Saldo Rekening Pacarku

Saldo Rekening Pacarku
Panjang


__ADS_3

Tapi satu pertanyaan sekarang. Bagaimana caranya menghemat budget untuk menemukan seseorang dengan nama Wiranto Mangun Sarkoro Wijaya Winata Kusuma Mangku Dirjo Sabto Winangun Karto Joyo?


Pada akhirnya mereka menghela napas kasar. Sedikit melirik ke arah Ragil yang memiliki penampilan sedikit kampungan.


"Apa!?" tanya Ragil melihat senyuman aneh kedua sahabatnya.


"Ragil, kamu sayang aku kan? Mau ya berkorban untukku..." pinta Cahaya.


"Kamu seperti Cahaya yang tidak dapat aku sentuh. Tapi aku selalu menginginkannya. Jangan panggil namaku lagi, jika aku sudah lelah dan jenuh," gumam Ragil menghela napas kasar.


"Apa maksudnya?" tanya Cahaya tidak mengerti.


"Artinya aku menurut!" Pemuda yang hanya menghela napas kasar. Cepat atau lambat dirinya memang harus kembali ke kampung, menikahi gadis desa yang mungkin akan dipilihkan ibunya. Melanjutkan usaha ternak ikan nila milik ayahnya.


*


Menurut apa yang dilakukannya. Pemuda itu memakai pakaian SMU, berjalan memasuki kantor polisi, menggendong sebuah ransel dan sebuah surat, dengan tulisan tangan. Yang mungkin ditulis oleh Evi.


Obat tetes mata dipergunakannya. Menghela napas kasar berjalan masuk.


"Maaf, ada perlu apa ya?" tanya seorang petugas.


Tangan Ragil mengepal, tatapannya kosong, dengan obat tetes mata yang mengalir di pipinya."Sa...saya baru diusir dari rumah. Tidak ada yang mau membiayai sekolah saya. Bibi saya mengatakan untuk mencari orang dengan nama ini..." pintanya lirih, memberikan secarik kertas bertuliskan Wiranto Mangun Sarkoro Wijaya Winata Kusuma Mangku Dirjo Sabto Winangun Karto Joyo.


"Ini nama siapa?" tanya sang petugas kepolisian menatap iba, pada keadaan sang pemuda yang terlihat tidak tahu apa-apa.


"Bibi bilang ayah kandung saya..." ucapnya masih tertunduk menangis terisak.


"Kamu selama ini tidak dirawat orang tuamu?" tanya sang petugas, dijawab dengan anggukan oleh Ragil.


Tidak ada kata-kata yang keluar selain isak tangis. Dirinya tidak akan menuruti skenario yang Evi buat, skenario untuk mengatakan jika ibu Ragil meninggal dan menyuruhnya untuk mencari ayahnya. Mengatakan ibu yang masih sehat-sehat saja mati? Apa Evi sudah gila?


Pada akhirnya jalan ini dipilih oleh Ragil, skenario lain. Dengan tangisan yang meyakinkan seolah dirinya kesulitan untuk menceritakan segalanya. Terkadang dalam berbohong ekspresi lebih bermain dibandingkan dengan kata-kata.


Begitu juga kali ini, dirinya hanya dapat menangis bagaikan pria tidak berdaya.


"Saya tidak tau harus kemana. Saya cuma punya bapak..." gumamnya sesegukan.

__ADS_1


Petugas kepolisian yang iba segera membawanya masuk lebih dalam. Bahkan ada polwan yang menangis kala bergosip tentang cerita sang pemuda. Berita simpang siur karena cerita sang pemuda lebih dipenuhi dengan air mata.


Hingga petugas kepolisian pun mencoba mencari data kependudukan. Benar-benar iba dan tidak tega rasanya. Bagaimana bisa ada ayah setega itu meninggalkan putranya yang kampungan.


*


"Ini!" Ragil memberikan alamat Wiranto Mangun Sarkoro Wijaya Winata Kusuma Mangku Dirjo Sabto Winangun Karto Joyo pada Evi.


"Pintar!" Cahaya mengacak-acak rambut Ragil.


Sedangkan pemuda itu tidak merayu lagi. Lebih realistis kali ini hanya dapat menghela napas kasar. Semua akan berlalu menjadi kenangan yang akan diceritakannya pada istrinya kelak, sambil memberi makan ikan nila.


Sudah merelakan cahaya mengingat beberapa minggu lagi dirinya pulang kampung dan tidak akan kembali. Membawa toganya langsung memasuki travel hingga ibu dan ayahnya yang tidak bisa hadir mengetahui anak tunggal mereka sudah menjadi sarjana.


Semua sudah direncanakan olehnya dari beberapa hari yang lalu. Ayahnya menderita jantung koroner, sekarang sehat tidak ada yang tau apa yang akan terjadi beberapa detik berikutnya.


Sedangkan Evi dan Cahaya menatap aneh pada Ragil."Tidak ingin melamar Cahaya?" tanya Evi.


"Terkadang cahaya musik semi tidak akan bertahan lama. Karena itu aku memutuskan untuk hanya menatapnya, tidak memilikinya agar hati ini lebih lega ketika melangkah pergi." Kata-kata ambigu dari Ragil berjalan ke arah motor matic dengan merek MIAU keluaran lama.


"Dia kenapa?" tanya Cahaya belum peka sama sekali.


"Gimana ya? Masih banyak yang ganteng dan pintar." Cahaya menghela napas kasar.


"Ditinggal nikah baru nagis darah!" Evi menggeleng-gelengkan kepalanya heran.


*


Skripsi mereka sudah berakhir, tiga mahasiswa yang akan lulus bersamaan. Kali ini mengendarai motor mereka ke luar kota.


Alamat yang dituju, berikut kertas bertuliskan nama lengkap yang sulit diingat masih ada di tangan mereka. Kertas dengan nama Wiranto Mangun Sarkoro Wijaya Winata Kusuma Mangku Dirjo Sabto Winangun Karto Joyo.


Angin udara perbukitan menerpa rambut mereka. Tiga orang yang akan memasuki sarang penyamun. Tapi apa mereka akan beruntung? Atau salah satu dari mereka harus mati? Lebih buruk lagi jika ketiganya mati dikubur di tengah hutan.


Hingga pada akhirnya sampai di rumah yang mereka tuju. Seorang pria berada di sana sedang mengawasi renovasi rumahnya. Setelah beberapa hari menyadari uang yang diberikan Sean tidak berubah menjadi daun. Artinya uang itu bukan dari dedemit.


Kali ini tiga remaja aneh yang datang. Cahaya turun dari motor terlebih dahulu, hidungnya sudah mencium bau cuan dari Raka nantinya.

__ADS_1


"Permisi apa saya bisa bertemu dengan bapak Wiranto Mangun Sarkoro Wijaya Winata Kusuma Mangku Dirjo Sabto Winangun Karto Joyo?" tanya Cahaya pada salah satu tukan bangunan.


Gadis yang penuh harap pasalnya, mana ada orang dengan nama sepanjang rel kereta api.


"Itu dia yang pakai baju kotak-kotak." Ucap sang tukang bangunan.


Evi dan Cahaya benar-benar antusias, tidak menyadari Ragil yang tertunduk lesu masih duduk di atas motornya, menatap ke arah langit."Ini hanya cinta monyet, walaupun Cahaya tidak terlihat seperti monyet," batinnya, ingin melupakan cinta sejatinya bagaikan Romeo yang memilih menyerah mengejar Juliet. Karena sejatinya Romeo akan kembali ke air, bukan untuk bertemu putri duyung kemudian berselingkuh dengannya. Tapi Romeo akan kembali ke air untuk memelihara ikan nila tercinta, melupakan Juliet sang cinta matinya.


"Maaf pak permisi apa bapak yang bernama Wiranto Mangun Sarkoro Wijaya Winata Kusuma Mangku Dirjo Sabto Winangun Karto Joyo?" tanya Evi pelan, membawa contekan nama yang tertulis di tangannya bagaikan sedang mengikuti ujian akhir.


"Iya, ada apa ya?" tanya sang pria paruh baya.


"Bapak tau lukisan ini?" tanya Cahaya menunjukkan foto lukisan yang ada di belakang Barbara.


Dengan cepat pria paruh baya itu mengangguk. Membayangkan menadapatkan uang dari dedemit lagi. Kali ini dirinya mungkin akan membeli tanah. Benar-benar lukisan pembawa keberuntungan.


"Bapak jual pada siapa?" tanya Evi antusias.


Pria itu menunjuk ke arah villa yang terdapat di tengah hutan. Tepatnya di daerah perbukitan."Saya menjualnya ke sana, beberapa tahun lalu." jelasnya.


"Terimakasih pak!" Ucap Evi tertunduk.


Sedangkan pria paruh baya itu membulatkan matanya."Eh! Nak! Tunggu!"


Evi dan Cahaya menghentikan langkahnya sedikit berbalik. Mengamati sang pria paruh baya menadahkan tangannya.


Evi dan Cahaya saling melirik. Kemudian Cahaya baru menyadari satu hal, gadis itu mengeluarkan kertas, kemudian meludahkan permen karet yang sudah selesai dikunyah nya pada kertas. Dengan tidak tahu malunya Cahaya menyerahkan kertas pada sang pelukis.


"Terimakasih pak sudah mengingatkan. Saya tidak akan pernah membuang permen karet sembarangan lagi." Ucap Cahaya tersenyum tanpa dosa, tidak akan mengulangi kebiasaan buruknya, membuang permen karet sembarangan.


Sementara sang pelukis masih terdiam mencerna segalanya. Melihat ketiga muda-mudi yang pergi mengendarai motor mereka menunju villa.


"Apa permen karet akan menjadi emas?" batinnya menelan ludah. Satu-satunya kesimpulan yang diambilnya dari dedemit aneh itu.


Perlahan dirinya kembali membuka kertas, penuh harap permen karet bekas kunyah berubah menjadi emas. Tapi harapan tinggal harapan, kali ini dirinya menelan rasa kecewa, melempar kertas berisikan permen karet ke tempat sampah.


"Apa itu pak?" tanya tukang bangunan yang lewat.

__ADS_1


"Jangkrik!" jawab sang pelukis asal dengan raut wajah kecewa.


"Siap jangkrik bos!" celoteh tukang bangunan berlalu pergi.


__ADS_2