
Kamar inap VVIP, seorang pemuda berbaring, seolah-olah ini adalah hari terakhir hidupnya. Sudut bibirnya sedikit terluka hanya diberi plaster kecil berwarna putih. Dapat dipastikan luka itu tidak akan meninggalkan bekas.
"Aku minta air," ucap Imanuel, dengan cepat seorang suster menyodorkan air dengan sedotan.
Sementara saudara sepupunya tengah duduk. Menguap beberapa kali, mengerjakan pekerjaan Patra yang tidak ada habisnya.
"Raka, ini mungkin akhir hidupku. Jadi aku akan mengatakan sebuah rahasia yang aku ketahui." Ucapnya menatap langit-langit ruangan.
Raka melepaskan kacamata bacanya, masih mengenakan setelan jas kemarin, mengingat dirinya yang belum sempat berganti pakaian.
"Sudah siap bercerita?" tanya Raka, dijawab dengan anggukan oleh Imanuel.
"Sebenarnya malam itu apa yang terjadi?" tanyanya lagi.
"Malam itu seperti biasanya, aku menemui Nadila, membawa susu ibu hamil. Juga tambahan persiapan mainan bayi. Sudah aku bayangkan setelah anak itu lahir akan ada yang memanggilku papa," jelasnya masih terpaku menatap langit-langit ruang inap.
"Lalu?" Ucap Raka ingin Imanuel melanjutkan ceritanya.
"Nadila memberi saran untuk mendekatkan mu dengan Barbara. Mendekorasi tempat kostmu, sebelum kamu kembali dari Singapura. Kami naik di mobil yang berbeda, berencana melihat luas ruangan, untuk menentukan ukuran furniture. Tapi dalam perjalanan, ban mobil kami kempes. Beberapa orang turun dari minibus dan ingin membius kami. Aku dapat melarikan diri, meskipun terkena efek obat bius. Sedangkan Barbara tertangkap, selanjutnya aku terbangun di kuburan ditemukan oleh Egie, anak Reina." Cerita lengkap dari Imanuel, kini dirinya yakin si kikir tidak berselingkuh dengan Nadila.
Punya pacar mengkilap bagaikan piring yang habis di cuci menggunakan sabun dengan bau jeruk nipis, dapat membersihkan kerak membandel begitu. Kenapa harus berselingkuh dengan Nadila? Istilah lainnya, sepupunya sudah mempunyai sendok perak, kenapa harus makan menggunakan sendok kayu?
"Lalu kenapa tidak langsung menghubungiku. Aku sudah mencarimu kemana-mana!" geram Raka, masih berusaha bersabar dan tersenyum.
"I...itu karena aku takut. Satu-satunya orang yang mempunyai alasan terkuat menyingkirkan ku adalah kamu." Ucap Imanuel masuk akal.
"Uang adalah beban. Kamu tau alasan terkuat aku meninggalkan rumah?" tanya Raka, dijawab dengan gelengan kepala oleh Imanuel. Pada awalnya dirinya berfikir Raka keluar dari rumah karena berseteru dengan kakeknya. Tapi menurut kata-kata Danu, mungkin itu bukan alasan sebenarnya.
__ADS_1
"Kakek mencoba mengaturku untuk menjadi boneka talinya. Saat itu kakek berniat menjadikanku pemimpin perusahaan. Tapi mengaturku untuk menikah dengan salah satu anggota keluarga terkaya di Inggris. Kakek sempat menawarkan mu, tapi mereka bersikeras untuk memilihku. Hingga pada akhirnya aku menolak dan pergi dari rumah." Jelas Raka membeberkan fakta yang selama ini disembunyikan olehnya.
Imanuel tertawa kencang."Tidak mungkin kakek---"
"Tidak mungkin? Kamu fikir kakek bersedia menerima Nadila kenapa? Kenapa menaruh predator dalam rumah kita? Tentu saja untuk menyingkirkan yang tidak perlu. Ayahku anak dari istri pertama yang tidak dicintai kakek. Jadi harus disingkirkan, dan kamu dianggap menghalangi jalanku untuk memimpin perusahaan. Jadi juga harus disingkirkan." Tegas Raka, kali ini tidak terlihat sedikitpun senyuman di wajahnya.
"Tapi dia menyayangimu dan ibumu, aku---" Imanuel kembali tertunduk ragu.
"Ingat saat aku diculik? Apa yang dikatakan kakek ketika aku pulang? Kakek berkata, syukurlah kamu selamat, tidak perlu merasa bersalah karena menembak hati orang jahat itu. Cucu kakek memang selalu beruntung."
"Dari saat itu ibu, dan ayah selalu waspada pada kakek. Kakek tidak ada di lokasi tapi tau aku menembak tepat di hati penculik hingga hatinya pecah, nyawanya tidak terselamatkan. Itu karena kakek dendam pada almarhum istri pertamanya, nenekku. Hingga berencana untuk menyingkirkan ku dengan dalil penculikan." Jelas Raka, mengatakan hal yang selama ini disembunyikan keluarganya.
"Raka, kakek tidak mungkin melakukannya. Lagipula bibi Adinda dari keluarga biasa. Lebih disayangi oleh kakek dibandingkan dengan ibuku." Imanuel menggeleng-gelengkan kepalanya tidak percaya.
"Kamu belum mengerti juga ya? Ayahmu, anak dari almarhum istri kedua kakek, selama ini dipersiapkan untuk menjadi ahli waris, jadi harus menikahi ibumu yang berasal dari kalangan atas. Sedangkan ayahku, entah berjodoh dengan siapa kakek tidak peduli. Tapi selama puluhan tahun ibuku mengabdi dan bekerja keras menjadi menantu yang baik, membuatnya pada akhirnya luluh. Disanalah permasalahannya." Raka menghela napas kasar.
"Kakek melihat aku dan ayah yang dapat mandiri. Ibuku yang lebih peduli padanya dari pada ibumu. Karena itulah, kakek sengaja membiarkan Nadila masuk ke keluarga kita dan mengetahui apa yang aku miliki, sehingga dapat menyingkirkan mu yang dianggapnya tidak berguna." Jawaban dari Raka, membuat Imanuel yang pada awalnya berbaring kembali ke posisi duduk di ranjang.
"Coba kamu fikirkan baik-baik. Jika aku memang cucu kesayangannya, apa dia akan memaksakan ku menikah dengan Nadila? Kakek yang selama ini mengendalikan semuanya. Karena itu aku diam dan tidak menghubungi kepolisian, walaupun ayahku menghilang." Raka meraih minuman dingin, kemudian beranjak dari tempat duduknya, berjalan melihat ke arah sekat kaca besar.
"Apa yang tidak kakek ketahui? Kamu tau kenapa ayah masih bersembunyi sampai saat ini? Kembali ke kediaman utama berarti mati, karena ayah mengetahui segalanya tentang kakek. Menyerahkan diri pada Nadila? Itu juga artinya mati." Kesal? Tentu saja, sesuatu yang dipendamnya sangat lama. Berharap kakek akan mencintainya. Tapi terlalu dicintai juga tidak baik.
Jodoh? Kekayaan? Segalanya diatur oleh sang kakek. Bahkan membuat Nadila mengincar nyawa Patra juga bagian dari rencananya, bertujuan agar Raka mendapatkan semua aset yang dimiliki ayahnya.
Dirinya yang dulu dibenci oleh sang kakek, kini terlalu dicintai. Cinta yang membuatnya menyingkirkan satu persatu orang yang menghalangi jalan Raka.
Darimana sebenarnya ini dimulai? Ini dimulai saat dirinya menginjak sekolah menengah pertama. Sang kakek terkena serangan jantung, dirinya yang pertama memberi pertolongan dibantu oleh pelayan. Sedangkan Imanuel yang ketakutan memilih untuk pergi ke kamarnya.
__ADS_1
Inilah awal sebuah bencana. Segalanya masuk akal bukan? Mengapa Patra memilih tidak kembali ke kediaman utama.
Tapi dimana keberadaan Patra saat ini?
*
Prittt!
Seperti biasa, hanya mengenakan kaos pemilu dengan wajah yang kotor. Bekas codet dan tahi lalat palsu.
Memarkirkan mobil di pasar. Sedangkan seorang wanita berdandan menor, keluar dari mobilnya. Wanita yang membawa nasi bungkus, tidak ingin terlihat mencolok.
"Ini! Terimakasih sudah mengatur parkir mobil saya," ucapnya mengedipkan sebelah matanya. Memberikan bungkusan makanan pada tukang parkir.
"Terimakasih," sang tukang parkir menerimanya.
Mulai membuka bungkusan yang berisikan nasi dan uang pecahan ratusan ribu dalam plastik. Serta sebuah tulisan aneh.
'Ih, Abang jahat, aku tuh cinta berat. Sini dong dekat-dekat. Ku pegang erat-erat.'
"Korban tik-tok," gumam Patra, melihat tingkah aneh istrinya. Kemudian memakan sebungkus nasi, hingga kenyang. Pada akhirnya bersendawa.
Hanya sekitar 15 menit, wanita itu keluar dari pasar, hanya mencari alasan untuk berkeliling."Ini," Adinda mengeluarkan uang 5000 rupiah, didalamnya terselip kunci kamar. Lengkap dengan gantungan berisikan nomor kamar hotel.
"Terimakasih," ucap Patra seolah-olah tidak saling mengenal. Ini sudah terjadi dari sekitar dua minggu yang lalu. Kala dirinya tidak dapat menahan rindunya pada yang mulia istri.
Pada akhirnya dirinya menyerah, bertemu dengan istrinya diam-diam. Tapi apa yang direncanakan Adinda dan Patra hingga tidak mengatakan pada Raka, Patra sudah ditemukan?
__ADS_1
Tentu saja, memberi pelajaran pada Pramana, tentang arti sebuah keluarga.