kebersihan… buruan ke rumah, ntar kamarnya bulukan gak pernah ditempati” jawab Afi.


Bulan memejamkan matanya, jawaban dari Afi menunjukkan kalau Juno benar tidak pulang ke rumah Mamah Nisa semalam.


“Iya ntar weekend insya allah aku ke rumah. Udah yah aku kerja dulu… salam sama Mama dan Nico… Bye”


Bulan mengakhiri percakapan di pesan dengan perasaan semakin bingung. Ada dimana suaminya sekarang?


Ah… Doni pikirnya, kenapa tidak terpikir dari tadi. Bulan segera mengirimkan pesan, pikirannya sudah tidak bisa lagi fokus memikirkan pekerjaan.


“Bang… lagi sama A Juno gak? Hpnya mati aku gak bisa konek sama dia” tulis Bulan, jangan sampai Doni curiga.


Lama tidak ada jawaban sampai lebih dari sepuluh menit, hingga akhirnya Bulan memutuskan untuk mulai bekerja, ia tidak mau melakukan panggilan telepon Doni pasti akan banyak bertanya dan ia tidak siap untuk menjawab apapun. Tiba-tiba saja notifikasi pesan berbunyi, Bulan segera membaca.


“Aku lagi di workshop Tangerang, dari kemarin belum ke kantor”


“Kamu telepon ke Front Office aja, ntar anak FO nya nyamperin lu supaya telepon, nomornya ada kan?”

__ADS_1


Bulan meringis kesal, hari ini cobaan kesabarannya betul-betul sedang diuji di hingga batas akhir. Menarik nafas dan mensugesti diri kalau semuanya baik-baik saja, memohon pertolongan pada yang Maha Kuasa untuk dapat dilindungi dari segala marabahaya… karena hanya Ia lah sebaik-baiknya Maha Penolong.


__ADS_2