Rembulan

Rembulan
Penyesalan


__ADS_3

Sabtu pagi kesibukan di rumah dirasakan oleh semua orang. Bulan yang menyiapkan sarapan untuk suaminya karena Juno meminta dibawakan nasi goreng kesukaannya. Mama yang terlihat hilir mudik menyiapkan ini dan itu tapi kemudian dibatalkan dan disimpan lagi. Mencoba menenangkan diri dengan duduk menonton tv tapi akhirnya kembali membuat sesuatu di dapur.


Afi seperti biasa membuat keributan dengan komentar ini itu dan permintaan yang harus diikuti oleh Emil dengan sabar.


“Mau pakai caramel gak? tanya Afi dengan tidak sabar, ia sedang sedang membuat puding. Berniat membuatkan Papa puding tapi karena khawatir tidak diperbolehkan akhirnya Emil yang menjadi bahan percobaan dengan rasa yang berbeda.


“Terserah… yang penting gak memberatkan kamu” jawab Emil matanya fokus memainkan game Mobile Legend.


“Kalau jadi laki-laki mesti ada keinginan… ada lagunya.. Jangan cintaiku apa adanya jangaaan”


“Tuntutlah sesuatu biar kita jalan kedepan” jawab Afi berapi-api


“Gimana aku ada keinginan bikin makanan enak kalau kamu nerima-nerima aja hasil bikinan aku” sambungnya.


“Heeeh Emilio Nicholas Saputra dengar aku gaaak sih” teriak Afi kesal. Emil langsung berhenti bermain game dan memandang Afi dengan tersenyum kaget sambil sesekali melihat ke hape. Panggilan nama lengkap itu seperti alarm tanda bahaya.


“Iya sayaaang… aku denger” Emil tersenyum sambil mengangguk cepat.


“Pakai caramel biar manis pudingnya… manis kaya Afianti”


Mama hanya menggelengkan kepala mendengar percakapan keduanya.


“Hmmmm… tapi caramel bikinin aku suka gosong… sekarang jangan pakai caramel… pakai potongan nata de coco aja yah biar gampang” sambungnya lagi sambil beranjak menuju lemari pendingin untuk mengambil nata de coco. Mendengar jawaban Afi Emil hanya tersenyum sambil menggaruk-garuk kepala, baginya tidak jadi masalah memakai toping apapun selama Afi senang dan dia bisa melanjutkan bermain game di weekend.


“Bulan… ini masukan bubur sumsum kedalam tas bekal”


“Jangan bilang kalau Mama yang bikin bubur ini”


“Nanti tawarkan saja sama Papa kamu, soalnya kalau dia sakit biasanya suka malas makan”


“Suka pilih-pilih orangnya” jelas Mama sambil terlihat menerawang jauh.


“Iya Ma” jawab Bulan sambil memasukan wadah berisi bubur sumsum ke dalam tempat bekal.


Akhirnya pagi itu mereka berangkat lebih cepat, jam delapan pagi sudah meluncur menuju rumah sakit.


Kamar Papa Bhanu tentu saja memiliki fasilitas dengan kelas VVIP. Fasilitas yang tidak pernah dipakai olehnya karena memang selama ini jarang sakit apalagi sampai masuk rumah sakit. Paling dipergunakan kalau melakukan general check up setahun sekali.


“Assalamualaikum” ucap Bulan yang mengikuti Afi masuk ke kamar. Wuiiih kamarnya luas, ada tambahan satu tempat tidur yang bisa dipakai untuk yang menemani pasien… disaat uang tersedia fasilitas pun bisa menyesuaikan.


Juno yang tengah duduk di sofa langsung berdiri dan tersenyum.


“Nungguin yah?” ucap Bulan sambil tersenyum pada suaminya, berpisah satu malam saja seperti ditinggal seminggu rasanya. Setelah menyimpan makanan pesanan Juno, ia segera menghampiri Papa Bhanu yang tampak salah tingkah menatap ke arah pintu, rupanya Mama Nisa yang masuk bersama Emil.


Bhanu sibuk merapikan rambutnya yang acak-acakan. Entah kenapa… apa karena sakit penampilannya yang biasanya rapi dengan rambut klimis kini hilang. Bulan bisa melihat dengan jelas ternyata rambut Papa Bhanu telah banyak ditumbuhi uban, rambut depannya yang biasanya klimis tertata dengan rapi sekarang jatuh berserakan seperti remahan biskuit Khong Guan.


“Nis… hehe.. makasih udah mau datang” mata Bhanu hanya tertuju pada Mama Nisa.


“Gimana kondisi?” tanya Mama datar.


“Baik..baik… kemarin aku kayanya kepanasan waktu di Bogor. Kena heat stroke” jelas Papa Bhanu mencoba mencari alasan yang terdengar ringan tentang sakitnya, tangannya masih saja sibuk merapikan rambut dan pakaian rumah sakit.


“Sudah makan?” tanya Mama lagi.

__ADS_1


“Makannya hanya sedikit… gak berselera katanya Ma” kali ini Juno yang menjawab, ia sedang asyik sarapan nasi goreng yang dibawakan Bulan. Mama Nisa memandang pada Bulan seakan memberikan isyarat supaya Bulan memberikan makanan yang tadi Mama buatkan. Bulan langsung paham dan mendekat ke tempat tidur Papa.


“Pa.. tadi kita bawa Bubur Sumsum juga… mau coba gak? enak buat yang lagi sakit tuh” ucap Bulan dengan penuh semangat. Papa terdiam dan kemudian melirik pada Mama Nisa.


“Ya… boleh.. Papa mau coba” ucapnya pelan. Bulan segera menyiapkan bubur yang dibawa. Ternyata ada pantry kecil yang menyimpan perlengkapan makan yang bisa dipakai keluarga pasien. Sungguh fasilitas yang lengkap.


“Dicoba dulu Pa… enak loh.. buatan Mama selalu enak” sambung Bulan yang langsung kaget sendiri karena menyebutkan Mama yang membuatkan buburnya. Mama cuma bisa menggelengkan kepala melihat menantunya itu, padahal tadi malam sudah disikat tapi tetap saja keceletot.


“Iya Papa tahu… dulu kalau Papa sakit biasanya Mama suka membuat bubur sumsum seperti ini”


“Rasanya beda karena Mama kamu gak pernah pakai santan tapi susu kemudian kuahnya bukan dari gula merah tapi madu yang dicairkan” jelas Papa sambil memandang mangkuk bubur yang di hadapannya.


“Ohh pantas aku juga heran kenapa kuah gula merahnya gak kental warna dan lebih muda gitu… iya yah jadi bagus lebih sehat pakai madu supaya lebih berenergi yang sakitnya” Bulan mengangguk-angguk mengerti.


“Nanti aku belajar bikin ah sama Mama, pasti A Juno juga suka makan bubur sumsum kaya gini” tanya Bulan pada suaminya.


“Gaak aku lebih suka makan nasi goreng… bubur sumsum buat orang tua yang sedang sakit” jawabnya santai, matanya terus memandang ke arah laptop sambil mengunyah nasi goreng.


Bhanu mencoba untuk makan sendiri, tapi mangkuk yang kecil dan licin menyulitkannya untuk makan, bergeser-geser terus sehingga membuatnya kesal,  tangannya memang terasa lemah tidak bisa menggenggam sendok dengan kuat, akhirnya ia  menyimpan kembali sendok makan dengan keras di meja hidang..”praak” kemudian membuang pandangannya ke samping dengan tatapan muka yang keras dan dingin.


Mama Nisa semenjak Papa Bhanu berusaha memegang piring tampak ingin membantu jari tangannya bergerak-gerak tapi seperti menahan diri sehingga memilih mengambil hape agar tidak terlihat memperhatikan aktivitas makan mantan suaminya itu.


Tiba-tiba saja Afi berdiri, sebelumnya ia duduk di sofa bersama Emil sambil bermain game.


“Ehhh… Papa susah makannya, sini sama Afi disuapi” rupanya Mama mengirimkan pesan pada putrinya untuk membantu.


“Ini mangkoknya licin Paa… makanya susah. Papa nanti beli mangkuk buat bayi yang dari bahan rubber supaya gak licin kaya gini” ucap Afi santai tapi ucapannya langsung membuat Papa melotot kesal.


“Papa masih bisa makan sendiri, ini kebetulannya saja mangkuknya jelek.. sendoknya juga jelek… seenaknya saja Papa disuruh makan dari piring bayi. PAPA MASIH SEHAT JANGAN DISAMAKAN DENGAN BAYI” ucapnya keras membuat semua orang kaget.


“Papa lagi sakit Fi.. jadi mesti dimaklum kalau kesal, bukan kesal sama kamu tapi sama mangkuknya” ucap Emil pelan sambil mengusap-usap lengan istrinya.


“Abis Papa bikin aku kaget… Papa tahu gak… ini cucu Papa yang di dalam juga kaget sampai tadi ngejeduk ke perut aku” Afi berdiri sambil cemberut kesal. Bhanu terdiam, ia kemudian membuang pandangan ke arah jendela dan tidak berbicara sepatah katapun. Matanya tampak penuh pikiran yang berkecamuk.


“Dokternya sudah visit Ka?” tanya Mama berusaha mengalihkan ketegangan yang terjadi di kamar karena masalah piring bayi.


“Sudah tadi malam, tadi pagi juga sudah”


“Hasilnya memang Papa kemarin terkena stroke ringan, sudah ada titik-titik sumbatan di otak”


“Tapi masih kecil dan bisa hilang dengan minum obat dan merubah gaya hidup menjadi lebih sehat”


“Papa diminta untuk rawat inap selama tiga malam untuk memantau perkembangan. Khawatir kalau dirumah nanti terjadi stroke lagi”


“Kaya gempa aja pake susulan segala strokenya” komentar Afi sontak membuat semua orang menahan senyum.


“Iya aku bilang ok setuju diobservasi di rumah sakit saja, soalnya kalau Papa pulang dirumah gak ada yang memantau juga… dirumah cuma ada si Mbak sama Supir yah Pa?” ucap Juno, Bhanu tidak menjawab tatapannya masih jauh memandang keluar jendela.


“Papa tuh haru semangat... kan ini cuma stroke ringan,  kaya yang divonis mau mati aja… Bapaknya Bulan tuh dulu sampai udah gak bisa bicara dan bergerak juga susah” ucap Afi


“Sampai harus dioperasi”


“Papa sih masih ringan cuma harus minum obat aja”

__ADS_1


“Yang pasti harus dirubah itu sikap Papa yang suka marah-marah kaya tadi… tiba-tiba suka JEDEEEER aja… bikin jantung copot” sambungnya kesal.


“Aku mau kulineran dulu ahhh mumpung di rumah sakit, biasanya banyak menu yang sehat kalau disini” Afi menarik Emil yang sedang asyik main game.


“Heeeoiii kiting… jangan main game mulu… kita lihat-lihat kamar buat nanti lahiran juga” Emil langsung sigap berdiri sambil nyengir… ia paling senang pada sikap Afi yang tidak stress menghadapi kelahiran. Afi pernah bilang kalau melahirkan itu pada dasarnya hampir sama seperti buang air besar. Hanya perbedaan ukuran dan lubang saja, dan pada dasarnya si lubang sudah dipersiapkan untuk mekanisme mengeluarkan bayi ataupun feses. Untuk itu dibutuhkan teknik dan persiapan yang benar karena jangankan mengeluarkan bayi yang ukuran besar kata Afi, kalau kita buang air besar dan salah teknik maka bisa mengakibatkan ambein.


“Mau makan bubur lagi?” tanya Mama Nisa pelan, setelah Afi dan Emil keluar dari kamar perawatan. Bhanu mengangguk lemah, perutnya setelah diisi ternyata masih terasa lapar.


Melihat interaksi antara Mama dan Papa yang terlihat lebih tenang, Bulan menyikut suaminya.


“A.. mumpung Mama sama Papa lagi akur kita tinggalkan supaya punya we time mereka” bisiknya


“Kita keluar yuk… bikin alasan aja mau periksa kandungan mumpung masih pagi dan kita di rumah sakit”


“Gak apa-apa kalau dokter Salima gak praktek juga… udah lewat dua minggu kita bisa lihat bayinya laki-laki dan perempuan” sambungnya sambil berbisik. Juno melirik ke arah tempat tidur, ia bisa melihat Mama Nisa yang menyiapkan makanan untuk Papanya, dengan tatapan Bhanu yang sendu.


“Aku mau nganter Bulan dulu cek kandungan Ma” tiba-tiba saja Juno berdiri, membuat Bulan kaget padahal tadi dia yang mengusulkan.


“Memangnya sudah daftar? Ada jadwal dokter kandungannya hari ini?” tanya Mama heran.


“Be…belum Ma… mumpung di rumah sakit jadi gak bulak balik. Gak apa-apa ganti dokter juga Ma sekali-kali… mau ngecek kan sudah hampir satu bulan”


“Kalau sehat aku pengen ngantor lagi bareng Aa” ucap Bulan dengan penuh semangat. Juno meliriknya kesal, tadi alasan meminta dicek kandungan adalah untuk mengetahui jenis kelamin kenapa tiba-tiba jadi sebagai alasan untuk bisa kembali bekerja.


“Apa? Apa? Gak boleh kerja? Gak boleh ngantor lagi?” ucap Bulan kesal.


“Aku kan bosen A di rumah terus… khawatir nanti lupa lagi semua hal tentang keuangan”


“Mama bilang juga aku gak boleh berhenti tumbuh, kalau gak segera bekerja lagi bisa-bisa aku tumbuhnya ke samping nanti...penuh dengan lemak”


“Makanya harus dicek sehat gak? soalnya kalau sudah sehat fisik kenapa harus dilarang bekerja… perempuan hamil itu kan bukan sedang sakit cuma sedang menggendong bayi”


“Cuma ngegendongnya di dalam perut bukan di luar” jelas Bulan kesal.


“Sudah Ka… jangan banyak larangan ini itu… Mama lihat Bulan sudah sehat kok, tinggal sekarang dipastikan kondisi janinnya bagaimana?


“Kalau sehat jangan banyak melarang ini dan itu… berikan dukungan untuk istri supaya maju” ucap Mama dengan tegas. Juno terdiam ia ingat kalau bukan hanya sekali ini Mama mengingatkan itu kepadanya… memberikan kepercayaan dan kesempatan kepada istri untuk berkembang. Karena pada akhirnya istri yang berbahagia dan puas dalam capaian kehidupannya akan membawa kebahagian dalam keluarga. Bhanu hanya bisa menunduk mendengar percakapan itu


“Ya” jawab Juno pendek.


“Ayo kita periksa dulu, kita pastikan kondisi bayi dan ibunya sehat untuk beraktivitas” ucapnya dengan senyuman lebar. Bulan langsung berdiri dengan semangat, akhirnya lampu kuning sudah mulai menyala artinya kalau dokter menyatakan sehat ini berarti lampu hijau untuk bisa kembali beraktivitas kembali ke kantor.


Sepeninggal anak-anaknya keheningan seketika terasa di kamar yang luasnya sama seperti kamar di hotel dengan tipe suite room . Mama Nisa yang sudah menyiapkan makanan untuk dimakan Papa Bhanu akhirnya memilih untuk menyuapi.


“Saya suapi saja supaya cepat” ucapnya datar tanpa ekspresi. Bhanu menatap Mama Nisa dengan lekat, ia tidak menyangka kalau Mama Nisa mau datang menengok dan sekarang menyuapinya makan.


“Jangan berpikir kalau aku sudah merubah pikiranku sekarang” rupanya Mama merasakan kalau Papa Bhanu merasa sudah dimaafkan.


“Aku hanya ingin agar kamu bisa kembali sehat dan bisa mendampingi anak-anak kembali”


“Tidak lebih dari itu” ucapnya dengan dingin.


Bhanu menunduk lama terdiam hingga akhirnya mengangkat wajah dengan tatapan sedih, matanya sudah memerah.

__ADS_1


“Maafkan aku Nis… Maafkan aku” ucapnya dengan terbata.


Puasa Ramadhan juga belum dimulai Papa... udah mau maaf-maafan aja... Udah rasa mau lebaran ini mah.


__ADS_2