
Rumah yang tidak begitu besar, mata Imanuel menelisik, terdapat foto pernikahan di sana. Pemuda rupawan, walaupun kulitnya sedikit kecoklatan dengan seorang gadis cantik berkulit putih.
Matanya hanya melirik."Nadila lebih cantik," gumamnya. Mungkin wanita di foto adalah adik dari Reina, wanita yang diikutinya, mengingat kemiripan dari sedikit bentuk wajah. Lumayan cantik, tapi tidak boleh menjadi playboy. Itulah prinsipnya, tunangannya saat ini mungkin sedang menangis karena merindukannya.
Benar-benar Raka si*lan, tega-teganya menjebaknya agar dapat merebut status ahli waris dengan mudah, sekaligus memutuskan tali perjodohan Raka dengan Barbara. Sekali lagi, jika difikir-fikir, si kikir menyukai uang, wataknya keras, tidak menyukai wanita. Sudah pasti pria h*mo itu yang merencanakan semua ini. Mungkin itulah yang ada di dalam anggapan Imanuel saat ini.
Pemuda yang kembali duduk di ruang tamu berdampingan dengan seorang anak yang selalu tersenyum padanya. Menyelip bagaikan tuyul.
"Papa," ucapnya tersenyum manis malu-malu.
Anggap saja latihan menjaga calon papa, itulah yang ada di benaknya, mengambil kue kering kemudian memberikannya pada Egie. Anak berkulit putih yang benar-benar bersih terlihat dididik dengan baik. Memakan biskuit terlihat manis, beberapa mainan berada di sana. Bagaikan seorang anak yang tidak kekurangan dalam hal materi.
"Ini susu untuk ibu, ini jus untuk Egie dan ini air putih untuk pengontrak kamar," Kata-kata menusuk dari Reina, kala menyajikan minuman.
Wanita yang keterlaluan, membuatnya naik darah sekali lihat. Jika saja dirinya dapat menggunakan KTP dan kartu ATM-nya mungkin saja lebih baik dirinya menginap di panti jompo saja. Maaf salah hotel berbintang 7 saja.
"Ayo katakan terimakasih, aku sudah mau menampungmu." Kata-kata dari janda dengan wajah berjerawat, kulit sawo matang.
"Terimakasih," ucap Imanuel, berusaha keras untuk tersenyum.
"Terimakasih, ibu kost..." ucap wanita itu kembali menegaskan statusnya sebagai tuan rumah.
"Terimakasih, ibu kost..." Dengan terpaksa Imanuel mengikuti kata-katanya. Sangat dongkol rasanya, bagaikan anak SD yang didikte gurunya.
"Aku mau makan, dan mandi! Kunci pintu depan, agar Egie tidak keluar," tegasnya.
Dengan cepat Imanuel mengangguk. Namun menghela napas kasar. Dirinya juga harus bertanya bukan? Untuk mengetahui semua yang tinggal di rumah ini.
"Tunggu! Reina, siapa saja yang tinggal disini?" tanya Imanuel penasaran.
__ADS_1
"Aku, ibu mertuaku, anakku, orang gila dan hantu suamiku yang sering berkunjung tengah malam." Jawaban aneh darinya, sementara sang ibu mertua yang mendengarnya dari pintu samping hanya dapat tersenyum tipis.
"Orang gila? Apa adikmu yang cantik sudah gila?" tanya Imanuel penasaran.
"Aku anak tunggal," Reina menghela napas menjawab jujur.
"Lalu foto yang disana?" tanyanya lagi.
"Itu? Itu aku saat menikah dengan almarhum suamiku. Kenapa? Cantik ya? Jangan jatuh cinta padaku, karena aku ada yang punya," Reina tertawa renyah.
Imanuel mengenyitkan keningnya, sedikit melirik pada Reina, membandingkannya dengan yang di foto."Kenapa berbeda?"
"Kecantikan tergantung budget. Sebelum menikah aku tinggal seorang diri, dapat membeli skincare, seluruh tubuhku terawat. Tapi setelah menikah, hal yang terpenting adalah anak. Tidak peduli jika kulit menjadi kusam yang penting uang untuk membeli susu dan beras ada." Reina menghela napas kasar, kemudian menunjuk ke kamar yang berada paling pojok.
"Itu kamarmu! Ingat! Jika ada orang yang bertanya, katakan kamu adik iparku yang merantau ke Sulawesi." Tegas Reina melangkah ke kamar mandi.
Sejenak Imanuel terdiam, ternyata memang tidak ada wanita cantik di rumah ini. Matanya melirik ke arah Egie, kulit putih dan keseluruhan wajah memang mirip dengan Reina ketika belum menikah.
Bukan ruangan ber-AC, hanya ada dipan dan kipas angin disana. Bahkan baju ganti pun dirinya akan kesulitan. Pemuda yang menggaruk-garuk tengkuknya bingung. Mengeluarkan seluruh isi dompetnya, uang yang hanya cukup untuk beberapa bulan saja. Dirinya harus berhemat, apa harus mengikuti gaya hidup Raka?
Tapi jika kembali ke rumah mungkin saja orang-orang yang akan membunuhnya sudah berjaga. Tidak, dirinya tidak dapat pulang, mungkin setelah ini akan meminta bantuan pada kakek atau tunangannya, mengingat ibu dan ayahnya yang lebih sering tinggal di kantor dan rumah.
Hingga Lastri tiba-tiba melewati kamarnya."Maaf, Bu Lastri apa dekat sini ada pasar murah, atau pasar loak juga tidak apa-apa."
"Kamu mau beli pakaian?" tanya Lastri antusias.
Imanuel mengangguk, terlihat ragu.
*
__ADS_1
Dan benar saja, inilah yang terjadi, dirinya membeli pakaian bekas almarhum suami dari si janda cerewet. Harga yang terjangkau dan kata-kata dari Lastri bahwa almarhum anaknya tidak memiliki penyakit kulit. Selain itu semua pakaiannya juga masih dikemas plastik laundry, mengingat Reina yang menyimpan semua pakaian almarhum Rian. Berjaga-jaga jika suaminya pulang dari melaut, walaupun yang pulang pada akhirnya mayatnya saja, tapi pakaiannya itu masih terbungkus rapi dalam plastik laundry.
Dan kini Imanuel yang mengenakannya, menatap penampilannya di cermin. Pakaian tidak bermerek, celana pendek, sandal jepit. Itulah dirinya kini, setelah membeli boxer di tetangga sebelah yang sering mencicilkan pakaian.
Menatap penampilannya di cermin. Menyesali nasibnya, kenapa dirinya dapat seperti ini? Tapi yang pasti dirinya harus segera kembali, untuk menikah dengan Nadila. Pemuda yang duduk sendiri di ruang tamu, kala sore menjelang. Sedangkan Ega dan Lastri pergi dari 30 menit yang lalu.
Seorang wanita keluar dari kamarnya, hendak memasak makan malam. Hingga dirinya menatap punggung seorang pemuda di ruang tamu. Pakaian yang dikenalnya, wanita yang kembali masuk ke kamar, menepuk-nepuk wajahnya sendiri.
Rasa bahagia menghampirinya, wanita yang sejatinya baru bangun dari tidurnya. Entah mungkin karena otaknya terjadi konsleting arus pendek, dirinya menganggap ini adalah kenyataan suaminya pulang dari melaut. Dan kematian suaminya adalah sebuah mimpi buruk.
Wanita yang bergerak cepat, menggeledah bagian bawah laci. Memakai serum mahal yang jarang dipakainya, kecuali saat suaminya pulang. Ini benar-benar gila, wanita itu merias diri penuh harap.
Setan pun tidak apa. Yang penting suaminya sudah pulang, terkadang menerima kenyataan memang sulit. Terlebih yang telah berpulang adalah suami teladan, tulang punggung keluarga yang benar-benar bertanggung jawab.
Wanita yang melangkah dalam kecepatan tinggi, berharap suaminya tidak menghilang. Dan benar saja, pria itu berdiri dekat rak, entah apa yang dilihatnya.
*
Imanuel terdiam, tidak ada phonecell, tidak ada internet. Tidak tahu apa yang harus dilakukannya.
Bug!
Tiba-tiba tubuhnya dipeluk dari belakang. Pemuda itu membulatkan matanya terkejut."Janda gatal! Aku khilaf juga pilih-pilih!" batinnya, mengetahui siapa yang ada di belakangnya.
"Kamu pulang? Aku mimpi buruk tadi, tapi syukurlah hanya mimpi." gumam wanita yang antara sadar dan tidak.
Mungkin situasi dimana otak ada dalam kebingungan memori. Pernahkah kalian tidur siang terlalu lama? Dan ketika terbangun langsung berlari ke kamar mandi, kemudian mengenakan seragam hendak berangkat ke sekolah, padahal hari sudah sore?
Mungkin dalam medis disebut Confusional Arousal. Terjadi dalam waktu yang tidak lama, ketika menyadari kenyataan yang sebenarnya.
__ADS_1
"Mimpi apa?" tanya Imanuel berbalik melepaskan pelukan Reina.
Reina yang menyadari suara berbeda dari suaminya, membulatkan matanya."Kenapa kamu pakai pakaian Rian! Serum yang hanya aku pakai kondangan jadi terbuang percuma kan!" bentaknya, dengan otak yang mungkin sudah kembali ke dunia nyata.