
Tidak ada yang terjadi setelahnya, belajar bersama seperti biasanya. Terkadang berpelukan atau saling mengecup. Mengejar Nadila yang melarikan buku tugas, berisikan puisi untuk kekasihnya di halaman belakang buku tulis tipis.
Wanita yang berasal dari keluarga kaya, tapi tidak pernah sekalipun pemuda itu memanfaatkan kekasihnya.
Bug!
Bunga dandelion terbang dibawa angin seiring dua remaja yang terjatuh diatasnya tertawa bersama. Entah sejak kapan tempat itu telah dipenuhi dengan bunga dandelion kecil.
Sang pemuda memakan makanan ringan, berbagi dengan kekasihnya. Hingga sebuah cincin plastik kecil ditemukannya dalam bungkus snack kemasan. Cincin yang mungkin hanya muat di jari kelingking Nadila.
"Setelah lulus aku akan melamarmu. Jika setelah menikah kamu ingin kuliah di luar negeri aku akan menunggumu. Aku disini juga akan berusaha untuk mengejarmu," ucapnya menyelipkan cincin plastik di jari kelingking Nadila.
"Janji selamanya bersamaku?" tanya Nadila.
"Aku janji..."
Hamparan bunga dandelion kembali menyebar melayang di udara. Terlihat dua remaja kesepian yang saling bertaut pelan, hingga pada akhirnya terlepas kemudian tersenyum.
Adakah yang lebih indah dari ini?
*
Hari ini Nadila menghubungi ayahnya yang tengah melakukan perjalanan bisnis. Suara yang terdengar dari kamarnya.
"Ayah aku ingin sesuatu," pintanya manja pada seseorang di seberang sana.
"Apa? Pasti akan ayah kabulkan." Kata-kata dari mulut Jovi. Sang ayah yang memang tidak memiliki cukup waktu untuk putrinya. Mengetahui sang putri mengidap beberapa gangguan kepribadian akibat sang mantan istri yang meninggal di hadapannya.
Namun dirinya cukup senang, belakangan ini Nadila mengalami banyak perkembangan. Tidak mencari cara kabur dari rumah lagi, melukai dirinya sendiri atau memberontak pergi ke penjara untuk menemui ayah tirinya, seseorang yang membunuh ibunya.
"Boleh aku menikah!? Aku janji akan tetap kuliah dan belajar!" ucap Nadila cepat, memejamkan matanya takut sang ayah marah.
"Apa karena ini kamu berubah, menjadi lebih sering tersenyum?" tanya Jovi tertawa kecil.
"I...iya! Dia baik dan pekerja keras. Setelah menikah ayah dapat mempekerjakan nya di perusahaan ayah sebagai office boy. Dia bisa kuliah sambil bekerja." Rencana sepihak dari Nadila.
"Kenapa harus office boy?" Jovi benar-benar tidak mengerti dengan kata-kata putrinya.
"Dia akan menolak, aku tau sifatnya. Dia memiliki impian memulai semuanya dari awal. Kemudian sedikit demi sedikit akan pantas bersanding denganku..." Jawaban dari Nadila tertunduk. Mungkin pekerjaan sebagai office boy setelah lulus nanti akan lebih mudah daripada kuli angkut. Lebih cepat juga mengumpulkan uang untuk kuliah malam.
"Kedengarannya lumayan. Ayah ingin bertemu dengannya, menanyakan keseriusannya. Ingat satu hal, jangan pernah mengingat kematian ibumu lagi." Pinta Jovi.
"Aku ingin menikah dengannya. Tidak ingin tinggal di penjara," celoteh Nadila penuh senyuman.
Jovi yang tengah berada di luar kota saat ini, hanya dapat menghela napas kasar. Tidak memikirkan status atau apapun, hanya satu yang pasti, putrinya dapat bahagia dan tersenyum. Satu-satunya anggota keluarganya yang tersisa.
__ADS_1
*
Rupiah demi rupiah di hitungnya. Hanya memiliki jumlah uang yang sedikit. Tidak cukup untuk mengadakan pesta, mungkin hanya cukup untuk janji sucinya saja. Jika waktunya sudah tiba, dirinya dapat mengangkat derajat.
"Sebagai gantinya setiap ulang tahun pernikahan aku akan merayakannya dengan Nadila!" ucapnya penuh semangat. Bagaimana pun dirinya sudah memiliki kekasihnya sepenuhnya. Membiarkan tanpa menikahinya? Itu tidak akan dilakukan oleh Dahlan.
Hanya tiga juta rupiah uang yang dimilikinya. Satu juta delapan ratus ribu digunakannya untuk membeli sepasang cincin emas campuran dengan harga yang paling murah. Apa satu juta dua ratus ribu cukup untuk menikah? Dirinya tidak tahu, menghela napas kasar. Setidaknya tabungan kuliahnya masih ada mungkin sebagian akan digunakannya.
Hari ini seperti biasanya dirinya berjalan kaki, masih memakai sepatu yang sejatinya sudah tidak layak, dengan beberapa bekas jahitan yang dipaksakan terlihat, seragam putih yang menguning. Sejatinya pemberian tetangganya yang sudah lulus.
Hari ini dirinya dan Nadila akan melihat pengumuman kelulusan. Sekaligus menunjukkan cincin pernikahan yang sudah dibelinya. Berjalan dengan bangga, berdiri di trotoar depan warung. Kala itu Nadila baru turun dari mobil, diantar oleh supirnya.
Dua remaja yang melambaikan tangan penuh senyuman. Hari kelulusan mereka, saat ini Dahlan masih berada di seberang jalan melambaikan tangan. Padatnya lalu lintas membuatnya enggan menyebrang.
Hingga...
Brak!
Senyuman itu tidak terlihat lagi, sebuah mobil mewah menghantam tubuhnya, tidak hanya dirinya orang-orang yang ada di warung belakang tubuhnya juga menjadi korban. Sekitar 8 orang mungkin akan tewas, aliran darah membanjiri tempat tubuh mereka berada saat ini.
"Da... Dahlan!" teriak Nadila berlari, menyebrang jalan tanpa menoleh tidak peduli ada beberapa kendaraan yang hampir menabraknya.
Hingga pada akhirnya tangannya berlumuran darah, menatap tubuh kekasihnya yang mengenaskan. Seragam SMU berlumuran darah segar, memeluk tubuh yang bersandar di pangkuannya.
Tangisan yang tidak terdengar saking nyeri dada yang dirasakannya. Darah mengalir dari hidung dan telinga sang pemuda. Luka di daerah kepala yang parah.
Kala dirinya menemukan sebuah kebahagiaan, kala dirinya tidak sendiri lagi. Itulah akhir hidupnya.
"Dahlan! Bangun! Bangun! Aku mohon bangun! Kita akan bersama selamanya. Kamu berjanji akan menemaniku hingga aku mati. Apa kamu lupa? Bangun!" jeritnya histeris kala tidak merasakan napas yang keluar dari hidung itu lagi.
Sinar matahari menerpa kulitnya, darah masih berceceran, bagaikan batu Ruby yang berkilau terkena sinar matahari. Kala itulah Tuhan menginginkan kepergiannya, tidak ada lagi hati yang hangat. Bagaikan bunga dandelion kecil yang rapuh, terbang ke atas entah kemana angin akan membawanya.
*
Tidak ada yang tersisa selain sebuah makam. Makam yang dengan sengaja diurus oleh Nadila agar berada di samping makam ibunya. Aneh bukan? Tapi Dahlan tidak memiliki kerabat, tidak ada yang bertanya atau mengunjungi makamnya selain Nadila.
Apa yang terjadi setelahnya? Wanita itu cenderung lebih pendiam. Hari ini dirinya merapikan semua barang-barang yang ada di rumah kecil milik kekasihnya.
Dua buah kaleng biskuit ada di sampingnya. Beserta dompet kecil berisikan sepasang cincin. Diam tanpa tangisan dan ekspresi, matanya menatap ke arah TV analog tua yang baru diperbaikinya. Apa yang dilakukannya di rumah ini? Menonton hukuman apa yang akan didapatkan orang yang sudah membunuh kekasihnya.
Tapi hanya berita sekilas yang terlihat tentang kecelakaan diduga akibat rem blong. Tapi apa benar? Nadila mengingat saat itu pengemudi mobil yang menewaskan 8 orang dalam keadaan mabuk berat.
Lalu kenapa dapat bebas? Bukannya sebaiknya hukuman mati saja? Dari sana lah sifatnya berubah. Wajah itu tersenyum dalam sebuah rumah kecil beratapkan seng.
Suatu anggapan yang salah, baginya Tuhan hanya mencintai orang-orang tertentu. Bahkan kekasih dan ibunya pun tidak Beliau cintai. Jadi kenapa harus mencintai Tuhan? Itulah pertanyaan yang ada dalam dirinya.
__ADS_1
Mulai melangkah pulang."Hiduplah dengan baik," satu kalimat lirih terdengar, entah itu imajinasinya atau bukan. Tapi wanita itu tetap tersenyum aneh, entah apa yang ada di fikirannya.
*
Malam itu Jovi baru saja pulang dari luar kota. Putrinya mau menikah di usia muda? Tidak masalah baginya, yang terpenting putrinya dapat hidup dengan baik dan bahagia. Malah akan bagus bukan? Jika dirinya akan memiliki cucu.
"Bagaimana!? Kapan akan bertemu dengan pacarmu?" tanyanya pada Nadila yang hanya tersenyum.
"Dia tidak menepati janjinya." Jawaban dari Nadila, terlihat tidak terluka. Atau mungkin di sudut hatinya sudah benar-benar hancur. Hanya dapat tersenyum saja.
"Tidak? Tapi kamu tidak apa-apa kan? Dengar, jangan terlalu percaya ucapan pria. Pria itu dapat berbohong. Sebaiknya kamu---" Kata-kata Jovi disela.
"Ayah, siapa orang ini? Kenapa dia kebal hukum?" tanya Nadila pada ayahnya, menunjukkan foto sampul majalah bisnis.
"Dia? Dwiguna pengusaha terkemuka. Dia bahkan memiliki bank dan banyak saham. Satu lagi, dia memiliki banyak bisnis ilegal.. Kenapa?" Jovi balik bertanya.
"Apa ada yang dapat mengalahkannya? Aku hanya penasaran." Ucap Nadila tidak mengundang curiga sama sekali.
"Ada keluarga Tuan Pramana. Mereka memang tidak memiliki bisnis ilegal. Tapi dari segi finansial mereka menang telak." Kata-kata dari sang ayah, menatap putrinya yang masih tersenyum.
"Ayah, aku ingin berlibur selama setahun di luar kota. Sebelum nantinya kuliah di Paris. Apa boleh?" tanya Nadila pada Jovi. Sang ayah hanya mengangguk sembari tersenyum.
*
Apa yang dilakukannya di luar kota? Apa benar hanya berlibur? Dirinya tersenyum, mengelus perutnya sendiri. Ada janin yang tumbuh di sana, dirinya benar-benar mencintainya. Tapi juga tidak ingin bersamanya.
Seorang ibu yang haus darah akan balas dendam tidak akan dapat merawat putranya dengan baik. Hingga bayi mungil itu terlahir tepat pada tanggal 14 February. Dengan nama Valentino.
Anak yang dititipkannya pada sebuah panti. Memberikan sejumlah deposito yang cukup besar atas nama sang anak. Jika ada yang mengadopsinya maka harus pasangan lengkap suami istri dari keluarga harmonis. Bunga deposito akan cair setiap tahun untuk biaya perawatan sang anak. Semua diatur oleh panti.
Mengapa? Dirinya tidak ingin anak yang dititipkan oleh Dahlan kekurangan. Ingin anaknya tumbuh di keluarga yang utuh nantinya. Valentino, saat ini mungkin berusia 9 tahun.
Keluarga yang mengadopsinya merupakan keluarga dari kalangan atas, Valentino diadopsi sekitar dua tahun lalu, walau sejatinya keluarga yang mengadopsi Valentino masih di bawah Jovi.
Terkadang Nadila ingin menemui anaknya, ingin hidup dengannya. Tapi tidak bisa, hatinya telah beku, mengingat darah Dahlan yang bersimbah di jalanan. Mengingat ibunya yang dipukuli sang ayah tiri hingga mati.
Hukum yang tumpul ke atas menyebabkannya semakin terpuruk. Dwiguna, nama yang akan diingatnya. Mencari cara untuk mati bersamanya.
*
Kembali pada saat ini. Nadila masih terdiam terpaku seorang diri meminum segelas wine. Ada sesuatu yang pasti dalam fatamorgana yang dirasakannya. Dahlan tidak pernah pergi selalu ada di sisinya.
"Kamu tidak mencintainya kan?" tanya fatamorgana sang pemuda.
"Kamu cemburu? Tentu saja tidak, aku tidak mencintainya, dunia ini begitu banyak kepalsuan. Ada pria kekanak-kanakan yang berpura-pura bersifat dewasa. Ada juga pria yang mengatakan jatuh cinta, tapi membangun dinding pembatas." Suara tawa Nadila terdengar.
__ADS_1
"Jika dibandingkan denganmu, mereka hanya sebutir debu di mataku." Ucapnya menangis terisak, menyadari fatamorgana itu telah menghilang. Sang remaja telah tiada, bagaikan bunga dandelion yang tertiup angin entah kemana.