
Tita melangkah mendekati pintu di hadapannya. Fikirannya saat ini campur aduk, menelan ludahnya sendiri, hingga ruangan itu terlihat.
Sang kepala pabrik berada di sana, mengalihkan pandangannya dari berkas pabrik. Menatap ke arah wanita di hadapannya.
Perlahan wanita lulusan S1 bidang desain itu memberanikan diri menatap ke arah atasannya.
"Kamu masih dalam masa training. Coba jaga sikapmu, belajarlah lebih beretika, jangan mencampurkan urusan pribadi dengan pekerjaan." Kata-kata pelan dari sang kepala pabrik membuat Tita tertunduk.
"Ini baru tiga minggu, nilai kuliahmu memang bagus. Tapi tiga minggu belum ada yang sempat kamu lakukan. Potensimu belum terlihat, malah yang terlihat adalah perilaku tidak beretika. Jika saja kemu bekerja dengan baik, mungkin dapat menjadi staf kemudian dipindahkan ke kantor pusat. Maaf, sesuai perjanjian, kamu hanya mendapatkan gaji bulan ini. Tidak ada surat peringatan atau uang pesangon, karena kamu bukan staf hanya training. Andai saja kamu bersabar tidak membuat ulah selama tiga bulan mungkin akan menjadi staf." Ucap kepala pabrik memberikan amplop yang mungkin isinya uang.
Tita menghela napas kasar, mengepalkan tangannya. Memang seharusnya dirinya berhenti sebelum menjadi pegawai kontrak, mengingat aturan baru serta hubungannya dengan Nolan."Saya tidak butuh pekerjaan dari tempat ini! Tempat dimana wanita penghibur dibela! Permisi!" Kata-kata tegas darinya melangkah pergi bahkan membanting pintu.
"Orang gila," Sang kepala pabrik menggeleng-gelengkan kepalanya heran. Mengetahui betapa sulitnya mencari pekerjaan.
*
Wanita berusia 23 tahun itu melangkah dengan penuh ego. Dirinya tidak bisa kembali ke desa akan memalukan jika ayahnya tau dirinya dipecat. Mungkin yang dapat meredakan amarah ayahnya hanya membawa Nolan sebagai calon menantunya.
"Nolan, aku ingin bicara," ucapnya menarik kekasihnya.
"Aku sedang bekerja, jika aku dipecat bagaimana." Ucap pemuda itu ketus.
Wanita yang pada akhirnya tertunduk, mungkin Nolan terlalu lelah hingga akhirnya dirinya menunggu di depan area pabrik.
Hujan gerimis mulai turun. Karyawan pabrik telah pulang satu persatu. Hingga tepat pukul 5 seorang pemuda ada di sana membawa jas hujan, dengan sepeda tuanya, meletakkannya dalam jok motor Fujiko yang tidak terkunci.
Sedangkan pemuda itu kembali menerobos hujan tanpa memakai jas hujan. Wajah yang sepintas ditatapnya, dia adalah pacar Fujiko.
__ADS_1
Tidak ada mobil atau apapun. Mengapa Fujiko selalu dengannya? Satu jam kemudian tepat pukul 6. Pemandangan memuakan di lihat oleh Tita. Nolan menarik tangan Fujiko agar bersedia masuk ke mobilnya dengan alasan situasi yang tengah hujan.
Tita melangkah dengan cepat, mengira Fujiko menggoda kekasihnya."Dasar wanita murahan! Mau menggoda pacarku!" bentaknya, hendak menampar.
Tapi kali ini dengan sigap Fujiko mendorongnya."Anak bau kencur! Jadi Nolan pacarmu?" tanyanya dijawab dengan anggukan oleh Tita.
"Dia bukan pacarku. Dia hanya menggodaku. Fujiko kamu percaya kan padaku?" Nolan mencoba memegang jemari tangannya. Namun dihempaskan oleh gadis keturunan Indo-Jepang itu.
"Dengar aku tidak pernah menginginkan lahan milik orang lain, itu aturan utama. Aturan kedua, aku hanya akan menjalin hubungan dengan orang yang menguntungkan bagiku, sedangkan kamu? Jika menjalin hubungan denganmu maka aku akan dipecat. Satu lagi, aku tidak menyukai pengkhianat..." Senyuman menghina terlihat di wajahnya.
Wanita yang segera membuka jok motornya menemukan jas hujan milik si pelit. Terbukti dengan beberapa bekas tambalan plastik. Wajahnya tersenyum, terlihat bahagia melajukan motornya pergi.
Sedangkan Tita terdiam, wanita itu tersenyum? Mengapa? Apa dia tidak tertarik lagi pada Nolan? Mengapa?
Hingga pada akhirnya Nolan membantunya bangkit, pemuda yang menampakkan senyuman manisnya."Maaf aku berbohong di depannya. Karena aku berharap kamu kembali bekerja. Kamu tau kan sesama staf tidak boleh menjalin hubungan. Tapi entah kenapa aku tetap mencintaimu," dustanya memeluk tubuh Tita. Wanita yang diam terpaku merasakan betapa indahnya cinta. Memeluk tubuh kekasihnya.
*
Berbagai makanan ayam panggang, spaghetti, terkadang bahkan chicken steak dibelikan Nolan yang terlihat royal padanya. Dirinya mulai merasa nyaman dengan pemuda ini. Membersihkan tubuhnya, kemudian memasuki kamar. Pemuda yang mulai mencium bibirnya, menjatuhkannya di tempat tidur, dalam hujan yang semakin lebat. Berkali-kali mengatakan mencintainya, akan menikah dengannya.
Seperti biasa tempat tidur yang berantakan, sisa pengaman yang tergeletak dirinya yang membersihkan. Pakaian Nolan bertumpuk muncul ide untuk mencucinya menyenangkan kekasihnya. Inilah hari pertama tinggal dengan Nolan.
Seminggu? Sebulan?
Semua perilaku mulai berubah, wajah yang biasanya tersenyum itu pulang malam. Terkadang juga tidak pulang, Tita sempat menginginkan Nolan menikahinya. Dan apa jawabannya?
"Maaf, aku harus mempertimbangkan banyak hal," Kata-kata yang benar-benar aneh mulai berbanding terbalik. Kini tidak ada makanan enak lagi. Hanya beras dan satu krat telur yang digorengnya satu persatu.
__ADS_1
Terkadang dirinya tidak mengerti apa yang salah. Jujur pada ayahnya di kampung juga terlalu malu rasanya.
Hingga ada kalanya dirinya menatap Nolan yang berkirim pesan dengan entah itu siapa. Sesekali tersenyum-senyum sendiri.
Hingga malam menjelang, pemuda itu tiba-tiba berbaik hati membawa Tita makan malam di luar. Menghela napas kasar mengatakan sesuatu."Maaf, aku rasa kita tidak ada kecocokan. Lebih baik kita sudahi saja,"
"Tapi kamu berjanji menikahiku," Tita tidak terima.
"Bukan begitu, tapi orang tuaku menjodohkanku. Aku tidak mencintainya, mereka yang memaksa, mengatakan aku bukan anak mereka lagi jika tidak bersedia. Aku mencintaimu. Tapi, maaf, ini hadiah terakhir dariku agar kamu selalu mengingatku." Ucapnya memberikan kalung silver seharga ratusan ribu rupiah.
Tangan Tita gemetar menerimanya. Hingga merelakan segalanya."Aku juga mencintaimu," ucapnya dalam tangisan.
*
Dalam derai hujan yang turun, pada akhirnya setelah dua bulan tinggal bersama kekasihnya. Dirinya menghubungi ayahnya di kampung, tidak menceritakan semuanya, hanya mengatakan dirinya di pecat.
Namun, mungkin anggapannya yang salah, ayahnya hanya tersenyum, tidak marah sama sekali. Kembali mengirimkan uang padanya.
Dirinya hanya dapat menangis kala itu, sang ayah yang tidak tau betapa rusaknya anaknya. Hingga berusaha menapaki jalannya sendiri kali ini memakai sisa gajinya yang sedikit bekerja di sebuah tempat penjualan phonecell. Uang pemberian ayahnya belum disentuh olehnya. Masih berharap takdir mempertemukannya dan Nolan nanti, setelah mendapatkan restu dari orang tua Nolan.
Namun, hanya tinggal harapan. Kala lulusan S1 di bidang desain itu melihat dengan mata kepalanya sendiri. Mantan kekasihnya bersama wanita lain. Semua hanya kebohongan dari awal dirinya baru menyadari segalanya.
Jemari tangannya menadah ke air hujan yang turun dengan deras. Sepasang kekasih yang memasuki hotel dekat konter tempatnya bekerja.
Saat itulah dirinya menyadari yang dikatakan Fujiko kebenaran. Tidak ada yang bisa diharapkan dari Nolan.
Merasa benar-benar rendah seperti wanita penghibur yang dibayar dengan makanan dan tempat tinggal. Wajahnya berusaha tersenyum, walaupun air matanya masih mengalir. Adakah pria yang tulus di dunia ini?
__ADS_1
Seperti Raka yang mencintai Fujiko? Apa dia akan menemukannya?