Saldo Rekening Pacarku

Saldo Rekening Pacarku
Menghibur


__ADS_3

Makan malam romantis yang benar-benar kacau. Raka mengemudikan mobilnya, mengantar kembali Nadila ke kediaman utama.


"Maaf, ini salahku, aku tidak tau akan bertemu dengan mereka. Apalagi mereka memakai kredit card-mu. Aku benar-benar tidak enak, nanti uangmu akan aku transfer. Berapa nomor rekeningmu?" tanya Raka mengeluarkan phonecellnya.


Menjaga etika, itulah yang pertama. Setelah ajakan ke tiga, baru akan menerima uang dari Raka. Ajakan pertama dan kedua harus menolak, itulah pelajaran dari musang berbulu sigung.


"Tidak usah, temanmu adalah temanku juga." Ucap Nadila, sudah dapat menebak setelah ini Raka akan membujuknya lagi untuk menerima uang. Wajahnya tersenyum, sama seperti Imanuel, semua pria akan gengsi, merasa harga dirinya direndahkan jika wanita yang membayar, namun.


"Ya sudah, istrilah! Lain kali aku akan menasehati mereka." Kata-kata lembut dari bibir Raka. Membuat senyuman di wajah Nadila memudar.


Kenapa tidak membujuknya untuk menerima uang? Ada apa dengan pria ini? Apa dia sudah gila? Dirinya kini bingung.


"Hah?" tanya Nadila memastikan pendengarannya.


"Jaga kesehatanmu, dan anak kita. Bagaimana pun dia adalah cicit pertama kakekku, juga anak pertamaku." Raka tersenyum mengelus perut rata Nadila.


Nadila mengenyitkan keningnya, bukan masalah anak, yang seharusnya dibahas adalah masalah uang transfer. Tidakkah dirinya ingin menjaga image di hadapan wanita?


"Ini untukmu. Fujiko membelikannya, katanya belakangan ini hujan sering turun." Raka tersenyum memberikan memakaikan syal pada Nadila.


Wanita yang tidak dapat berkata apapun lagi. Matanya selalu melirik phonecell Raka, berharap Raka kembali ingin mengembalikan uangnya.


Namun, itu tidak terjadi, pemuda itu membukakan pintu mobil untuknya.


"Istirahatlah! Beberapa hari ini aku harus ke luar kota. Meninjau lokasi lahan gersang, rencananya aku akan ikut berinvestasi membangun wisata agraria. Untuk persiapannya lahan harus digarap dan dialiri air." Raka menghela napas kasar, kata-kata yang begitu ambigu. Maksudnya mungkin Raka hendak menanam jagung di lahan miliknya. Mungkin tinggal beberapa hari di tempat kost keponakan dari ipar sepupu ibunya.


"Kamu tidak akan pulang?" tanya Nadila, memegang tangannya.


"Tidak, tapi aku terkesan dengan malam ini." Jawab Raka mencium jemari tangan wanita di hadapannya."Jaga kandunganmu," hanya itulah kata yang terucap. Sang pemuda yang berjalan kembali masuk ke dalam mobilnya. Hingga Nadila memegang jemari tangannya.


Dirinya ingin membuktikan satu hal. Apakah Raka sudah ada di genggaman tangannya?


"Kamu tidak cemburu?" tanya Nadila tiba-tiba."Yang ada di kandunganku ini adalah anak Imanuel. Apa kamu tidak cemburu?" tanyanya lagi meyakinkan.

__ADS_1


Raka menghela napas kasar."Sejak melihatmu aku sudah cemburu. Tapi aku hanya diam saja, karena Imanuel adalah sepupuku. Tapi saat ini, aku memiliki jalan untuk lebih dekat denganmu. Walaupun tidak tau aku jatuh cinta atau tidak. Tapi aku cukup senang."


Sebuah jawaban ambigu, membuat Nadila tersenyum melupakan jumlah total uang yang harus dibayarnya tadi. Melambaikan tangan menatap kepergian mobil Raka.


Sedangkan Adinda melihat segalanya, wajahnya tersenyum, kembali masuk ke dalam rumah.


*


Malam semakin menjelang. Raka mulai melonggarkan dasinya. Ini tidak nyaman baginya, bagaimana caranya mengumpulkan informasi keberadaan saudara sepupu dan ayahnya?


Bukan itu pertanyaan lagi, apakah mereka masih hidup.


"Sial!" geramnya, ingin rasanya mencekik leher Nadila.


Sesuatu yang memang tidak dilakukan olehnya. Air matanya mengalir, bagaimana pun yang menghilang adalah ayahnya.


Hingga sebuah motor matic yang memang mengikuti mobilnya dari jauh terhenti. Wanita yang berjalan mendekatinya, membuka pintu menatap ke arah suaminya yang kacau.


"Dia memp*rkosa mu?" Pertanyaan konyol dari mulut Fujiko. Membuat siapapun merasa aneh.


"Syukurlah. Kita coba di mobil?" wanita itu terkekeh tersenyum genit.


"Dasar!" Raka tertawa kecil, menarik tangan istrinya, memeluknya erat.


"Raka, aku---" Kata-kata Fujiko disela.


"Biarkan seperti ini sebentar saja. Aku memerlukan ini untuk tetap bisa bergerak." Kata-kata dari bibir Raka membuat Fujiko terdiam.


Hanya rasa nyaman, perlahan sang pemuda terisak merindukan ayahnya. Terdiam tertunduk dalam tangisannya. Mencemaskan apa yang dilakukan Patra kini.


"Mau hiburan?" tanya Fujiko.


"Tidak," jawaban dari Raka masih memeluk istrinya dengan beban fikiran yang bertumpuk.

__ADS_1


"Ini memang memalukan, tapi ini akan membuatmu lebih tenang." Kata-kata dari mulut Fujiko.


Apa benar? Dua orang yang kini berada dalam tempat tidur hotel. Selimut putih tebal menutupi tubuh mereka. Keringat mengalir dari rambut sang pemuda, yang menikmati ceruk leher istrinya. Tubuh yang terombang-ambing bergerak perlahan. Sang wanita mencengkeram erat, punggung suaminya.


Tidak dapat melupakan masalahnya, hanya bagaikan menenangkan. Entah berapa kali mereka melakukannya hingga pada akhirnya Raka tertidur.


Fujiko tersenyum, menatap betapa polos wajah suaminya. Dirinya juga lelah, tapi menyenangkan melakukan apapun dengan Raka. Perlahan memeluk tubuh Raka. Sengaja ingin bersentuhan kulit. Menghilangkan dingin dari suhu AC yang menyala.


*


Hari demi hari berlalu. Fujiko akan mulai bekerja di pabrik besok. Raka juga mengunjunginya jika ada kesempatan, lemari es dengan isi yang penuh dengan makanan. Mertua yang menyayanginya, apa yang kurang?


Hampir setiap malam Raka datang. Tapi saat siang suaminya tidak ada di sisinya entah kemana. Apa si kikir tergoda dengan Nadila? Fujiko hanya dapat menelan ludahnya mengingat nama itu.


Tapi untuk saat ini, Raka hanya mengatakan dirinya sibuk. Entah apa yang dilakukannya, Ragil, Evi dan Cahaya juga mulai kerja sambilan. Jarang berada di tempat kost, karena rasa kesepian pada akhirnya dirinya menghubungi Reina.


Dan inilah yang terjadi, Reina datang bersama seorang pria aneh. Dari segi wajah cukup rupawan, tapi tetap saja, tinggal dengan Reina yang seorang janda. Fujiko mengenyitkan keningnya menatap curiga.


"Apa ada pria pendiam, tapi memiliki perilaku aneh?" tanya Imanuel lagi, dirinya benar-benar takut, Raka yang mungkin kembali dari Singapura datang ke tempat ini.


"Tidak di lantai satu ada beberapa mahasiswa pendiam. Yang paling ramai hanya Ragil, Evi dan Cahaya. Tapi mereka sedang sibuk kerja sambilan. Sedangkan kamar sebelah kosong, ditinggalkan pemiliknya menikah denganku." Fujiko tersenyum terlihat malu-malu.


"Mereka kumpul kebo selama setahun!" Reina menggeleng-gelengkan kepalanya heran.


"Jadi semuanya mahasiswa, selain kamu dan suamimu ya?" tanya Imanuel memastikan.


Fujiko mengangguk dengan cepat."Dia selalu memakai kaos kutang dan celana pendek. Kalau tidak memakai kaos pemilu. Jika bertemu di tempat ini itulah dia."


"Tidak mungkin Raka," batin Imanuel mengingat classification penampilan keluarganya. Kaos kutang dan celana pendek? Sudah pasti itu bukanlah Raka.


Sepupunya selalu terlihat sempurna ketika berada di rumah. Setelan jas, bahkan ketika memakai pakaian santai mengenakan out fit bernilai tinggi.


Pemuda itu menghela napas kasar menatap ke arah Fujiko. Wanita yang mengalahkan kecantikan Nadila."Jangan mau jadi istri simpanan," saran darinya.

__ADS_1


"Memang kenapa? Kamu mau menikahinya!? Dasar jin kuburan! Dedemit!" geram sang mama yang tidak cemburu kala papa menggoda wanita lain. Mama hanya menjewer telinga papa saja, memberi pelajaran agar papa lebih pintar.


__ADS_2