
Selama hampir satu jam Bulan menghabiskan waktu untuk bercerita dengan Bapak dan Benny, penuh semangat dan keceriaan, tidak tampak lagi kondisi sakit seperti saat kemarin.
“Semalam Bapak sampai susah tidur gara-gara mikirin Teteh, kalau gak dimarahin Benny kayanya Bapak gak akan tidur” cerita Bapak sambil mengusap kepala Bulan.
“Ade sampai pusing soalnya Bapak bulak balik terus bangun” keluh Benny.
“Ade tidur sama Bapak emang?” tanya Bulan bingung.
“Iya kan pak supirnya tidur di kamar ade” jelas Benny sambil menggaruk-garuk kepalanya. Bulan tersenyum sambil mengusap-usap tangan Benny.
“Teteh seneng ade sekarang bisa ngurus Bapak, udah gede yah adiknya teteh teh”
“Gimana sudah siap buat ujiannya masuknya?”
“Yang seleksi rapor gimana udah ada hasilnya?”
“Ade gak ikut yang jalur seleksi rapor soalnya gak bisa milih jurusan yang ade pengen”
“Loh kenapa?”
“Yang diatas ade udah milih jurusan yang ade pengen”
“Memangnya ade mau ngambil jurusan apa?”
“Arsi” jawab Benny pendek. Bulan membelalakan matanya heran, perubahan pilihan studi yang berbeda dengan pilihan sebelumnya.
“Ade kan katanya mau jurusan kedokteran kenapa jadi rubah?” tanya Bulan heran.
“Seneng lihat desain rumah bagus-bagus”
“Kemarin ade lihat websitenya kantor Bang Juno, ade jadi seneng lihatnya” ucap Benny dengan muka penuh senyum.
“Itu teteh yang bikin websitenya bukan A Juno” protes Bulan.
“Iya tapi itu kan hasil karya Bang Juno, teteh mah cuma fotoin aja mendokumentasikan” jelas Benny membela kayak iparnya. Juno yang mendengar percakapan kakak beradik itu jadi tersenyum bangga. Bulan hanya bisa cemberut karena apa yang dikatakan Benny benar adanya.
“Kalau Benny ngambil jurusan Arsitektur nanti bisa bantu Abang di kantor” ucap Juno pada adik iparnya sambil mengacungkan jempol. Sejak kedatangan Bapak tadi ia sibuk di depan laptop.
“Serius Bang? Aku pengen kuliah sambil magang gitu biar dapat ilmunya” ucap Benny penuh semangat.
“Hmmm kalau magang nanti Abang tempatkan di kantor teman, dia lagi berkembang perusahaannya jadi banyak projectnya” jelas Juno. Muka Benny langsung terlihat sumringah.
“Serius Bang? Makasih banget aku jadi makin semangat belajar” Benny sampai mengulang-ulang pertanyaan, kemudian mengangguk-angguk gembira, tapi Bulan terlihat merengut kecewa.
“Kirain teteh mau ke jurusan kedokteran, boro-boro teteh udah seneng nanti bakalan punya adik dokter”
Juno akhirnya meninggalkan mereka bertiga mengobrol dengan penuh keakraban. Ia bisa melihat betapa keluarga kecil itu saling merindukan satu sama lain. Namun karena harus mengurus administrasi kepulangan Bulan dari rumah sakit akhirnya terpaksa keluar untuk meminta surat rekomendasi untuk kepulangan dari dokter di ruang perawat. Namun saat harus mengambil handphone yang tertinggal di kamar, dari celah pintu yang terbuka Juno bisa mendengar percakapan ayah dan anak itu.
“Kenapa sampai harus nangis-nangis seperti itu kalau mau pulang?” tanya Bapak dengan muka prihatin.
“Bapak pikir teteh disiksa sama Juno sampai nangis kejer kaya kemarin” suara Bapak terdengar prihatin. Juno langsung tercekat mendengarnya, mana mungkin dia menyiksa fisik istrinya.
“Maaf tapi teteh beneran pengen pulang aja Pak ke Bandung…Teteh cape pengen tinggal Bandung aja sama Bapak” keluh Bulan.
“Eh gimana atuh Teteh kan memang kalau sudah rumah tangga harus mendampingi suami seperti dulu Ibu nemenin Bapak” jelas Bapak dengan sabar.
“Tapi Ibu juga dulu sering tinggal di Garut lama, Teteh masih inget kalau Ibu tinggal lama sama Aki” bantah Bulan sambil cemberut. Bapak menggaruk-garuk kepala, tidak menyangka kalau Bulan akan mengingat peristiwa itu.
“Ya itu kan lagi liburan jadi tinggalnya lama” jelas Bapak sambil tersenyum kecut.
“Nggak… teteh inget, kalau Bapak bulak balik Garut Bandung” Bulan menatap Bapak lekat, yang hanya bisa menarik napas panjang.
“Kenapa atuh pengen tinggal lagi sama Bapak, kan disini enak di Jakarta… banyak hiburan, rumah bagus, di Bandung mah sempit kamar tetehnya juga”
“Lagian kasian nanti Juno nya kalau ditinggalin teteh”
“Boleh kata A Juno tadi teteh boleh tinggal di Bandung” bantah Bulan
__ADS_1
“Teteh udah cape disini, udah pusing terus kepalanya, pengen pulang aja” Bulan bersikukuh, matanya sudah basah digenangi air mata.
“Yah kalau dibolehkan sama suami gak apa-apa, tapi harus seizin suami yah”
“Ada masalah sama A Juno? Dia gak berbuat kasar kan sama teteh?” tanya Bapak pelan, Juno menahan napasnya, khawatir kalau Bulan menceritakan sikap buruknya selama ini.
Lama diam tanpa ada suara walau hanya dalam hitungan menit terasa seperti satu jam untuk Juno, ingin rasanya masuk dan menjelaskan pada Bapak tapi terlalu memalukan dan akan membuat suasana menjadi canggung.
“Nggak” terdengar pelan dan rapuh.
“Teteh cuma cape… mungkin karena kehamilan dan terlalu banyak yang dipikirkan”
“Kalau pulang ke Ruko pikiran teteh rasanya gak tenang”
“Pulang ke rumah Mama pun rasanya masih ada yang mengganjal perasaan belum lepas gitu”
“Teteh cuma pengen bisa tidur dengan perasaan tenang dan bisa menelan makanan tanpa ada perasaan tercekik” jelas Bulan, Juno menunduk rencananya untuk mengambil handphone di kamar ia batalkan. Ada perasaan malu karena tidak bisa membahagiakan istri yang seharusnya ia rawat dengan baik.
Terdiam sambil bersender di dinding sebelah pintu, memikirkan langkah terbaik untuk mereka berdua. Tadi sempat muncul harapan kalau Bulan akan mengurungkan niatnya untuk pulang ke Bandung karena sikapnya yang mulai terlihat normal. Tapi mendengar ucapan istrinya barusan ia baru menyadari akan beban perasaan dan tekanan batin yang dirasakan oleh Bulan, dan tidak pernah ia sadari.
Selama ini ia terlalu asyik dengan ambisinya, meninggalkan Bulan yang berusaha untuk bisa bertahan bersama dengan dirinya di kota yang bukan menjadi kota kelahirannya. Mencabut haknya sebagai seorang indvidu yang bebas dan memberikan beban tanggung jawab sebagai seorang istri tanpa ada proses kesepakatan yang dibangun sejak awal. Mencoba mengikuti langkahnya sebagai pemimpin dalam keluarga dan memberikan dukungan dengan apa yang dimilikinya selama ini.
Apa imbal balik yang sudah ia berikan saat istrinya meminta pengakuan atas dukungannya selama ini, hanya teriakan dan rasa marah karena merasa disinggung soal harga dirinya sebagai laki-laki karena dianggap tidak bisa memberikan perlindungan yang semestinya. Bahkan disaat ia terseok, masih ada orang yang kemudian mempertanyakan dan mengolok akan dukungannya sebagai istri. Tiba-tiba Juno merasa menjadi seperti nahkoda yang gagal dalam membawa kapal di lautan, mencoba mencari dermaga untuk berlabuh tapi tempat yang dituju itu tapi tak sejalan dengan keinginan penumpang kapal.
“Bang… Bang” suara Benny menyadarkan dirinya dari lamunan.
“Ini ada telepon dari tadi bunyi terus” Benny menyodorkan handphone yang terus berbunyi, mengangguk kaku pada adik iparnya. Tidak menyadari kalau pemuda itu telah melihatnya sedari tadi.
“Halo… ya selamat siang Mas” ternyata klien yang dari Surabaya.
“Ya… ya” Juno tampak mengerutkan dahi dalam.
“Harus besok yah bertemunya?”
“Tidak bisa lusa?” tawarnya, terdengar pembicaraan yang panjang di telepon. Benny masih berdiri di sampingnya sambil menatap kakak iparnya dengan serius.
“Saya ambil penerbangan malam saja ke Surabaya jadi besok pagi saya sudah bisa ke kantor untuk meeting” jawabnya pendek. Tangan Juno memijat kepalanya sendiri berusaha mengendurkan ketegangan pikiran yang dirasanya saat ini.
“Baik.. baik… Terima kasih”
“Selamat siang” menutup sambungan telepon dan menatap Benny yang menatapnya dengan penuh rasa ingin tahu.
“Abang harus ke Surabaya?” tanya Benny cepat. Juno mengangguk sambil tersenyum kecut.
“Hmmm ini” Benny terlihat ragu untuk bicara.
“Hmmm teteh pengen pulang dulu ke Bandung” rupanya Benny berusaha mencoba menjadi juru bicara kakaknya.
“Bisa gak kalau selama Abang di Surabaya tetehnya tinggal di Bandung dulu” jelasnya perlahan. Juno tersenyum lebar mendengar permintaan adik iparnya.
“Iya tentu saja boleh, rencananya hari ini kita ke Bandung sore, tapi karena Abang harus ke Surabaya malam, jadi kita langsung saja berangkat ke Bandung dari rumah sakit”
“Jadi sore, Abang bisa langsung kembali ke Jakarta” jelas Juno.
“Wah cape dong nanti, gak apa-apa kita ke Bandungnya pake travel aja, teteh kayanya kondisinya sudah stabil kok” Benny mengerutkan dahi bingung.
“Gak apa-apa, bisa kok sekarang kan weekday jadi lalu lintas gak macet, paling lambat jam dua kita sudah sampai Bandung, terus istirahat sebentar pulang lagi ke Jakarta maghrib sudah bisa bersiap ke Surabaya” Juno memandang jam di tangannya sambil merancang waktu perjalanan.
“Kamu bantu Abang buat nyiapin perlengkapan teteh yah di kamar supaya cepat”
“Abang mau bayar tagihan rumah sakit dulu” berbagi tugas menjadi satu-satunya jalan disaat kondisi seperti ini. Benny mengangguk setuju, bergegas kembali masuk ke kamar untuk menyiapkan perlengkapan Bulan. Rencana awal untuk membawa Bulan beristirahat dulu di rumah Mama Nisa sebelum pulang ke Bandung terpaksa dibatalkan.
Juno tidak mungkin membiarkan istrinya pulang sendiri ke Bandung walaupun ditemani Bapak dan Benny serta Supir Papa Bhanu yang selalu siap mengantar. Saat ini ia hanya ingin menunjukkan tanggung jawabnya kepada istrinya, ia ingin menunjukkan bahwa selama ini Bulan tidak berjuang sendiri, ada dirinya yang akan mendampingi dalam keadaan susah ataupun senang. Seperti yang selama ini Bulan lakukan padanya.
Rupanya Benny benar-benar menyiapkan kakaknya dalam kondisi siaga penuh untuk pulang, begitu Juno masuk ke dalam kamar sambil membawa surat izin untuk pulang. Istrinya sudah duduk rapi di kursi roda, memakai baju ganti yang dibawakan oleh Mama Nisa kemarin, lengkap dengan kerudung, memakai sepatu kerja yang kemarin ia pakai. Juno tersenyum melihatnya, ia baru tahu kalau ternyata Benny memiliki kemampuan untuk menjadi pawang bagi kakaknya.
“Waaah ini beneran sudah pengen pulang ke Bandung neng Bulannya pak” goda Juno melihat Bulan yang tampak cemas. Bapak hanya tersenyum melihat muka anaknya yang terlihat takut-takut itu pada suaminya.
__ADS_1
“Kata Benny, Aa musti ke Surabaya nanti malam, kalau sekarang ke Bandung, atuh bakalan telat nanti ke Bandaranya, aku pake travel aja gak apa-apa udah sehat kok” Bulan terlihat berusaha meyakinkan Juno yang langsung menggeleng sambil tersenyum.
“Bisa tenang saja, ayo kita pulang. Aku sudah janji kan tadi malam mau nganterin kamu pulang sama Bapak”
“Pak makan siangnya nanti kita di rest area saja yah, beli makanan take away supaya cepat” sepanjang mengurus administrasi semua hal dipikirkan oleh Juno agar bisa berjalan lancar. Kondisi Bulan yang sedang hamil dan mudah lapar, membuatnya harus menyiapkan makanan untuk di jalan. Untung saja makanan yang dibawakan oleh Cedrik masih tersisa banyak sehingga bisa jadi makanan pengganjal sebelum makan siang.
“Kumaha Juned aja kalau Bapak mah, yang penting salamet di jalan dan nanti Juned gak telat sampai Bandara” ucap Bapak dengan tenang, Juno hanya tersenyum mendengar ucapan Bapak, dengan mertuanya ini, namanya dia bisa berganti-ganti, terkadang Junaedi sekarang jadi Juned, tergantung dari mood Bapak tampaknya. Tiba-tiba ia merasakan kedekatan yang lebih dengan keluarga Bulan saat ini. Merasa menjadi anak laki-laki yang dituakan oleh keluarga, dihargai dan diikuti atas pertimbangan yang ia ambil untuk kepentingan bersama.
Berjalan beriringan di lorong Rumah Sakit dengan Bapak yang berjalan di samping kursi roda Bulan dan memegang erat tangan anaknya. Kursi roda didorong Juno dengan hati-hati jangan sampai melewati lantai yang bergelombang ataupun harus berhenti mendadak sehingga menimbulkan pergerakan yang tiba-tiba dan menggoyang kepala istrinya. Benny mengikutinya dengan patuh di belakang, lengkap dengan semua tas perlengkapan milik kakaknya.
Seperti dugaannya, perjalanan ke Bandung berjalan dengan lancar, hanya berhenti selama lima belas menit untuk membeli makanan siap saji. Karena perjalanan jauh maka sholat diputuskan untuk di jama saja dan ternyata begitu masuk kota Bandung, waktu baru menunjukkan pukul dua lebih sepuluh menit.
Muka Bulan terlihat ceria saat memasuki Kota Bandung, benar apa kata Bapak, kalau istrinya mungkin harus menghirup dulu udara dan minum air dari kota kelahirannya supaya merasakan kembali kebahagiaan dan semangat untuk kembali melanjutkan perjuangan hidup.
“Aduuuh rasanya kaya bertahun-tahun gak pulang ke Bandung” ucap Bulan saat memasuki gerbang tol pasteur.
“Dulu teteh suka dijemput sama Bapak disini yah malam-malam”
“Bapak suka iseng ih bilang ojeg neng ojek” ucap Bulan sambil tertawa mengenang dulu saat ia pulang malam-malam di hari Jumat agar bisa lebih lama tinggal bersama Bapak dan Benny. Bersender di lengan Bapak sambil memandang pemandangan di luar. Sinar matahari masih terasa teriknya, tapi untuk Bulan teriknya matahari di Bandung tidak seperti di Jakarta.
“Beneran yah ada istilah sekejam-kejamnya ibu tiri lebih kejam ibu kota” ucap Bulan dengan tegas.
“Di Jakarta jam segini beuhh mana mau keluar dari ruangan, kaya dipanggang kalau keluar tuh”
“Waaduh meni sampai segitunya teh.. Bukannya dulu Teteh yang pengen kerja di Jakarta”
“Kenapa sekarang kaya yang sebel gitu” ucap Benny sambil tersenyum, duduk di depan disamping Juno yang sibuk menyetir sambil mendengarkan istrinya berkeluh kesah.
“Pengen dingin mesti pakai AC, udah pakai AC terlalu dingin jadi flu, gak pake AC panas… ah pokoknya serba salah. Terus-terusan pake AC bikin tagihan listrik naik”
“Tapi kenapa banyak orang yang betah tinggal di Jakarta yah, sampai mau tinggal di rumah yang sempit… soalnya kan kesempatan di Jakarta lebih besar daripada tinggal di daerah lain Teh”
“Ngumpulin sampah di Jakarta karena orangnya banyak jadi cepat, kalau di kampung keluyuran seharian mungkin baru bisa dapat”
“Di Jakarta cuma beberapa jam sudah penuh karungnya”
“Ah pokoknya Teteh gak betah tinggal di Jakarta” ucap Bulan mengakhiri perdebatan dengan adiknya.
“Teteh mau di Bandung aja” jawabnya pendek sambil melirik Juno dengan takut-takut. Juno hanya tersenyum kecut. Untuk saat ini ia tidak ingin memperdebatkan soal tempat tinggal, seperti apa yang dikatakan Mama Nisa kemarin, saat ini yang terpenting adalah kesehatan istri dan janin yang dikandungnya. Menenangkan Bulan sehingga tidak mengalami stress menjadi prioritas penting saat ini. Ia harus mengalahkan ego dan keinginan pribadinyai supaya sinar dari Rembulan bisa kembali dan menghangatkan kehidupannya.
“Iya boleh” jawabnya pendek.
“Bulan bisa tinggal di Bandung dulu Pak sampai kondisinya stabil”
“Beberapa hari dan mungkin minggu kedepan saya akan sering keluar kota”
“Khawatir juga kalau saya tinggalkan di Ruko sendirian”
“Kalau di Bandung kan bisa bersama dengan Bapak dan Benny” ucapnya bijak. Bapak tersenyum sambil mengusap perlahan rambut anaknya.
“Mudah-mudahan nanti kalau sudah sehat, Bulannya bisa bersinar lagi Pak” ucap Juno sambil tersenyum melihat istrinya
“Bapak bisa nyanyi lagu Mansur S dong sekarang kalau teteh pulang”
“Ahhh Bapak mah... pasti aja nyanyi lagu itu” protes Bulan sambil menutup telinganya.
“REMBULAAAAAN BEERSINAR LAGIIII”
Mendung pun tiada lagi
Hati yang seakan mati
Kini gairah kembali
Rembulan bersinar lagi
tarikmaaaaamhsemongko
__ADS_1