Saldo Rekening Pacarku

Saldo Rekening Pacarku
Dasar Gatal


__ADS_3

Pria itu terdiam, kembali fokus pada pekerjaannya. Mungkin Imanuel baru menyadari bibir sahabatnya itu memutih, wajahnya pucat, keringat dingin mengalir di pelipisnya.


"Kamu sakit?" tanya Imanuel dengan mata menelisik.


"Demamku baru saja turun." Jawaban pemuda yang hanya fokus pada kertas di hadapannya.


"Kenapa masih bekerja jika sakit?" tanya Imanuel lagi, Dede tersenyum menghentikan gerakan tangannya.


"Ingin melupakannya, ingin mengumpulkan banyak uang, mengirimnya untuk dia dan anakku." Jawaban dari Dede.


Imanuel menghela napas kasar."Masalah berselingkuh yang kamu maksud Reta? Kalian hanya tidur sekali tapi kamu ketahuan?" tanyanya mulai tertawa.


Bug!


Wajah Imanuel dilempar menggunakan bantal. Dede bersungut-sungut kesal, ini karena ide gila teman-temannya saat itu. Teman-teman absurb yang aneh. Mereka mencampur obat dalam minuman mereka sendiri. Meminta orang yang mereka percaya mengantar ke rumah mereka masing-masing. Membuat permainan panas dengan istri mereka.


Tapi apa yang terjadi? Asisten sutradara yang seharusnya mengantarnya sakit perut. Dan yang datang adalah artis pemula, pemeran figuran tidak terkenal. Tentu saja mengantar produser muda yang mabuk tidak akan disia-siakan olehnya. Mungkin menjadi selingkuhan produser akan dapat menjadikannya artis terkenal. Hingga bukannya diantar pulang, Dede malah diantar ke hotel.


Parahnya lagi, wanita itu dengan sengaja menghubungi istri Dede agar melihat perselingkuhan mereka. Hal absurb yang membuat menghela napas. Hanya karena tantangan saat minum dan ingin merasakan sensasi aneh, dirinya berselingkuh secara tidak sengaja. Khilaf yang pada akhirnya dimaafkan oleh istrinya.


Hal itulah yang membuat Imanuel tertawa hingga saat ini. Bisa-bisanya Dede berselingkuh. Pria yang hanya taunya bekerja saja, bisa berselingkuh?


"Minta maaf? Kamu kira mudah. Aku tidak mengakuinya sebagai istri saat pesta. Kamu tidak ingat?" Dede memijit pelipisnya sendiri. Penyesalan yang membuatnya ingin memasuki lorong waktu Doraemon untuk menampar dirinya sendiri.


Imanuel menghela napas berkali-kali, berusaha tidak tertawa mengingat dirinya ikut dalam menangkap perselingkuhan Dede dulu. Bahkan Imanuel masih ingat, kala pria yang mabuk dalam pengaruh obat turun dari tempat tidur dengan tubuh tidak tertutup sehelai benangpun. Meracau meninggalkan sang figuran, beralih berusaha memp*rkosa istrinya dalam penggrebekan. Mungkin efek minuman berakohol di campur dengan obat, asal bertemu wanita langsung libas saja.


Berkali-kali pemuda itu berusaha menetralkan tawanya."Selama ini kamu menjadi suami yang baik, tapi dengan cara yang berbeda. Bekerja syuting hingga larut, bahkan pergi ke luar kota tidak pulang. Banyak artis menggodamu tapi kamu hanya fokus pada pekerjaan. Mungkin karena itu istrimu memaafkan ketika kamu berselingkuh. Tapi setiap pulang dari luar kota kamu selalu meluangkan waktu untuk mereka. Kamu sebenarnya ayah yang baik."

__ADS_1


"Tapi karena ku, salah satu anakku tidak ada. A...aku bahkan dulu sempat tidak mengakui istriku. Aku---" Kata-kata Dede terpotong.


"Apa yang berubah jika kamu pulang? Apa kamu syuting di tempat yang jaraknya 2 kilometer dari rumahmu? Tidak kan? Film terakhir yang kamu buat syuting di tengah hutan lindung, gendre horor. Jika phonecellmu aktif pun kamu tetap akan terlambat. Tuhan mengambil putramu agar kamu menjadi pribadi yang lebih baik. Tidak menjadi orang sombong yang merasa akan baik-baik saja hanya dengan uang. Terkadang perhatian kecil juga diperlukan."


"Ta...tapi dia, aku---" Lagi-lagi kata-kata Dede terpotong.


"Kalian bukan ABG lagi yang baru menjalin hubungan. Sudah 7 tahun kalian menikah, mulai dari dia yang sering teriak-teriak menyukai idol muda, mencium posternya. Sampai borokan di pant*tmu kalian saling tau. Semua berakhir dalam waktu satu malam? Aku yakin setelah kamu mengumpulkan banyak uang kamu berencana membuat surat wasiat, kemudian bunuh diri." Tebakan tepat sasaran dari Imanuel, menatap penampilan sahabatnya yang biasanya ceria bagaikan matahari. Kini mendung dengan angin tornado bagaikan badai Katerina.


"Kamu tidak mengerti! Karenaku anakku---" Ucapan pemuda itu terhenti air matanya mengalir.


"Aku bilang jadikan ini sebagai pembelajaran. Ingat kata-katamu? Butterfly efect? Jika kamu bunuh diri, apa yang akan terjadi selanjutnya? Mungkin istrimu yang lugu akan menikah dengan pria muda tampan bagikan idol remaja. Tapi pada akhirnya berselingkuh dan kasar, seluruh warisan darimu dikuras. Anakmu yang masih hidup akhirnya terjerumus narkotika! Istrimu mati bunuh diri, karena tidak kuat disakiti!" Kata-kata pedas dari Imanuel.


Bag!


Big!


Bug!


"Dasar!" Dede mengalihkan pandangannya, pria itu menangis sesenggukan. Hidupnya terasa runtuh, tapi tetap saja dirinya masih mencintai mereka."Aku akan ke kampung lusa, tepat setelah rapat akhir tentang promosi."


"Karena kamu sudah mempunyai niat bunuh diri, korbankan hidupmu. Jika dia menolak, datanglah setiap hari, tulikan telingamu, bawa bunga dan coklat, mobil baru. Paksa dia dalam keadaan yang mau tidak mau harus rujuk denganmu. Jika bisa suap tetangganya, ketua RT sekalian," Imanuel gemas, benar-benar gemas. Tidak ingin keluarga itu hancur begitu saja.


Dede memang salah, lalu kenapa? Asalkan berjuang untuk minta maaf, berjuang dengan asas tidak tau malu. Prinsip yang benar-benar tidak masuk akal.


Dengan semangat bagaikan pasukan militer siap perang pemuda itu tersenyum dengan raut wajah berbeda."Kamu benar! Dia hanya kaum miskin, tidak akan bisa lolos dari kekuasaanku!"


"Itu baru semangat." Imanuel tersenyum tertawa-tawa sendiri. Memakan cemilan membayangkan hal memalukan yang dapat dilakukan sang produser film, apa mungkin seperti di film-film romantis? Menyewa helikopter mendebarkan bunga membuat poster besar? Atau membuat lampion raksasa bertuliskan kata maaf dan aku mencintaimu.

__ADS_1


"Aku akan mengumumkan perasaanku melalui acara TV. Mengatakan aku mencintainya agar didengar semua orang. Omong-omong, kamu punya helikopter tidak? Aku juga harus memesan lampion raksasa!" Imajinasi tingkat tinggi dari sang produser, akan membuat film romantis di dunia nyata.


"Sudah aku duga," gumam Imanuel tertawa terbahak-bahak. Pasalnya Dede tidak pernah memiliki pasangan sebelumnya, hanya tukang bersih-bersih apartemennya yang kemudian dinikahinya, dijadikan istri, hingga pada akhirnya mereka memiliki anak kembar.


*


Malam semakin menjelang, entah kemana Dede pergi, mungkin ingin mempercepat jadwal kerjanya. Imanuel kini duduk seorang diri di balkon apartemen.


Tidak dipungkiri papa sama sekali tidak merindukan mama. Hanya saja papa kefikiran mama sedang apa. Sudah makan atau belum? Apa mama mendapatkan bagian potongan ayam goreng?


Papa tidak cinta, tidak sayang mama. Hanya saja entah kenapa papa ingin memeluk mana sekali saja, merasakan dipapah oleh mama.


Apa mama merindukan papa? Pasti mama merindukan papa, iya kan?


Imanuel menampar dirinya sendiri. Tidak boleh tertarik pada janda gatal. Tapi entah kenapa bayangan itu tidak pernah sirna. Benar-benar aneh, apa karena terbiasa bersama?


Tangan kecil itu juga diingatannya. Atau mungkin dirinya terlalu ingin menikah dan memiliki anak? Entahlah.


Hingga siang kembali menyapa, dirinya memakai masker dan topi memasuki area pusat perbelanjaan. Entah kenapa perasaannya tidak enak dari pagi. Mungkin karena kasur yang terlalu empuk, atau karena ada curut yang akan dipanggil papa oleh putranya tercinta.


Hingga matanya menelisik menatap Fujiko yang tiba-tiba ada disana, menggunakan seragam kerja. Dengan cepat Imanuel menghampiri ingin menanyakan kabar Reina, takut mama bunuh diri karena terlalu merindukan papa.


"Fujiko kamu sedang apa? Omong-ngomong bagaimana keadaan Reina?" tanyanya to the points.


"Membeli jam tangan pasangan. Ini patungan dari teman-teman di pabrik. Hadiah kejutan, siang ini Reina di lamar. Rencananya sore ini kami akan datang bersama ke rumahnya." Ucap Fujiko.


Tangan Imanuel terkepal kuat, pemuda itu tertawa nyaring."Wanita br*ngsek! Janda gatal! Dasar! Ditinggal sehari saja tidak tahan digaruk pria lain!"

__ADS_1


Papa yang marah langsung mengumpat, pergi berlari dalam kepanikan. Apa papa mau menggaruk mama?


__ADS_2