
Rumah yang tidak begitu besar menurut Adinda. Dari kalangan menengah, itulah keluarga Fujiko. Seperti sarang dari para bidadari, bahkan ada empat wanita yang memiliki kecantikan tidak dapat dianggap enteng.
Jemari tangannya mengepal jiwa bersaingnya meronta-ronta. Nadila bahkan tidak ada apa-apanya dengan keempat bidadari ini. Entah ngidam apa ibu mereka hingga tercetak empat orang putri yang cantiknya keterlaluan.
Jika ditanya siapa yang paling cantik? Adinda tidak dapat menjawabnya. Keempat orang gadis di hadapannya memiliki aura kecantikan yang berbeda.
Dengan begini dirinya dapat menyombong, memboyong Fujiko ke rumahnya, kemudian memamerkan mematunya pada Tiara. Tapi tunggu dulu, setelah Fujiko menikah dan hamil baru akan diperkenalkannya.
"Ibu, perkenalkan ini pacarku Fujiko dan mereka ketiga kakaknya. Rosita, Fumiko dan Tari." Ucap Raka pada ibunya.
"Pantas saja kamu tidak suka Volgograd (makan Eropa) ternyata seleramu sushi," bisik Adinda pada putranya, menatap gadis keturunan Indo-Jepang.
Adinda menghela napas kasar. Seorang pria pecicilan tiba-tiba masuk tanpa permisi dan memberi salam, membawa kantung kresek kecil entah apa isinya. Berjalan mendekati ke empat putrinya sambil membawa minuman.
"Koh Chang memberikan ini, katanya supaya tidak panas dalam!" ucap sang ayah mencekoki putri-putrinya dengan pil pahit. Hasil racikan sahabatnya, pemilik toko obat sekaligus tempat praktek pengobatan tradisional China.
"Pahit!" Rosita berlari ke dalam mengambil gula. Ayah mereka benar-benar gila dalam hal ini, begitu antusias menjaga kesehatan mereka.
Adinda mengenyitkan keningnya, menghela napas berkali-kali. Benar-benar keluarga aneh, tapi apa putranya juga tidak aneh? Tentu saja juga aneh. Seorang pemuda kasmaran yang tersenyum malu-malu menatap Fujiko. Begitu juga dengan calon menantunya, mengalihkan pandangannya bersemu merah.
Inilah yang disebut dengan pasangan kumpul kebo yang aneh. Saat di depan keluarga malu-malu, saat di depan umum, masa bodoh cium saja, saat di dalam kamar kentut pun tidak apa.
"Ayah perkenalkan ini ibunya Raka," ucap Fujiko usai sang ayah mencekokinya dengan pil pahit.
"Firman..." ucap Firman mengulurkan tangannya ramah.
"Adinda," Adinda membalas uluran tangan Firman.
__ADS_1
Pria yang mulai duduk dan tersenyum. Tidak mempermasalahkan tentang calon menantunya, sejatinya kriteria Firman hanya ada tiga, bertanggung jawab, mencintai putrinya dan setia.
Tidak ada orang tua yang ingin anaknya memiliki suami pemabuk, kasar, atau tukang selingkuh. Tapi dari cerita Fujiko dan Fumiko, selama satu tahun putrinya bersahabat dengan Raka, tidak ada hal aneh yang diperbuatnya, walaupun penghasilannya kecil.
Tidak suka bermain perempuan, walaupun penghasilannya kecil. Tidak kasar pada wanita, bahkan melindungi Fujiko, walaupun penghasilannya kecil. Perlu digarisbawahi penghasilannya kecil, dirinya mungkin akan mengajarkan pada Raka bagaimana caranya untuk menjual produk elektronik di tokonya. Bekerja untuknya, mengumpulkan uang, hingga akhirnya bisa mandiri untuk menghidupi Fujiko dengan membuka cabang toko elektronik kecil lainnya.
Firman tidak mengharapkan lebih, hanya ingin menantu yang tangkas, melakukan apapun untuk putrinya. Walaupun mungkin memerlukan waktu belasan tahun untuk mendapatkan kehidupan yang stabil nantinya.
"Begini, maaf datang tiba-tiba. Ayahnya Raka sedikit sibuk, jadi hanya saya yang mewakilkannya datang kemari. Sekali lagi, benar-benar maaf, tidak membawakan apapun, hanya beberapa kotak kue kering. Sebenarnya saya ingin melamar Fujiko untuk Raka." Ucap Adinda tertunduk, jujur saja dirinya benar-benar malu. Mungkin saja putranya akan ditolak mentah-mentah.
Dalam hatinya selalu berteriak, kenapa tidak menggunakan status saja. Tapi sebuah teriakan yang tidak bisa terdengar. Dirinya hanya dapat percaya pada putranya saja.
Rosita menghela napas kasar, dirinya tidak bisa, tidak angkat bicara kali ini. Membuat Raka menjadi pria yang bertanggung jawab pada adiknya adalah tujuannya.
"Sebenarnya, aku ingin mengeluh tentang ini dari kemarin. Bibi Adinda, apa bibi tau penghasilan Raka per bulannya?" tanya Rosita.
Adinda terdiam, otaknya mencoba mengakumulasi pendapatan putranya. Dari tempat-tempat si pelit berinvestasi. Tapi tidak ada hasil, otaknya tidak muat untuk menjumlahkan data keuntungan yang terlalu banyak.
"Pendapatannya per bulan dibawah 2 juta!" tegas Rosita.
"Labamu menurun? Beberapa bulan lalu masih di atas dua juta." tanya Adinda pada putranya, mengira yang dikatakan Rosita dalam hitungan Dolar.
Raka hanya tersenyum tipis, mengingatkan."Ibu, kita ini orang tidak mampu."
"Oh, iya aku lupa penghasilan Raka memang di bawah 2 juta rupiah." Ucap Adinda terkekeh sendiri, menahan rasa canggungnya.
"Begini, aku sudah berdiskusi dengan saudara-saudaraku. Fujiko dan Raka ingin segera menikah, karena itu tolong setujui syarat kami." Tegas Rosita.
__ADS_1
"Apa syarat kalian?" tanya Adinda.
"Raka dan Fujiko tinggal disini hingga mereka mandiri. Bukannya aku sombong, tapi coba bibi banyangkan pendapatan sekecil itu untuk mencukupi hidup dua orang. Sekarang baru dua orang, bagaimana jika Fujiko hamil, lalu lahir beberapa keponakanku. Aku tidak bisa terima jika mereka harus kelaparan. Makan nasi dengan satu bungkus mie instan yang dibagi untuk mereka makan." Rosita mengatakan dengan jelas alasannya.
"Aku hamil? Kakak, jangan begitu aku kan jadi malu..." ucap Fujiko membayangkan dirinya hamil anak si kikir.
Plak!
Satu pukulan dari sandal jepit terkena di kepala Fujiko. Adiknya yang benar-benar sedang kasmaran, membuat Rosita begitu murka.
"Bukannya tidak setuju, tapi Raka anak kami satu-satunya, setelah salah satu rahimku diangkat. Aku juga ingin dekat dengan anak, menantu dan cucu-cucuku. Biarkan Fujiko tinggal di rumahku." Pinta Adinda, tertunduk entah mengapa ada perasaan bagaikan putranya akan direbut.
Raka tiba-tiba berlutut, tertunduk."Ayahku seumur hidupnya membahagiakan ibuku. Tidak pernah membuatnya menangis, bekerja keras siang dan malam untukku dan ibuku. Karena itu aku akan menjadikan ayahku sebagai contoh untuk membahagiakan Fujiko!"
Rosita terdiam sesaat, kemudian menghela napas kasar. Bagaimana pun mungkin Raka dan Fujiko akan ragu untuk meminta bantuan jika kehidupan mereka dalam kesulitan nantinya? Tidak ingin adiknya hidup dengan kesusahan hanya karena sungkan. Karena itu Rosita berusaha tersenyum, menerima dengan ikhlas.
Rosita memegang bahu Raka."Ayah kami terlalu baik, karena itu mungkin aku mewarisi sifat tegas dan keras seperti ibuku. Tolong jaga adikku, dia dimanjakan dari kecil. Tapi dia orang baik, hanya bertahan dengan satu pasangan. Dia sebenarnya tipikal orang yang setia. Jadi, tolong sayangi, lindungi dan bahagiakan dia dengan segala usaha."
Pemuda itu mengangguk, kemudian tersenyum."Aku akan membahagiakannya. Aku berjanji."
"Bagus! Bagaimana jika acara pernikahannya besok saja? Agar bisa sekalian bulan madu." Adinda asal memutuskan, sejatinya tanggal baik bahkan kecocokan karakter segalanya telah diperiksa olehnya. Benar-benar menginginkan kebahagiaan putranya.
"Tapi, besok---" Fujiko terdiam, terdengar ragu.
"Sebenarnya beberapa hari lagi aku akan berangkat ke Singapura. Aku ingin pergi denganmu, karena itu setelah pernikahan, lebih baik kita mengurus visa." Ucap Raka mulai bangkit, kemudian mengubah posisinya berada di hadapan Fujiko menggenggam jemari tangannya.
"Kita pergi bersama ya? Karena itu aku melamarmu dengan cepat. Bongkahan berlian sepertimu banyak pria yang menginginkannya. Aku ingin memilikimu," lanjutnya. Kata-kata yang membuat Fujiko benar-benar berdebar tiada henti.
__ADS_1
"Kamu menjadi TKI? Itu baru adik iparku. Harus berusaha mencari uang, walaupun hanya bekerja menjadi tukang cuci piring di restauran." Semangat dari Tari, menginginkan kehidupan yang lebih baik untuk adiknya.
Membayangkan Raka yang hanya lulusan SMU menjadi tukang cuci piring, kemudian pulang dengan banyak uang untuk modal usaha. Membuka sebuah tempat laundry kecil-kecilan, setidaknya kehidupan adiknya yang bucin parah akan terjamin.