Rembulan

Rembulan
Resah


__ADS_3

Beberapa hari berlalu terasa berat untuk Kenanga, bagaimana tidak berat? Jika Athar tiba-tiba saja menjadi sibuk dan mengabaikan dirinya seperti sekarang ini. Ya semenjak Athira masuk rumah sakit dan mengalami pendarahan hebat dan dokter menyuruh Athira untuk istirahat total hingga mengharuskan Athar yang menggantikan sementara semua urusan pekerjaan Athira, mengurus kantor dan semua tanggung jawab Athira kini beralih ke tangan Athar. Bukannya Kenanga egois dan tidak memikirkan kondisi calon kakak iparnya, tapi selama satu tahun berhubungan dengan Athar, Athar belum pernah mengabaikan Kenanga seperti sekarang ini, jadi wajar saja kan kalau Kenanga saat ini resah? Resah takut kejadian Lima tahun silam kembali terulang, dimana di saat berdiri di Altar pernikahan di tinggalkan.


Kenanga memejamkan matanya, meletakkan pulpen yang saat itu dirinya pegang, pekerjaannya menjadi kacau karena Kenanga terus saja sibuk dengan asumsi yang tidak jelas. Kenanga mencoba menyandarkan kepalanya di sandaran kursi kerja miliknya, memejamkan kedua matanya dan menghirup dalam-dalam oksigen supaya pikirannya sedikit lebih tenang. Sekuat tenaga Kenanga membuang semua pikiran buruk dalam benaknya. Karena Kenanga yakin Athar tidak akan meninggalkan dirinya di hari pernikahan hanya karena pekerjaan, lagi pula waktu pernikahan mereka masih beberapa minggu lagi, Kenanga berdoa semoga segala urusan dan pekerjaan Athar di lancarkan.


^


Sementara di lain tempat, Athar terlihat berdiri dan menjabat tangan calon rekan bisnisnya. Ya, Athar baru saja menandatangani kontrak kerja sama pembangunan Hotel di salah satu objek wisata terkenal di Bandung Selatan.


"Senang bekerja sama dengan Anda" Athar melepaskan jabat tangannya dan mengulaskan senyuman ramah, kemudian rekan bisnisnya pun mengatakan hal yang sama.


"Kami permisi"


Setelah kepergian calon rekan bisnisnya, Athar duduk kembali di kursi, di temani oleh sekretaris kakaknya, Ilea.


"Tuan, setelah ini anda masih harus meeting di beberapa tempat, dan terakhir adalah jamuan makan malam di rumah pemilik Mega group" ucap Ilea sambil membaca tablet di tangannya.


Athar hanya bisa menghela nafasnya panjang, meski sebenarnya Athar sama sekali tidak suka dunia bisnis, tapi demi kakaknya, demi perusahaan yang sudah susah payah Papanya bangun, serta ribuan karyawan yang menggantungkan hidupnya di bawah perusahaan milik keluarganya, mau tak mau Athar harus bersikap dewasa dan mengesampingkan egonya. Meskipun kalau Athar boleh berkata jujur, Athar merindukan rumah sakit, merindukan pekerjaannya, merindukan bisa membantu mengobati orang. Tapi dengan cepat Athar menepis pikirannya, saat ini bukan waktu yang tepat untuk memikirkan itu semua.


Sebelum meninggalkan tempat meeting ini, Athar terlebih dulu menyesap sisa kopi yang sudah mendingin. Baru setelah itu Athar bergegas pergi dari tempat itu untuk menuju tempat selanjutnya.

__ADS_1


^


Kenanga menjatuhkan tubuhnya di atas kasur kamarnya, setelah mengobrol dengan kedua orang tuanya di ruang tamu untuk menghilangkan rasa jenuhnya, Kenanga kini terdiam di atas kasur empuk miliknya, menatap langit-langit kamarnya. Bayangan wajah Athar yang tersenyum terhadapnya membuatnya kembali merindukan pria itu. Kenanga memalingkan wajahnya menatap ke arah dinding kamarnya dimana di saja terpajang foto prewedding dirinya dan juga Athar.


"Aku merindukanmu" Kenanga mengulas senyuman sendu ke arah foto tersebut.


Kenanga baru baru teringat akan ponsel miliknya, kemudian dengan cepat Kenanga mencari keberadaan ponsel miliknya, berharap kalau ada pesan masuk dari Athar.


"Ini dia.." Kenanga tersenyum senang saat dirinya berhasil menemukan ponsel miliknya yang tertindih tas kerja miliknya.


Dengan cepat kenanga menyalakan ponsel tersebut, mencoba membukanya namun saat ponsel menyala dan layar kunci terbuka, senyum di bibir Kenanga perlahan menghilang, tak ada satu pesan atau panggilan masuk dari Athar. Ponselnya sepi, hanya ada pesan dari operator sim card yang mengiriminya pesan.


"Apa dia tidak merindukanku" Kenanga meletakkan ponselnya di atas nakas yang berada tepat di samping tempat tidurnya.


"Sudah beberapa hari dia sibuk dengan pekerjaannya, bahkan hanya mengirim pesan satu kali sehari pada diriku. Apa Athar mulai lupa dengan diriku?" ucap Kenanga pada dirinya sendiri, keresahan kembali menyelimuti hatinya saat ini.


Kedua mata Kenanga melirik ke arah jam dinding kamarnya, waktu sudah menunjukkan hampir pukul dua belas malam, tapi mengapa Athar tak kunjung memberi dirinya kabar seperti ini. Tak ingin mati penasaran dan menunggu dalam diam, akhirnya Kenanga memutuskan untuk mengambil kembali ponsel miliknya dan mencoba menghubungi nomor Athar.


"Terhubung.." ucap Kenanga girang, namun sayangnya hingga dering yang terakhir Athar belum menerima panggilan telefonnya.

__ADS_1


Senyum di bibir Kenanga kembali hilang, hatinya mencelos saat Athar tak menjawab panggilan telefon darinya. Namun Kenanga tak mau patah semangat, dia mencoba menghubungi Athar kembali, namun sayangnya hasilnya masih sama dan nihil.


"Mungkin dia masih ada pekerjaan yang belum di selesaikan. Lebih baik aku mengirim pesan saja" Kenanga mengambil insiatif.


"Dokter jangan lupa istirahat, tubuhmu bukan mesin. Mesin saja ada rusaknya" ~Kenanga


Setelah mengirim pesan pada Athar, kenanga tak langsung mengembalikan ponsel miliknya ke atas Nakas, melainkan memegangnya di tangannya, kemudian Kenanga membaringkan tubunya, kembali menatap langit-langit kamarnya, tangan Kenanga memegang erat ponsel miliknya supaya bila Athar membalas pesan atau menghubunginya Kenanga bisa langsung menerimanya. Waktu terus berjalan, sudah hampir pukul satu pagi, namun ponsel Kenanga tak kunjung berbunyi, kedua mata Kenanga juga sudah sangat mengantuk namun sedari tadi Kenanga tahan demi menunggu balasan dari Athar, namun perlahan Kenanga menutup kedua matanya karena tak kuasa menahan rasa kantuknya.


^


Athar baru saja masuk ke dalam mobil miliknya, jamuan makan malam di rumah pemilik Mega group membuatnya merasa kesal, jika saja bukan rekan bisnis nomor satu di perusahaan keluarganya, Athar tidak akan mau berlama-lama bersama mereka. Meski acara tersebut di buat dalam rangka perayaan ulang tahun anak bungsunya, tapi tetap saja Athar sangatlah tidak suka bila mencium aroma minuman beralkohol yang menyiksa hidungnya.


Waktu sudah menjelang pagi, Athar juga sudah lelah dan mengantuk. Dengan bergegas Athar melajukan mobilnya meninggalkan pelataran rumah pemilik Mega group. Jarak rumah Athar-pun tidak lah dekat.


"Mungkin aku harus memiliki supir pribadi" ucap Athar sambil memijat tengkuk lehernya yang terasa sakit.


"Pekerjaan kak Athira sungguh melelahkan. Tapi mengapa Kakak malah sangat senang dengan dunia yang seperti ini?" Athar melontarkan pertanyaan pada dirinya sendiri tapi tak mendapati jawaban.


Athar menancap pedal gas mobilnya lebih dalam supaya mobilnya melaju lebih kencang, kebetulan jalanan juga lengang, Athar ingin sekali cepat sampai rumah dan beristirahat. Namun Athar teringat akan ponselnya yang tadi sempat tertinggal di dalam mobil saat jamuan makan malam, kemudian Athar pun mencoba mengaktifkan ponsel miliknya namun sayangnya ponselnya mati karena lowbat.

__ADS_1


__ADS_2