Saldo Rekening Pacarku

Saldo Rekening Pacarku
Real


__ADS_3

Sejatinya saat itu Raka tengah berbincang dengan pemilik kost-kostan. Tetap membayar sewa perbulan, hanya saja bayaran yang sedikit dikurangi mengingat untuk sementara waktu Dirinya dan Fujiko tinggal di kediaman utama.


Saat itulah nomor tidak dikenal menghubunginya. Pemuda itu menghela napas kasar kemudian mengangkatnya.


"Halo, ini siapa?" tanya Raka pada orang yang berada di seberang sana.


Suara deru motor matic dan tangisan terdengar."Raka! Ada yang memukuliku! Dia sadis! Benar-benar kejam! Aku berdarah! Berdarah!" ucapnya lirih.


Suara yang dikenali sang kakak sepupu."Kamu dimana sekarang!?"


"Di kebun pisang dekat area pabrik, katanya disini angker, bekas makam masal ada Wewegombelnya!" Kata-kata dari Imanuel, tidak tahu nama tempat, hanya tempat dan ciri dari desas desus warga sekitar.


"Kamu tunggu di sana! Lima menit lagi aku sampai!" Raka segera keluar meraih kunci mobilnya.


"Pak maaf saya duluan, sepupunya saya ada masalah!" teriak Raka sudah berada di dalam mobilnya.


"Iya! Ingat potongan pembayarannya 75.000!" teriak pemilik kost-kostan.


"100.000!" Raka ikut-ikutan teriak dari dalam mobilnya, meminta potongan pembayaran lebih tinggi.


*


Kakak beradik? Seperti itulah sejatinya hubungan mereka. Sama-sama anak tunggal yang dibesarkan dalam satu rumah. Ibu mereka yang bersaing? Tidak masalah, yang penting kedua anak itu benar-benar akur.


Pernah ada saatnya Imanuel diejek cengeng ketika taman kanak-kanak. Hasilnya? Raka membuat mereka berlutut meminta maaf di kaki adik sepupunya. Selalu bersembunyi di bawah ketiak saudara sepupunya, itulah yang dilakukannya selama ini. Bahkan hingga SMU pun masih sama walaupun mereka beda sekolah.


Tauran antar sekolah, pernah terjadi kala Raka membawa teman-temannya menyerbu SMU bertaraf internasional tempat Imanuel bersekolah. Alasannya simpel, adik sepupunya tersayang, menjadi korban bullying.


Mungkin hanya ketika kuliah mereka benar-benar berpisah. Imanuel kuliah di luar negeri. Sedangkan Raka memutuskan untuk tidak kuliah, memulai usaha dari usia 18 tahun, dengan modal dari kakeknya.


Tidak pernah terluka sampai seperti ini. Membuat Imanuel merasa bagaikan sudut bibirnya yang berdarah seperti patah tulang saja. Atau mungkin tertikam pisau.


Menunggu beberapa saat hingga pada akhirnya mobil itu terlihat juga. Seorang pria berpakaian rapi turun.


"Raka! Lihat! Ada yang memukulku! Ini sakit! Sakit! Ada darahnya!" Ucap Imanuel, memperlihatkan sudut bibirnya yang mengeluarkan sedikit darah.


"Sampai seperti ini? Mana orangnya? Apa ada bagian lain yang terluka? Sebaiknya kita ke rumah sakit," Ucap Raka cemas, memeriksa dengan seksama adik sepupunya yang sedikit bertambah kurus.


Imanuel menggeleng."Orangnya di sana! Dia benar-benar menghajar ku habis-habisan!" menunjuk jalan menuju rumah Reina.


"Berani melukaimu? Dia sudah bosan hidup!" Ucap Raka kesal, berjalan menuju mobil miliknya."Tunjukkan jalannya!"


Imanuel mengangguk menghapus air matanya. Motor matic milik Reina kembali dikendarainya, menuju tempat tinggal Reina. Tidak butuh waktu lama, hanya beberapa menit perjalanan, rumah itu terlihat.


Imanuel masih menangis dengan Raka yang menenangkannya. Hingga dirinya menghapus air mata walaupun benar-benar dipukul sampai berdarah, tidak boleh menangis di hadapan anak istri.

__ADS_1


Warga yang menatap kedatangan Imanuel dan Raka memberi jalan. Itulah awal dari segalanya.


*


Saat ini...


"Kamu berani menghajar sepupuku sampai seperti itu?" Raka memaksanya berdiri, tubuh besar dengan tato, tapi bagaikan tidak memiliki nyali di depannya."Kamu pernah membunuh orang?"


"Pertama kali aku membunuh di usiaku yang masih 8 tahun. Saat itu aku membunuh orang dewasa yang badannya sebesar badanmu..." Raka tersenyum, menepuk-nepuk pipi Dadang.


Pria yang kini berjalan kembali melihat keadaan adik sepupunya.


Dadang yang masih emosi tidak terima, segera bangkit meraih goloknya.


Brak!


Satu tendangan melayang di pipinya, hingga salah satu giginya tanggal.


Kriak!


Suara teriakan Dadang terdengar kala pria itu mematahkan jari-jari tangan kanannya.


"Apa lagi yang dia lakukan?" tanya Raka tersenyum mengacak-acak rambut Imanuel.


"Dia ingin merebut pacarku," jawaban dari Imanuel.


"Bohong! Pak Lurah saksinya! Dia memukuliku karena tidak setuju! Raka lihat! Aku berdarah! Berdarah!" Imanuel masih memegangi sudut bibirnya.


Ingin rasanya Reina menepuk jidatnya sendiri melihat kelakuan pacarnya. Yang terluka kecil tapi takut bukan main. Sedangkan Lukman, pak Lurah dan Lastri hanya mengenyitkan keningnya tidak dapat berkata-kata.


"Kita ke rumah sakit setelah ini. Langsung ke UGD," Ucap Raka menenangkan Imanuel.


Pria itu mengangguk menyetujui."Tapi pacarku akan menikah dengan---"


"Biar aku yang atasi," Raka tersenyum lembut.


"Semua yang berkepentingan duduk!" titah Raka, dengan aura dingin menyengat. Pada akhirnya semua kembali duduk ke tempat masing-masing.


"Ceritakan!" perintahnya, menatap ke arah Reina. Ini bagikan rapat yang menentukan pemecatan pegawai-pegawai bermasalah.


"Imanuel sudah beberapa bulan mengontrak kamar di tempatku, dengan bayaran 100 dolar per bulan. Ka...kami mulai menjalin hubungan beberapa hari yang lalu. Lalu itu adik ipar dari almarhum suami ku. Aku---" Kata-kata Reina disela.


"Aku hanya ingin minta bagian warisanku dari kakakku, berupa setengah dari rumah ini. Kalau dia menolak membagi warisan tinggal menikah denganku. Apa itu salah!?" bentak Dadang tidak terima.


"Ini warisan orang tuaku. Bukan Rian yang membelinya!" Ucap Reina tidak terima.

__ADS_1


"Tapi harta suami adalah harta istri! Harta istri adalah harta suami. Jadi ini milik kakakku!" Dadang yang sudah terluka parah masih juga berani teriak-teriak.


"Kalau teorinya begitu, aku juga berhak atas tanah dan rumah suamiku yang kamu kelola dan tempati! Nilainya lebih dari 6 miliar kan? Aku tidak serakah, aku cuma minta dua miliar." Kata-kata dari mulut Reina.


"Aku bilang sudah habis! Makanya aku ingin warisan dari kakakku!" jawab Dadang.


"Kalau begitu teori itu tidak bisa digunakan---" Kata-kata Reina terhenti.


Brak!


"Diam! Ini diskusinya atau pasar! Kamu juga! Dari baju batik yang kamu kenakan kamu lurah disini kan? Bukannya membuat solusi malah diam saja! Sebenarnya kamu becus atau tidak jadi lurah!?" bentak Raka merembet kemana-mana. Beginilah jika bos besar sedang bekerja dan murka pada para managernya.


Semua orang mendadak terdiam, sedangkan Raka menenangkan dirinya menyandar di sofa."Imanuel!"


"Aku akan menghubungi pihak kepolisian dan juga menyewa pengacara. Ini sudah pelanggaran hukum pidana, termasuk perampokan, pengancaman dengan senjata." Ucap Imanuel, kali ini terlihat lebih pintar, sombong sedikit juga tidak apa-apa.


"Lakukan!" perintah Raka, menyerahkan phonecellnya. Dengan cepat Imanuel meraihnya Mengirim pesan, pada berapa orang kepercayaan sepupunya.


"Apa kamu bilang!? Berani-beraninya kamu---" Kata-kata Dadang disela.


"Jika aku berani kenapa?" tanya Raka. Dengan cepat Dadang yang ketakutan segera duduk.


"Dia juga ingin merebut pacarku," Imanuel menunjuk-nunjuk ke arah Lukman.


"A...aku tidak ikut-ikutan. Ayo kita pulang!" Lukman segera menarik tangan ayahnya.


"Karena masalah disini sudah selesai. Saya pamit pulang dulu," Tidak lupa pak Lurah mengucapkan kalimat penutupnya. Segera melarikan diri dengan cepat. Diikuti putranya.


"Kalian berlaku tidak adil, aku sumpahi kalian---" Kalimat Wiwit dipotong.


"Aku yang seharusnya menyumpahi mu! Dasar anak dan menantu rakus! Durhaka! Cucuku Fadil sampai sekurus ini karena kalian!" Lastri memaki-maki dua orang di hadapannya.


"Nenek!" Fadil hanya dapat berlari dan memeluk Lastri. Tangan keriput yang membesarkannya dulu, ketika sang nenek masih tinggal dengan Dadang.


Raka mengenyitkan keningnya, menatap ke arah Imanuel."Kenapa kamu bisa terlibat drama keluarga. Apa gadis perawan di dunia ini sudah punah?"


"Janda lebih berpengalaman," jawabnya.


"Bukan karena kamu ingin punya pacar agar bisa bermanja-manja?" Raka mengenyitkan keningnya, menatap sepupunya yang sejatinya pintar.


Sedangkan Imanuel hanya tersenyum-senyum sendiri. Tidak peduli kata-kata yang diucapkan Raka. Melupakan sudut bibirnya yang berdarah.


"Apa sakit? Itu berdarah," Ucap Raka.


Imanuel membulatkan matanya."Raka, sakit! Sakit! Aku ingin langsung ke UGD!"

__ADS_1


Rasa sakit yang beberapa menit sempat dilupakan olehnya. Inilah adik sepupu Raka yang sebenarnya.


__ADS_2