Saldo Rekening Pacarku

Saldo Rekening Pacarku
Protektif


__ADS_3

Pintu yang terbuka menampakan tidak satu orangpun yang ada disana. Fujiko terdiam, terhanyut dalam fikirannya. Gadis yang berjalan menuju kamar mandi, menyiram tubuhnya dengan air.


Ingin menyegarkan diri? Tidak, wanita aneh yang bagaikan tidak ingin Raka mengetahui ada pria yang merangkulnya kala menari. Tidak ingin Raka mengetahui ada pria yang bahkan menciumnya.


Gaun masih lengkap digunakan olehnya. Katakan lah dirinya gila, tapi memang itulah kenyataannya. Dirinya mulai cemas membayangkan Raka pergi dari kehidupannya.


Wanita itu mulai duduk di lantai membiarkan pakaiannya yang basah. Entah kenapa air matanya mengalir, tidak biasanya Raka keluar tengah malam. Apa mungkin sahabatnya pergi? Itulah yang ada dalam fikirannya.


Hingga satu jam berlalu tubuhnya menggigil. Wanita yang masih menangis belum mengganti pakaiannya juga. Aroma tubuh pemuda itu ada di kamar ini, tapi kenapa tiba-tiba dia menghilang?


Ruangan yang gelap, hanya sinar dari lampu depan yang terlihat. Hingga ada bayangan di ambang pintu.


"Fujiko?" suara seseorang didengarnya. Gadis itu menonggakkan kepalanya.


"Raka!" ucap gadis itu berlari memeluk tubuh sang pemuda. Tidak peduli kaos partai yang dipakai sahabatnya ikut basah.


"Ke... kenapa menangis?" tanya Raka padanya.


"Kamu kemana saja!?" teriaknya semakin terisak.


"Menghadiri sebuah pesta," jawaban jujur dari Raka.


"Ada hajatan?" tanya Fujiko melerai pelukannya, menyeka air matanya sendiri."Kamu sudah bungkus makanan untuk dibawa pulang?"


Jiwa miskin yang benar-benar meronta-ronta. Jika ingin bersama Raka dirinya harus sama kikirnya kan? Mungkin jika menikah nanti harus menabung terlebih dahulu, agar kehidupan anak mereka nanti layak.


Raka mengenyitkan keningnya, menghela napas kasar, bahkan dirinya lupa untuk membungkus makanan dari tempat Fumiko. Senyuman terlihat di wajahnya, tertawa kecil cengengesan."Aku lupa..."


Plak!


Fujiko memukul bahu Raka, kemudian kembali memeluknya."Lain kali bungkus, bisa kita hangatkan untuk sarapan. Kita bisa sedikit menabung untuk menikah,"


Raka mengenyitkan keningnya, dirinya tidak salah dengar kan? Menabung untuk menikah? Kenapa bisa?


"Me... menabung untuk menikah? Maksudnya kamu dan aku? Kita..." Kata-kata Raka terpotong, Fujiko berjinjit mengecup bibirnya.


Sumpah demi apapun, si pelit tidak berkutik sama sekali, jantungnya berdegup cepat dalam rasa nyaman. Hingga pintu tiba-tiba ditutup tepatnya di kunci oleh gadis itu.


Pandangan mereka bertemu, terdiam terpaku beberapa saat."Boleh kamu menjadi pacarku?" tanya Fujiko.


"Hah?" Raka terdiam tidak mengerti, kenapa bisa? Mungkin itulah yang ada di otaknya.


"Apa kamu tidak mencintaiku?" tanya Fujiko, netra bening, wajah yang menyejukkan itu menonggakkan kepalanya menatap padanya menunggu jawaban.

__ADS_1


Tapi tidak ada satupun jawaban, sang pemuda sedikit menunduk, jemarinya menyentuh dagu Fujiko. Ludahnya sedikit bergerak, merangkak masuk ke dalam mulut sang gadis. Tubuh gadis ini benar-benar dingin, bibir yang digerakkan, menghangatkan rongga mulutnya.


Gerakan lidah yang berbalas, memejamkan matanya, bahkan terlihat bermain di luar mulut, jembatan liur sedikit terbentuk. Ciuman itu terlepas beberapa detik, hingga kembali menyatu.


Bibir yang bergerak perlahan, seluruh tubuhnya terasa luruh. Sang pemuda yang mendekapnya bagaikan menjaga keseimbangannya.


Deru napas yang memburu, bertubrukan memberikan rasa hangat.


"Aku mencintaimu," hanya itulah yang dikatakan Raka. Menatap mata sang gadis.


Fujiko berjinjit, meraih tengkuk Raka, kembali menikmati bibirnya.


Sratt!


Suara resleting gaun terdengar, hingga gaun biru itu teronggok di lantai. Ini perbuatan Raka, masih membuai Fujiko dengan ciumannya. Rasa kecewa dan takut kehilangan yang berpadu menjadi satu. Deru napas yang semakin memburu.


Kaos partai yang dikenakan Raka ditarik ke atas oleh sang gadis. Hingga pada akhirnya Raka melepaskannya sendiri melemparkan asal. Ciuman yang kembali dilakukannya, sepasang tubuh yang hampir bersentuhan sempurna.


Entah kenapa tidak ada perasaan malu atau canggung lagi. Dua orang yang terbiasa menghabiskan hari bersama.


Otot-otot dada dan perut pemuda itu disentuhnya. Sedangkan sang pemuda merangkul pinggangnya, lebih mendekatkan pelukan mereka lagi.


Aksesoris pertemanan? Siapa yang peduli, disaat logika mereka sudah tidak jalan. Serakah, ingin memiliki, takut kehilangan semua berkecamuk dalam hati.


Bug!


Tubuh Fujiko dijatuhkannya di atas tempat tidur sponge singgel. Dirinya menikmati pemandangan di bawahnya, gadis yang terdiam menatap wajahnya. Pelipis hingga pipi gadis itu dibelainya.


Fujiko gemetaran saat ini, dirinya dan tubuhnya merespon apa yang dilakukan Raka. Namun dirinya merasa takut, benar-benar takut. Memejamkan matanya, membiarkan Raka melakukan apapun, anggap saja dirinya gila. Tapi rasa takut kehilangan yang membuatnya seperti ini.


"Aku sudah siap!" ucapnya, tapi tidak ada yang terjadi, keningnya terasa diraba, tubuhnya diberi selimut.


"Siap apa!? Badanmu panas," Raka tersenyum simpul, mengambil hairdryer dari kamar Fujiko, kemudian mengeringkan rambut sang gadis.


Gadis yang duduk di tepi tempat tidur dengan pakaian dalam yang basah, hanya tertutup selimut tipis. Pemuda yang terlihat cekatan, mengambil pakaian dalam dan pakaian ganti baru untuk Fujiko.


"Pakai," ucapnya dengan pandangan mata beralih ke sudut ruangan. Tidak ingin mengintip gadis itu berganti pakaian.


"Sudah," ucap Fujiko tersenyum tipis, apa karena ini dirinya menyukai Raka? Pemuda yang tidak ingin mengambil keperawanannya, walaupun dirinya bisa.


Pemuda yang menghela napas kasar, mulai memasang soup. Tidak banyak bahan yang tersisa, hingga hanya soup sayuran yang dibuatnya.


Menyuapi gadis yang ada di tempat tidurnya perlahan. Wajahnya tersenyum, kala Fujiko memakannya dengan lahap.

__ADS_1


"Makanan di tempat kakakmu tidak enak?" tanya Raka.


"Tidak tau, karena gaunnya ketat aku tidak diijinkan makan," curahan hatinya yang makan tanpa menjaga etika.


Raka menipiskan bibir tersenyum simpul. Mungkin demam yang disebabkan menempuh perjalanan jauh hanya menggunakan motor, ditambah membasahi dirinya sendiri, dan kondisi perut yang kosong.


Segera setelah gadis ini makan, Raka kembali berlari ke kamar Fujiko, mengambil Paracetamol dan antibiotik. Meminumkan pada wanita yang telah resmi menjadi kekasihnya. Entah mimpi apa dirinya semalam, setelah berciuman, ditampar, kemudian dicium lagi.


Obat diminum oleh sang gadis, dirinya tersenyum malu-malu kali ini mengingat pernyataan cintanya yang berani.


"Raka,"


"Fujiko,"


Panggil mereka bersamaan. Hingga pada akhirnya tertawa kecil. Awalnya bingung apa yang dilakukan sepasang kekasih. Namun, kini mereka mengerti tembok persahabatan sudah runtuh dari awal.


"Kita pacaran?" tanya Raka malu-malu.


Fujiko mengangguk, tersenyum mengalihkan pandangannya dengan wajah memerah.


Suara laci terbuka terdengar, Raka mengeluarkan sebuah kartu ATM. Wajahnya tersenyum."Ini untukmu, setiap bulan akan ada uang yang masuk. Jadi, gunakan---"


Kata-kata Raka terpotong, kartu ATM yang diberikan pemuda itu didorongnya."Lebih baik, kita menabung untuk menikah, biaya hamil dan persalinan nanti. Omong-ngomong sebaiknya kamu mulai mencari pekerjaan lainnya. Dwi, tunangan kakakku mempunyai perusahaan sendiri. Aku akan minta tolong padanya untuk memasukanmu menjadi office boy, sesuai pendidikanmu,"


Fujiko tersenyum, senyuman yang benar-benar tulus. Kartu ATM yang mungkin isinya seluruh tabungan Raka. Pemuda ini benar-benar berubah untuknya?


"Kartu ini tidak terlalu banyak isinya. Tabunganku tidak semuanya disini. Jadi kamu dapat menggunakannya untuk membeli toko pakaian---" Kata-kata Raka kembali disela.


"Aku masih punya gaji, kita makan apapun yang ada bersama. Kita harus lebih berhemat, mulai besok aku akan berhenti membeli pakaian baru. Tolong carikan aku kaos partai, supaya kita punya kaos pasangan." Ucapnya antusias.


"Tapi kamu bisa beli di butik ib---" Kata-kata Raka kembali terhenti, gadis itu mencium bibir pemuda yang mengenakan celana pendek tanpa atasan itu. Pergerakannya dikunci, sepasang lidah yang kembali bermain.


Hingga pada akhirnya Fujiko memeluk Raka yang berbaring di sampingnya, penuh senyuman.


"Kamu tadi mau melakukannya kan? Kenapa tidak jadi?" tanya Fujiko penasaran.


"Alasan pertama, kamu takut. Alasan kedua, aku ingin menggarap lahan saat malam pertama saja. Alasan ketiga, tanda ini sudah cukup membuktikan, kamu adalah milikku, lahan yang sudah ada tanda patoknya." Jawaban dari Raka, memeluk erat kekasihnya.


"Jadi?" Fujiko mengenyitkan keningnya.


"Selama kita belum menikah, aku tidak akan melakukannya. Tapi membuat tanda seperti ini setiap hari," ucap Raka kembali menghisap tipis leher sang gadis.


"Maaf... sudah membuatmu seperti wanita murahan. Tapi aku hanya tidak ingin ada pria yang mendekatimu," bisik Raka.

__ADS_1


Fujiko membuat tanda yang sama di leher Raka."Jangan dekat-dekat wanita lain!" tegasnya protektif.


__ADS_2