
Seperti biasanya, Fujiko membuka matanya menatap ke arah suaminya yang bekerja dengan beberapa berkas, laptop, serta tab diatas meja. Memakai kacamata baca, namun hanya mengenakan celana pendek dan kaos pemilu.
Tidak ada yang berubah sama sekali semuanya terasa nyaman.
"Sudah bangun? Sebaiknya mandi dulu. Aku akan membuatkan makan malam," Raka melirik ke arah istrinya, kemudian melanjutkan pekerjaannya. Sembari memakan pinggiran roti yang didapatkannya dari rumah utama. Cemilan yang biasanya dikonsumsi ayahnya ketika berhemat. Namun, saat ini keberadaan ayahnya tidak ditemukan, hingga tidak ada yang memakan pinggiran roti lagi.
"Kita masak bersama," Fujiko bangkit, memaknai handuk, menampakan kaki jenjangnya. Kemudian memeluk Raka dari belakang.
Bagian belahan dadanya terlihat, jangan lupa, ukuran yang sempurna untuk menggoda pria. Mungkin jika pria lain tidak akan membiarkannya tenang, sama sekali, menyerangnya dengan bringas.
"Mandi sana! Aku sedang cari uang!" Raka tersenyum mengecup bibirnya berkali-kali, hanya menunjukkan rasa sayang.
"Iya," Fujiko tersenyum simpul, berjalan menuju kamar mandi.
Tidak lama kemudian suara tidak mengenakan terdengar. Diiringi dengan bau menyengat dari dalam sana. Sudah terbiasa, amat sangat terbiasa, bahkan sebelum pernikahan dulu."Jangan lupa siram!" teriak Raka.
"Iya! Bau tidak?" tanya Fujiko dari dalam sana, tanpa malu sama sekali.
"Lumayan!" jawaban Raka, kembali fokus pada pekerjaannya. Obrolan absurb yang biasa, bagaikan Fujiko adalah bagian anggota tubuhnya. Kekurangan? Itu tidak ada karena mereka saling melengkapi.
Kehidupan yang seperti biasanya. Terkadang rasa nyaman itu dapat tercipta dari hal-hal kecil, jika kita dapat menerima kekurangan dan kelebihan tanpa mengeluh.
Wanita yang telah selesai membersihkan diri, kini memasak bersama suaminya. Bukan memasak, lebih tepatnya menghangatkan makanan yang di berikan Adinda.
Duduk bersila, meletakkan makanan di atas lantai. Bahkan tanpa karpet sedikitpun. Hanya makan bersama penuh senyuman, menggunakan tangan.
Apa yang ada di bayangkan Fujiko sebelumnya? Dulu dirinya selalu berimajinasi jika menikah nanti, dirinya akan tinggal di rumah dengan seorang ART. Tetap menjadi wanita karier, melayani suami makan, menjaga sikap, makan dengan sendok, garpu, bahkan pisau di meja makan.
__ADS_1
Dirinya akan menjadi wanita yang anggun, harus menjaga etika di depan suami. Itulah sebuah rumah tangga dalam imajinasinya. Tapi ternyata itu tidak terjadi, dirinya tetap hidup sederhana. Memakan makanan yang sama dengan Raka. Bahkan di atas lantai keramik yang dingin.
"Nasinya jatuh!" Raka memungut nasi yang jatuh di lantai, hendak diletakkan dalam piring miliknya sendiri.
"Sudah terkena bakteri! Buang! Aku tidak ingin menjadi janda di usia muda!" geram Fujiko menghentikan suaminya.
"Satu butir nasi mengecewakan para petani. Aku akan tetap memakannya," tegas Raka.
Kali ini keduanya tidak sepaham. Hingga Fujiko mengenyitkan keningnya."Kalau begitu aku yang makan," ucapnya merebut sejumput nasi yang sempat jatuh ke lantai.
"Tidak boleh! Istriku tidak boleh makan-makanan tidak sehat! Dasar bagaimana jika kamu sakit!? Fikirkan juga anak kita nanti! Aku juga tidak rela menjadi duda!" komat-kamit mulut pemuda itu mengomel, membuang sejumput nasi ke dalam tempat sampah.
Wanita yang menipiskan bibir menahan tawanya. Kini dirinya mengerti bagaimana caranya untuk mengendalikan suaminya. Seperti mertuanya pelitnya setingkat dengan Raka. Tapi memiliki banyak stelan pakaian bernilai tinggi, serta koleksi jam tangan.
Mengapa dapat demikian? Sebenarnya dirinya mendapatkan bocoran dari Adinda, bagaimana sang ibu mertua mengendalikan Patra. Tidak semua orang memiliki sifat yang sama, senang untuk pamer. Begitu juga dengan Patra.
Cara untuk mengendalikan sifat kikir Patra sebenarnya cukup mudah. Patra tidak pernah ingin istrinya kalah dari wanita lain. Jika wanita lain punya emas, istrinya harus punya berlian. Satu lagi, Patra juga akan melakukan apapun untuk anak dan istrinya. Jadi jika sedikit saja mengancam akan melukai diri sendiri, Patra akan mengalah.
Raka kembali duduk setelah mencuci tangannya dan tangan Fujiko. Dua orang yang kembali makan dengan tenang.
"Raka sebenarnya teman SMUku baru saja membuka warung makan. Aku sempat akan membeli disana, tapi dia mengejekku di media sosial---" Kata-kata Fujiko terpotong.
"Tenang saja! Aku akan meminta Danu untuk membantumu membuka cafe. Mulai dari cafe dulu, setelah kamu tau bagaimana cara mengelolanya. Akan aku bukakan restaurant. Ingat! Jangan biarkan ada orang yang menghinamu!" tegasnya dengan aura kebencian yang tidak main-main.
Fujiko menelan ludahnya, menatap ke arah suaminya. Benar-benar bekerja? Berhasil? Raka yang kikirnya bukan main adalah tipikal orang seperti ini? Dia adalah tipikal suami ideal?
Hingga dering suara phonecell terdengar dengan nama pemanggil Pramana. Sudah mengetahui apa yang terjadi. Raka melanjutkan makannya, mungkin beberapa menit lagi, dirinya akan mulai mengangkat panggilan.
__ADS_1
*
"Raka mengangkatnya?" tanya Nadila dengan air mata yang mengalir.
Pramana menggeleng, menghela napas kasar."Raka sangat menyayangi Adinda. Adinda memiliki bisnis restauran, kamu malah merekomendasikan saingan bisnisnya, pantas saja Adinda tersinggung."
"Tapi kek, ini pekerjaanku. Aku harus mereview beberapa restauran lain. Restauran-restauran yang populer di media sosial. Aku tidak tau, aku minta maaf..." Nadila tetap menangis sesegukan, seolah-olah Adinda memusuhinya, menjauhkan dirinya dari Raka.
"Adinda sebenarnya orang yang baik. Hanya saja dia tegas, karena itu perlahan pasti akan luluh. Kakek akan coba menghubungi Raka lagi ya?" Ucap Pramana kembali meraih phonecellnya.
"Halo, kakek? Maaf tadi aku sedang di kamar mandi." Ucap Raka dari seberang sana.
"Kamar mandi? Kamar mandi dimana? Kalau kamu sudah selesai dengan pekerjaanmu, seharusnya kamu pulang. Nadila sebentar lagi akan menikah denganmu. Jadi dekatkan diri kalian, jangan melukai hatinya," tegas sang kakek.
Tidak dapat menyalahkan Pramana, pria itu hanya tidak ingin terpisah dari cicit pertamanya. Karena itu langkah ini diambilnya.
"Kakek, aku sedang di kost-kostan tempat Fujiko tinggal. Sekalian berkenalan dengan tetangganya. Karena jika ada apa-apa nanti tetangganya yang akan menolongnya. Dia seorang diri disini. Aku sudah mengatakan pada Nadila. Juga sudah meminta ijin padanya." Jawaban dari Raka polos.
"Kata Nadila kamu pergi seharian?" tanya Pramana lagi pada cucu kesayangannya.
"Aku memang pergi seharian. Tapi itupun aku pergi dengan Danu, meninjau pabrik perusahaan tempatku berinvestasi beberapa bulan lalu. Kakek tau sendiri aku tidak mungkin lepas tangan, seperdelapan uang tabunganku habis untuk menyelamatkan perusahaan ini. Jika bangkrut aku rugi total, tapi jika berkembang ini dapat menjadi tambahan tabungan untuk istri dan anakku." Kata-kata mengharukan dari Raka dapat didengar oleh Nadila.
Berbeda dengan Imanuel, bukan tipikal pria yang mandiri, masih terikat dan digaji perusahaan keluarga. Tapi Raka sosok yang berbeda, bahkan Pramana ragu untuk menentang cucunya. Seorang cucu yang tidak takut untuk dimiskinkan.
Apa yang sejatinya dilakukan Raka, mengatakan akan mengumpulkan uang untuk anak dan istrinya. Tapi tangannya tengah mengelus perut Fujiko yang rata. Anaknya mungkin ada di sana. Untuk apa memikirkan Nadila.
"Masa bodoh!" batin Raka, masih tetap berbicara dengan sang kakek melalui sambungan telepon.
__ADS_1
"Begini, Nadila ingin makan malam bersamamu. Luangkan waktu untuk besok. Tidak ada penolakan." Tegas Pramana.
"Aku akan datang,"