
Minggu ini adalah minggu terakhir Juno bekerja, setiap hari pasti pulang hingga larut malam, Bulan juga kerap pulang sendiri, perjalanan yang memakan waktu lama daripada ke kost-an membuatnya harus pulang lebih cepat karena jalur pulang tidak dilewati Busway seperti waktu tinggal di kost-an dulu. Kalau pulang masih siang ia menempuh dua moda transportasi yaitu busway dan ojek online tapi kalau sudah malam maka langsung naik ojek online sehingga bisa sampai lebih cepat.
Pekerjaan di kantor sedang menurun kesibukan sehingga hampir dikatakan jarang sekali ia pulang lewat dari maghrib atau isya seperti dulu. Biasanya jam lima ia sudah bersiap-siap untuk pulang, kecuali hari ini,
“Bulan… kamu bisa gantiin ikut dinner meeting dengan Pak Kevin?”
“Tiba-tiba Tanteku sakit dan gak ada yang menemani ke rumah sakit sore ini”
“Anjar tidak akan menguasai bahan tentang analisa keuangan, soalnya harus menghitung persentase pembagian keuntungan pada setiap termin. Nanti harus di simulasikan, aku udah bikin simulasinya, cuma mereka biasanya suka menawar nanti investor pasti akan minta kita yang menganalisa” kalau untuk hitung menghitung Anjar memang bukan ahlinya, dia paling ahli dalam negosiasi dan memberikan analisa pasar.
“Euhh tapi aku bajunya kaya gini gak apa-apa Mbak?” hari itu memang Bulan tidak menyiapkan diri untuk ikut rapat, dia hanya memakai kemeja lengan panjang model blus dan celana kain biasa.
“Gak apa-apa masih formal kok, masalahnya si investor ingin ketemuan di restoran yang kemarin, kayanya ingin m dijamu soalnya mereka mau menanam modalnya lumayan besar” jelas Marissa, mata Bulan kembali membulat.
“Restoran yang mahal itu?” waktu itu Bulan tidak ikut karena memang bukan tanggung jawabnya.
“Ahh iya kamu gak ikut dulu, padahal mestinya kemarin kamu ikut supaya hafal suasananya. Tapi gak apa-apa sekarang juga sama saja seperti dulu” hibur Marissa ia sudah merapikan barang-barang bawaannya terlihat tergesa dan khawatir.
“Iya Mbak gak apa-apa aku coba handle nanti, bahan-bahannya sudah ada di Pak Kevin?”
“Ya aku sudah siapkan di map di meja rapat ada dua eksemplar, satu buat kamu satu buat Kevin. Kamu punya waktu satu jam buat baca-baca bahan” Marissa sudah beranjak dari mejanya.
“Pak Kevinnya kemana Mbak?” hari ini Bulan tidak bertemu Kevin dari pagi.
“Lagi nganterin Elma ketemu sama eyangnya, mereka lagi ke Jakarta” jelas Marissa sambil beranjak ke pintu.
“Ok Bulan good luck I’m counting on you yaaa” Marissa melambaikan tangannya dan meninggalkan ruangan tanpa banyak basa basi. Bulan menarik nafas panjang, ini berarti ia harus meminta Juno untuk membeli makan malam sendiri, karena ia tidak bisa pulang cepat. Baterai di hp nya sudah hampir habis tinggal dua puluh persen, sedangkan ia tidak membawa charger. Berharap agar bisa meminjam pada yang lain, tapi apa daya seharian tadi dia cuma menjadi satpam di ruangan karena yang lain punya agenda rapat keluar semua.
Bulan kemudian mengirimkan pesan
“A.. aku mesti ikut dinner meeting, Mbak Icha yang seharusnya pergi berhalangan, mesti nganterin Tantenya”
“Aa makan malam diluar aja, aku gak sempat masak”
“Hmmm kalau bisa nanti jemput yah… tapi aku gak tau restorannya dimana”
“Nanti aku share lock kalau sudah sampai”.
Setelah mengirimkan pesan sekitar lima menit tak kunjung ada balasan akhirnya Bulan memutuskan untuk telepon. Sampaikan beberapa kali panggilan tapi tidak diangkat juga, akhirnya Bulan memutuskan untuk menunggu saja telepon dari Juno, mungkin sedang sibuk pikirnya.
“A… hp aku mw habis baterainya, nanti mudah-mudahan bisa pinjam ke Pak Kevin. Aku gak bawa charger”.
Itu adalah pesan terakhir yang ia kirimkan, karena setelahnya Bulan sibuk mempelajari bahan untuk pertemuan nanti malam. Hingga maghrib menjelang Bulan bergegas menjalankan shalat maghrib, ia harus sudah siap nanti saat Kevin datang ke kantor karena pasti dibutuhkan waktu untuk bisa ke tempat meeting, sehingga ia harus bersiap.
Betul saja belum lima menit ia selesai touch up make up di toilet, telepon masuk ke hpnya. Kevin.
“Bulan kamu posisi dimana?” suara Kevin terdengar tergesa.
“Saya di kantor Pak”
“Ok.. lima belas menit lagi saya sampai kamu tunggu di lobby, saya terlambat tadi agak macet” telepon langsung dimatikan, menandakan Kevin sedang sibuk. Bulan bergegas menyiapkan diri, kalau bertemu dengan klien harus membawa image yang baik. Hari ini pakaiannya terlalu sederhana hanya rapi saja, tiba-tiba Bulan teringat ada scarf yang diberikan oleh Marissa kemarin, bisa dipakai di leher sebagai pita sehingga terlihat ada variasinya.
Setelah mematut diri memakai scarf, itu pun harus mencari tutorialnya di YB sampai menemukan model yang pas, ia langsung meraup map dokumen dan langsung turun menuju lobby. Ternyata menonton tutorial scarf memakan waktu sehingga saat ia keluar dari Lobby dari kejauhan terlihat mobil Kevin mendekat, huffft Bulan menarik nafas lega untung saja dia sudah siap.
“Ready?” Kevin tersenyum, hanya sendiri? Kemana Anjar? Itu pikiran Bulan saat melihat Kevin sendiri di mobilnya, bukankah project Marissa selalu bersama Anjar.
“Anjar-nya kemana Pak?” Bulan memandang Kevin dengan ragu, ia tidak ingin ada masalah ke depan.
“Dia handle rapat dengan klien yang lain, kalau selesai lebih cepat nanti dia gabung sama kita” jelas Kevin sambil tersenyum.
“Dont worry Bulan aku gak akan gigit walaupun hanya berdua” Kevin tertawa melihat wajah pucat Bulan.
“Ehhh bukan apa-apa Pak… gak apa-apa.. cuma gak enak aja kirain sama Anjar” Bulan tersenyum tipis, ia harus profesional jangan berpikir buruk. Selama ini Kevin selalu sopan dan bersikap profesional pada dirinya. Bulan bergegas membuka pintu mobil dan duduk di samping Kevin. Selama ini Kevin dan Marissa selalu bersama dalam mengikuti rapat dan semuanya baik-baik saja, jadi its fine pikir Bulan.
“Ayo Pak … kita selesaikan, supaya bisa pulang cepat juga” ucap Bulan sambil memasang seatbelt.
“Belum mulai udah mau pulang bagimana?!” gerutu Kevin.
“Hehehehhe I’m not single now Pak, over time its not my style anymore” Bulan tersenyum membayangkan muka cemberut Juno kalau nanti pulang.
“Eh Pak boleh pinjam charger hp, saya habis batre dan chargernya lupa tertinggal di rumah” ia langsung ingat untuk meminjam charger.
“Hmm handphone nya apa? Aku gak bukan iphon*... gimana mau beli dulu?” tawar Kevin yang langsung disambut dengan gelengan kepala Bulan.
“Gak usah Pak, nanti saya cari disana, sudah gak ada waktu”
“Meeting-nya jam 7 kan? Ini sudah hampir terlambat kan Pak. Khawatir macet kesana” Bulan tadi sempat googling butuh waktu empat puluh lima menit di jam pulang kantor seperti sekarang.
“Ya jangan khawatir tadi aku sudah pesan mereka bisa start dinner dulu, jadi meeting-nya baru mulai nanti sekitar jam delapan malam”
“Huffft syukurlah aku tadi udah panik aja Pak ngeliat maps ternyata butuh empat puluh lima menit lebih untuk sampai kesana” mendengar itu Bulan langsung menyandarkan punggungnya ke kursi penumpang, terlihat kalau tadi dia merasa panik.
“Hahahahaha kamu ternyata mudah merasa stress oleh hal-hal kecil. Don’t worry ini sudah jadi tanggung jawab saya, kamu tinggal ikuti permintaan saya terkait bahan materi”
__ADS_1
“Tapi kamu sudah bisa membaca pikiran saya kok, belum saya minta biasanya sudah nyodorin bahannya kaya punya telepati”
“Atau jangan-jangan kamu bisa baca pikiran orang?” goda Kevin.
“Emangnya saya indigo Pak bisa baca pikiran orang”
“Saya hanya bisa membaca bahasa tubuh aja, kaya waktu rapat kemarin tuh Pak bagian pajak kan bilang kalau perusahaan startup itu tidak memiliki data yang valid tentang income tetap mereka sehingga sulit menghitung pajak mereka dengan cepat. Bapak mengetuk-ngetuk pulpen sambil nulis valid income… jadi saya langsung googling saja”
“Jadi saya harus membagi dua konsentrasi sebetulnya saat rapat antara mendengar pembicaraan klien sama kemungkinan jawaban Bapak… butuh konsentrasi tingkat dewa kalau rapat sama Bapak”
“Soalnya nanti kalau kita gak antisipasi tiba-tiba aja Bapak melirik dan bilang.. “Saya butuh dana ini sekarang! panik saya Pak”.
“Hahahahah seriously? Konsentrasi tingkat dewa yah hahahahaha”
“Kapan kamu bisa mengerti ritme kerja sama saya?”.
“Hmmm setelah pertemuan kedua, saya mulai antisipasi, gak mau keliatan muka gelagapan lagi. Aslinya saya orangnya panikan Pak…”
“Kalau udah panik tangan suka dingin keringetan trus tremor gitu Pak”
“Untung gak jadi dokter kebayang kalau jadi dokter pas disuruh bedah trus tremor… waaah gak akan bisa nyuntik”.
“Hahahahahha… saya jadi pengen liat kamu panik lucu kayaknya hahahahaha” Kevin terus tertawa mendengar cerita Bulan.
“Ehhh orang panik malah diketawain!”
“Kurang persiapan itu Pak kalau panik, makanya saya lebih suka mempersiapkan sebaik mungkin segala hal untuk meminimalisir panik”
“Siapkan bahan paparan dengan baik, dibaca dan dikuasai bahannya, kemudian membuat perkiraan pertanyaan atau hal-hal yang sekiranya gak dimengerti sama orang dan harus kita jelaskan lebih terperinci”
“Jangan lupa mesti memperkuat nilai jual dari paparan kita apa, supaya orang melihat nilai lebihnya apa” jelas Bulan panjang lebar.
"Whahahahahah… Bravo… bravo… senang aku dengarnya. Kamu bakalan bisa berkembang dengan baik di divisi ini”
“Itulah yang belum diketahui orang lain, Rembulan” muka Kevin terlihat puas
“Terkadang mereka saat presentasi hanya sekedar gugur kewajiban tidak memperhatikan kenapa mereka harus presentasi”
“Tidak fokus bahwa ada satu hal penting saat kita menyampaikan bahan itu”
“Nilai jual… apa yang membedakan kita dengan yang lain? Kenapa mereka harus memilih produk kita? … Keuntungan apa yang akan mereka dapatkan?”
“So we have to think dari sisi mereka bukan dari sisi kita… tentu saja bukan berarti merugikan kita karena disaat mereka say yes itu berarti kita mendapatkan hati mereka… we got it!”
Bulan mengangguk-angguk setuju, selama ini mereka jarang berdiskusi sampai sejauh ini hanya terbatas pada konten materi pekerjaan.
“I think next time kamu yang harus presentasi… jangan dibelakang layar terus.. Belum setahun tapi aku kira kamu sudah bisa mewakili perusahaan untuk melakukan koordinasi kerjasama kemitraan” puji Kevin, yang langsung disambut dengan gelengan kepala Bulan.
“Wah jangan Pak… saya masih belajar. Selama ini saya terlalu banyak berurusan dengan angka tapi minim pengalaman dengan manusia. Masih harus banyak belajar dengan Pak Kevin dan Mbak Icha” jawabnya tegas.
“*Ohhh OK… don't worry ...*kamu bisa Learning by Doing... “
“Whahahah Bapak masih inget aja teorinya John Dewey learning by doing” Bulan jadi teringat buku yang ia baca tentang manusia belajar dari lingkungannya dari proses interaksi dan proses beradaptasi.
“Kamu tahu dia?” Kevin terlihat kaget tidak menyangka kalau Bulan akan memiliki minat membaca yang sama.
“Aku suka buku yang membahas tentang interaksi manusia dengan lingkungannya Pak”
“Banyak yang kita bisa pahami, selama ini kalau kuliah karena di akuntansi kebanyakan berbicara soal angka, ilmu tentang ekonomi sosialnya tidak banyak dibahas di kuliah”
“Mungkin kalau saya kuliah di ekonomi pembangunan atau management saya akan banyak mempelajari itu”
“Tapi dulu saya ambil akuntansi karena katanya banyak yang membutuhkan jadi peluang mendapatkan pekerjaannya lebih cepat”.
“Ya … saya kuliah di pemasaran jadi banyak kajian tentang bagaimana memahami karakter individu, jadinya saya juga suka baca buku tentang memahami karakter manusia”
“Nanti saya pinjamkan buku yang menarik yang pernah saya baca” Kevin tersenyum lebar.
“Serius Pak?… wah makasih banget sudah lama saya tidak membaca buku” sejak menikah dengan Juno relatif tidak memiliki waktu untuk me time. Hari libur dihabiskan untuk menata rumah atau memasak makanan kesukaan Juno atau membuat persediaan makanan yang tinggal dihangatkan sehingga ia bisa lebih tenang di hari biasa.
Tidak terasa mereka sudah sampai di tempat meeting malam ini, ternyata Restaurant yang berada di lantai atas Hotel Indonesia Kempinski yang memang terkenal memiliki sajian dan layanan restaurant terbaik. Waktu sudah menunjukkan jam 7.30 masih ada waktu kalau sekiranya meeting akan dimulai jam 8 malam.
Mereka dibawa ke eksekutif room yang telah disiapkan untuk meeting malam ini, ternyata ada hampir sepuluh orang yang mengikuti meeting, semuanya memakai pakaian formal jas bagi laki-laki dan ada dua orang perempuan dengan pakaian yang formal juga.
“Pak Kevin kami mendahului makan malam, kalau sudah tua terlambat makan bisa masuk angin” seorang laki-laki yang tampak paling senior di antara semuanya memulai percakapan terlebih dahulu.
“Ahahahah maaf, tadi saya harus mengantarkan putri saya bertemu Eyangnya dari Surabaya, perjalanan dari Bandara ternyata macet sampai saya harus memutar balik keluar dari highway” gaya dan cara bicara Kevin yang selalu membuat Bulan kagum, mana ada orang yang menyebut jalan tol dengan highway… harus ia ingat lebih enak disebut dengan highway.
Mencium aroma makanan yang ada di ruangan membuat perut Bulan langsung terasa lapar, tapi ia tidak mungkin ikut nimbrung makan apalagi Bos Kevin tidak menunjukkan tanda-tanda untuk ikut bergabung makan bersama, ia cukup tersenyum dan memberikan tanda tidak perlu saat ditawari waitress. Tampaknya malam ini ia harus menahan lapar dengan minum air putih saja.
Dan betul saja tak lama setelah kedatangan Kevin dan Bulan, meja langsung dibersihkan. Kevin memulai meeting dengan memperkenalkan pihak Investor yang hari itu datang untuk bertemu langsung perusahaan yang memiliki potensi untuk berkembang, dan bisa memberikan keuntungan dalam jangka waktu pendek. Nilai yang akan diinvestasikan cukup besar, itulah sebabnya mereka melibatkan kantor auditor untuk bisa menyaring dan memberikan rekomendasi perusahaan mana yang layak dan aman untuk investasi mereka.
Ada tiga perusahaan yang diundang, mereka adalah perusahaan yang bergerak di bidang retail pakaian dengan mengusung Brand F&F (Female and Fashion) sudah memiliki tiga jenis produk pakaian wanita sehari-hari, pakaian olahraga dan pakaian pesta. Produknya telah masuk hampir di seluruh wilayah Indonesia. Tapi ternyata omset pemasukan terbesar mereka melalui pemasaran online. Ada dua orang yang datang dari perusahaan ini yang keduanya perempuan dengan penampilan yang menarik dan elegan. Ternyata perempuan yang cantik memiliki suara yang halus dan lembut, terbukti saat memanggil Kevin terdengar seperti suara hembusan angin di pohon.
__ADS_1
“Mas Kevin kita bisa lebih dulu presentasi…” ucap salah seorang dari mereka.
“Oh tentu, kita sepakati saja..” jawab Kevin cepat memandang semua peserta meeting hari ini.
“Saya tidak ada masalah” jawab seorang lelaki muda dengan penampilan klimis rapi, cowok metropolis pikir Bulan, kulitnya sangat halus dan berkilau. Bahkan kulit Bulan sebagai perempuan masih kalah kilauannya dengan laki-laki di depannya ini. Dari map yang dibawanya Bulan langsung paham kenapa laki-laki itu sangat sehat kulitnya. Mereka dari perusahaan kosmetik yang sedang hits saat ini di internet.
Perusahaan kosmetik dengan Brand FY atau Forever Youth juga menjadi salah satu brand yang mengusung skin care bagi laki-laki maupun perempuan. Image yang mereka jual adalah perawatan diri tidak hanya dilakukan oleh perempuan saja tapi laki-laki juga harus menjaga dan merawat diri sehingga penampilan akan selalu tampil muda. Wakil dari perusahaan ini adalah laki-laki dan perempuan, ia belum berkenalan dengan semua peserta yang hadir.
Sedangkan perusahaan ketiga adalah perusahaan sepatu yang saat ini sedang banyak disukai oleh kalangan muda dan menjadi brand yang terkenal karena kualitasnya. Brandnya CraftsMan sangat disukai karena mereka hanya membuat model dengan jumlah tidak banyak sehingga nilainya menjadi eksklusif dengan desain yang unik. Perwakilan dari perusahaan ini adalah dua orang laki-laki muda yang sangat sophisticated penampilannya, dengan sepatu yang mengkilap dan jas yang slim fit membuat mereka tampil keren.
Bersama dengan para pengusaha muda membuat Bulan menjadi lebih santai dan menikmati presentasi dari setiap perusahaan, ternyata mereka benar-benar orang yang memiliki visi dan tujuan untuk berwirausaha dan tidak tergantung bekerja pada orang lain. Hampir semuanya menyatakan bahwa ingin memiliki kebebasan dalam mengekspresikan gagasan dan bisa lebih mengembangkan diri tanpa dibatasi oleh aturan orang lain.
Tidak terasa waktu berjalan selama hampir dua jam sampai akhirnya pihak investor menyetujui untuk memberikan investasi kepada ketiga perusahaan dengan beberapa persyaratan hingga tercapai kesepakatan. Semua pihak tampak puas sehingga akhirnya pihak investor memanggil waiters untuk menyiapkan minuman anggur sebagai penutup acara meeting dan makan malam.
Bulan merasa kaget minum anggur tapi yang lain tampak santai dan tidak terganggu.
“Kenapa? Anggur bukan minuman beralkohol sama saja seperti jus buah-buahan yang lain” bisik Kevin yang melihat muka Bulan yang pucat.
“Tapi kan ada alkoholnya pak walaupun sedikit” bisik Bulan lagi, Kevin tersenyum.
“Ya sudah kamu minum orange jus saja kaya bayi”
“Gak apa-apa disebut bayi aja, daripada nanti aku dimarahin sama Allah” balas Bulan.
Kevin kemudian memesankan orange juice untuk Bulan, tapi tak disangka dua orang laki-laki pemilik perusahaan sepatu juga memesan minuman orange juice juga. Mereka berdua tersenyum pada Bulan sambil mengacungkan jempol. Ternyata walaupun penampilannya seperti pria metropolis mereka masih memegang aturan yang ketat untuk minuman yang halal untuk diminum.
Semua pihak merasa puas dan senang hingga akhirnya pertemuan ditutup dengan salam hangat dari semuanya. Waktu sudah menunjukkan sembilan tiga puluh saat semua tamu sudah pulang.
“Kita belum makan, aku pesan makan dulu” tiba-tiba saja Kevin memanggil waiters.
“Pak saya mau pulang saja makan di rumah… saya gak bisa menghubungi suami” suara Bulan terdengar khawatir.
“Saya antar, kamu telepon dia… tapi saya perlu makan dulu, kepala saya mulai pusing ini gula darahnya sudah turun” muka Kevin memang mulai terlihat pucat.
“Bapak kenapa lagi?” Bulan kaget.
“Hee saya punya hipoglikemia jadi harusnya selalu teratur makan” Kevin duduk dan menunggu makanan di meja. Akhirnya Bulan ikut duduk dan memandang Kevin lekat.
“Telepon suami kamu dan bilang nanti aku yang akan antar kamu ke rumah, jangan pakai taksi sudah terlalu malam” muka Kevin tampak semakin pucat.
“Pak saya punya cokelat” Bulan ingat ia menyimpan cokelat di tasnya.
“Ahhh terima kasih… ini yang saya butuhkan” Kevin dengan segera mengambil cokelat dari tangan Bulan dan mengunyahnya dengan cepat.
“Bapak sering seperti ini? Harus teratur makan dong Pak jangan sampai seperti ini!”
“Untung tadi meetingnya sudah selesai, gak kebayang kalau tadi Bapak sakit seperti ini pasti aku panik” Bulan menatap Kevin dengan tatapan sedih.
“Aku akan menjaga image jangan khawatir”
“Sekarang sudah santai jadi tidak usah menjaga image lagi”
"Kamu tidak telepon suami kamu?"
"Saya belum hapal nomor hp nya Pak, selama ini saya langsung telepon dari hp" Bulan tampak bingung, ia menyesal tidak ingat nomor hp Juno diluar kepala.
"Ya sudah toh nanti aku akan antar kamu pulang"
“Ayo kita makan” begitu hidangan datang Kevin langsung menyantapnya dengan cepat, sambil makan Bulan sesekali menatap Kevin dengan sedih, ternyata laki-laki yang selalu terlihat ceria dan bahagia itu menyimpan kondisi yang mengkhawatirkan kalau terlambat makan”.
“Kenapa? Jangan mengasihani aku… aku baik-baik saja tidak akan mati dalam waktu dekat” Kevin tersenyum menggoda Bulan.
“Hehe gak Pak… kaget aja, Bapak terlihat selalu ceria dan bawaannya santai”.
“Ini bukan penyakit berat Rembulan hanya harus teratur makan dan selalu menyimpan cokelat seperti kamu sekarang” Kevin sudah menghabiskan makannya dengan cepat, menu yang ia pesan memang simple salmon steak untuk mereka berdua, lengkap dengan mashed potato.
“Ayo kita pulang!” Kevin membuka jas nya agar lebih santai, sesekali menggelengkan kepalanya.
“Masih pusing Pak? Bapak sih pakai minum anggur segala jadi aja nambah pusing!” Bulan menggerutu.
“Gimana Bapak mau nyetir kalau pusing begini” Bulan menjadi panik ia khawatir.
“Don’t worry I’m OK” Kevin berjalan mendahului diikuti Bulan yang mengikuti dengan tergesa. Waktu sudah menunjukkan sepuluh malam saat Kevin dan Bulan menunggu petugas hotel mengambil mobil yang diparkir di basement. Bulan khawatir kondisi Kevin yang terlihat tidak stabil untuk menyetir, sehingga tidak memperhatikan lingkungan di sekitar hotel dan tiba-tiba Kevin seperti akan rubuh.
“Paaak…. “ Bulan berteriak kaget karena Kevin yang tiba-tiba saja merengkuhnya.
“Kepala saya kok pusing lagi” Kevin mengeluh, Bulan bingung ia mencari kursi tapi sebelum sempat ia bereaksi tiba-tiba terdengar teriakan yang membuat jantungnya terasa copot.
“Baaangssaaaad…… jangan sentuh diaaa” suara teriakan Juno membuat Bulan tersentak melihat arah suara dari belakangnya.
“A… bukan...ini….”
“Bughhhh…..” Kevin terpental kebelakang …..
__ADS_1
Hadeuuuuh…. Baku hantam ini siy… Siapa yang akan menang Bang Jun atau Bang Ke...