Saldo Rekening Pacarku

Saldo Rekening Pacarku
Dingin


__ADS_3

Perlahan dirinya membuka mata, menghela napas berkali-kali. Tirai tipis menunjukkan sedikit wajah rupawannya. Tempat tidur yang ada di luar ruangan tepatnya di gazebo. Jubah mandi ada di sampingnya. Seperti biasa malam ini suaminya memang tidak absen.


Fujiko segera menggunakan jubah mandi yang ada di sebelah tempat tidurnya, melihat keadaan sekitar. Tidak ada satupun pelayan disini, termasuk keberadaan Raka yang menghilang entah kemana. Kelopak mawar yang mengapung di atas kolam telah menghilang, begitu juga dengan lilin yang mengitari area tersebut.


Perlahan dirinya mencari keberadaan kamar mandi. Seluruh tubuhnya terasa lengket setelah melayani si kikir yang begitu serakah bagaikan ingin menelannya bulat-bulat.


Hingga Fujiko menemukan kamar mandi. Wanita yang membersihkan dirinya di bawah derasnya shower. Berjalan menelusuri lorong, hingga sosok suaminya terlihat, tengah menata meja. Terlihat seperti chef profesional, menghidangkan berbagai makanan.


"Raka, ini---" Kata-kata Fujiko disela.


"Kita berlibur untuk honeymoon. Sesekali mencoba menu lain, tidak apa-apa kan?" Kata-kata dari mulut suaminya.


Kali ini bukan sup sayur dari sayuran setengah harga yang layu lengkap dengan irisan tahu. Tapi lobster berukuran besar, kepiting, kerang, lengkap salad, tidak lupa olahan kentang sebagai karbohidratmya.


Fujiko mengenyitkan keningnya, mulai duduk terlihat murung. Begitu juga dengan Raka terlihat canggung berusaha tersenyum, meraih pisau dan garpu. Kedua orang yang menghela napas kasar, jiwa miskin yang meronta-ronta.


"Aku tidak kenyang jika tidak makan nasi. Terlalu banyak lauk malah membuat mual." Ucap Fujiko sungkan.


"Sama," Raka menghela napas kasar, kemudian keduanya tertawa bersamaan.


Apa yang mereka lakukan selanjutnya? Beberapa puluh menit berselang. Lobster itu telah dipotong, sisanya dimasukkan ke dalam lemari es, begitu juga lauk lainnya, ditambah dengan salad yang mereka makan sekedarnya. Duduk berdua di lantai meninggalkan meja makan, tertawa bersama mengobrol sambil makan menggunakan tangan, nasi hangat ada di piring mereka.


Kebahagiaan itu sederhana bukan? Tergantung bagaimana cara kita menilainya.


Kentang yang telah digoreng, menjadi cemilan sepasang suami istri menonton televisi. Sesekali saling mengecup."Masih bersih?" tanya Raka.


"Masih," jawaban dari Fujiko mengenyitkan keningnya.


"Aku ingin lagi," ucapnya, hendak mencium istrinya. Namun Fujiko berlari dengan cepat. Dua orang yang bagaikan anak kecil, berlarian kesana-kemari meninggalkan televisi yang masih menyala.


*


Seorang pria yang tengah membawa seekor anj*ng kini berada di tengah hutan. Tujuannya mencari monyet peliharaannya yang lepas. Dedaunan diinjak nya, membawa pisau parang besar untuk menebas semak-semak membuka jalan.

__ADS_1


Orang yang cukup mapan disana, memiliki ijin untuk memelihara satwa. Monyet yang sejatinya telah dijinakkan, namun entah kenapa tiba-tiba terlepas ke dalam hutan.


Prok!


Prok!


Prok!


"Ki! Mongki! Mongki!" teriaknya memanggil nama sang monyet, sambil bertepuk tangan.


Dengan anj*ng ras Siberian Husky membimbingnya mencari bau sang monyet. Hingga monyet kecil itu melompat kembali ke pemiliknya yang membawa kacang.


"Dasar monyet nakal! Ayo pulang!" celetuknya, melangkah pergi.


Tapi tidak dengan anj*ng peliharaannya. Anj*ng itu berlari beberapa meter, hingga tiba-tiba menggali tanah bekas galian. Hewan yang memang pernah dilatihnya dengan pelatih khusus untuk menyelamatkan nyawa pemiliknya. Pria ini memang tinggal di villa pribadi, bukan penduduk sekitar.


"Mencari apa!?" tanya sang pemilik heran, mencoba menarik anj*ng peliharaannya agar segera meninggalkan hutan.


Tapi tidak anj*ng itu bersikeras menggali. Hingga tangan manusia terlihat, tangan berlumuran darah dengan sedikit bekas sayatan.


Menghubungi pihak kepolisian, atas mayat yang baru ditemukan. Mayat yang lebih tepatnya hampir membusuk, mungkin sudah terkubur 2 sampai 3 hari.


Cahaya saat itu tengah ditugaskan mencari jejak Patra. Merasa gagal, tinggal dua minggu batas waktu mereka untuk mendapatkan bonus besar. Hingga dirinya yang memang sempat meminta pihak kepolisian untuk menghubunginya jikalau ada mayat tidak dikenal ditemukan, pada akhirnya mendapat panggilan.


Dengan segera dirinya menghubungi ketiga rekannya yang menyebar untuk datang ke tempat penemuan mayat. Bergerak cepat demi uang adalah prinsip mereka. Walaupun tidak seperti detektif swasta yang lebih leluasa bergerak mereka memiliki satu kelebihan, yaitu tidak dicurigai untuk bergerak.


Jika Raka menggunakan detektif swasta, dengan cepat Nadila akan mengetahui apa saja yang dicurigai Raka.


Tiga motor akhirnya terparkir, tiga sahabat yang menelan ludah mereka, melihat mayat yang hampir membusuk.


"Apa ini kenalan kalian?" tanya petugas kepolisian.


Dengan menahan rasa jijik Ragil membuka kantong jenazah.

__ADS_1


"Ueeekk!" Ragil berlari memuntahkan isi perutnya.


Sedangkan Cahaya berjalan lebih dekat, mengamati dan seksama. Bahkan memeriksa tahi lalat di bagian pundaknya.


"Pak, wajah jenazahnya bisa diedit tidak? Di filter begitu seperti video tik tok." Tanya Evi sedikit mundur melihat wajah jenazah.


"Pak, bisa minta tolong, balik tubuhnya, lalu buka sedikit celananya?" tanya Cahaya, menatap dengan seksama, kemudian menghela napas lega.


"Bukan Patra," gumamnya, mengingat pesan dari Raka. Ibunya berkata ayahnya punya kebiasaan menggaruk ****** ketika hendak tidur, karena alerginya pada tepung terigu sering muncul, ada beberapa luka gores yang kering terkadang di sana. Serta tahi lalat yang tidak ada sama sekali di bagian bahu. Walaupun wajah jenazah sudah tidak karuan. Sudah dipastikan ini bukan Patra.


"Terimakasih pak, ini bukan kerabat kami yang menghilang." Ucap Cahaya, bersamaan dengan petugas kepolisian yang menutup kantong jenazah.


Namun satu hal yang menarik perhatian Cahaya, kalung emas dengan desain unik, berbentuk laba-laba berada di leher jenazah kala resleting kantong jenazah di tutup.


"Cahaya, aku lemas setelah muntah. Beri aku nutrisi! Cium aku..." Ucap Ragil bergelayut pada Cahaya.


"Sekarang waktunya serius. Jika mendapatkan imbalan dari Raka, aku janji kita akan pacaran." Tegasnya.


Ragil langsung melepaskan tangannya yang bergelayut manja."Yang membunuh orang tadi lebih dari satu. Dari bobot tubuhnya yang ringan ketika diangkat dan luka di kepala serta pergelangan tangannya, kemungkinan besar mati karena kehabisan darah. Tapi untuk lebih jelasnya perlu dilakukan otopsi. Sedangkan kita tidak memiliki akses."


"Jadi?" Cahaya mengenyitkan keningnya.


"Sebenarnya aku juga ragu, tapi kalung yang dipakainya sama dengan milik bibi Adinda." Lanjutnya.


"Benar! Bibi Adinda! Aku sampai lupa dimana aku pernah melihat kalung laba-laba! Terimakasih!" Ucapnya, mencium pipi Ragil kemudian berlalu pergi.


"Dia mencium ku!? Dia mencium ku?" gumam Ragil tersenyum-senyum sendiri.


"Kapan aku punya pacar!?" Evi menghela napas kasar menatap Cahaya yang mulai berubah semenjak mereka menyelidiki kasus ini. Mengapa? Tipe Cahaya sejatinya pria pintar. Hanya cukup pintar, karena pria pintar selalu terlihat tampan di matanya.


Masalah Ragil? Siapa yang sangka pria selengekan, pemalas itu ternyata ber-IQ tinggi. Tinggal diolah dan diberi semangat untuk berjuang maka akan menjadi pejuang cinta sejati. Karier yang mungkin suatu hari nanti akan diatur oleh istrinya.


"Sayang!" teriak Ragil, dengan sifat cool yang menghilang, kembali membuntuti Cahaya.

__ADS_1


"Truk saja gandengan," gumam Evi yang sampai saat ini masih kedinginan menikmati pop mie.


__ADS_2