
Terhitung sudah enam bulan Athar dan Kenanga bertunangan, namun sayangnya Kenanga masih belum mau mengikatkan diri dengan Athar dalam mahligai rumah tangga, meski hubungan keduanya semakin mesra dan lengket setiap harinya, bahkan Athar juga semakin posesif terhadap Kenanga, meski begitu Kenanga sama sekali tidak merasa risih akan sikap Athar melainkan semakin gemas terhadap tunangannya itu.
Seperti siang ini, akhir pekan Athar mengajak Kenang berkunjung ke rumah kedua orang tuanya, namun sebelum itu Athar sudah lebih dulu mengunjungi kedua orang tua Athar. Selain tampan, Athar memang sangat pandai mengambil hati kedua orang tua Kenanga, tak ayal bila Athar sudah di anggap putra mereka dan bagian dari keluarga tersebut.
"Bibi, apa adonannya sudah cukup manis?" tanya Kenanga pada Mama Vina yang saat ini sedang membuat soft cake tiramisu kesukaan putra bungsunya
"Manis, semanis calon menantu bibi" Mama Vina tersenyum meledek Kenanga hingga gadis itu tersipu malu
Sementara itu, Athar sedang duduk di ruang tamu menemani papanya bermain catur, ya jika tidak ada kegiatan kedua anak dan ayah itu lebih memilih duduk diam sembari menatap kotak hitam putih papan catur, bahkan keduanya betah berjam-jam dan tak mau mengalah satu sama lain meski permainannya sudah memakan waktu beberapa jam.
"Jadi kapan kalian akan menentukan tanggal pernikahan?" tanya Papa Zanaka tanpa mengalihkan pandangan matanya dari papan catur
"Entahlah.." jawab Athar lesu
"Kau ini bagaimana? Umurmu sudah lebih dari cukup, bahkan lihat beberapa temanmu juga sudah memiliki momongan. Apa kau tidak ingin menikah? bukankah Kenanga adalah gadis yang kau cintai?"
Athar menghela nafasnya "Membujuk Kenang tidak semudah yang papa pikirkan. Aku masih belum berhasil meluluhkan hatinya pa"
"Astaga!! Athar, bukankah kalian sangat lengket dan mesra, bahkan papa pikir kalian saling mencintai dan ternyata??" Papa Zanaka menggelengkan kepalanya
"Bukan begitu pa, kami saling mencintai, tapi Kenanga belum siap menikah di usianya yang relatif muda. Jadi, Athar harap papa dan mama sabar menunggu"
Papa Zanaka mengerutkan alisnya "Athar, kau ini payah sekali. Usahamu membujuk Kenanga belum maksimal mungkin?"
Kali ini perkataan papanya membuat Athar mengalihkan pandangan matanya, dengan kasar Athar membuang nafasnya, papanya ini sungguh meragukan kemampuannya, berbagai cara Athar sudah lakukan, dari cara romantis hingga cara berpura-pura sakit pun Athar melakukannya, tapi Kenanga masih belum memberikan jawabannya hingga saat ini.
"Kue sudah matang" suara Mama Vina begitu heboh menghampiri suami beserta anaknya yang terlihat sedang serius mengobrol
__ADS_1
Sementara Kenanga berjalan di belakang mama Vina dengan membawa nampan berisi teh hangat dan sepiring kue tiramisu hasil buatannya bersama mama Vina.
"Papa tau tidak, Kenanga pandai sekali membuat kue nya loh, bahkan hasilnya sangat lezat seperti buatan mama" heboh Mama Vina berbicara kepada suaminya
"Benarkah ma?" Athar menimpalinya
"Tidak seperti itu, Bibi lah yang lebih banyak berperan dalam pembuatan kue ini"
"Eh.. tidak.. Kenanga yang membuatnya, cepat cobalah" perintah Mama Vina
Tak menunggu lama, Papa Zanaka dan Athar mengambil masing-masing sepotong kue tiramisu yang masih hangat dan memasukkannya ke dalam rongga mulut mereka.
"Hm, mama benar, kue nya sangat lezat" ucap Papa Zanaka dengan sengau karena mulutnya penuh dengan kue
"Benar sayang, ini sangat lezat" ucap Athar memuji
"Nak, bisakah mulai sekarang kau memanggil kami papa dan mama? bukankah sebentar lagi kau juga akan menjadi putri kami?" kali ini Papa Zanaka mulai memancing obrolan dengan Kenanga
"Betul sayang, jangan terus memanggil Bibi, panggilah Mama Vina" Mama Vina menimpali
Kenanga tak menjawab, dan malah memilih memalingkan wajahnya menatap ke arah Athar yang kini duduk tepat di sampingnya. Kenanga masih tak memiliki keberanian menyebut orang tua Athar dengan sebutan mama dan papa. Meski mereka sudah bertunangan selama setengah setahun lebih, tapi Kenanga masih selalu inssecure bila berada di tengah-tengah keluarga Athar yang memiliki kekayaan berlimpah ruah bahkan menjadi pengusaha paling kaya di kota tempatnya tinggal. Nama keluarga Athar begitu tersohor bahkan sangat di segani oleh banyak orang.
Athar menangkap keraguan dari sorot mata Kenanga, meski Athar sudah berulang kali mengatakan pada Kenanga kalau materi bukan kriteria utama dalam keluarganya, tapi tetap saja perkataan Athar tak mampu membuat Kenanga yakin meski Kenanga juga mendengar cerita dan tahu kalau suami dari Kakak Athira adalah pegawai di kantor keluarga mereka, tapi tetap saja keraguan masih terus bersarang dalam hatinya. Athar meraih tangan Kenanga dan menggenggamnya dengan erat, hangat tangan Athar mulai menjalar ke tubuh Kenanga, bahkan anggukan kepala Athar membuat Kenanga memberanikan diri kembali menatap kedua orang tua Athar.
"Mama, Papa" ucap Kenanga ragu
"Nah begitu kan lebih enak di dengar"ucap Papa Zanaka sembari menyematkan senyuman berwibawa di akhir ucapannya, begitu pula Mama Vina juga tersenyum senang bukan main.
__ADS_1
"Sepertinya kita akan cepat menambah cucu pa, menemani Arlin" celetuk Mama Vina
Uhuk..Uhuk.. seketika Kenanga tersedak teh hangat yang baru saja membasahi tenggorokannya, entahlah mengapa Mama Vina selalu saja membahas perihal menambah cucu baru padahal Kenanga hingga saat ini belum siap untuk menikah dengan Athar meski tak bisa di pungkiri kalau benih-benih rasa sayang sudah tumbuh dalam hatinya.
"Hati-hati sayang" Athar tersenyum sambil mengusap puncak kepala Kenanga dengan mesra meski saat ini kedua orang tuanya sedang memperhatikan dirinya.
"Ohhh, sweett" Mama Vina tersenyum senang melihat kemesraan anak-anaknya.
"Seperti saat kita muda pa?" imbuh Mama Vina bahkan kepalanya menyandar di bahu suaminya
Athar dan Kenanga kompak terkekeh melihat tingkah mama Vina yang manja layaknya anak muda yang sedang kasmaran meski usia pernikahan keduanya sudah lama tapi kemesraan keduanya tak lekang oleh waktu.
"Aku harap kita juga akan tetap mesra hingga maut memisahkan" bisik Athar tepat di telinga Kenanga, membuat bulu kuduk Kenanga seketika meremang saat merasakan hangat nafas Athar.
Merasa tak ingin mengganggu waktu Athar dan Kenanga, Papa Zanaka dan Mama Vina memilih meninggalkan ruang tamu dan duduk di taman yang terletak di belakang rumah mereka, Meski sebenarnya Athar dan Kenanga juga sudah melarang. Selepas kedua orang tuanya meninggalkan ruang tamu, wajah Athar seketika menjadi datar. Seolah langit yang awalnya cerah menjadi mendung dan hendak turun hujan.
"Are you oke?" tanya Kenanga sembari mengamati wajah Athar yang tanpa Ekspresi.
"Mama dan Papa selalu meminta cucu setiap kali bertemu dengan kita. Apa kau tidak kasihan dengan mereka?" Athar mengangkat kedua alisnya ke atas
"Will you marry me, Kenanga?"
.
.
.
__ADS_1
.