
Hari ini Fujiko masih tetap libur, cuti diambilnya tiga hari, besok gadis itu akan kembali bekerja. Kondisi rumah yang benar-benar sepi, Raka menoleh ke kanan dan ke kiri, kemudian menatap kekasihnya.
"Kita akan keluar jalan-jalan hari ini," Ucap sang pemuda tersenyum. Mendekatkan dirinya pada tubuh Fujiko.
"I...ini di rumah, jika ada yang melihat maka. Akh..." gumamnya, merasa aliran darahnya terlalu cepat. Jantungnya berdegup kencang, kala sang pemuda menggerakkan bibirnya di lehernya.
Bibir yang bergerak tiada henti, Fujiko menonggakkan kepalanya, dirinya menikmati segalanya. Melupakan ini area dapur, logikanya bagaikan menghilang, tidak ingin tau akan ada orang yang melintas atau tidak.
"Maaf! Aku akan pergi!" Fumiko segera berbalik badan melihat semuanya.
"Tidak perlu pergi, sudah selesai. Aku hanya membuat lehernya lebih berwarna, membuat plang kalau tanah yang belum digarap ini ada pemiliknya." Raka tersenyum, melangkah melewati Fumiko.
Sementara Fujiko tertunduk malu-malu, meraba lehernya sendiri. Dengan cepat sang kakak mendekat."Lehermu mengenaskan! Kalian sudah pernah melakukannya?"
Fujiko menggeleng."Sudah aku bilang aku masih perawan."
"Syukurlah! Ingat! Tunggu sampai malam pertama! Walaupun dia ikan paus, tapi harus tetap menjaga diri, hingga kedua mertuamu menganggukkan kepalanya setuju." Tegas Fumiko.
"Ayah dan ibunya akan setuju, mereka tinggal di desa, tipikalnya pasti wanita rajin dan bersahaja sepertiku." Ucap Fujiko percaya diri, mungkin dirinya akan menjadi menantu yang disayangi mertua, dielu-elukan di desa, mengingat dirinya yang bekerja, walaupun hanya pekerja pabrik. Ibu mertua yang berpakaian sederhana, menggoreng pisang bersamanya, itulah yang ada di otaknya.
Fumiko mengenyitkan keningnya, menelan ludahnya sendiri. Setelah mencari informasi lebih banyak tentang keluarga Pramana. Adinda, itulah nama calon ibu mertua Fujiko, memiliki beberapa butik dan restauran. Mengikuti group sosialita, foto-foto di media sosial yang menampakkan kemewahan. Wanita karier dengan penghasilan tinggi.
Sedangkan adiknya? Fujiko hanya pekerja pabrik dengan gaji, sedikit diatas UMR. Akankah dihormati oleh ibu mertuanya?
Fumiko menelan ludahnya sendiri, mungkin adiknya harus menebalkan telinga nantinya saat menghadapi mertua kelas tinggi. Atau mungkin ibu mertua kejam yang menginginkan menantu yang sama kayanya? Adiknya akan dibunuh jika itu terjadi.
"Dengar ibu mertua bisa menjadi adalah makhluk terkejam! Kamu sudah merebut perhatian anaknya! Dia bisa mengatakan surga ada di telapak kaki ibu agar mendapatkan pembelaan dari Raka!" nasehat dari sang kakak, sukses membuat Fujiko menelan ludahnya.
"Tapi ada juga ibu mertua yang baik kan?" tanya Fujiko.
__ADS_1
"Ada, tapi lebih banyak yang tidak akur dengan menantunya." Jawaban dari Fumiko.
*
Motor dihidupkan oleh Raka, sedangkan sang kekasih memeluknya dari belakang. Kemana tujuan mereka? Berkencan murah, itulah keinginan Fujiko.
Motor yang melaju, entah kemana, mengikuti arahan sang gadis. Mungkin sekitar 50 menit perjalanan, motor terhenti. Gadis yang berjalan memasuki gang kecil, sedangkan Raka mengenyitkan keningnya, menatap sinis.
"Tidak mungkin kan?" batinnya, menghela napas berkali-kali.
Dan benar saja, tempat sialan dengan ayunan kayu tua itu terlihat. Raka berlari ke area pinggir, kemudian muntah mengeluarkan semua isi perutnya.
"Kamu kenapa?" tanya Fujiko tidak mengerti.
"Kita pulang ya?" pinta Raka dengan wajah yang mendadak pucat pasi.
Gudang tua ada di dekat ayunan. Hamparan rerumputan terlihat hijau dengan pohon yang rindang. Tempat yang indah untuk piknik, tapi tidak bagi Raka.
Wajah pemuda itu semakin pucat saja, keringat dingin menetes dari pelipisnya, tangannya gemetaran. Matanya sedikit melirik ke arah Fujiko.
"Ka...kamu tahu tempat ini darimana?" tanyanya ragu.
"Rumah lama kami ada di dekat sini. Tempat ini terkenal di kalangan warga sekitar, karena berita tentang penculikan anak keluarga konglomerat. Katanya anak itu ditemukan dengan cidera pada kepalanya, tangannya memegang pistol, menembak mati salah satu penculik," jawab Fujiko.
"Di...dia pembunuh," tangan Raka bertambah gemetar, walaupun berusaha menunjukkan sikap biasa saja.
"Dia orang baik. Aku melihatnya, memakai dasi kupu-kupu dan setelan kemeja putih yang kotor. Dia berteriak dan tidak mau bicara di rumah kepala desa. Mendorong keluarga yang ingin menjemputnya pulang bahkan polisi pun tidak bisa membujuknya yang ketakutan pada semua orang. Dengan bodohnya anak itu mengunci pintu kamar kepala desa, hingga kepala desa hanya bisa mengalah dan tidur di sofa." Fujiko tertawa, mulai membuat teh hangat menggunakan termos kecilnya.
Duduk beralaskan tikar, menatap ke arah sungai yang berhadapan dengan gudang. Tempat yang benar-benar asri, lepas dari cerita kelam di dalamnya.
__ADS_1
"Dia pasti diolok-olok semua orang kan?" tanya Raka, meraih teh yang diberikan Fujiko.
"Tidak, warga desa iba padanya. Termasuk aku, aku bahkan menyelinap ke kamar kepala desa melalui jendela. Kami tidur bersama, aku genit bukan? Melihat anak yang tampan langsung masuk dan tidur bersama," jawab Fujiko, menggaruk-garuk kepalanya malu.
Anak kecil yang berimajinasi menjadi putri, nekat masuk ke rumah kepala desa melalui jendela, hanya untuk bertemu anak tampan berpakaian mewah bagaikan pangeran di matanya.
Raka tersenyum simpul entah mengapa. Menghela napas kasar menetralkan detak jantungnya yang masih tidak beraturan.
Matanya melirik ke arah Fujiko, sedikit menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajahnya. Mungkin Fujiko tidak mengingatnya sama sekali, sang anak laki-laki tidak sekeren imajinasinya.
Anak yang saat itu menodongkan pisau saat Fujiko kecil baru masuk melalui jendela, merasa nyawanya terancam. Rasanya hampir gila, mengingat dirinya membunuh salah satu penculik, takut pada keluarga dan polisi, itulah yang dirasakan anak berusia 10 tahun.
"Jangan mendekat atau aku akan membunuhmu!" teriak Raka saat itu memegang pisau buah, menatap seorang anak perempuan dengan sorot mata yang polos tersenyum padanya. Air mata Raka mengalir, kondisi psikologis yang benar-benar terguncang.
"Apa itu pedangnya? Apa kamu pangeran?" tanya sang perempuan semakin mendekat.
"Ja... jangan." Kata-kata Raka kecil terhenti kala gadis itu memeluknya. Darah membasahi jemari tangan Raka. Lengan sang anak perempuan terkena pisau yang dibawanya.
"Sakit, aku terkena pisau." Sang anak perempuan menonggakkan kepalanya mulai menangis.
Benar-benar sial rasanya, Raka meraih sisa kapas yang ada di atas meja. Kemudian membalut luka yang tidak begitu dalam itu asal.
Sang anak perempuan kembali memeluk tubuhnya."Pangeran!" ucapnya polos tersenyum.
Menyebalkan memang bagi Raka saat itu, namun kejadian yang dapat membuatnya melupakan trauma yang dialaminya. Konsentrasi menjaga sang anak, tidur dengannya di tempat tidur kepala desa.
Sungguh dua orang anak kecil yang berani, kumpul kebo di rumah, bahkan di kamar kepala desa sendiri. Dua orang anak yang hanya pernah bertemu satu malam. Hingga akhirnya dipertemukan kembali dalam kost-kostan murah beberapa belas tahun kemudian.
Kembali menjadi pasangan kumpul kebo.
__ADS_1