Saldo Rekening Pacarku

Saldo Rekening Pacarku
Biru


__ADS_3

Diskusi kembali dimulai. Jika tidak menguntungkan untuk apa menjalin kerjasama bukan? Itulah prinsip Raka, menatap wanita di hadapannya.


Benar-benar tidak mengerti, hanya untuk bertemu dengan Dwiguna yang katanya cinta pertamanya, tapi playboy kelas kakap Nadila membunuh bahkan melakukan banyak perbuatan buruk. Apa wanita ini normal? Ia Itulah pertanyaan yang ada di benaknya.


Hingga dirinya memulai pembicaraan."Kita buka kartu masing-masing, maka aku akan percaya padamu," tegasnya.


"Kamu ingin bertanya tentang apa?" tanya Nadila dengan dessert yang baru datang diantarkan oleh pelayan.


"Imanuel, apa yang terjadi malam itu?" tanya Raka benar-benar penasaran.


"Malam itu? Coba aku ingat-ingat lagi. Aku menambahkan sedikit obat ke dalam minumannya. Tapi sebenarnya lebih mendominasi obat tidur." Jawaban dari Nadila penuh senyuman. Inilah watak aslinya, penjahat keji yang picik.


Raka memijit pelipisnya sendiri. Kembali menatap ke arah Nadila."Kalian tidak melakukannya? Lalu kamu hamil anak siapa?" tanyanya penasaran.


"Aku? Sebelum pesta aku melakukan donor spr*ma di luar negeri. Aku tidak tau itu anak siapa, tapi yang jelas semuanya gagal, karena tidak ada janin dari awal. Hanya plasenta yang tumbuh." Kata-kata dari Nadila dengan tenang.


"Kamu tidak sedih? Itu anakmu. Kamu tidak mengharapkannya?" tanya Fujiko tidak mengerti.


"Mengharapkan? Aku mengharapkannya jika ada tapi pada kenyataannya anak itu tidak pernah ada. Terkadang tidak menjadi ibu lebih baik." Jawaban darinya penuh senyuman. Merasa menjadi ibu yang buruk untuk Valentino. Karena itulah dirinya lebih memilih putranya diasuh oleh keluarga lain. Berharap mendapatkan kasih sayang yang utuh agar tidak tumbuh sepertinya.


"Baik pertanyaan kedua. Kamu mendapatkan dana darimana? Jovi tidak mungkin mempertaruhkan perusahaannya untuk menyokongmu yang---" Kata-kata Raka terhenti.


"Pramana, aku mendapatkannya dari kakekmu. Entah kenapa dia memberikanku uang dalam jumlah besar setiap bulannya." Jawaban jujur darinya meminum jus alpukat.


"Hanya untuk menemui cinta pertamamu!? Katakan alasanmu yang sebenarnya, kenapa ingin bertemu dengan Dwiguna?" tanya Raka memandang curiga.


"Jika aku menjawab jujur kamu bisa mendatangkan Dwiguna ke hadapanku?" tanya Nadila.


Fujiko mengangguk pelan."A...aku akan mencoba menghubunginya."


"9 tahun lalu ada berita menggemparkan di televisi tentang seorang pengusaha yang menyetir mobil menabrak sebuah warung pinggir jalan menyebabkan 8 orang tewas di tempat dan dua orang cacat permanen. Alasannya rem blong, yang dipenjara pada akhirnya adalah sang supir yang seharusnya membawa ke bengkel sebelum dipakai oleh majikannya. Kalian pernah mendengar kasus itu? Si penabrak lolos dari jeratan hukum, sedangkan sang supir di hukum dua tahun penjara karena kelalaiannya tidak membawa mobil ke bengkel. Hukum yang konyol bukan?" tanya Nadila sedikit tertawa mengatakan hal yang sejatinya tidak lucu.


"Apa kamu kenal pada supirnya?" Asumsi dari Fujiko.

__ADS_1


Nadila menggeleng."Tidak, hanya pemilik mobil yang ada di dalam menyetir dalam kondisi mabuk. Rem blong? Dia bahkan tidak mengerem ketika mobilnya melewati trotoar. Turun dari mobil, mengumpat pada semua korban yang tewas, mengatakan mereka adalah anj*ng jalanan. Pantas untuk mati dengan badan yang kotor."


Wajah wanita itu tersenyum, tidak menangis sedikitpun. Lagipula dirinya akan bertemu Dahlan suatu saat nanti. Walaupun hanya beberapa detik, karena dirinya juga harus ke neraka bukan? Mempertanggungjawabkan segala perbuatannya. Tuhan yang dianggapnya tidak adil. Mungkin jika setelah ini Dwiguna mendapatkan hukuman, dirinya akan kembali mempercayai-Nya walaupun terlampau banyak dosa yang telah dilakukannya.


"Kamu melihatnya?" tanya Raka lagi.


Nadila mengangguk."Orang pertama yang tertabrak mobil dialah pacarku. Tubuhnya terpelanting dan terseret, jika dia hidup pun mungkin hanya akan hidup dengan alat medis. Karena itu mungkin aku sedikit bersyukur dia pergi. Agar tidak hidup dalam penderitaan." gumam Nadila yang melihat kondisi kekasihnya sendiri sebelum meregang nyawa. Salah satu kakinya terputus, dengan darah mengalir dari hidung telinga dan bibir. Mengucapkan satu kalimat padanya dengan sisa tenaganya.


"Jadi karena itu kamu ingin bertemu Dwiguna?" tanya Raka.


Nadila mengangguk."Aku akan berhenti mengganggu keluarga kalian, mengembalikan Ragil, Barbara dan Sean, jika aku diberi kesempatan bertemu dengan Dwiguna."


Raka menyandarkan punggungnya di kursi, menghela napas berkali-kali bingung harus bagaimana."Hanya bertemu kan? Tidak akan ada tindak kekerasan?"


"Kalian mengenalku. Aku tidak akan melakukan tindak kekerasan di depan umum." Dustanya mulai bangkit, hendak membayar ke kasir.


Hingga kata-kata Raka membuat langkahnya terhenti."Aku setuju, tapi dengan satu syarat, aku akan membicarakan syarat yang aku minta satu hari sebelum resepsi pernikahan."


Plak!


"Ha... hanya resepsi bukan pernikahan yang sebenarnya." Raka terbata-bata.


"Sudah aku duga, dua orang busuk seperti kalian adalah pasangan suami istri." Geram Nadila, benar-benar kesal rasanya. Berjalan pergi meninggalkan mereka dengan cepat.


*


Seperti biasanya, Fujiko bekerja secara profesional. Menjadi wanita karier adalah tujuannya. Tidak mengalami syndrom seperti wanita hamil pada umumnya membuatnya leluasa bergerak.


Matanya sedikit melirik ke arah Pramana yang terlihat serius bekerja. Apa yang membuat orang sepintar Pramana dapat tertipu oleh Nadila? Dirinya tidak mengerti sama sekali, hanya dapat menghela napas melanjutkan pekerjaannya saja.


Sedangkan Pramana sedikit melirik ke arah cucu menantunya. Tidak mengerti sama sekali bagaimana cara wanita ini menggoda Raka hingga bersedia menikah dengannya?


Namun dirinya hanya diam, Fujiko mungkin sedang mengandung cicitnya. Pramana yang sejatinya mengetahui dari awal Nadila tidak hamil anak dari Imanuel.

__ADS_1


Apa tujuannya? Seorang kakek yang terlalu berlebihan menyayangi salah satu anggota keluarganya hingga melupakan anggota keluarganya yang lain. Dirinya tidak begitu menyukai Imanuel. Karena kala sakit, cucunya itu tidak pernah peduli dengannya. Hanya bermanja-manja dengan uang tidak dewasa sama sekali.


Mungkin sejatinya hanya Raka dan Adinda yang peduli dengannya. Namun, tetap saja Patra mengingatkannya tentang kematian ibunya, akibat istri pertamanya, tepatnya nenek kandung Raka.


Keluarga yang benar-benar rumit. Perasaan yang sulit dikontrol olehnya.


Sama seperti malam-malam sebelumnya mereka pulang ke rumah untuk makan malam. Tapi kali ini suasana terlalu tenang, Nadila dan Fujiko tidak bersitegang lagi. Adinda juga tidak datang ke meja makan.


Tidak, ada yang aneh. Setidaknya itulah yang ada di benak Pramana saat ini. Hingga menunggu malam semakin larut, dirinya dibangunkan oleh kepala pelayan.


Kali ini Raka mengendap-endap masuk ke dalam kamar Fujiko. Sudah mengetahui apa yang akan dilakukan cucunya tapi masih saja Pramana dan kepala pelayan pemasaran.


"Tuan, apa perlu kita menguping? Mungkin mereka membicarakan anda." Ucap sang kepala pelayan membuat alasan.


"Tidak perlu, Raka sudah cukup dewasa untuk---" Kata-kata Pramana terhenti.


Prang!


Suara benda pecah terdengar dari kamar Fujiko.


"Apa kita perlu menguping?" tanya Pramana yang juga penasaran. Tapi jika dirinya menguping mungkin saja Raka dan Fujiko akan mengaku mereka sudah menikah pada dirinya.


Kemudian pada akhirnya Raka akan pindah kembali ke kontrakan sempit. Meninggalkan dirinya.


"Saya rasa tidak tuan. Mari saya antar kembali." Ucap sang pelayan membimbingnya.


Bug!


Bug!


Bug!


Tiga kali suara benturan yang cukup keras terdengar. Membuat Pramana dan kepala pelayan menghentikan langkahnya.

__ADS_1


Apa yang pasangan suami istri itu lakukan? Apakah bertengkar? Atau melakukan hal ekstrim seperti pada film-film berwarna biru?


__ADS_2