
Aneh, ini benar-benar aneh bagi mereka. Dua orang yang tertawa nyaring, sedangkan dua orang lainnya hanya terdiam.
"Kalian bercanda kan?" tanya Tari lagi.
Fumiko menggeleng."Tidak ingat postur badannya. Walaupun memakai topeng seharusnya kalian ingat. Tinggi badannya saat menari dengan Fujiko sama dengan Raka. Hanya terlihat lebih dewasa karena efek penampilannya."
"A...ayah! Aku akan menghubungi ayah!" Tari bangkit meraih phonecellnya.
"Fujiko dapat ikan besar. Mungkin setara cumi-cumi raksasa atau paus." Rosita merebahkan dirinya di sofa panjang, meletakkan kepalanya di paha Fumiko. Sang kakak tertua menatap ke arah langit-langit ruang tamu.
Benar-benar empat bersaudara yang aneh. Cantik bagaikan bidadari tapi kelakuan bagaikan Mail yang dapat mengendus uang dari jarak yang jauh.
"Aku akan menghubungi Fujiko. Tapi tidak menjamin juga Raka adalah pelakunya. Apa tidak ada musuh lain? Atau petunjuk dan motif?" tanya Fumiko.
"Tidak ada, menurut keterangan Nadila, tunangan Imanuel. Imanuel pergi bersama Barbara dengan alasan untuk mempererat hubungan Barbara dengan Raka. Tapi mereka tiba-tiba menghilang, kedua mobil mereka ditemukan di pinggir jalan, dengan handphone Imanuel berisikan banyak chatt mesra, bahkan foto tidak senonoh dari Barbara." Jelas Sean.
"Apa kamu yakin Barbara tidak menyukai atau memiliki hubungan dengan Imanuel?" tanya Fumiko.
"Aku yakin, benar-benar yakin. Imanuel tipikal orang yang kekanakan, pintar tapi terkadang terlalu lugu, masih bergantung pada perusahaan keluarga. Tidak mungkin tiba-tiba Barbara merubah sasarannya dari Raka menjadi Imanuel. Barbara belum gila." Tegas Sean.
"Kapan riwayat chatt mesra dan foto fulgar itu terkirim. Apa malam saat kejadian?" tanya Fumiko lagi, membuka jalan menemukan titik terang.
Sean terdiam, berfikir sejenak."Jadi maksudmu, foto-foto itu mungkin dibuat penculik saat berhasil menangkap Barbara?"
"Jika semua foto dan chatt mesra dikirim pada malam kejadian, mungkin saja itu dibuat dan dikirim dengan sengaja ke phonecell Imanuel. Satu orang memegang dua phonecell. Saling membalas disaat yang sama." Dugaan Fumiko, mendengar semua penuturan Sean.
Anak kedua yang paling cerdas dari empat bersaudara. Wanita itu tidak akan membiarkan ikan paus adiknya terlepas.
Sean masih tertegun mencerna segalanya. Dirinya mengepalkan tangan, memang hanya sekedar kenal. Kenapa pemuda itu sampai terlibat sejauh ini? Entahlah ada maksud apa, tapi yang jelas tangannya mengepal.
__ADS_1
"Periksa foto-foto itu baik-baik mungkin akan ada petunjuk tentang keberadaan Barbara." Kata-kata yang membuat Sean tertegun, matanya memerah, air mata yang hampir saja menetes. Jujur saja, dirinya tidak sanggup lagi melihat foto-foto tersebut.
Mengapa? Taukah kalian tentang hubungan mereka? Hanya mencari kesenangan duniawi. Teman ranjang kala tinggal di luar negeri. Pemuda yang memiliki profesi sampingan memuaskan wanita kesepian. Tapi selalu memilih kliennya.
Dengan Barbara? Dua orang yang tidak memiliki status. Hanya bersenang-senang, tidak ada rasa cemburu sama sekali. Tapi kala melihat salah satu disakiti satunya lagi akan terluka. Apa sebenarnya hubungan mereka?
Barbara terlalu enggan memiliki kekasih murahan seperti Sean. Dan Sean juga enggan memiliki kekasih wanita murahan seperti Barbara. Tapi mereka tetap bersama dengan status teman, sesekali berhubungan layaknya suami-istri. Budaya luar negeri yang kental.
Aneh? Tentu saja, entah ini cinta atau bukan. Tapi Sean tidak ingin wanita itu terluka sama sekali. Wanita manja yang selalu menceritakan pria lain saat mabuk. Dua orang yang sama-sama br*ngsek. Lalu kenapa? Tidak Barbara tidak pantas dilukai.
"Terimakasih, tapi jika ada petunjuk dari Fujiko, hubungi aku..." Sean menyodorkan kartu namanya.
*
Tempatnya berada saat ini? Sean kembali ke restauran miliknya. Berjalan masuk langsung ke ruangannya, pemuda yang mulai melihat dengan cermat satu persatu foto yang yang telah diberikan detektif. Dirinya tidak memiliki akses untuk melihat phonecell Imanuel. Hanya beberapa puzzle yang didapatkannya dari membayar detektif swasta.
Isi chatt memang dikirim hampir di saat yang sama seperti dugaan Fumiko. Ada sekitar 20 foto fulgar Barbara disana, tanpa kehadiran Imanuel.
"Br*ngsek!" geramnya menghela napas berkali-kali. Mungkin lebih baik jika foto ini dibuat seorang diri oleh Barbara. Namun tubuhnya dipegangi beberapa orang, belum lagi orang yang mengambil gambarnya.
Semuanya terlihat jelas kali ini saat dirinya lebih tenang. Matanya menelisik, mengamati satu persatu foto, tapi pada akhirnya terhenti kala menatap lukisan, yang tidak terpajang. Mungkin tidak sengaja masuk saat pengambilan gambar. Dalam foto Barbara berbaring di lantai marmer tanpa mengenakan apapun.
Wajah Sean perlahan tersenyum, menghubungi detektif sewaannya."Ini aku Sean! Perbesar gambar 301, terutama pada pojok lukisan belakang Barbara berbaring!" perintahnya.
Pemuda itu menatap foto. Benar-benar mengamatinya baik-baik, pernahkah kalian melihat seniman yang sudah berusia? Sebagian besar dari mereka akan meninggalkan nama lengkap, tanda tangan, bahkan waktu penyelesaian lukisan pada pojok bawah lukisan tersebut.
Pemuda yang tersenyum simpul, dirinya mulai menemukan benang tipis tentang keberadaan Barbara.
*
__ADS_1
Malam ini dirinya tidak tidur sama sekali, hanya mengkonsumsi permen rasa kopi yang membuat langsung melek bahkan di tengah rapat yang membosankan.
Menyetir mobil menuju seorang seniman yang memiliki nama serupa dengan lukisan di foto. Seorang seniman yang usianya sudah melebihi 50 tahun. Tinggal di area perbukitan.
Tidak yakin? Memang tidak, karena banyak orang yang memiliki nama serupa walaupun itu nama lengkap. Petunjuk yang didapatkannya setelah tiga hari berlalu, dengan memberikan uang tambahan pada sang detektif senilai 100 juta rupiah.
Mobil itu terhenti di depan rumah. Dan benar saja ada seorang pria paruh baya, meminum kopi yang aman di lambung, dari bahan kotoran hewan, serta dengan Lee Min-ho sebagai brand ambassador merek kopi tersebut.
Memainkan kuasnya di tengah tangannya yang sudah gemetaran, mungkin pengaruh usia.
"Maaf, permisi apa bapak yang bernama Wiranto Mangun Sarkoro Wijaya Winata Kusuma Mangku Dirjo Sabto Winangun Karto Joyo?" tanya Sean terus terang, membawa catatan nama yang panjangnya mungkin setara rel MRT.
"Iya saya. Ada apa ya?" tanya pria paruh baya itu meletakkan kuasnya.
"Begini, apa bapak tau tentang lukisan ini?" tanya Sean menunjukkan foto, dengan tubuh Barbara yang telah disensor.
"Oh...yang ini? Ini saya buat sudah dulu sekali? Kenapa mau pesan yang sama?" tanya sang pelukis.
"Tidak, tapi saya ingin tau, bapak jual lukisan ini kemana. Kalau bapak memberikan informasi saya beri imbalan." Ucap Sean mengeluarkan kantong kresek hitam.
Dari bentuk kotaknya terlihat mungkin roti bakar, atau mungkin martabak? Entahlah tapi apa salahnya memberi informasi, toh ini juga bukan tentang dirinya.
Pria paruh baya itu menunjuk ke arah villa yang terlihat di perbukitan. Satu-satunya bangunan di tengah hutan."Pemiliknya membelinya dulu, tapi saya sudah lupa kapan mungkin 10 tahun yang lalu. Villanya disewakan karena pemilik villa bangkrut. Sekarang ada atau tidak penghuninya saya tidak tau." Jawaban dari sang pria paruh baya, sambil menerima kantong kresek yang diberikan Sean.
Menyelamatkan Barbara adalah tujuannya, satu detik terlambat mungkin nyawa wanita itu akan melayang. Mengemudikan mobilnya menuju villa yang terlihat dari tempatnya berada saat ini.
Sedangkan sang pelukis menghela napas kasar. Dirinya mendapatkan cemilan, lumayan untuk mengisi perutnya. Tapi sebelum itu harus diuji coba pada kucing peliharaannya. Jika mati atau kucingnya tidak mau makan berarti ada racunnya.
Tangannya membuka kantong kresek. Terdapat amplop coklat tebal disana, menyerupai kertas minyak. Masih mengira itu roti bakar atau martabak. Hingga amplop coklat tersebut dibukanya.
__ADS_1
"I...ini uang kan? Bukan daun? A...apa yang tadi itu dedemit?" gumam sang pelukis antara takut dan dilema. Dirinya benar-benar takut uang ini setelah dibelanjakan akan menjadi daun.