Saldo Rekening Pacarku

Saldo Rekening Pacarku
Dandelion


__ADS_3

Dahlan Winarto itulah namanya, membawa segelas air putih, memberikannya pada Nadila."Aku harus pergi!" tegasnya.


"Duduk dan minum!" Dahlan bahkan lebih tegas lagi.


Dengan cepat Nadila menenggak air hingga tandas. Kemudian bangkit hendak pergi, tapi dengan cepat juga Dahlan mencegahnya.


"Sudah minum air harus bayar! Mana uangmu? 1000!" Pemuda itu menadahkan tangannya.


"Aku tidak punya uang!" Nadila tetap bangkit berucap tanpa ekspresi.


"Kalau begitu kamu harus tinggal disini, hingga bisa membayar hutang padaku." Ucap Dahlan tersenyum menyeringai.


"Kamu menjebakku!? Aku tetap mau pergi." Nadila bersikeras.


"Tinggal disini beberapa hari tenangkan dirimu. Atau aku akan menghubungi ayahmu," Kali ini bukan perlakuan kekanak-kanakan lagi pemuda itu tersenyum terlihat lebih tenang.


Bunuh diri? Itulah yang ada di fikiran Dahlan, hal yang mungkin dilakukan oleh Nadila. Tidak dekat, tapi dirinya dapat melihat mata yang kesepian di sana.


Apa yang terjadi pada akhirnya? Dua orang itu berada dalam satu kamar. Ada alasan tersendiri, sang pemuda tidak ingin wanita tercantik di kelasnya ini melarikan diri lagi. Tidak ingin dia mati atau terluka. Mencintai dalam diam, menyukai perempuan berhati sedingin es.


Tubuh wanita itu dipeluknya dari belakang tiba-tiba.


"Lepas!" Ucap Nadila.


"Aku sudah bilang aku memang terlahir mesum. Tidak usah malu dan takut padaku. Jika ingin tertawa kamu boleh tertawa, jika ingin menangis kamu boleh menangis." Kata-kata dari mulutnya, penuh senyuman, lesung pipi di wajah kusam itu terlihat. Rumah yang bahkan tidak memiliki ubin, tempat tidur bambu dengan kasur spon tipis kotor diatasnya.


Entah kenapa Nadila tersenyum untuk pertama kalinya. Dua remaja yang mulai tertidur, tidak memikirkan apapun termasuk napsu, yang ada di fikiran mereka adalah rasa nyaman. Seorang pemuda yang kehilangan kedua orang tuanya karena kecelakaan, pemuda yang kesepian, menanam perasaan pada wanita cantik, dan terkaya di sekolahnya. Bagaikan menggapai bintang di langit, tapi dengan melihat wajahnya saja Dahlan sudah dapat tersenyum.


Dirinya bahagia, ada yang menemaninya di rumah ini. Rumah kecil yang memiliki banyak kenangan dengan kedua orang tuanya.


*


Hingga hari esok akan tiba, mereka harus terbangun dari sebuah mimpi. Melepas kepergian Nadila yang memilih untuk pulang kembali ke rumah ayahnya.


Hanya sampai disana? Misi untuk mendapatkan nyonya di gubuk kecilnya terus berlanjut. Pemuda itu sejak pagi-pagi buta sudah berada di pasar tradisional menjadi seorang kuli angkut. Membawa belanjaan orang-orang yang sebagian besar adalah pedagang.


Seribu, dua ribu, tiga ribu, satu persatu uang dihitung olehnya sembari tersenyum. Menabung untuk kuliah nanti, jika bisa. Karena untuk mendapatkan tuan putri dirinya harus menjadi pangeran terlebih dahulu.


Menelan ludahnya kembali, dirinya menatap warung dengan hidangan beberapa lauk. Pemuda itu menggeleng dengan cepat."Nasi, tambah sambel saja," ucapnya meraih kerupuk.


Tidak seperti biasanya, dapat membeli lauk tempe. Hari ini dirinya membeli kemasan kecil susu UHT seharga 3.000 rupiah. Datang paling pagi ke sekolah, meletakkannya di meja Nadila. Kemudian kembali melanjutkan tidurnya, mengingat dirinya yang memang harus bangun pukul 2 pagi, hanya untuk menyambung hidup dan tetap sekolah.

__ADS_1


Hingga pada akhirnya Nadila datang, matanya menelisik dapat mengetahui siapa yang memperhatikannya. Susu kecil dengan gambar tokoh animasi anak-anak. Tidak seperti pria lain yang memberi bunga atau coklat mahal.


Pada akhirnya dirinya menahan tawa, matanya melirik ke arah seorang pemuda yang tengah tertidur nyenyak. Entah apa yang dimimpikannya.


*


Waktu berlalu jam istirahat pun tiba, pemuda itu baru saja terbangun, menguap beberapa kali. Inilah sebabnya dirinya tidak begitu pintar di bidang akademis. Tidak pernah mendapatkan kesempatan istirahat yang cukup.


Kertas tipis dari buku tulis dirobeknya, tersenyum-senyum sendiri menggambar bentuk hati. Berbagai gombalan yang membuat mual ditulisnya, walaupun itu sejatinya tulus.


'Hari ini langit mendung lagi, mengingatkanku pada wajahmu yang mendung. Namun terasa menyejukkan kala aku yang hanya tanah tandus ini merasakan kehadiranmu.'


Kata-kata yang ditulisnya, menggunakan pulpen dengan tinta yang hampir habis. Mengendap-endap, memasukan secarik kertas ke dalam tas Nadila.


Dirinya tersenyum sendiri, dengan perasaan tidak menentu, takut? Tentu saja, tapi juga penuh harap. Hingga gadis itu memasuki kelas, menatap sekilas kertas dari buku tulis murah yang tipis.


Wanita itu hanya terdiam kembali belajar seperti biasanya. Rasa kecewa menghinggapi Dahlan. Dirinya menghela napas berkali-kali berusaha tersenyum.


Apa yang terjadi selanjutnya? Hari esok sudah tiba. Sama seperti sebelumnya ada sekotak susu UHT, seharga 3000 rupiah, di atas meja Nadila. Gadis itu tidak pernah meminumnya hanya memasukkan ke dalam tasnya saja.


"Yah..." batin Dahlan merasa gagal lagi. Tidak pantang menyerah kali ini. Dirinya yang harus menghemat kertas kembali merobek buku tulisnya.


'Jika bisa aku ingin menjadi bayanganmu. Menemani, mengikuti dan menghiburmu, walaupun hanya dapat terdiam di sisimu.'


Dirinya lagi-lagi kecewa. Harus bagaimana lagi. Hari-hari berikutnya hanya sekotak susu kecil setiap paginya. Tanpa puisi sama sekali. Dirinya lebih banyak tidur saat jam makan siang.


Hingga puisi terakhir di tulisnya.


'Aku ingin menjadi angin yang memeluk tubuhmu. Menemanimu walaupun kamu tidak menganggap kehadiran ku. Aku bahagia,'


Lagi-lagi seperti sebelumnya di masukkan ke dalam tas Nadila. Tapi kali ini berbeda, salah seorang siswa memergokinya, mempermalukannya sebagai kumbang kotoran yang mencintai bulan.


Hingga Nadila pada akhirnya kembali memasuki kelas.


"Nadila! Lihat ini, si miskin ini berani bermimpi! Kumbang kotoran!" tawa sang siswa terdengar membuat Dahlan tertunduk.


Plak!


Satu tamparan terdengar, wanita itu menatap dingin pada siswa yang mempermalukan Dahlan.


"Aku menyukainya! Dia pacarku! Apa hakmu mengambil surat cinta darinya!" teriak Nadila, membuat semua orang tertegun. Aneh memang, Nadila segera mengambil tasnya, menarik tangan Dahlan agar ikut bolos bersamanya.

__ADS_1


*


Terkadang hal kecil dapat membuat hati menjadi hangat, seperti saat ini. Angin menerpa rambut mereka, dua orang piknik di atas jembatan gantung peninggalan Belanda.


Tidak punya uang, beberapa kotak susu UHT dikeluarkan Nadila dari dalam tasnya. Wanita itu tersenyum tulus kali ini. Tidak ada satupun yang diminumnya, ketiga lembar kertas berisikan puisi yang juga disimpannya.


"Kenapa tidak diminum?" tanya Dahlan.


"Sayang, aku tidak tega meminumnya. I...ini darimu. Jadi kita minum sama-sama." Kata-kata dari Nadila, sedangkan pemuda itu hanya mengangguk.


Tiga lembar puisi remaja yang disimpannya. Bukan sebuah gombalan untuk setia atau hidup bersama selamanya. Hanya hati yang tulus dari dua orang remaja yang tersenyum.


*


Bulan demi bulan berlalu. Dendam pada ayah tirinya? Semua sudah dilupakan olehnya, hidup yang terlalu berharga hanya untuk sebuah dendam. Hari ini pemuda itu membawa sebuah pohon bunga kecil.


Dandelion, aneh bukan? Hanya tanaman kecil tidak berharga. Perlahan ditanamnya pada lahan terbengkalai dekat sekolahnya.


"Tidak punya kerjaan!" celetuk Nadila.


"Memang!" Dahlan tertawa kecil, matanya sedikit melirik ke arah Nadila.


"Ditiup saja sudah terbang terbawa angin." Nadila bersungut-sungut.


Dahlan hanya tersenyum."Dandelion untukmu. Aku tidak memiliki uang untuk membeli mawar. Katanya itu lambang kesetiaan. Satu lagi artinya, apapun yang terjadi di masa depan kamu harus semangat menjalani hidup ini."


"Play boy miskin yang pandai merayu," Nadila tersenyum, gadis berpakaian SMU itu mengalungkan tangannya, berjinjit berusaha menyamakan tingginya. Sedangkan sang pemuda sedikit menunduk, dua pasang mata yang terpejam, menikmati kebersamaan mereka. Untuk pertama kalinya merasakan berciuman. Apa ini rasanya?


"Aku benar-benar tidak ingin! Tidak akan pernah meninggalkanmu!" ucap Dahlan kala ciuman itu terlepas sesaat. Hingga sepasang bibir kembali bertaut kala matahari mulai terbenam.


Angin malam yang dingin menghempaskan bunga kecil yang rapuh. Bunga kecil yang berjuang untuk hidupnya, namun kala angin menyapu tubuhnya, benih-benih kecil akan tumbuh. Apakah cinta itu ada?


Dua orang remaja yang berjalan pergi, meninggalkan tanaman kecil yang akan berkembang. Tetap gigih untuk hidup, walaupun tubuhnya rapuh.




...Hidup terkadang keras, semua orang menyakitimu dari segala sisi. Haruskah kamu berpura-pura tegar....


...Tidak memiliki apapun, aku mungkin hanya dandelion kecil tertiup angin. Berharap, memohon pada angin agar mengijinkan ku untuk bersama mu....

__ADS_1


...Walau aku hanya dandelion kecil yang tidak terlihat....


Dahlan...


__ADS_2