
"Jadi bagaimana kamu menerima lamaranku? Mumpung ibuku ada disini?" tanya Dadang pada wanita di hadapannya.
Reina menghela napas kasar seperti biasanya Egie akan menjadi alasannya."Egie tidak mudah akrab dengan orang lain."
"Tapi aku pamannya." Ucap Dadang, tidak mau kalah.
"Buktikan! Egie mau dengan orang itu?" tanya Reina lembut, namun sedikit berbisik pada putranya."Dia ingin menggantikan papa, Egie lihat sendiri kan papa dipukul?"
Anak itu mengangguk, berjalan mendekati Dadang."Paman jahat! Jelek seperti monster b*bi!" ucapnya menangis kemudian berlari kembali ke arah ibunya. Seorang anak yang membela ayahnya, wajar saja bukan?
"Dasar anak kurang ajar! Pasti turunan dari Rian! Sudah aku duga tanpa didikan akan seperti ini!" Bentak Dadang menarik tangan Egie.
Plak!
"Jangan kasar! Aku saja sebagai ibunya tidak pernah memaksanya!" Reina memukul tangan Dadang, tidak ingin lengan anaknya dicengkeram kuat.
"Itu karena dia tidak dididik! Lihat anakku Fadil! Dia sopan dan penurut! Karena itu saat kita menikah nanti, aku akan mendidik Egie juga dengan baik!" Kata-kata dari mulut Dadang menyombongkan putranya.
Reina sedikit melirik ke arah seorang anak yang mungkin berusia 6 tahun. Lebih tua dari usia putranya, tubuhnya kurus, tinggi tidak terawat, beberapa luka terlihat di tubuhnya. Sedangkan baju putih yang digunakannya terlihat sudah menguning. Iba? Tentu saja, keadaan Fadil berbanding terbalik dengan Egie. Walaupun dibesarkan oleh orang tua tunggal, namun Egie selalu mendapatkan yang terbaik.
Mulai dari makanan, mainan, dan pakaian. Menerima banyak kasih sayang, walaupun dirinya berperan ganda, sebagai seorang ibu sekaligus seorang ayah.
"Fadil, aku bibi Reina. Fadil sudah makan?" tanya Reina. Anak itu menggeleng, terakhir kali dirinya memang makan sekitar 8 jam lalu. Itupun hanya sekedarnya.
"Egie, ajak kak Fadil ke dapur. Egie ambilkan ayam goreng dan sup sayur ya?" perintah Reina.
"Yang itu?" tanya Egie menunjuk ke arah Fadil, anak yang memang tidak mengenal sepupunya sama sekali. Reina mengangguk, mengiyakan.
Egie kecil berlari, menarik tangan Fadil. Tapi yang bangkit malah Wiwit."Aku juga lapar!" ucapnya.
"Masih ada satu porsi saja," Reina berusaha tetap tersenyum.
"Kamu masih kecil! Makannya sedikit! Biar ibu yang makan!" Kata-kata dari Wiwit, membentak putranya, membuat Fadil kembali duduk tertunduk di kursi.
"Egie kemari! Jangan antar bibi itu ke dapur! Kamu kembali ke kamar saja, istirahat dan langsung tidur." Reina tersenyum mengecup pucuk kepala putranya.
__ADS_1
"Aku mau makan!" sungut Wiwit tidak terima.
"Aku tidak mau kasih kamu makan," kata-kata pedas dari Reina.
"Sudah! Kami kemari untuk pembicaraan intinya saja! Kamu tinggal pilih, jual rumah ini kemudian hasilnya bagi dua. Atau menikah menjadi istri keduaku. Tapi jika kamu tidak mau menikah denganku, otomatis ibu juga harus ikut aku!" tegas Dadang.
Pak Lurah tersenyum menghela napas kasar. Entah kenapa pembicaraan bisa menyimpang sejauh ini. Tapi sepertinya Lukman juga tersenyum, bahkan menahan tawanya.
"Begini! Reina, Dadang sudah setuju untuk tinggal dan merawat Bu Lastri. Kamu hanya sebagai menantu, sudah seharusnya melepaskannya. Dadang itu anak kandung Bu Lastri. Tidak ada alasan kamu memutuskan silaturahmi mereka." Kata-kata arif bijaksana dari pak Lurah. Tidak menurunkan citranya sama sekali, tapi membuat celah menguntungkan untuk putranya.
"Sa...saya keberatan! Saya tidak setuju! Tidak sudi, Dadang menikah dengan Reina! Sebagai ibunya saya malu. Tapi saya juga tidak mau melepaskan Reina, cuma dia yang mau menampung saya. Cuma dia yang menghargai saya, walaupun dia bukan anak saya!" Lastri menangis lirih, mengingat perlakuan Dadang dan Wiwit padanya. Dadang memang bekerja di ladang, tapi sering mabuk-mabukan dan bermain perempuan. Sedangkan Wiwit? Bergaya selayaknya orang kaya, warisan yang dijual sedikit demi sedikit, sedangkan ibunya yang menderita diabetes dipaksakan ikut menggarap ladang.
Jika sakit? Tidak ada yang peduli, bahkan dirinya ditinggalkan di rumah sakit setelah tetangga mereka mengantar dirinya. Baru Rian dan Reina yang tinggal di pulau lain datang menjemput dirinya. Karena itu, karena itu, Lastri menyayangi Reina bagaikan putrinya sendiri. Membiarkan Reina menikah dengan Dadang? Itu tidak akan dilakukannya.
"Ibu seharusnya yakinkan Reina, agar aku tinggal dengan ibu. Kalau tidak mau, tidak apa, aku minta rumah ini saja yang dijual. Kemudian hasilnya dibagi dua! Lagipula aku hanya menuntut warisan dari kakakku!" Ucap Dadang.
"Aku juga mau menuntut warisan almarhum suamiku. Mana! Bagian tanahnya!" Reina tidak mau kalah. Bagaimana pun almarhum Rian sudah mengalah selama hidupnya. Tinggal di rumah sederhana dengan Reina. Menjadi nahkoda kapal, walaupun umurnya pendek.
Tapi tetap saja, sebenarnya Rian seharusnya berasal dari kalangan menengah. Mengingat nilai warisan tanah dan rumah yang seharusnya mencapai lebih dari 6 miliar. Namun, dirinya dapat menerima dan memaklumi saat itu, suaminya yang memutuskan menumpang di rumah istri dari pada saling bunuh dengan adiknya karena berebut warisan.
"Sudah aku bilang sudah habis! Makanya sekarang aku minta keluar dari rumah ini! Rumah ini milikku! Warisan dari Rian!" Benar-benar keras kepala.
Pria yang berjalan menuju dapur tanpa ada yang dapat mencegah. Karena bergerak cepat, membawa sebilah golok.
"Dengar! Saya sudah baik hati padamu menawarkan menjual rumah ini atau menjadi istri kedua saya! Tapi sekarang tidak lagi. Kalau kamu mati rumah ini tetap milik saya!" bentak Dadang.
Reina mengenyitkan keningnya. Seperti cerita almarhum Rian, adik iparnya ini memang seperti ini. Setelah kematian sang bapak, Rian pernah ingin diracuni dengan mencampur potasium dengan gula. Tapi untungnya Rian segera menyadari ada yang tidak beres dengan gulanya. Pernah juga, saat Rian membicarakan tentang rencananya membangun rumah di tanah bagian warisannya nanti, malah Dadang datang membawa cerurit.
Jujur, awalnya Reina tidak percaya. Tapi setelah hari ini dia mulai mempercayai ada yang namanya spesies manusia ajaib.
"Lebih baik kamu mati hari ini! Daripada manusia tidak tau diri sepertimu hidup!" Ucap Dadang melangkah mendekat ke arah Reina.
"Siapa yang memukul adik sepupuku!?" Kata-kata seseorang terdengar, beberapa warga memberi jalan terlihat yang datang hanya satu mobil dan motor yang terparkir.
"Dia! Raka pipiku berdarah!" Imanuel merengek menunjuk ke arah Dadang. Walau bagaimanapun dirinya berusaha tidak manja, tapi dari masa sekolah dirinya memang selalu dilindungi Raka.
__ADS_1
Karena itu ketika Raka dicurigai olehnya sebagai orang yang menginginkan kematiannya. Imanuel memilih bersembunyi daripada menghubungi orang tuanya. Mengetahui sisi dingin kakak sepupunya. Berfikiran jika Raka akan membunuh orang tua Imanuel nanti.
Tapi tidak, kini sudah terbukti Raka tidak pernah berniat buruk padanya. Dirinya bisa kembali berlindung di ketiak kakak sepupunya.
"Kalian mau apa hah!? Dasar orang kota manja! Berkelahi saja tidak bisa!" Ucap Dadang melihat penampilan Raka yang masih memakai setelan resmi. Berjalan dengan cepat hendak menyerang kedua orang tersebut. Beberapa warga juga mendekat mencari celah untuk merebut golok.
Prang!
Raka melempar vas bunga tepat mengenai kepala Dadang. Pria bertubuh besar itu meringis merasa darah mengalir dari pelipisnya.
Bug!
Bug!
Bug!
Pria itu ditendang menggunakan lutut memposisikan tubuh Dadang membungkuk hingga serangan tepat mengenai daerah dada dan perutnya.
Prang!
Golok terjatuh."Ampuni saya!" ucap Dadang.
Namun Raka tidak menggubris. Bahkan memelintir paksa tangan Dadang. Mematahkan salah satu jarinya.
Glek
Reina menelan ludahnya sendiri. Tidak disangka si kikir kalau sudah marah benar-benar mengerikan.
"Apa yang kamu lakukan! Suamiku hanya memukul sepupumu sekali?" bentak Wiwit tidak terima.
Raka mulai tertawa."Sekali? Dia cucu dari keluarga konglomerat. Calon pemimpin perusahaan dengan puluhan ribu pegawai yang ada di bawah kakinya. Jika dia mati maka pegawainya akan kelaparan."
"Apa kamu fikir suamimu bisa selamat setelah memapar sepupuku!?" tanya Raka, membuat Wiwit gemetar ketakutan.
"Raka aku berdarah! Dia bahkan ingin menikahi pacarku!" Imanuel menunjuk-nunjuk, sambil tertunduk. Berusaha keras agar tidak menangis di hadapan Reina.
__ADS_1